SHARE

Seperti anak tiri dalam cerita-cerita zaman dahulu yang menggeneralisir ibu tiri pasti membenci anak tiri, Munich adalah sebentuk anak tiri yang menunjukkan pesonanya perlahan-lahan. Mulai dari bandara yang memuat christmas market, sampai ke masakan indonesia made in germany by indonesian. Semua terjadi begitu saja, tanpa rencana. Rencana awal gue justru tak melirik Jerman sekalipun dari daftar negara yang ingin dikunjungi. Namun, semuanya berubah ketika negara api … halah basi. Semua berubah ketika Paris Attacks. Paris tak lagi tampak aman maupun menyenangkan. Rute selepas Belgia harus segera ditetapkan sebelum tiba di Swiss. Maka, pilihan yang paling masuk akal adalah Jerman, kota yang paling masuk nalar adalah Frankfurt, karena ia berada di antara Brussels dan Zurich. Tapi kenapa malah Munich yang terpilih? Karena beberapa teman ngasih tau, there’s nothing to see in Frankfurt. It’s a business hub. Okay. Masuk akal.

Terpilihlah Munich. Gue, si ibu tiri yang sama sekali nggak berniat ke sana, terpaksa harus menghabiskan tiga malam. ‘Terpaksa’, karena gue pikir, di sini tak ada apa-apa. Betapa salahnya gue. Tiga hari kemudian, gue menyesal kenapa cuma tiga malam di Jerman. Tiga hari kemudian, gue bersyukur memilih Munich, anak tiri yang kini disayang layaknya anak kandung sendiri.

Here comes the funny part. Untuk mencapai Munich dari Brussels, ternyata gue nggak menemukan direct flight (read: gak ada yang murah), terpaksalah gue terbang dari Brussels ke atas, ke Copenhagen, Denmark, ngendon sekitar tiga jam di situ, baru terbang lagi ke bawah, alllllll the way to Munich. Jadinya muter gak puguh. Terkadang hidup memang begitu, kan? Untuk mencapai tujuan kita harus bersusah-susah dahulu. Berputar-putar sebelum tiba di tempat yang kita mau. And honestly, I don’t mind.

Kalo gue traveler ala-ala, gue udah bisa memasukkan Denmark sebagai negara yang pernah gue kunjungi. Mayan, tambah satu bragging rights. pffft. Kan ada orang yang cuma mampir di bandara negara mana gitu untuk transit, terus pamer ke ujung dunia kalau dia udah ‘menaklukkan’ negara itu.

Eh, kok jadi nyinyir… anywayyy…

Tiba di bandara internasional Munich, gue tertegun. Ada satu bagian bandara yang dijadikan ice skating ring dan christmas market. LHO KOK APIK?! Jadi, gue bukannya kabur cari info kereta ke airbnb, malah bersenang-senang di christmas marketnya.

Mari kita melihat-lihat.

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Sistem transportasi ternyata gampang saja. Gue membeli three days pass, bisa digunakan untuk tram dan kereta di seluruh Munich. Very convenient. Begitu tiba di apartemen AirBnB sewaan, gue kembali ngomel. NGGAK ADA LIFT NYA DAN APARTEMENTNYA DI LANTAI EMPAT SEDANGKAN AING UDAH CAPEK :((

Hhh…

Tapi, ya, dengan sisa kekuatan yang ada, berhasil juga gue geret koper ke lantai empat. Kalau udah begini, gue jadi iri sama cewek-cewek. Cukup pasang tampang melas, pasti ada yang mau bantu angkat koper. Kalo cowok, jangankan pasang tampang melas, nangis guling-gulingan juga dicuekin. But hey! The apartment is so freaking cozy! Lovin’ Munich already!

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Dengan semangat nggak tau diri, gue mulai browsing sana-sini, mencari-cari ke manakah besok kami harus pergi? Tak lama browsing, gue terkesiap. Melongo melihat gambar kastel yang menjadi inspirasi Disney: Neuschwanstein! Wah, gue langsung semangat. Coba deh kalian gugel foto si neuschwanstein. Gila banget kerennya. Sementara pacar masak makan malam (sup ayam, ayam goreng, sambal, telur dadar, indomie (oh yesssss)), gue langsung mencari cara gimana ke kastel neuschwanstein. Kenyang makan, gue tidur dengan bahagia. Ternyata kastel yang selama ini ingin gue kunjungi, cuma dua jam dari Munich! Ihiy! Hore. Cita-cita bangun pukul 7 pagi pun dicanangkan.

Cita-cita ini kandas pada pukul 9.30 keesokan harinya. Gue kesiangan. hhh.. beloon kok gak ada obat, ya… Terus gue bingung, jadi hari ini ke mana, dong? Soalnya ke kastel neuschwanstein pasti udah kesiangan. Bisa-bisa tiba di sana pukul satu. Belum lagi beli tiketnya, dan lain-lain, dan lain-lain. Normally, gue akan marah-marah dan bad mood seharian karena apa yang gue rencanakan tak berjalan sebagaimana yang gue mau. Tetapi, berbekal pengalaman berjalan yang lumayan sering, gue menyadari bahwa:

– pasti akan tiba hari di mana segala sesuatu tampaknya melawan elo. Rencana yang gagal. Cuaca yang jelek. Tiket yang tak tersedia, dan lain-lain. And it’s okay.
– apa yang lo rencanakan, tak selalu akan berjalan seperti yang lo mau. And it’s okay.
– Ketika disuguhi masalah, lebih baik mencari solusi ketimbang marah-marah.
– Fokus ke masalah tak akan pernah menyelesaikan masalah.
– Marah-marah hanya akan menghabiskan energi. Namun, mencari solusi justru akan membawa kalian (dan gue) ke petualangan baru yang tak kalah seru.
– dan akhirnya gue sadar, semesta ini tak bekerja seperti yang gue mau. AND IT’S OKAY.

Jadi, hari itu gue habiskan di Nymphenburg Castle. Tau dari mana? Dari gugel, dong. Gue cuma memasukkan keyword, ‘Munich must visit’, dan keluarlah bermacam-macam saran. Apakah sebelumnya gue tau tentang Nymphenburg Castle ini? Lol boro-boro. Wong Munich gak masuk list jalan-jalan gue sama sekali. Serunya lagi, gue tak perlu menempuh dua jam untuk sampai di kastel ini. Plus, langit sedang biru menawan. Sesuatu yang jarang gue dapatkan selama trip ke Eropa.

All I can say is, that day was well spent. We had a great time dan kerap ternganga melihat keindahan Nymphenburg. Interior bergaya rococo yang diusung istana ini menjadikannya surga untuk difoto. Banyak ruangan yang saking indahnya membuat gue terdiam bermenit-menit! Silakan liat fotonya di bawah ini. Kalau ditanya hal yang tak menyenangkan…. ehem… gue sempat ketakutan karena ada angsa yang mangap-mangap marah dan ambil ancang-ancang mau nyosor gue. Ugh. kenapa sih, soang itu galak. -__-

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Munich

Foto terakhir, adalah foto favorit gue. Kenapa? Karena gue merasakan kedamaian yang sama seperti yang dirasakan perempuan yang memejamkan matanya ini. Zen abis.

Kalau ditanya, apakah gue menyesal nggak ke Neuschwanstein? Oh, jelas. Kastel ini sudah ingin gue kunjungi sejak lama. Tapi… gue juga sadar, gue kepengin balik ke Munich lagi. Pengin main ke Black Forest (bukan kue, tapi hutan beneran), pengin ke kastel yang ada di dekat Neuschwanstein (yang gue lupa apa namanya), pengin main ke daerah Jerman yang lain, (yang ternyata astaga cakepnya… hutan dan gunung dengan salju di puncaknya yang tak kalah cakep dengan pemandanga pegunungan di Swiss, berbagai istana dan museum, desa tradisional jerman yang ternyata menyimpan keindahan yang magis, dan tentunya, manusia yang ramah-ramah!) seperti Berlin, Aachen, Cologne, Baden-Baden (ini kota kecil yang dapet dari gugling dan banyak sumber pemandian air panas yang picturesque banget!), Berlin, dan Dresden. Oh, well, semoga masih ada kesempatan untuk kembali ke negara ini. For starters, Munich is completely enchanting!

Gue akan lebih banyak cerita tentang Munich di postingan selanjutnya. Perjalanan ke Munich telah melatih gue untuk lebih bersabar dan menerima nasib bahwa tak semuanya mesti berjalan seperti yang sudah direncanakan, dan tentunya, bangun kesiangan itu nggak apa-apa. Namanya juga lagi liburan, (dan menyeret koper gede setinggi empat lantai)

Btw, gue butuh masukan kalian, nih. Menurut kalian, mendingan posting berapa kali dalam satu minggu?

P.S: semua foto diambil pake Fujifilm X-E2, lensa 23mm f/1.4 dan lensa 10-24mm f/4, nggak ada yang diedit. Cuma diresize aja biar nggak berat loadingnya. Sampai bertemu di postingan selanjutnya!