SHARE

Apa yang akan lo lakukan ketika dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan lo menolong orang yang selalu jahat sama lo? Tetap menolong, atau malah buang muka? Menolong dengan hati panas, atau tak mau peduli sama sekali?

Gue pernah berada dalam situasi ini. Nggak enak banget, serius. Otak bilang ayo tolong dia, tapi hati masih sakit mengingat perlakuan orang itu ke kita yang nggak ada manis-manisnya. Sepet dan pait semua malah…

Berawal dari bulan Ramadhan beberapa tahun yang lalu, saat gue masih tinggal di Cinere, masih brondong imut, masih ngebantuin warung kelontong kakak gue, dan Twitter masih berupa calon kentut. Di kampung gue, Limo, Cinere, ada satu grup anak muda gak berguna. Kenapa gue bilang nggak guna? Karena mereka tiap hari kerjanya nongkrong, minum (yak, maksud gue minuman beralkohol, bukan nenggak air sampe kembung), main gitar dan nyanyi-nyanyi dengan suara sember, gangguin cewek cakep maupun cewek jelek, sampai ke ngeganja dan entah pake narkoba apalagi, gue nggak mau tau. Mereka sama sekali nggak peduli bulan puasa atau bukan. Yang penting, nyimeng dulu, my mennnn…

Kelakuan paling nyebelin dari geng preman kampung cap lutung norak ini adalah sikap benalu mereka. Kalo nggak punya duit buat beli rokok, warung gue yang jadi korbannya. Mereka akan dengan santai masuk warung lalu malak. Nggak dikasih, ngamuk. Dikasih, tambah ngelunjak. Dikasih sebatang, mintanya sebungkus. Lama-lama, bukan cuma rokok yang dipalak, tapi uang juga. Kalo kakak gue yang jaga warung sih gak ada yang berani macem-macem, soalnya geng lutung berekor di depan ini masih menghargai kakak gue yang adalah seorang cewek. Tapi kalo giliran gue yang jaga, udah, deh, gue pasti sport jantung abis-abisan melihat dan mendengar suara mereka yang nongkrong di seberang warung gue. Deg-deg an, takut kalau-kalau mereka akan masuk ke warung dan minta macem-macem. Sering banget, gue kalah dengan rasa takut, dan memberikan apa yang mereka minta, lalu mengutuki diri sendiri kenapa bisa begitu lemah. Hal ini terjadi berulang-ulang. Berbulan-bulan.

Sampai suatu hari, gue udah terlalu gerah dan muak oleh kelakuan mereka yang hampir tiap hari malakin gue. Saat lo terjepit dan nggak melihat cahaya di ujung terowongan, sikap pasrah dan rasa takut akan sirna dengan sendirinya. Lo akan mulai melawan, nggak peduli dengan risiko yang menghadang. Urusan bonyok udah jadi prioritas nomor sekian.

Siang itu adalah puasa hari terakhir, dan gue baru selesai bikin kopi segelas gede. Seorang anggota geng preman lutung gak doyan sarung masuk dengan wajah beler. Sebut saja namanya Robert. Wait, nama Robert terlalu keren untuk orang yang tampangnya yang masih kalah ganteng sama lutung. Ganti, deh. Sebut saja… Kiting. Si Kiting ini mabok berat, cengar cengir tak karuan, dan dengan santainya duduk di meja kerja gue di warung.

“Lex, rokok banyak, tuh…” Gue diem. Cemberut, deg-deg an, tapi rasa takut sudah menguap, digantikan rasa muak yang membuat empedu gue naik sampai ke kerongkongan.

“Mau Marlboro dong, Lex.”

“Maksud lo mau beli, kan? Kalo minta, sorry, gak bisa…”

Si Kiting yang gak lebih ganteng dari lutung cengengesan. “Ah, sama temen aja gitu banget. Sebungkus aja, Lex. Gak bakalan bikin lo bangkrut, kok.”

Darah gue mulai naik ke ubun-ubun, sedangkan pantat gue mulai panas. Kelamaan duduk, bok. Gue berdiri, menatapnya tajam.

“Gak ada acara minta-mintaan! Lo pikir ini warung buapak lo?! Kalo gak mau beli, sana pergi!”

Si Kiting berjengit kaget, nggak menyangka gue akan berani ngelawan setelah sekian lamanya gue menurut dengan manis.

“Lo berani ngelawan gue?!” Diam-diam, gue menarik tusukan beras dari baja yang ujungnya runcing. Kalo harus ribut, ayo, deh!

Dengan wajah sangar, si Kiting turun dari meja, lalu mengambil kopi yang masihmengepulkan asap tipis, mengendus aromanya, dan…. menyiramkan kopi itu ke wajah gue sambil mengeluakan umpatan koleksinya, dari kosakata kebun binatang sampai semua bagian selangkangan. Gue menjerit kesakitan, dan berteriak garang. Tanpa pikir panjang lagi, gue sabet si Kiting dengan tusukan beras. Lehernya tergores, darah mulai mengucur. Rasa panas dan sakit di wajah gue menghilang, tergantikan dengan kemarahan yang dingin. Adrenalin mempompa sekujur tubuh gue. Dengan tusukan beras yang mengarah tepat ke wajahnya, gue berkata keras,

“Lo berani maju selangkah, gue tusuk sampai mati! Masuk penjara gue juga gak peduli!!”

Dalam sekejap, warung gue penuh dengan tetangga yang berdatangan karena mendengar suara keributan kita. Si Kiting mundur sambil memegangi lehernya yang terus berdarah, matanya terus menatap gue dengan segenap perasaan benci, danmalu. Tanpa perlu bertanya, para tetangga sudah maklum apa yang terjadi. Mereka kompak mengusir Kiting dari warung. Sebelum pergi, Kiting menatap gue lagi sambil berseru,

“Lo akan bayar! Liat aja!!”

“KENAPA GAK SEKARANG AJA? SINI LO RIBUT SAMA GUE! GUE MATIIN LO SEKARANG JUGA!!”

Gue benar-benar emosi dan lepas kendali, entah apa yang merasuki gue saat itu. Setelah keadaan tenang, gue gemeteran. Takut, juga menyesal. Kenapa sih, gue nggak kasih aja kunyuk itu rokok sebungkus? Kenapa gue harus cari perkara? Kenapa gue sok jagoan? Ah, abis ini pasti mampus deh gue digebukin sama mereka. Gue jadi menyesali kebodohan tadi. Setelah pesta adrenalin, kini saatnya berpesta dengan rasa takut.

Malam menjelang. Suara takbir mulai berkumandang, dan gue makin takut karena harus membereskan warung dan pulang. Sendirian. Mungkin gue nggak akan sampai rumah karena udah keburu dijadiin perkedel sama Kiting and his gang. Sambil menarik napas panjang, gue mencoba pasrah. Que sera-sera, deh. Tuhan, mudah-mudahan muka gue nggak terlalu bonyok, semoga kalau ada tulang yang patah, biaya operasinya nggak gede. Semoga dokter yang nanti menangani gue juga mengoperasi idung gue supaya lebih mancung. Amin!

Wajah pias, kaki lemas, jantung deg-deg plas. Gue berjalan pelan menyusuri lapangan sepak bola yang dipenuhi dengan anak-anak yang bermain petasan. Jujur aja, gue dari kecil sangat benci dengan petasan dan kawan-kawannya. Berisik, nggak berguna, dan bodoh. Ledakan petasan makin membuat gue takut dan jiper. Tapi gue nggak melihat tanda-tanda kehadiran Kiting, kecuali teman satu geng nya yang sibuk main petasan yang segede dinamit. Amit-amit, gumam gue dalam hati.

Gue mempercepat langkah. Sudut mata melirik waspada, dan gue mendadak ciut saat mendengar suara Kiting tertawa. Memberanikan diri menoleh, gue sangat kaget melihat Kiting berdiri nggak jauh dari gue. Nampaknya dia lebih mabuk dari tadi siang. Lehernya terbalut perban putih, dan matanya nyalang. Yang membuat gue ngeri, ukuran petasan yang dia pegang di tangan kanannya. Itu petasan atau bom?! Diameter petasan yang dia pegang bahkan lebih besar dari kemampuan tangannya mencengkeram.

Gue panik, tapi nggak bisa jalan. Kaki terpaku di tanah, nggak bisa bergerak sama sekali. Keringat dingin mulai membasahi punggung, sementara Kiting berdiri miring. Pengaruh alkohol membuat matanya merah dan tak fokus, tapi gue tau, itu adalah tatapan dendam. Saat dia membakar sumbu petasan, otak gue merekam setiap gerakannya dalam gerak lambat. Waktu seakan terhenti, hanya suara desis sumbu petasan, seringai Kiting, tatapan mata mabuknya yang terus memaku gue, dan seruan samar manusia di latar belakang. Tak ada sepatah katapun yang bisa gue keluarkan, bahkan suara mencicit pun tak bisa. Bau mesiu terbakar semakin membuat nyali gue lenyap, terhisap Bumi.

Lalu… Kiting menyeringai semakin lebar. Tangannya mengayun dengan gerakan bersiap melempar, suara desis sumbu petasannya seperti berada di dalam telinga gue, dan gue merasakan, mata gue dengan sendirinya memejam, pasrah. Kemudian…. Ledakan keras. Gue secara refleks menjatuhkan diri, rebah di rumput yang setengah basah. Teriakan orang-orang santer terdengar. Kuping gue berdenging hebat akibat kerasnya suara ledakan barusan. Sedetik kemudian gue sadar, gue masih hidup! Lemparan petasan Kiting ternyata meleset, nggak mengenai gue.

Perlahan gue bangkit. Apa yang gue saksikan setelahnya masih sering muncul di mimpi. Kiting berlutut di tanah. Rumput di sekitarnya tak lagi hijau, melainkan semerah darah. Derap kaki mendekat, gue tercekat, Kiting melolong hebat. Telapak tangan kanannya yang tadinya memegang petasan sudah lenyap. Hancur oleh petasan yang ternyata meledak di tangannya sebelum dia sempat lempar ke arah gue. Gue sama sekali tak sanggup berkata-kata. Adegan Kiting menjerit kesakitan, lalu pingsan dan pemandangan tangan kanannya yang kini tanpa telapak, hanya daging dan tulang putih dengan darah yang terus menyapa udara sungguh merupakan horor di malam takbiran.

Tak ada lagi keceriaan anak-anak yang bermain petasan. Tak ada lagi suara tawa malam itu. Gue menjerit tanpa suara, hampir pingsan. Di titik inilah gue berperang dengan diri gue sendiri. Menolong Kiting yang celaka akibat ulahnya sendiri, atau membiarkannya? Membantu Kiting yang berniat mencelakai gue dengan petasan besarnya, atau berlalu saja?

Nurani yang menang. Gue segera mengeluarkan handphone, menelepon Kakak, dan menyuruhnya lekas datang membawa mobil untuk mengantarkan Kiting ke rumah sakit. Selanjutnya, gue melepaskan jaket yang gue pakai lalu membalut tangan buntung Kiting sebisanya. Dalam hitungan detik, jaket putih gue berubah warna. Merah. Kiting pingsan hampir dua puluh empat jam. Keluarganya harus berlebaran dalam duka, di rumah sakit sambil mengkhawatirkan biaya. Matanya ibunya bengkak akibat terus menerus menangis, kerudung yang dipakainya pun sampai lecek karena dipakai untuk menghapus airmata. Apalagi saat si Ibu tau, kenapa tangan Kiting bisa sampai buntung begitu. Dia menghampiri gue, meraih tangan gue dan menciumnya, sambil menangis dan meminta maaf karena anaknya berniat mencelakakan gue. Suaranya begitu pilu, dan dari gestur dan sikap tubuhnya gue tau, dia merasa sangat malu. Orang yang anaknya mau celakakan berbalik jadi penolong. Gue terkesiap dan segera menarik tangan gue sambil meraih bahunya, meyakinkannya bahwa gue nggak apa-apa.

Si Ibu tetap menangis, sampai akhirnya, dia pingsan lagi, entah untuk keberapa kalinya… Idul Fitri yang seharusnya ceria, berubah jadi nestapa untuk mereka. Gue dan keluarga berusaha membantu sebisa kami, datang menjenguk dan membawakan makanan, buah-buahan, dan bersama-sama warga kampung bergotong royong mengumpulkan uang untuk biaya rumah sakit Kiting. Segala dendam yang tadinya bersemayam di dada, pupus melihat keadaan Kiting. Dia tak lagi berani mengadu pandangan dengan gue. Kepercayaan dirinya hancur.

Setelah kejadian naas di malam takbiran, setelah Kiting keluar rumah sakit tanpa telapak tangan kanan, dia berubah drastis, dan bekerja sebagai tukang bersih-bersih Masjid di kampung.

Terkadang kita harus membayar sangat mahal untuk mendapatkan hidayah.

Terkadang kita harus membuang ego dan dendam jauh-jauh untuk menolong sesama.

Dan seringkali, Tuhan menunjukkan kebesarannya dengan cara yang tak pernah kita

duga.

SHARE
Previous articleMama Yang Luar Biasa
Next article30!
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow
  • Dekker

    Hufff…berapa kali gua megang jantung gua karna degupannya makin kencang menuju ke akhir cerita.intinya Speechless u_u

  • Agata

    Haduh, bacanya deg2an.. rasanya sblmnya udah pernah baca koq ya masih deg2an…kadang org itu harus bertobat pake jalan yg susah ya

    • hahahaha. aduh kalo inget randomnya jaman dulu itu….

  • Pingback: FIFA17 PC 2000k coins()