SHARE

Ada alasan mengapa gue sangat mencintai sunset. Yang pertama tentunya keindahan dari gradasi warna ketika matahari mulai terbenam. You see, as the sun sets, langit berubah warna. Terkadang dia hanya menampilkan duotone. Biru dan orange. Kalau Tuhan sedang dalam mood kepengin pamer, dihadirkanlah palet warna yang tak mungkin bisa ditiru pelukis terhebat di dunia. Langit bermandikan warna dari biru-pink-ungu-oranye-merah-kuning, sebelum akhirnya warna ungu gelap dan biru gelap dengan garis oranye pekat menghiasi horizon sementara di bagian langit yang lebih tinggi, kerlip bintang mulai bermunculan. Orkestra senja yang sempurna ditutup dengan langit gelap dan ribuan bintang di atas sana.

Alasan kedua kenapa gue mencintai sunset, karena walau di lokasi yang persis sama, tak ada sunset yang serupa. Same place, different hues and colors. Sunset itu seperti sidik jari, tak ada yang sama. Sunset itu seperti kornea mata, tak akan ada yang kembar.

Alasan ketiga: time frame untuk memotret sunset di golden hour, mungkin hanya lima menit. Berawal dari matahari yang mulai berwarna kemerahan dan sinarnya yang tak lagi kejam untuk mata melainkan lembut dan memungkinkan kita menatap bulatannya, dilanjutkan dengan piringan matahari yang perlahan-lahan menghilang di ufuk sana. Magical. Kalau sedang di pantai, seringkali gue membayangkan matahari larut di laut, membuat laut yang biru menjadi oranye kemerahan. Indah sekali.

Alasan keempat: kalau gue sedang beruntung, blue hour bisa sangat indah. Setelah matahari terbenam seluruhnya, awan di langit mulai pamer warna. Dari biru pupus sampai merah menyala. Seiiring dengan warna yang memudar, sebaris tipis milkyway mulai terlihat di angkasa. Gue pernah mengalami ini beberapa kali. Di Uluru, Nothern Teritory, Australia, dan di Sumba, hampir setiap hari selama enam hari gue di sana. If you ask me how I feel, I wouldn’t be able to find the right words to describe the otherworldly beauty of the blue hour.

Namun, tidak demikian di Munich. Gue saat itu di Marienplatz. Langit sudah berubah pink ketika gue tiba. Gue panik. Gimana cara motret semua keindahan ini dengan banyaknya orang yang berlalu lalang? Lagipula, ada barisan gedung-gedung yang menutupi cakrawala. Mulai dari Neues Rathaus, Rathaus-Glockenspiel, sampai ke deretan pertokoan yang berjejer dan tentunya, Old City Hall atau Altes Rathaus. Di pikiran gue, nanti aja deh menikmati detil gedungnya, toh mereka tak akan ke mana-mana. Gue lalu kalang kabut cari cara naik ke menara City Hall. Begitu tiba di atas, sunset hampir kelar. Cakep? Ya biasa aja.

Kemudian gue tersadar, gue sudah melenceng dari tujuan gue traveling sebenarnya. Gue traveling untuk menikmati momen. Gue jalan-jalan untuk mengenal alam dan manusia. Gue traveling untuk bersenang-senang bukan ambisius dapetin foto bagus. Dapat foto kece adalah bonus namun bukan segalanya. Intinya adalah, dengan ngotot mendapatkan spot terbaik untuk motret sunset, gue udah melupakan esensi utama traveling: menikmati apa yang ada di depan gue.

Tentunya tak ada yang salah jika ingin dapat spot bagus untuk foto. Namun, tak selalu harus begitu, kan? Some times, we need to stop and enjoy what’s in front of us. Ambition is good, too ambitious will ruin yourself.

Jadi, setelah ngeh apa yang gue lakukan itu salah (gue ignore sekeliling, gue gak peduli sama christmas market di marienplatz, gue nggak bother untuk cari tau sejarah tempat ini, gue nggak ngobrol sama siapa pun, satu-satunya hal yang gue lakukan dan tak menyesal: meninggalkan dan membiarkan pacar gue belanja keluyuran sementara gue kabur nyari sunset), I stopped. Gue berhenti dan mulai meresapi apa yang terjadi di sekeliling gue. Gue berhenti dan mulai mengamati. Gue duduk di Marienplatz. Liat anak kecil makan pretzel. Liat ibu-ibu ciuman sama bapak-bapak. Menyapa rama seekor frenchie hitam besar yang ternyata galak dan menggeram-geram tak suka melihat gue. IH! Padahal, ya, sepanjang sejarah gue deketin anjing, tak pernah gue ditolak apalagi dikasih liat gigi gede-gede.

Setelah ngambek dan sakit hati sama si frenchie jelek itu (sebenarnya sih ganteng tapi karena galak gue anggap jelek), gue menyusuri daerah sekitar Marienplatz. Di sinilah gue kembali merenungkan: betapa mahalnya arti eksistensi dan napsu untuk dianggap keren tajir melintir tuing tuing. Di Maximillianstrasse, jalan paling fancy di Munich (karena segala toko desainer muahal ada di sini. Dari el vi sampe eirmez, dari etro sampe moncler, dari dior sampe syenel), gue melihat seorang ibu-ibu arab dengan dandanan superheboh memperlakukan jalan ini sebagai cat walk. Ia mengenakan semacam jubah warna ungu royal, perhiasan berenteng-renteng, jilbab/hibab/penutup kepala (plis jangan marahin gue karena gue gak tau apa bedanya yang penting itu penutup kepala perempuan muslim) berbahan keliatannya mahal, heels yang sol-nya warna merah (louboutin, gue tau dari pacar bahwa cuma louboutin yang boleh pake sol merah. pas gue tanya kalo solnya warna ungu, merk apa? Ternyata merk si lexy dipelototin), bawa dua orang anak perempuan yang masih kecil dengan dandanan tak kalah heboh. Tapi yang terheboh adalah, tiga manusia ini membawa kantung belanjaan yang banyak buanget-buanget! Dari Dior, Hermes, LV, Chanel, Prada, Valentino, Bottega Veneta, dan sederetan nama-nama premium brands yang bikin gue mendelik. Buset mereka abis berapa puluh juta, yaaaaa?

Kekaguman gue masih berlangsung ketika mereka bertiga struttin’ along the road sampe ke ujung sono. Tak lama kemudian, kira-kira lima belas menit, gue melihat mereka lagi dari arah yang berlawanan. Wuidih. Belum kelar belanja, buk-ibukkk? Bayangan bahwa perempuan ini adalah isteri seorang emir arab yang pake duit 500 euro buat cebok menari-nari. Untuk sesaat, gue merasa iri. Ketika gue harus nabung berbulan-bulan untuk bisa jalan-jalan begini, dia tinggal mengibaskan jari dan tunjuk sana sini tanpa perlu memikirkan nanti malam makan apa.

Rasa iri gue pupus, berganti dengan heran ketika untuk kali ketiga ia dan dua anaknya balik lagi. Masih dengan tentengan banyak, masih berjalan bak peragawati, dan … gubrak!

Anak yang paling kecil jatuh. Empat kantung belanjaannya berceceran di jalan. Si Ibu tampak gusar dan membantu si anak berdiri. Kantung belanjaan Prada yang hendak dia angkat, kena tendang anak pertama. Si anak pertama kesandung dan jatuh juga. Kantung-kantung brandednya jatuh juga, berceceran. Gue jadi heran banget. Itu… kenapa… kantong belanjaannya …. kosong semuaaaaaaa?!!!! MANA ISINYA?! MANA TAS HERMES LAU? MANA LV TERBARU?! MANA SI SYENEL BOY?! HAHAHAHAHAHAHA!!!

BOK! Beneran kosong! Melompong! gak ada isinya! Delapan kantung belanjaan yang jatuh, ternyata cuma kantung doang wang wang wang wang!

Astaga, ternyata mereka mondar mandir sedari tadi itu bawa kantung aja gak pake isi? Yaelah, buk, di jakarta banyak yang jualan kantung begituaaan! Sumpah gue ngakak banget (tentunya setelah mereka pergi)

Sebegitu mahalnya arti nampang dan eksis sampai harus pamer banyak kantung branded dan dandan heboh? Yasalam.

Begitulah. Hidup selalu menawarkan banyak cerita. Tinggal kitanya aja, mau menikmati, atau mau ambisius mengejar list a-z sampai tak sempat menikmati apa yang ada di depan mata? Atau malah mau menawarkan kehidupan yang penuh glamor padahal berkantung kosong? Tujuannya, ya, biar dikagumi. Gak apa-apa kere yang penting penampilan badai. Gpp ngutang yang penting tampil dengan hape terbaru tas mahal sepatu bersol merah. Semuanya kembali ke masing-masing. Risiko, juga ditanggung masing-masing.

Until next post! See you!

P.S: fotonya menyusul. Ada di hard-disk, dan gue harus pergi. Sesekali membaca tanpa diganggu foto gpp, kan, yaaaa