SHARE

Cukup sering gue mendapatkan mention di twitter yang isinya kurang lebih:

Gue nggak tau mau jadi apaan, nih, di usia gue yang udah segini.
Temen-temen gue udah jadi ‘orang’, gue masih gini-gini aja.
I don’t know what should I do with my life, I have no idea how to make my parents proud of me.
Gue sama sekali nggak ada ide masa depan gue akan gimana.

Pernah nggak menanyakan pertanyaan di atas ke diri sendiri? Pernah krisis identitas? Pernah merasa kayaknya hidup itu stagnan, nggak bergerak ke mana-mana, nggak maju, nggak mundur, tapi stuck. Everything looks bleak, stale, boring. And the worse thing is, you have no idea what to do. Kalo jawabannya iya, worry not, you’re not alone. Buanyak banget kok anak muda kayak gue (hey, dilarang protes, gue masih muda!​(˘̯˘ )​( ˘˘̯) )dan kalian yang galau masa muda dan galau krisis identitas.

Contohnya, gue. Waktu usia dua puluhan, gue nggak tau harus ngapain. Gue nggak tau harus jalan ke mana. Gue nggak tau ‘passion’ gue itu apa. Bahkan sampai berusia 27, gue nggak tau mau jadi apaan. Kerjaan gue sehari-hari ya jaga toko doang. Bosen, gak? Buset, dah. Bosen gilak! Bayangin aja, gue tiap hari buka toko pagi, nyiapin dagangan, nimbang gula-terigu-minyak goreng, melayani ibu-ibu rempong yang seringkali masih bau ketek karena belum mandi, mencatat dagangan apa aja yang abis dan harus segera re-stock, dengerin para pelanggan (mostly, ibu-ibu), komplen mengenai anak-suami-sinetron di tipi. Begitu terus setiap hari, bertahun-tahun.

Gue bosen gila.

Yang gue tau pasti: nggak mau jadi beban hidup buat orang lain, nggak mau ngerepotin orang, nggak mau jadi tukang minta duit ke keluarga. Jadi, gue terus kerja, sambil nyari, apa ya, kesempatan yang akan datang ke gue?

Kemudian, gue pindah ke konter hape. Mendingan, sih. Pelanggan gue nggak terbatas ke ibu-ibu. Bapak-bapak dan abege alay bau ketek juga ada. Tapi jauh di lubuk hati, gue tau, hidup gue bukan untuk dihabiskan di kotak berukuran 2x2m2. I knew that I was meant for greater things. I knew I didn’t belong there. The thing was, I didn’t know what were ‘the greater things’ I was supposed to do. (untuk cerita konter hape, silakan cari buku gue: The Not-So Amazing Life-of @aMrazing. Okay, this is a shameless plug. Sorry, not sorry. Muehehehe.) Galau nggak, gue? Galau gila. Setiap hari selalu ada sebuah gelombang yang pelan-pelan berkumpul dan menghantam ketika malam tiba. Mau jadi apa hidup lo kalo tiap hari elo begini terus? Mau mati bosen melakukan rutinitas yang sama?

Sampai ketika gue menginjak usia 27 lebih beberapa bulan. Seorang sahabat menawarkan gue untuk menjadi penulis. Gue terima tawaran itu tanpa pikir panjang. Untuk lengkapnya, baca TNSALOA2, kayaknya terbit tahun depan, deh. (promo tanpa tau diri muehehe)

Titik balik gue bukan di usia 27, tapi di usia 25an. Suatu malam, mendadak gue terbangun dari tidur gelisah gue, duduk tegak di kasur, dan pikiran ini nongol:

If I keep worrying about my future, how will I be able to enjoy my present?

Kalimat ini terus menerus menggaung dan bergema. Ia menjelma menjadi semacam mantra. Terlalu sibuk galau masa depan, gue lupa menikmati masa sekarang. Keesokan harinya, ketika gue buka konter, gue merasa lebih enteng. Akibatnya, gue lebih sering senyum ke calon pelanggan, gue jadi lebih ramah, gue jadi lebih hidup.

Karena pemikiran itu juga lah, gue berhenti mencemaskan masa depan. Susah, nggak? You bet it is! Susah! Tapi seiring dengan perjalanan waktu, seiring dengan memfokuskan diri di SAAT INI, di DETIK INI, MENIT INI, SEKARANG, pikiran itu berangsur terdorong ke belakang, dan mendekam nyaman tanpa berniat untuk mendobrak keluar.

Mind you, there will be times when you look at your friends who are at your age, and you get this empty feeling and a descending self esteem and feel so worthless because they are more successful, they look happier, they seem enjoy life more than you do. Then you will start questioning yourself: mereka udah sukses gue masih receh… mereka udah tajir gue masih ngitung duit buat nyukupin makan di warteg, mereka udah jalan ke mana-mana sedangkan gue stuck… mereka udah ini-ina-inu sedangkan gue cuma butiran upil kering yang disentil juga mental dan gak guna.

Let me tell you a secret.

Kebanyakan orang hanya memperlihatkan sisi yang mereka ingin dunia lihat.

Di balik sebuah kesuksesan, 99% ada tangis, duka, jatuh bangun, keringat, kerja keras, malam-malam begadang ngerjain tugas, dan lain-lain, dan lain-lain. Di balik sebuah kebahagiaan dan hidup yang tampaknya senang-senang saja, ada sebuah kamar bernama ‘What I Have Done To Proceed To This Stage’. Kamar ini berisi kegagalan, perjuangan melawan dunia dan diri sendiri (lebih banyak perjuangan melawan diri sendiri), kegalauan, keraguan atas keputusan yang sudah diambil, kegamangan karena tempat berpijak yang seperti pasir hisap, kebosanan, pelajaran berharga yang diperoleh dengan pahit, kegagalan, kegagalan, kegagalan, dan penerimaan diri.

Dan percaya deh, suatu saat elo akan mengalami hal itu juga. Mungkin sekarang, elo sedang berada di kamar ‘The Struggling Room’ atau ‘Who I Am, Really?’. Nggak apa-apa. Nanti, entah berapa bulan atau tahun lagi ketika elo mengunci pintu-pintu itu, mengantungi kuncinya, dan membawa pelajaran-pelajaran yang elo dapatkan, lo akan nyengir, tersenyum lebar, tertawa keras seraya berkata: Hey, been there, done that, got the t-shirt that says: I am alive and kicking and happy, bitches!

But for now, just enjoy whatever comes to you. Boleh kok ngeluh asal nggak overdosis. Boleh kok nangis malem-malem asal nggak setiap malam. Boleh kok ngadu ke Tuhan kalo udah nggak kuat. Yang penting, jangan putus asa karena elo nggak akan tau pelajaran keren apa yang bakalan elo kantungi.

Yang jelas, usia dua puluhan itu memang ajang menempa mental dan skill, sih. Cari tau apa yang lo suka kerjakan, dan perdalam hobi itu. Itu yang namanya passion. Jadi, bukan mendadak ada bola lampu pijar di kepala lo yang nyala dan suara, “tring! passion gue adalah menulis.” No. Jose. It doesn’t work that way. Passion itu akan ada dan hadir ketika elo sudah mengerjakan sesuatu, dan menekuninya, dan ternyata, elo suka.

Elo iri sama teman sebaya yang kelihatannya udah sukses? Gak apa-apa. Itu normal dan diperbolehkan. Asalkan elo bisa ubah energi dari rasa iri jadi motivasi, bukan dengki yang berubah jadi benci karena hidup orang itu lebih oke dari elo. Kalo kayak gini, sih, sampe kapan pun elo nggak akan jadi orang sukses.

Sekali lagi deh gue tulis: Olah rasa iri menjadi motivasi.

Dulu, gue bilang gini ke diri gue: Kalo dia bisa, gue harus lebih jago. Bukan untuk buktiin ke orang itu, tapi pembuktian ke diri sendiri, that I can do this shit.

So I think it’s perfectly fine if you haven’t found what you’re looking for in your twenties. Sooner or later it will come for you.

Good luck and have a great day. Don’t forget to smile.