SHARE

Namanya juga janji, maka harus ditepati, ya, kan? Nah. Masalahnya adalah, gue terkenal sebagai orang yang moody. Kadang gue bersemangat sekali menulis. Dalam sekali duduk, gue bisa dapet 24 halaman word. Namun, ada kalanya gue bengong dua bulan dan tak menulis apa-apa. Satu kata pun tidak. Siapa yang salah? Tentunya gue sendiri. Kemarin, gue berjanji untuk mengupdate blog ini setiap hari, tentang perjalanan gue ke Eropa. Ini hari kedua gue menulis, dan rasanya sangat menyenangkan mempunyai target yang jelas. Belum baca tulisan kemarin? Keterlaluan kamu, Ponirah! Baca di sini: BACA DONG BACA DONG BACA DONG

Kalau kemarin gue bahas tentang persiapan perjalanan yang lumayan ribet karena ganti itinerary dan berburu tempat tinggal dan akhirnya dapet gratis di beberapa kota, di postingan ini gue mau bahas tentang penginapan. Di Amsterdam ada buanyak banget hotel. Airbnb pun banyak. Hostel? Banyak juga. Gue bukan tipe orang yang nyaman berbagi kamar dengan orang lain. Ini udah pernah kejadian waktu ke Iceland dan Paris. Flashback dikit, deh.

Paris adalah kota Eropa pertama gue. Layaknya anak alay hore, begitu keluar dari stasiun Gare Du Nord, gue bengong. Buset, ngapa cakep banget, ya? Buset, ini Paris kok mirip Kota Wisata? *eh* Gue berbuset-buset lama sekali sambil bengong dan kemudian menggigil karena cuma pake kaus dan jaket tipis di suhu 7 derajat dan berangin jahat. Beloon? Yes, beloon.

Lesson number one: kalau ke Eropa pas winter, terutama di tempat yang pasti dingin, pastikan bawa baju thermal, coat, shawl, tutupan kuping dan sarung tangan di hand luggage. Kenapa? Supaya begitu kelar urusan imigrasi bagasi dll, lo bisa ke toilet, dan ganti baju tropis lo ke winter attire.

Nah, karena tinggal di hostel, gue cari deh tuh, hostelnya. Setelah nyasar berkali-kali (story of my life), ketemu juga. Dikasih kunci kamar, dijelasin beberapa hal basic, gue berhaah-hooh, lalu menuju kamar. Kamar ini berisi 6 bunk bed. Masalahnya, pas gue coba buka pintu, kuncinya nggak cocok. Mangkel pertama. Gue menuju resepsionis lagi.

Excuse me, the key doesn’t work.
No way, it should be.
But it doesn’t.

Si resepsionis ngasih pandangan “haelah-bego-amat-sik-bocah-dunia-ketiga-ini!” lalu bilang,
okay. please try again and if it’s still doesn’t work, let me know.

Fair enough. Gue naik lagi. Coba lagi. Tetap nggak bisa. Kemudian kamar terbuka dan gue berhadap-hadapan sama cewek jangkung nan cantik. Cara Delevigne is dat yuuuu? Setelah senyum awkward, gue masuk, nyari kasur kosong, menarik keluar semacam kandang di bawah kasur untuk mengunci koper (serius, bentuknya kayak kandang dengan teralis dll), lalu santai-santai. Lepas sepatu, tiduran, mikir betapa hebatnya gue bisa nyampe ke Paris sendirian. Widih! Bangga bener!. Masuklah cewek lain. Cewek lain lagi. Cewek lain lagi… lah… kok cewek semua…. Mereka berlima liat-liatan, ngomong pake bahasa yang gue nggak ngerti, dan salah satunya berdehem.

Hi…
Yes?
You … speak English?
No, I speak body language. *mangkel*
This is girl’s room only…

TARAKDUNGCES.
APALAGI INI.

But the receptionist gave me this room.
What’s the room number?
Gue menunjukkan kunci kamar.
Here. 211.

Mereka liat-liatan. Kedip-kedip. Kayak lagi telepati.
But… this is room 111. Girls only.

Kemudian hening. Kami liat-liatan. Perlahan, gue merasa kayak abis ditampar raksasa sampe pipi lebam memerah. Lalu, tanpa berkata apa-apa, gue beresin koper. Pake sepatu. It was the most excruciating two minutes of embarrassment of my life.

PANTES AJA KUNCINYA GAK COCOK, GOBLOK! HAHAHAHA!! Mana kamar khusus cewek lagi. Adoh. Untuk gak diteriakin pervert. Kalo diteriakin, mungkin gue akan beralasan, ih, eke disindang kan mau kepang-kepangan, neyk.

Untungnya, di Reykjavik gue nggak nyasar ke kamar yang khusus perempuan. Cuma sekamar dengan empat laki-laki, tiga di antaranya orang Canada, dan setiap malam semuanya ngorok dengan suara kayak abis nelen toa masjid. Di malam lain terdengar suara gabruk-gabruk-ahhhh-ohhhh-sssst-ssssshhhh-ahhhhh-hening-suara-batuk-lalu… ahhhh uhhhh ssssshh… god… ahhhh uhhh SSST! dan… ahhh… uh… dengan suara lebih pelan anjenglah dia ngewe di bunkbed tepat di atas gue.

Setelah itu, no more hostel for Lexy.

Cukuplah sudah trauma ini.

Mereka yang haah hooh gue yang deg-degan. Deg-degan takut bunkbednya gak kuat dan niban gue. Kebayang, gak, headline koran di Iceland: Seorang Pemuda Tewas Ketiban Bunk Bed yang Sedang Digunakan Ngewe di Sebuah Hostel?

BHAY.

Gue belum pernah coba couch surfing. Katanya, sih, seru. Apa itu couch surfing? Singkatnya, elo gak punya (atau males mengeluarkan) dana lebih untuk tinggal di hotel dan lebih memilih tinggal di rumah penduduk lokal, di sofa mereka, dengan bayaran minimal atau gratis, dan elo punya akses komunikasi dan tau tips and trick daerah yang lo kunjungi. Terdengar menarik, tapi belum cukup menarik untuk gue coba.

Gue malah lebih suka konsep Airbnb. Gak perlu dijelaskan pasti udah pada tau semua, kan, yaaaa? Nah. Di Amsterdam dan di kota lain, gue menggunakan kombinasi tinggal di hotel dan Airbnb. Karena udah dapet hotel gratisan, maka dana Airbnb gue lebihin…. dikit. Berapa, sih? Tuh, ada di postingan sebelumnya. Untuk Amsterdam, gue beruntung tinggal di Mercure Amsterdam Centre Canal District. Kenapa? Karena deket dari pusat wisatanya. Ke Rijksmuseum, tinggal ngesot jalan kaki. Naik tram atau kereta, tinggal jalan dikit. Mau liat Christmas Market? Deket bener ke Rembrandtplein. Btw, enaknya traveling menjelang natal adalah: banyak banget Christmas Market yang superunyu. Pohon natal gede-gede, cokelat panas nan lejat, oliebollen, cake khas Belanda yang lucu-lucu, bahkan, di Munich, Christmas Market di area bandara yang isinya selain orang jualan di stall unik dihias-hias, ada ice skating ringnya. How lovely!

DSCF5664

Here’s my room in Mercure Amsterdam:
DSCF5351

DSCF5353

DSCF5357ini hadiah dari Mercure Amsterdam. Bibit pohon natal yang bisa gue tanam di rumah. Lucu banget!

DSCF5360

DSCF5355Kalau kalian baca tulisan kemarin, pasti udah ngeh kalau harusnya Macha dan Saka ikutan. Karena mereka berdua batal, ya kamarnya buat gue. xDD

DSCF5362Titipan teman. Ngomongnya makanan biasa aja kokkkk… TAPI PAS DIBUKA… YA TUHAN INI APAAN!!! Ternyata, ini adalah ulat pohon jati yang digoreng. Namanya, Ungker. Temen gue, si Eko, ngakak parah begitu liat ekspresi wajah gue ketika menawarkan gue mencoba makanan aneh ini. Tapi begitu liat dia merem melek nikmat, gue penasaran juga. Dan…. gue makan itu ulat goreng alias ungker. Jijik, sih. Tapi… KOK ENAK?! HAHAHAHAHA.

DSCF5365bukti bahwa gue bawa 40 bungkus indomie ke belanda. Dari indomie goreng, kari, sampe soto, gue bawa! Lho kok gak beli di sini aja? Karena dulu pernah coba beli, dan… 1: mahal. 2: rasanya beda. Entah kenapa, bumbu indomie di negara lain itu gak seenak bawa dari Indonesia. Terlalu steril. Mungkin karena gak pake mecin. #lah

DSCF5368

DSCF5654Karpet di Mercure Amsterdam. Gak biasanya gue motret karpet, tapi… tapiii… ini keterlaluan bagusnya. Motifnya rumah-rumah khas di Belanda. Super duper cute pengin gue tarik dan bawa pulang aja rasanya!

DSCF5373

DSCF5409Dua foto di atas, adalah bagian dari Amsterdam Light Festival yang biasanya berlangsung dari akhir tahun sampai tahun baru lewat. Art installation ini tersebar di penjuru kota Amsterdam. Foto dua kepala nyala-nyala, nemu di dekat hotel, sementara yang tulisannya Today I Love You, ada di depan Centraal Station. Keren-keren banget!

DSCF5384

DSCF5435

DSCF5456

DSCF5462

DSCF5463

DSCF5464

DSCF5468

DSCF5479

DSCF5498

DSCF5500Neighbourhood-nya Mercure Amsterdam. Dari jalanan berhias lampu natal, canal cakep, Christmas Market yang berjarak kurang dari sekilo (jalan kaki di Amsterdam menyenangkan sekali!), liatin orang pacaran (untung gue bawa pacar juga wkwk), liat orang maen ice skating (gue sih tau diri dan nggak mau coba. Keseimbangan badan gue buruk banget!), sampai suasana pagi di lorong-lorong di sekitaran hotel.

Kayaknya udah cukup panjang cerita hari ini. Dan masih buanyak banget cerita tentang Amsterdam. Besok, gue mau ajak kalian jalan-jalan ke Van Gogh Museum, Rijk Museum, dan Anne Frank House!

Suka postingan ini? Share dong. :”>
Mau beliin gue tiket? Hyuk, mari. Diterima dengan senang hati!
Ada request harus bahas apa? Komen dong dong dong…

See you tomorrow!