SHARE

Bisa dibilang, gue bukan tipe orang yang suka marah-marah. Apalagi marah-marah tanpa sebab. Selain nguras tenaga, marah-marah dan ngamuk-ngamuk bikin gue sakit kepala. Sakit kepala karena banyak hal. Di antaranya, ada yang sakit hati karena kemarahan gue.

Saat kita marah, secara sadar atau nggak, kita akan mengeluarkan kata-kata yang setajam pedang yang diasah sejuta tahun lamanya, dan kata-kata yang berbentuk pedang tak kasat mata ini akan menyakiti orang yang kita marahi. Tanpa ampun. Mencabik. Merusak. Dan membabat habis harga diri. Yang lebih parah lagi jika yang menjadi korban adalah orang yang kita sayangi. Dan kita tau persis kata-kata apa yang harus kita keluarkan untuk menyakiti orang terdekat kita, karena kita kenal betul dengan mereka. Kita dengan sengaja menyerang titik lemah orang tersebut, sehingga dia terluka, kecewa, sedih, sekaligus marah. Dan seperti pepatah yang dikeluarkan Benito Mussolini, penyesalan selalu datang belakangan. Karena kalau datang duluan, namanya gladi resik. Oke, basi.

Suatu malam yang nggak dingin karena AC di kamar belum diservis, gue berantem sama pacar. Masalahnya nggak penting banget, sumpah. Cuma hal kecil, yang mendadak merembet ke hal-hal lain, lalu membesar, meledak, dan hancur berantakan. Berawal dari pertengkaran biasa, dilanjutkan dengan saling bentak, sampai pada akhirnya saling teriak. Nggak ada yang mau mengalah. Masing-masing merasa pendapatnya adalah yang absolut. Yang paling benar. Saat kita marah, ego dan harga diri akan membungkus dan membentuk perisai sekaligus pedang untuk menjatuhkan lawan. Logika sudah hilang. Kepala dingin? Haha. Kepala dingin apa, ya? Yang penting menang. Kemenangan semu yang nggak ada harganya, karena dalam perang, dua-duanya pasti kalah. We’re all losers when we’re wrapped in anger.

Dan malam itu, berakhir dengan kemarahan gue yang memuncak, hingga gue yang sudah gelap mata menyambar laptop Sony Vaio putih kesayangan gue, yang gue kasih nama Jason Mraz – dari nama penyanyi yang sangat gue suka -, yang sudah setahun lebih menemani gue, yang menjadi sumber pendapatan gue karena dari Sony Vaio putih itulah gue mencari uang dengan mengetik naskah, gue banting sekuat tenaga.

Nggak cukup sekali, karena sisa kemarahan yang memuncak masih menguasai diri gue, gue membanting laptop itu sekali lagi. Akibatnya, layar LCD nya retak. Tempat DVD Bluray nya terlepas, baterainya mencelat jauh, dan gue cuma bisa berdiri dengan napas terengah-engah. Kemarahan gue seketika menguap ketika menyadari apa yang sudah gue lakukan.

Gue segera memunguti laptop itu. Mengumpulkan kepingan demi kepingan, mengambil penutup DVD playernya, mengelus layar hitamnya yang sudah retak, dan di dalam layar itu, sudah terlihat tinta LCD yang menyebar ke hampir tiga perempat layar. Berbagai kenangan berkelebat. Saat gue mengambil foto dengan kameranya yang bening. Saat gue memasukkan lagu-lagu favorit gue ke hard disk-nya. Saat gue menonton DVD semalaman, saat gue mengetik naskah, saat gue chatting dengan pacar, saat gue melihat foto-foto penuh kenangan. Semuanya kini musnah dalam waktu kurang dari satu menit. Karena amarah yang tak terkontrol.

Walaupun malam itu juga gue dan pacar gue berbaikan, pelukan hangatnya tetap tak mampu menutup luka. Hubungan gue dengan si Jason Mraz, laptop kesayangan gue nggak pernah pulih. Gue merasa sudah berkhianat. Laptop yang selalu menemani gue setiap hari, laptop yang memberi gue makan, laptop tempat lahirnya tulisan-tulisan gue, kini jadi seonggok bangkai tak berguna. Menangis pun sudah percuma, karena si Jason sudah hancur berantakan. Lalu tibalah pada satu quote basi yang mengiris ulu hati: Seandainya kita bisa membuat waktu berputar kembali. Seandainya, seandainya, seandainya…

Lalu, setahun kemudian, gue kembali terpana melihat foto laptop Sony Vaio seri terbaru: Sony Vaio E14P warna putih dengan list biru muda, dengan keyboard warna senada, putih dengan backlit biru muda. Oh, so gorgeous!

Seketika gue teringat dengan Jason Mraz, laptop Vaio putih gue yang gue hancurkan dengan semena-mena. Sony Vaio E14P ini bahkan jauh lebih ganteng dari si Jason Mraz, dan tentunya dengan spec yang jauh lebih mumpuni. Mulai dari prosesor Intel i7, HD 750 GB, RAM DDR 3 4GB, VGA Intel® HD Graphics 3000, layar wide screen 14 inch, kamera HD, sampai ke multi gesture trackpad. Mari ngiler.

Seandainya ini adalah waktu penebusan dosa, maka Vaio E14P ini adalah ‘penebusan dosa’ gue yang paling sempurna. Jason Mraz – laptop Vaio gue yang dulu, yang sudah direparasi dan dipakai oleh kakak gue. Diluar dugaan, Jason Mraz bisa dibetulkan dan berfungsi sempurna lagi! – pasti akan memaafkan gue dengan kehadiran abangnya, yang pasti akan jadi anak kesayangan, yang sumpah demi dewa-dewi laptop terganteng di dunia, nggak akan pernah dibanting, tapi akan selalu dielus-elus dan disayang-sayang.

Dari look-nya yang sangat sleek, neat, dan sophisticated, Sony Vaio E14P putih ini melambangkan keanggunan sekaligus kecanggihan. Laptop ini juga pasti akan menjadi pengingat gue untuk selalu mengendalikan amarah, berkat warna putih dan garis biru mudanya yang membawa ketenangan, kebebasan, juga muda dan canggih seperti … ehm.. gue. Hehe.

So, I really hope this new Sony Vaio E14P laptop will be mine. Everybody entitled to redeem themselves, right? Why I choose this Vaio? Because it’s white, because it’s blue … because it’s me.

 

Blog ini dibuat untuk mengikuti kompetisi #becauseitsme yang diadakan  http://femaledaily.com/becauseitsme/ dan Sony Indonesia.

SHARE
Previous articleAnak Kecil, Payung Besar
Next articleCUM FROM ANOTHER PLANET!
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow