SHARE

“Percaya nggak, dengan second chance?”
“Do you?”

Pria itu tersenyum kecil dan menyesap ocha dinginnya.

“Kesempatan, katanya, nggak akan datang dua kali. Sekali kamu peroleh kesempatan tapi mengabaikannya karena takut, ragu-ragu, nggak berani ambil risiko, selalu akan terselip sebuah penyesalan. Iya, kan?”

Si perempuan berambut panjang merapikan rambutnya, menyambar shawl di meja makan bundar itu sambil menyahut,
“Pernah nggak, berandai-andai dan berimajinasi bagaimana jika kamu took a leap of faith dan mengambil kesempatan yang dulu menghampiri?”

Si pria tersenyum makin lebar. Dia menyambar jas yang tersampir di kursi kayu di sebelahnya.

“Sering. Tapi ujung-ujungnya nyesek. Makanya, ketika ditawari satu kesempatan, aku segera bilang iya. Takut nyesel lagi!”

Perempuan itu mendekat sambil memamerkan lengkungan senyum yang dihias geligi putih. “Kalau ternyata kamu salah?”

“Setidaknya aku nggak akan menyesal karena nggak berani memilih.”

Si pria meminum ocha dinginnya lagi. Untuk sesaat, dia terdiam. Menghayati rasa teh hijau bening sambil memejamkan mata.
Kamu tau, nggak… Begitu kamu memutuskan untuk mencoba sesuatu, kamu sudah … apa tadi kata kamu? Took a leap of faith? Kamu membuat keputusan. Mencoba. Kamu berani. Dan … kamu nggak akan bermain di area, “what if”, “what could’ve been”, “seandainya dan jika”, karena berandai-andai tentang apa yang seharusnya terjadi hanya akan membawa kita ke satu titik: penyesalan yang bergabung dengan rasa sedih. Menurutku, nggak ada keputusan yang salah. Yang ada hanya, keputusan yang kamu pilih nggak sesuai dengan apa yang kamu mau. Atau bahasa kerennya, your expectation failed you because you were hoping for more.”

Si perempuan menatap lelaki itu lama dan tajam. Perlahan, seulas senyum kembali menghiasi wajahnya. Matanya berbinar, menyiratkan kekaguman.

“Kamu kok tumben dalem begini? Gara-gara teh yang kamu minum, ya?”
Si lelaki tergelak. Jasnya sudah terkancing rapih.
“Hey, I’m not just another pretty face. I am the whole package!”
“PRET! Hahaha! Bikinin dong, tehnya! Teh hijau, kan?”
Si lelaki mengangguk, dan nyengir jail.
“Beneran mau?”
Si perempuan menjawab dengan anggukan pasti dan tegas.
“Aku haus. Dari tadi kamu minum sendiri nggak nawarin aku. Huh.”
“Hahaha! Enak banget abisnya ocha ini! Oke, balik lagi ke topik kita. Now, would you like to take a leap of faith?”
“I’d rather have the leafs of tea.”
“And no second chance?”
“Huh? Apanya, nih?”
Si lelaki tergelak lagi.
“Teh hijau ini, dibuat tanpa second chance untuk daun tehnya. Setiap daun teh hanya direbus sekali. Nggak ada kesempatan kedua untuk daun tehnya. Sekali rebus, selesai. Just like I said, no second chance, no repetition.”

Perempuan itu terpana sesaat. “Kamu … tau dari mana?”
“Kamu udah kenal aku lama, kan? Nah, harusnya kamu tau kalau aku memang suka banget sama ocha dingin. Teh ini..” si lelaki menunjuk cangkirnya yang hampir kosong, “dibuat oleh tenaga ahli Jepang.”
“Okay, I’m sold. Buruan bikinin!”

Lelaki itu nyengir, lalu berjalan ke kulkasnya, dan mengeluarkan sebotol teh kemasan. Si perempuan bengong.

“Kok …”
“Cobain dulu, ya. I bet you’d love this tea.”

Lelaki itu menuangkan teh hijau dinginnya ke sebuah cangkir, dan memberikan cangkirnya ke si perempuan yang mencicipi dengan sedikit keraguan di wajahnya. Detik berikutnya, dia menghabiskan isi cangkir dengan sekali teguk, dan menyorongkan cangkir itu ke si lelaki. Matanya kembali berbinar-binar senang.
“Lagi.”
“Enak?”
“Are you kidding me?! This is the best green tea I’ve ever tasted. And to think that it comes in a bottle… unbelievable!”
Si lelaki menyeringai lebar.
“It’s called Ichi Ocha.”
“Berapaan? Mahal, ya?”
“Nope.” Si lelaki menyodorkan cangkir teh ke perempuan yang segera meneguk isinya, dan minta diisi lagi.

“It’s cheap. It’s healhty. It’s tasty. Now, I bet you’re glad you took the leap of faith.”
“Oh, I do! Cheers to Ichi Ocha and its leafs of tea! Hahaha!”

Si perempuan minum lagi, diikuti si lelaki yang minum ocha itu langsung dari botolnya.

SHARE
Previous articleA Blast from The Past
Next articleYour Hand, My Hand, Our Hands

I have a lot of stories to tell. That’s why I write. That’s how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow

  • Ahahaha ternyata iklan ichi ocha, padahal udah serius bacanya -.-

    Tp emang, imho gak ada yg namanya kesempatan kedua, itu cuma kesempatan baru yg mirip kayak kesempatan sebelumnya. Soalnya yg ngasi kesempatan kedua itu was2 sama pilihannya utk ngasi kesempatan kedua ini bener atau salah, kan di kesempatan pertama udh gagal
    Ribet kayaknya ye

  • This article solved me one thing, the slight question I’lways think about.

  • melysa

    koh alex cerdas banget ih cara penyampaiannya. salut.

  • keren !

  • pitah

    Huahahaha mantabb.. penyampaian makna ttg ‘chance’ dihubungkan dgn ‘iklan teh’ menggunakan gaya penulisan novel.. I love the way u write, great writer! :]

  • Emma

    Iklaaaaaan…..???
    Yasaalaaaaam kokoooh

  • Coba semua tukang bikin iklan bikinnya begini :3
    Cakep ..

  • laaaaaaaaaaaaaaaahhh ternyata iklan

  • fariz

    Ternyata ini iklan? Hahaha! Pas tau ini iklan diliat dari first comment artikel ini yang bilang ‘ternyata iklan ichi ocha’. Hmm.. Ichi ocha? Langsung nyari di google. Dan ya, itu nama produk. Bener-bener enggak nyadar sampai kata terakhir di artikel ini. Jadi, pengin nyoba ichi ocha. Kamu berhasil kak. :”$

  • irenorine

    Settingan “drama”-nya keren banget.. “benang merah”-nya tersampaikan dengan sangat baik.
    Dan sempurna..
    Terus berkarya dan menginspirasi Koh..
    Sukses maximal ya.. :))
    Tuhan memberkati

  • Elisabeth Serafiyani

    Kelar baca. Bengong. Ternyata iklan. Omaigat. Mikir. Kenapa belom pernah nyobain ichi ocha ya.. Parah koh! Fix mampir beli ichi ocha haha! *iya tau emang udah telat banget sih baca ini, tapi better late than never lah ya* 😂

  • Balikin 5 menitku yang berharga Ko! -_-