SHARE

When things are going not the way you want it to be, what would you do? Things you have no control at all, things you couldn’t change no matter what you do. Let’s say … you were amazed by a photograph of a scenery of a city that was so captivating, breathtaking, and poignant you made a promise to yourself, someday you will visit the place, and see the view with your own eyes.

This is the image:

eurekatowersunset

*sumber: mbah gugel*

It’s the view from 88th floor of Eureka Deck, Melbourne. Sejak melihat foto itu, gue seperti terobsesi. Pengin liat view yang sama. Pengin berdiri di spot yang sama seperti sang fotografer, pengin memejamkan mata sejenak dan merekam pemandangan ajaib ini ke dalam otak, pengin melihat satu persatu lampu di gedung-gedung kota Melbourne berkelip, meyala, berpendar, menyambut malam.

Cerita berawal ketika gue diajak jalan-jalan ke Melbourne oleh @GoToMelbourne beberapa hari setelah gue menetapkan cita-cita melihat sunset di Eureka Deck. Semesta bekerja dengan cara yang nggak pernah gue duga sama sekali. Dan, semesta sedang baik kepada gue saat itu. Membaca dan meneliti itinerary yang tak memasukkan Eureka Deck, gue tak patah arang karena ada satu free day. Artinya, gue bisa pergi sendiri ke sana. Hore? Hore, dong!

 

Melb1

Namun, di hari bebas itu, Melbourne is acting like … well… Melbourne. Banyak yang bilang ke gue, Melbourne adalah kota yang sempurna jika elo ingin merasakan 4 musim dalam satu hari. The weather here is unpredictable. Jangan bahagia dulu melihat langit biru dan awan-awan unyu berarak-arak riang di langit, karena dalam waktu lima menit, hujan bisa mendadak turun dan elo bisa menghabiskan sisa hari dengan menatap langit yang kelabu dan gloomy. Fakta ini tak menyurutkan tekad gue untuk mengunjungi gedung tertinggi di Melbourne itu. Gue yakin, di hari gue mengunjungi Eureka, cuaca akan cerah ceria dengan langit biru dan awan centil. And I was right. For like 10 minutes.

Pagi yang cerah digantikan dengan mendung di siang hari. Awan kelabu dan hitam menggantung di langit, menciptakan suasana yang gloomy. Matahari nggak terlihat sama sekali, dan pemandangan gedung-gedung di Melbourne yang tadinya vibrant menjadi kelam. Dengan harapan bahwa Melbourne itu adalah Libra yang labil, yang artinya cuaca akan berubah lagi, gue membeli tiket ke observation deck lantai 88 Eureka Deck.

Apa yang lo harapkan terkadang nggak sejalan dengan apa yang lo dapatkan. High expectation leads to two things: happiness or disappointment. Gue mendapatkan keduanya. And I ‘blame’ God for doing this to me.

Nggak ada langit biru. Nggak ada pemandangan sunset spektakuler. Nggak ada sinar emas matahari yang terpantul di sudut siku Eureka Deck seperti foto di atas. No glorious sunset that day.

Apakah gue kecewa? Well… I’d be lying if I say I didn’t feel the disappointment. Tapi, gue bukan orang yang larut dalam kekecewaan begitu saja. Gue lebih memilih untuk menikmati dan bersenang-senang dengan apa yang sudah diberikan ke gue.

And you know what? Di Eureka Deck inilah gue mendapatkan pemandangan yang JAUH LEBIH SPEKTAKULER ketimbang sunset yang gue harapkan.

Dua jam lebih gue berkeliling menikmati langit kelabu dan mengamati pemandangan 360 derajat kota Melbourne, seperti foto-foto ini:

Melb11

Melb8

Melb9

Melb10

 

Melb12

 

Melb2 copy

Kece-kece kan, walau mendung? :D

Namun, pemandangan terindah adalah ketika gue duduk di bangku empuk berwarna hitam, yang menghadap ke jendela bening yang menampilkan deretan pencakar langit Melbourne. Ada beberapa anak-anak kecil yang berlarian mengejar teman-temannya. Ada turis dari Prancis yang sedang memeluk pacarnya dari belakang, membisikkan kalimat bahasa Prancis yang kemungkinan besar romantis, ada keluarga dari Korea yang berfoto berganti-gantian dengan berbagai macam gaya, dan akhirnya, ada seorang Ibu-ibu berjilbab dan dua anak perempuannya yang duduk berjajar di bangku panjang di seberang tempat gue duduk.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki jangkung berjanggut menghampiri keluarganya, berbicara beberapa kata berbahasa Arab, lalu … dia sholat.

Melb7

Melb6 copy

Keributan yang ditimbulkan para turis di observation deck seketika lesap, bertransformasi menjadi sebentuk hening yang indah. Gue nggak peduli lagi sama pasangan Prancis yang pacaran. Gue nggak peduli dengan turis Korea yang masih heboh berfoto dengan berbagai pose. Perhatian gue sepenuhnya tercurahkan ke lelaki jangkung yang sedang sholat serta keluarganya. It was the most beautiful thing I saw that day.

Sang istri menatap suaminya dengan binar mata penuh cinta. Anak pertama pasangan ini, seorang anak perempuan bermata bulat berbulu mata lentik dan mengenakan gaun krem, berbisik-bisik di telinga ibunya, sementara adiknya, yang mengenakan gaun yang senada dengan gaun kakaknya,tampak kepo dan menarik-narik tangan ibunya, meminta diberitahu, apa yang sedang kakaknya bisikkan. Sang Ibu menempelkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan kedua anaknya untuk tak mengganggu kegiatan papa mereka. Tanpa sadar, mata gue terasa panas.

It’s the way she looked at him. Her eyes were full of love and affection. It’s the serenity that suddenly wrapped me tight. It’s the peaceful joy to saw the man praying to his God. It’s the vanishing of my disappointment because of the bleak sky. It’s the children who sat nicely beside their mother as they watched their father talked to God. That moment, nothing else mattered. That moment, I realised, God is everywhere.

Gue dua kali memotret lelaki yang sedang berbicara dengan Tuhannya. Setelah ia selesai dan menghampiri keluarganya, gue bangkit dari duduk gue. Mata gue masih panas. Gue menarik napas panjang supaya nggak nangis. Kan gak lucu ngajakin mereka ngobrol dengan airmata berderai-derai. X)

“Hi, excuse me…”
Si lelaki menatap gue dengan sedikit kecurigaan. Gue buru-buru menunjukkan foto di kamera gue. “I took two pictures of you while you were praying to God. Is it okay? If you don’t like it, I can delete it now. But I think what you did just now was so beautiful.”
“Thank you. Praying to God is always beautiful.”
“So … is it okay for me to keep the pictures?”
He nodded and smile. His wife was smiling too.
“Yes. Sure. They are beautiful. Thank you.”

Setelah itu, kami tak banyak bercakap-cakap lagi. Gue cuma tau bahwa mereka sedang berlibur, dan bahwa mereka berasal dari Abu Dhabi (atau Dubai, ugh, my memory messes up again!).

“Wherever we go, we know God is everywhere.”

That was the last line from this fine gentleman. And he was so right. God, is everywhere.

And you know what? Despite the cloudy and gloomy weather, there’s sunset! YAY.

Melb4

Melb3

Tentunya, harus ada gue yang mejeng dong, di postingan ini.

Melb5