SHARE

Apa yang paling kalian suka ketika traveling/jalan-jalan? Packing? Menyusun itinerary? Makanan? Maen ke historical sites? Liat pemandangan cakep?
Kalo gue, yang paling gue tunggu adalah: kejutan apa yang akan gue hadapi, dan manusia macam apa yang akan gue temui?

Dua hal di atas, kejutan dan manusia, selalu membuat gue kepengin traveling dan traveling lagi. Ke tempat yang sama pun gue mau. Soalnya, setiap tempat pasti menyajikan cerita yang berbeda, suasana yang berbeda, tak peduli berapa kali bolak-balik ke sana. Satu lagi, gue kalo jalan bukan tipe orang yang demen nemplok di satu tempat beberapa menit foto-foto terus kabur dan pindah ke tempat lain, repeat. No. I am not the one who wants to brag like this: yang penting udah ke sini-sini-sana-sana-sono.
The most important thing for me: kenangan apa yang gue bawa pulang dari tempat tersebut? Interaksi macam apa yang gue dapat? Kalau di satu tempat bentaran doang terus pindah, terus gue dapet kenangan apa selain foto cakep doang? So, yes. I am a slow traveler. Penginnya lama di satu tempat, dan nggak keberatan nongkrong duduk diem nggak ngapa-ngapain di sana.

Seperti gue betah-betah aja pas gerimis bengong di jembatan ini, liatin orang lewat, yang naik sepeda, bawa koper, liatin canal, liatin kapal…

Nemo Museum - Amsterdam

Nemo Museum - Amsterdam

Nemo Museum - Amsterdam

Itu sebabnya, gue sering kali menyisakan PR untuk diri gue sendiri. Ke Belanda dua kali, belum sekalipun gue ngeliat ladang tulipnya. Ke Paris dua kali, belum sekalipun maen ke puncak Notre Dame, atau ke Versailles. Ke London dua kali juga, masuk ke National British Museum aja nggak. Apa gue nggak mau? Ya mau banget! Apa waktunya nggak ada? Ada banget! Terus kenapa nggak ke sana? Karena ya itu, gue suka ngasih PR ke diri sendiri. Bahwa suatu hari nanti gue akan balik, dan ‘menyelesaikan’ si ‘PR’ itu lalu memberi PR lain untuk diselesaikan entah kapan.

Nah, berhubungan sama PR juga, di Amsterdam gue menyelesaikan satu PR: nonton pelem box office versi 3D. Cemen, ya, PR-nya? Tak apa. Buat gue hal kecil seringkali lebih menarik ketimbang target yang bombastis. Gue pernah nonton pelem di luar negeri. Di Singapur, dan di Paris. Satu hal menarik yang gue amati adalah: ketika film mulai, nggak ada satu pun makhluk yang mainan hape dengan layar terang yang bikin penonton lain kepengin cekik dia sampe mati. Nggak ada yang ngobrol kencang-kencang sampai mengganggu ketenangan penonton lain. Nggak ada yang sengak naikin kaki ke atas bangku di depannya seolah-olah itu bioskop bikinan buapak moyangnya. Perilaku yang kerap gue saksikan di tanah air, dan sering menjadi bibit konflik.

Padahal ini kan simple, ya? Etika dasar menonton di bioskop yang adalah ruang publik.

  • Nyalain hape pas nonton film di bioskop (yang notabene ruangannya gelap sementara layar hape lo bisa menerangi semesta), mengganggu penonton lain yang inginnya fokus ke film bukan fokus ngerebut hape elo lalu jejelin hape itu ke pantat lo.
  • Ngobrol kenceng-kenceng cekikikan gak puguh sama temen di sebelah mengganggu penonton yang ingin serius ngeliat betapa gantengnya Logan Lerman dan betapa cantiknya Emma Watson dan betapa bagusnya chemistry mereka di The Perks of Being A Wallflower bukan pengin nonjok elo sampe gigi lo rontok tinggal dua hinggap di jendela tek dung tek dung tek dung lalala~
  • Naikin kaki ke bangku depan berpotensi membuat penonton di depan lo keganggu dan dia bangkit dari tempat duduknya, mengeluarkan pistol lalu menembak kaki elo dan akhirnya lo cacat seumur hidup nggak bisa jalan lagi padahal elo cuma berniat selow santai kek di warteg.
  • Menerima telpon dari orang lain dan ngerumpi di tengah film nggak peduli sama penonton lain dengan alasan ini telpon penting berpotensi membuat hape elo direbut dan elo ditonjokin se bioskop. Karena kalau memang penting, KENAPA GAK KELUAR DARI BIOSKOP AJA, BANCIK?! Di dalam bioskop kan berisik!
  • Goyang-goyangin kaki dan akhirnya nendang bangku depan berulang-ulang, berpotensi orang di depan elo marah dan memotong kaki elo ala film SAW.
  • Bikin pelem sendiri dan berbuat lucah (thanks to @SaulRaja for this term! wkwk) sampe heboh sementara yang lain sibuk menikmati film berpotensi diarak orang sebioskop lalu dilempar ke Marina Trench not because we are envious you have selingkuhan/mantan/gebetan/pacar/spouse but because we can afford to book a room at a hotel, bitch.
  • Mentang-mentang udah nonton terus nemenin temen yang nonton sambil bercerita tentang film yang ditonton dan spoiler sana-sini berpotensi membuat lo kehilangan teman dan membuat orang-orang yang terganggu menjejalkan celana dalam bekas penderita sipilis yang dipake seminggu berturut-turut ke mulut lo.
  • Bawel nanya jalan cerita ke temen lo berpotensi dikeplak kanan kiri atas bawah dan bonus, SHUT UP BITCH! karena hey, kalo elo segitu begonya nggak ngerti, maka tanya SETELAH filmnya selesai, bukan merecet di sepanjang pelem.

Lo beralasan, nyet, gue bayar ya suka-suka gue, dong?!! maka gue akan bilang, nyet lo pikir yang lain gak bayar dan lo pikir just because you pay you have the right to be a dick? No way, Jose. Lo mau seenaknya sendiri? Sana pulang dan nonton di rumah elo. You watch a movie while fucking your sofa or watching a movie while slow dancing in a burning room di rumah lo pun sebodo amat.

Kenapa gue jadi ngomel, ya… Anywayyyyy, kejadian-kejadian di atas yang sering terjadi di bioskop kita, tak terjadi sama sekali di Paris, Singapur, atau Amsterdam. Semuanya tertib. Gak ada yang seenaknya. Pengamatan gue: bioskop di sini kualitasnya ya sama aja kayak di Indonesia. Sound system di Pathe Amsterdam malah kalah kinclong dengan kualitas suara Dolby Atmos di XXI Jakarta. Kelebihan mereka cuma gak ada penonton norak aja.

Dan satu lagi yang bikin gue terkesan. Gue kan nonton Star Wars: The Force Awakens tanggal 16 Desember (perkara tanggal penting karena di Indonesia tanggal 18 mulainya jadi hore gue pamer). Nah, di lobby bioskopnya gue liat ada banyak yang dandan jadi Padme, Obi-wan Kenobi, Darth Vader, Princess Leia lengkap dengan gold bikini dan rambut cepol donat kiri kanan (LAAFFFFF BANGET), stormtrooper, bawa light saber biru-merah-hijau, seru banget! Bukan hanya orang dewasa yang dandan, anak kecil berkostum Vader lari-larian pun ada. Gue jadi mikir, buset, mereka niat banget, ya… kalo di Indonesia bakalan seheboh ini, nggak, ya?

So, satu lagi PR berhasil gue kerjakan. Kecil, tapi bikin gue seneng. Dan kesenangan itu nggak perlu datang dari ‘PR’ besar. dan seharusnya, ya… seharusnya, rasa senang atau bahagia tak harus datang dari orang lain. I want to be the one who makes me happy.

Kalo quote yang gue baca: Be with the one who makes you happy.

Ada satu kejadian menarik yang gue liat. Di tempat penjualan makanan dan pernak pernik Pathe Arena (deket Amsterdam Arena atau kandang Ajax Amsterdam), seorang anak laki-laki yang kayaknya baru berusia 7 atau 8 tahun, sedang ngobrol serius dengan papanya. Mereka ngobrol pake bahasa Inggris, jadinya gue ngerti.

Rupanya, si anak nanya: kenapa sih gue harus pake kostum Darth Vader? Bapaknya, yang pake kostum Darth Vader juga, menjawab, because Vader is so badass.
The Boy: you use the forbidden word, Daddy.
Daddy: Badass is a compliment so you can use it.
The Boy: so Darth Vader is a *berbisik* badass?
Daddy: indeed, he is!
The Boy: but he is the bad guy, isn’t he?
Daddy: there is no good or bad in Star Wars, son.
The Boy: *looked confused* so… Vader is good?
Daddy: No. He is COOL.
The Boy: And *berbisik* badass?
Daddy: And badass. And awesome.
The Boy: Okay, I am Darth Vader.
Daddy: Welcome to the Dark Side, son.

Gue rasa, si bapak ini salah satu Sith Lord, deh. Hahaha!

Percakapan singkat mereka bikin gue pengin punya anak laki dan gue pakein kostum Darth Vader juga lalu ngomongin Star Wars. Hvft. Galau sekejab.

Sekarang mari kita menikmati pemandangan di seputaran Amsterdam Arena.
Suka postingan ini, share, dong!
Punya komen tentang manusia bangkek di bioskop? Silakan komen.
Suka tulisan di blog ini? Mbok ya subscribe, dek. Ciyan bener yang baca ribuan yang subscribe gak nyampe 600 orang. Cedih, tauk.

P.S: karena kemarin gue gak sempat menulis, maka hari ini, akan ada dua postingan. Hore, nggak?

Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam
Ajax Arena - Amsterdam

Ketinggalan postingan sebelum-sebelumnya? Keterlaluan, kamuuuuu! But here, have a read:
Part one
Part two
Part three