SHARE

Warning: INI POSTINGAN PANJANG!(tapi seru, kok. Plis, baca, plis. Plis, komen juga, plis)

I was supposed to fly to New York for the first time, not visiting Europe for the 4th time. At least, itu adalah rencananya. Namun, sebagaimana sabda yang sering kita sama-sama baca, manusia berencana, tiket gratis yang menentukan. Yep you read it right. Tiket gratis. Some of you might scream right now, GIMANA SIK CARANYA DAPET TIKET GRATIS?! KOK LO NYEBELIN SIH, LEX?! GUE CINTA SAMA ELO, LEX! MARRY ME, LEX! (dua terakhir cuma halu-halu babu gue aja. Maap! Hahaha!)

Tapi serius, gue ke eropa kali ini karena dikasih tiket gratis. Well, lebih tepatnya, barter jasa. Ceritanya begini… Suatu hari, pihak Qatar Airways menghubungi gue. Mereka ngajakin meeting untuk kemungkinan kerjasama. Buat gue, kerjasama dengan airlines berarti (1) tiket gratis (2) jalan-jalan gratis (3) promoin proyek mereka di-socmed dengan imbalan pundi-pundi rekening bertambah (4) mereka minta tolong doang gak ngasih apa-apa (which is fine juga sih kalau emang kegiatannya bersifat sosial dan si brand bukan banci tampil yang harus nongol dengan jelas terang benderang di kegiatan tersebut). Tanpa perlu gue geber lebih jauh, kayaknya kalian udah tau kalau gue sering ‘ngebuzz’ di twitter maupun instagram. Yang belum tau, ngebuzz itu secara singkat dan suka-suka gue adalah: promoin suatu produk/kegiatan/brand di social media, dengan imbalan berupa barang/duit/dll.

Nah, meeting sama Qatar berujung pada gue yang ngomong gini: Kalian gak usah bayar deh, in return gue minta dua tiket PP Jakarta New York aja. Sebagai gantinya, gue akan blablablabla… (di sini gue cuap-cuap barter jasanya apa aja)

Eh, Qatar setuju, dong. Eh, gue seneng, dong. Eh, pacar gue yang harusnya pergi bareng gue, rupanya masih trauma permohonan visa ke Amriknya ditolak, dong. Eh, dia minta, gimana kalau ke Europe aja, dong. Eh, gue dengan sedikit mangkel, ngomong ke Qatar, dong. Eh, dikabulin, dong, sama Qatar-nya. Ya udah, Tiket PP JKT-NY dituker dengan tiket PP JKT-AMS. Kalau dihitung, sih, harga tiket JKT-AMS lebih murah ketimbang JKT-NY. Tapi ya sudahlah, gue kan baik hati dan tidak rajin menabung. Rajinnya jalan-jalan.

Masalah pertama datang. Gue gak bisa dikasih tiket saat blackout dates. Makhluk apa lagi itu blackout dates? Gampangnya, blackout dates adalah hari-hari high season, di saat harga tiket lagi ngelunjak-ngelunjaknya karena bertepatan dengan liburan idul fitri, natal, tahun baru, dll. Nah, hari yang gue pilih, bertepatan dengan blackout dates. Gue pun manyun. Tapi cuma sebentar. Prinsip gue: oke, elo dikasih masalah. Rather than dwelling with the problems, why not creating solution? Mikirin masalah gak akan bikin masalah menghilang, bukan? Yang ada, tambah mumet. Mendingan muter otak gimana cara menciptakan solusi berdasarkan masalah yang ada. Hasilnya, dengan gagah berani gue mengajukan perubahan tanggal. Yang tadinya berangkat menjelang natal dan pulang setelah tahun baru lewat dikit, menjadi jauh sebelum natal dan seminggu setelah tahun baru. Yang awalnya cuma 14 hari, membengkak jadi 26 hari. Solusi ini disetujui pihak airlines. Ihiy. Satu masalah selesai. Namun, datang lagi masalah kedua.

Dengan pergi 26 hari, artinya gue gak bisa seenaknya seperti biasanya. Traveling ala Lexy: yang penting tiket dulu. Sisanya gimana entar aja. Tahun lalu, gue pergi ke Eropa dengan rute nyampe di Amsterdam, pulang via Roma. Cuma sekitar 12 hari. Apa ada perencanaan? Nggak. Cuma mikir gini: nyampe amsterdam, keliling, pergi ke brugge, lanjut ke paris, terbang ke roma, pulang. Simple. Nginepnya? Oh, cari airbnb yang mureh aja. Udah. Itu doang. Gak ada yang namanya tetek bengek (seriously, who came out with this term? kenapa teteknya harus bengek?!) itinerary full ala orang-orang (looking at ya, Virgo!) yang berisi hari pertama sampai hari terakhir mau ke mana ngapain jam berapa naik apa blablabla.

Karena gue akan pergi selama 26 hari, mau gak mau, gue harus memikirkan, tanggal sekian sampe sekian di mana, pindah ke kota lain naik apa, dan sebagainya. Sebagai orang yang chaotic banget (read: Aquarius banget) gue pusing. Gue nggak terbiasa dengan perencanaan. Well, there’s a first time for everything, right? Belajarlah gue membuat itinerary kasar. Hasilnya? Gue diomelin sama temen gue yang namanya Erza. Itinerary awal gue itu loncat-loncat dan ngaco. Gue dari Amsterdam ke Brussels (ini bener) lalu loncat ke Strasbourg (Prancis) dan ke kota entah apa lagi. Gue beruntung punya teman kayak Erza yang memberi saran itinerary yang asik dan nggak buang banyak waktu.

Hasil akhirnya:

  • Amsterdam
  • Brussels
  • Paris (natalan di sini)
  • Cannes
  • Monte Carlo
  • Lugano
  • Florence (tahun baruan di sini)
  • Vienna
  • Prague
  • Amsterdam

Lalu terjadilah Paris Attacks. Sialan. Lalu berkembanglah rumor ke Prancis pake visa khusus. Dobel sialan. Kemudian Brussels Lockdown. Triple sialan. Abis itu rasanya gue mau nangis. Bok, baru bikin itinerary aja, masih di Indonesia aja, udah deg-degan takut kena teroris di Eropa. Kenapa sih mereka gak macem-macem di tengah gurun Gobi aja, atau bikin rusuh di gunung berapi bawah laut aja? Kenapa yang namanya teroris sialan harus nyusahin manusia lain, bikin takut, ngebom sana-sini?! Kenapa gak bagi tiket liburan gratis aja, sik?! Ih. Kzl.

Rencana ke Paris gagal total. Si Macha dan Saka (@myARTasya dan @raesaka) juga membatalkan rencana Eropa mereka bareng gue. Jadi, setelah tau gue mau ke Eropa, dua sahabat gue ini akhirnya ikut setelah dibujuk-bujuk dengan iming-iming bisa apply hotel gratis. Agenda utama mereka, bawa anak mereka yang superlucu, si dedek Al, ke Disneyland Paris. Apalagi setelah tau bisa dapet hotel gratis, mereka tambah semangat. Namun, khawatir dengan keselamatan mereka terutama Dedek Al, Macha dan Saka memutuskan untuk batal pergi. Tunggu. Sebentar… WHAT?! HOTEL GRATIS?! KOK BISA?! IH MAU PLIS HOTEL GRATIS!!!

Oke, mari, mari, berkumpullah, kakak-kakak dan adik-adik. Lexy akan jelaskan bagaimana caranya bisa dapet hotel gratis.

You see, as your presence in social media grows, as you write in your blog more and more, as you gain more followers too, brands would want to use you to promote them. Ini berhubungan erat dengan ‘personal branding’. Setiap orang bisa mengembangkan hal ini. It’s a digital era, and it’s not that hard to make yourself ‘heard’. Gue pernah ngetwit tentang personal branding beberapa kali. Bisa dibaca di sini untuk yang paling baru. Kalau gue bahas lagi, akan butuh satu postingan khusus.

Nah, gue sudah beberapa kali menjalin kerjasama dengan hotel, salah satunya: Accor Group. Dengan setengah tak tau diri dan setengah pede plus setengah ngarep, gue memberanikan diri menghubungi Accor. Hasilnya? Gue dapet 4 malam gratis di Amsterdam, 2 malam gratis di Brussels, 2 malam gratis di Vienna, dan 3 malam gratis di Praha. Total: 11 malam gratis di hotel mahal bintang 4 dan 5. Hore, nggak? Hore banget!

Terus sisa 15 malam gimana? Ya gampang. Gue booking AirBnb. Kok AirBnb? Kenapa gak hotel lagi? Karena kalo di AirBnb, gue bisa masak Indomie.


Serius. Gak boong gue. Itu agenda utama. Emang lo pikir, makanan di Eropa gak mahal? MIHIL! Makanya gue bawa Indomie …. satu dus. Hihihihihihi.

Nah. Masalah penginapan sudah beres. Tiket juga udah. Visa? Oh, gampang. Tinggal apply. Tips: kalau ke Eropa, negara yang paling gampang dan murah hati memberikan visa adalah Belanda. Jadinya pun sangat cepat. Paling lama seminggu. Asal semua syarat dipenuhi, most likely you will get your Schengen Visa. Info lebih lanjut tentang visa Belanda, baca di sini. Serius, gampang.

Balik lagi ke itinerary. Berhubung Paris dan Strasbourg dan Cannes (yang di Prancis juga) plus Monte Carlo (yang deket sama Cannes) gue coret, dan rencana 4 malam di Brussels gue ganti jadi 2 malam saja (I blame the Brussels Lockdown yang bikin heboh), artinya kutak-katik itinerary. Kali ini limitationnya jelas, gue nggak bisa ganti tanggal Amsterdam-Brussels-Vienna-Praha, karena hotel (gratis) udah dapet. AirBnb yang sudah terlanjur di-booking, gue batalin. Untung masih lama, jadi cuma kena denda $10 atau $29. Kemudian, datanglah seonggok malaikat bernama Rachel.
“NEYK, KENAPA SIH GAK KE SWISS AJA?!”
Me (ikutan ngondek): Oh, ke Swiss, kok, Neyk. Lugano, dua hari. Si patjar mau belanja, bowwww.
Rachel: Ih, kok cuma Lugano? Tempat gue dwongg! Nginep gratis!
Me: CIYUSAN LO?!
Rachel: cungguh. caoongcih!

AHZEK. Dengan satu kata ‘gratis’, gue terbujuk. Iya, gue murahan dan gampangan. Masalah Cannes dan Monte Carlo terselesaikan. (FYI, Monte Carlo itu muahal banget dan negara kecil tapi katanya tsakeup yang mau gak mau harus gue korbankan). Tinggal 3 malam antara Brussels dan Swiss. Ke-ma-na?! Melihat peta Eropa, antara Belgia dan Swiss, rute yang masuk akal adalah Jerman, tepatnya, Frankfurt. Kota yang berada di tengah Brussels dan Zurich. Dengan pedenya, gue booking AirBnB di sini, dan lagi-lagi, diomelin sama temen gue. Bahkan, si Kenny sampe kasih satu link yang intinya ngapain-sih-elo-pergi-ke-Frankfurt-wong-gak-ada-apa-apa-di-sana-please-deh-ke-tempat-lain-aja-di-Jerman-yang-lebih-cakep! YHA. Oke. Mari ubah itinerary lagiiiiiii! Kutak-katik-kutak-katik, hello, Munich! Gue pernah ke Munich waktu balik dari London dua tahun lalu. Tapi, mentok di airport-nya doang. Does that count? Of course not. So, there we have it. 3 Days in Munich. We were so excited…. until we realized: gak ada flight murah dari Brussels ke Munich. Naik kereta lama. Naik bus apalagi. *KRAIIII*

Terpaksa, mau gak mau, gue beli tiket pesawat Brussels – Munich. Harganya? Oh, 239 Euro saja untuk berdua, sodara-sodara. *KRAIII LAGI* Dan… ternyata… bukannya langsung ke Munich, pesawat ini mampir dulu ke… Copenhagen, Denmark. Jalur yang harusnya turun, ternyata ke atas dulu, baru turuuuuuuuun ke Munich. *KRAIIIIIII LAGI KARENA TAMBAH LAMA* Tapi ya sudahlah. Ini risiko.

ITINERARY

Ini dia itinerary akhir gue untuk 26 hari di Eropa (yang nantinya ada perubahan minor). Mau nyontek? Silakan. Boleh banget!

  • Amsterdam (6 malam)
  • Brussels (2 malam)
  • Munich (3 malam)
  • Sargans/Trubbach (4 malam)
  • Lugano (2 malam)
  • Florence (2 malam)
  • Venice (day trip di hari ketiga, lanjut naik kereta malam ke:)
  • Vienna (2 malam)
  • Prague 3 malam
  • Amsterdam (1 malam)

PULANG. Total: 26 malam.

BUDGET

Btw, banyak yang minta perincian bajet. Okay, secara kasar aja, ya. Here goes:

  • Apply visa: dua jutaan berdua.
  • Tiket JKT-AMS-JKT: GRATIS (wkwk)
  • Amsterdam 4 malam: GRATIS LAGI (wkwk lagi)
  • Amsterdam 2 malam: AirBnB, 272 Euro
  • Amsterdam Brussels: Naik kereta. Lupa berapanya, yang jelas gak nyampe 100 euro, kok.
  • Brussels 2 malam: GRATIS DWONGS (wkwk wgwg)
  • Brussels – Munich, naik SAS, 239 Euro
  • Munich 3 malam: AirBnB, 291 Euro
  • Munich ke Buchs SG (Swiss): naik kereta. Gak mahal, dan lupa harganya (maap, pemirsa)
  • Sargans/Turbbach 4 malam GRATIS WKWK WKWK WKWK
  • Trubbach – Lugano: naik Berbinal Express, eh… Bernina Express. MAHAL! Tapi worth it! Akan ada postingan khusus!
  • Lugano 2 malam: AirBnb, 214 Euro
  • Lugano – Florence: Naik kereta, lagi-lagi lupa berapaan :))
  • Florence 2 malam: Airbnb, 280 Euro
  • Florence – Venice: Naik kereta, abis 72 Euro berdua.
  • Venice Vienna: kereta malam, beli tiket online kena 293 USD, dan ini menyedihkan. Ada postingannya nanti :((((
  • Vienna 2 Malam: GRATIS DI SOFITEL LUXURIOUS HOTEL IHIY IHIY!
  • Vienna-Prague: naik kereta. Gak nyampe 100 euro berdua.
  • Prague 3 Malam: GRATIS LAGI DI NOVOTEL WKWKWKWK (alay bahagia dapet gratisan)
  • Prague – Amsterdam: naik EasyJet. 151 Euro termasuk bagasi! Ada postingan khusus, termasuk drama bagasi yang heboh -__-
    Amsterdam 1 malam: AirBnB, 210 Euro (ini muahaallll, agak nyesel, nanti gue ceritain kenapa!)

So there you have it, sebagian besar rincian itinerary gue, plus duit yang gue (dan pacar) keluarkan untuk penginapan dan tiket kereta. Pengeluaran untuk makan dan lain-lain? Nanti. Akan gue kasih tau seiring berjalannya waktu *apa sih* Untuk provider yang gue pake, setelah membandingkan harga Telkomsel dan XL (gue pake dua-duanya), akhirnya, gue memilih untuk roaming dengan paket data XL karena lebih murah. Pertimbangan lainnya: gue males banget bolak balik ganti kartu selama di Eropa. Rupanya ini keputusan yang salah. Nanti akan gue kasih tau kenapa.

Nah, tiba di Amsterdam, udah siang bolong terang benderang. Gue nginep di Mercure hotel (sekali lagi, gratis, tolong jangan dikeplak) empat malam. Amsterdam di pertengahan Desember artinya dua hal: mulai dingin + berangin kencang. Setelah check in, gue buka Google Map. Ke mana? Nggak tau. Itulah seni traveling ala Lexy. Tiba di kota tujuan, tinggal googling aja tempat mana yang asik dikunjungi dan ngapain aja di sana.

Daripada kalian muntah baca mulu dari tadi, mari kita liat foto Amsterdam yang kece-kece. Sebagian besar fotonya nggak gue edit karena males. Ehe ehe.
Amsterdam - At Night 1

Amsterdam - The Man With Red Jacket

Amsterdam - The Grand Canal

Amsterdam - The Bike

Amsterdam - Sunset

Amsterdam - Restaurant

Amsterdam - Night

Amsterdam - Near Centraal Station

Amsterdam - Centraal Station

Amsterdam - Centraal Station 1

Amsterdam - At Night

Amsterdam - At Night 4

Amsterdam - At Night 3

Sampai bertemu besok di postingan selanjutnya.
Ada saran apa yang harus gue bahas? Kasih tau gue di kolom komen.
Ada pertanyaan? Silakan komen di bawah.
Mau jadi sponsor untuk gue supaya lebih sering traveling dan lebih sering cerita? Komen dan email aja. #eaaa

Cheers!