SHARE

Pagi ini, gue duduk di depan laptop dengan jemari yang sibuk mengetik sementara di otak gue, potongan-potongan adegan kembali muncul. Kenangan yang menghantam terlalu dekat dengan rumah. Issue tentang abusive relationship. Now let’s talk about it.

Ketika kecil, gue sudah terbiasa mendengar suara teriakan menggelegar dari kedua orang tua gue, yang berujung pada suara piring pecah, gelas yang menghantam tembok, dan suara tamparan. Hening yang menyusul terasa memekakkan. Kami, gue dan adik gue, akan diam kaku di lantai atas rumah kami di Pontianak. Setelah itu pasti akan terdengar suara pintu rumah dibanting, dan papa yang tak pulang beberapa hari. Kejadian ini akan berulang dengan banyak variasi. Terkadang suara tembok yang dihantam sepatu, suara pintu kamar yang ditonjok, atau teriakan-teriakan kedua orang tua gue yang terendam tembok tipis rumah. Semuanya berakhir dengan mata mama yang sembab.

My mother being my mother, selalu melawan perlakuan papa. Jika Papa berteriak, mama akan berteriak lebih kencang. Kami, seperti biasa, akan meringkuk diam tak bergerak di loteng. Jika kami berani memisahkan, pukulan akan mendera. Jadi kami memilih menulikan telinga setelah berusaha beberapa kali dan dihadiahi tamparan dan tendangan.

Familiarkah kalian dengan situasi begini? Orang tua saling bertengkar, anak-anak terjepit di tengah-tengah. Kalau tidak, maka bersyukurlah. Kalau iya, selamat, kalian masih bisa membaca tulisan ini. Let’s shake hands, as survivors.

Tentunya gue bukan sedang menjelek-jelekkan kedua orang tua gue. No. No at all. They’re humans with problems. They’re adults. And sometimes, adults handled things… differently. Wacana cerai menggaung berbulan-bulan, bertahun-tahun, kemudian redup dan menghilang karena papa keburu meninggal.

Kemudian, ada cerita lain lagi. Kali ini dari seorang teman lama yang tak usah gue sebut namanya. Sejujurnya, kami bukan teman yang dekat. Tetapi, dia kerap bercerita ke gue, tentang masalahnya, tentang hidupnya. Kalau gue lagi kumat, gue akan bercerita juga. Namun, seperti halnya hidup, tak semua aspek akan selalu sama. Katanya, dalam hidup cuma perubahan yang konstan. Begitu juga kami. We grow. And sometimes, many times, when people grow, they can grow closer, or they grow apart. And it’s okay, I think.

Setelah lama tak berjumpa, gue dikagetkan dengan sapaannya. Beberapa chat singkat, kami memutuskan untuk berjumpa. Ketika bertemu, gue hampir tak mengenali perempuan ini. You know that kind of girl with smiling eyes, kind smile, and happy laughing lines on her face? The girl with the stars in her eyes. Sparkling. Those sparks were gone when we met.

Gue sama sekali nggak berkomentar. One should know when to speak, and when to shut up and listen to whatever his friend want to talk about. And so I listened. Teman gue ini sudah menikah, belum punya anak, dan dia hampir setiap hari bertengkar, tak jarang dipukuli suaminya. Beberapa kali, gue melihat tangannya tremor. Beberapa kali juga, dia terdiam lama. Mencipta jeda antar kalimat. Gue bersabar, menunggu. Lalu ia melanjutkan ceritanya. Gue beberapa kali mengernyitkan kening tanda tak senang mendengar bagaimana dia dianiaya. Bahkan di bahunya masih ada lebam membiru yang baru tercipta dua hari yang lalu. Ia menunjukkan bilur itu dengan wajah datar.

“Sudah berapa lama kayak gini?”
“Dua tahun lebih, Lex.”
“Why didn’t you quit?”
“Because without him, I am nobody.”
“…”
“Gue nggak punya penghasilan sendiri. Hidup gue tergantung dia. Gue udah nggak punya teman lagi. Untuk ketemu elo aja, gue sembunyi-sembunyi…”

Kira-kira setengah jam setelah itu, kami berpelukan. Ada senyum lega dan tatapan penuh terima kasih. Teman gue ternyata sudah berniat untuk menggugat cerai. Namun ia selalu mengurungkan niatnya. Kenapa? Karena takut. Ia merasa tak punya siapa-siapa. Ia bilang bahwa mama papanya tak mendukung pernikahannya, dan ia terlalu malu untuk bercerita.

Setahun kemudian, teman gue bercerai, dan ketika kami bertemu, ia jauh lebih segar.
“Tuhan benci perceraian, tapi gue tahu, Tuhan lebih benci kalau gue diam saja ketika dianiaya.”
She got her confidence back, even though she will never be who she used to be. But it’s okay, I still salute her for that. Dia sudah kembali ke rumah orang tuanya, dan ternyata, orang tuanya mendukungnya untuk bercerai dan yang terpenting, tak menyalahkannya.

Now I wanna tell you this: if you are in an abusive relationship, quit. Mind you, hubungan yang abusive bukan cuma main fisik aja. Ada banyak macam.

Kalau lo merasa takut sama pacar/suami/istri/pasangan, you’re in abusive relationship.
Kalau lo dikekang untuk bergaul sama siapapun, you’re in abusive relationship.
Kalau dia selalu bilang tanpa dia elo bukan apa-apa, dan lo mulai atau sudah mempercayai hal ini, you’re in abusive relationship.
Kalau dia memukul lalu menyuruh lo minta maaf karena menurutnya dia memukul karena cinta, you’re in abusive relationship.
Kalau dia memukul lalu minta maaf dan berjanji tak mengulangi lagi namun selalu diulang, you’re in abusive relationship.
Kalau dia memaksa lo untuk melakukan hubungan seksual dan nggak peduli keadaan lo seperti apa dengan dalih elo adalah istri yang harus mau melayani suami, you’re in abusive relationship.
Kalau dia selalu merasa cemburu dan kecemburuannya kerap tak masuk akal, you’re in abusive relationship.
Kalau dia selalu mengontrol hidup lo, segala tingkah laku tindak tanduk lo diatur you barely have room for yourself, you’re in abusive relationship.
Kalau dia berbuat salah namun malah play victim dan bilang kesalahannya karena elo, atau menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri, dan menuntut lo untuk memaklumi kesalahannya, you’re in abusive relationship.
Kalau dia selingkuh dan ketika ketahuan elo dipukul atau dia play victim dan memanipulasi lo sampai lo berpikir, “gue nggak cukup baik makanya dia selingkuh”, you’re in abusive relationship.
Kalau dia emosi dan marah dan ngamuk dan main fisik, dan dia bilang, “kalau kamu nggak begini-begini-begitu, aku nggak mungkin begini-begini-begitu”, you’re in abusive relationship.
Kalian punya anak atau binatang peliharaan dan dia bersikap kejam ke binatang, atau sering membentak anak sampai menangis lalu menumpahkan kesalahan ke elo? You’re in abusive relationship.
Kalau dia menganggap dia adalah laki-laki dan elo sebagai perempuan harus patuh dalam segala hal, selalu mengingatkan ‘kodrat’ elo yang seharusnya cuma di dapur dan di kasur, you’re in abusive relationship.
Kalau dia sering mengancam, “gue gebukin, lo!”, “eh anjing jangan macem-macem, ya. Gue patahin kaki lo!”, dan kemudian dia tak merealisasikan ancamannya, you’re in abusive relationship.
Kalau dia selalu merendahkan, menghina, membuat elo merasa tak berguna, membuat lo merasa rendah diri, lemah, dan tak berdaya dengan perkataan, you’re in abusive relationship.

The thing is, banyak yang tetap bertahan dalam hubungan yang nggak sehat ini dengan harapan partnernya akan berubah. Banyak juga yang mengucapkan alasan yang sebenarnya adalah pembenaran atas tindakan jahat yang dilakukan pasangannya.
“Ah, dia cuma khilaf.”
“Gue yakin dia akan berubah.”
“Dia janji nggak akan kasar lagi kok, ke gue…”
“Gue dipukul karena gue pantas menerima pukulan itu…”
“Dia cekek gue karena dia sayang gue banget banget…”

You need to stop and breathe and ask yourself: do you really wanna live like this forever?
Gue ngerti banget, berada dalam abusive relationship itu seperti berada di dalam lingkaran setan. Elo takut apa yang akan terjadi kalau lo mencoba sendiri. Lo takut dengan stigma jelek menjadi ‘janda’. Elo malu menceritakan ‘aib’ ini bahkan ke orang tua atau sahabat. Elo merasa dia bisa berubah. Elo merasa bisa mengubah dia. Elo merasa pasangan lo layak diberi kesempatan ke sekian kalinya. Lo merasa semua ini kesalahan lo. Lo merasa pantas dipukul. Dan lo merasa, tak akan ada yang mau sama lo lagi kalau lo berani mencoba keluar dari lingkaran setan ini.

Dan buat yang terlanjur menikah dan punya anak, sering merasa: I stay in this abusive relationship for my children.

well… look at this photo. save_the_children_living_room_circle

Kalau lo bertahan demi anak-anak, pernahkah terpikir, apa yang akan terjadi ketika anak dewasa nanti? Mereka menyaksikan pertengkaran konstan orang tua. Mereka ketakutan setiap saat. Mereka tertekan. Mereka stress. Mereka menangis melihat ibu dipukuli ayah, dan mereka akan berpikir, ‘apakah habis ini giliran saya yang dipukuli ibu?’

Believe me, it happened to me. Gue tumbuh menyaksikan hebohnya pertengkaran dan keributan orang tua gue. Gue ketakutan ketika papa pulang. Gue merasa jengah ketika digendong papa, diam-diam takut apakah akan dipukul sebentar lagi? Gue berusaha sekeras mungkin menjadi anak manis. Gue takut membuat mereka marah. Gue beruntung setelah dewasa tak mewarisi sifat abusive ke orang yang gue sayang. Gue ‘beruntung’, pertengkaran orang tua gue berhenti dengan perginya papa. Of course my dad was awesome and I love him because he had a lot of good quality. But I also scared of him.

Jadi kalau kalian berpikir you’re staying in abusive relationship for the sake your children, haha… believe me, you’re wrong.

Don’t stay in an abusive relationship. You can, and will, survive even without him/her. Remember, you’re not his/her personal sand bag. You are not his/her property. You have the right to be happy. You have the right to feel safe. You have the right to feel good about yourself. You have the right to not get a fist thrown at you. You have the right to not get yelling or screaming every now and then. You have every right to not be afraid at your own home. You have the right, you need to, love yourself first. You have the right to be loved. No one can put their hands on you no matter who they are.

And if you feel that you’re alone, you’re not. Seek help. There are many who will help you. Your family. Your friend. Jangan malu untuk bercerita. Lebih baik keluar dari abusive relationship dan merasa lega, daripada terus tinggal dan terus merasa takut. Tak tau harus mengadu ke mana? nih: Komnas Perempuan

Screen Shot 2016-07-18 at 09.06.30

Apa yang sedang terjadi, dan sudah terjadi, bukan kesalahan lo. Don’t blame yourself. You don’t deserve to be treated that way. Let me repeat:
THIS IS NOT YOUR FAULT SO DO NOT BLAME YOURSELF.

You are not alone and people will help you and you need to love yourself first. Because you are worth it. Please remember this.