SHARE

Brace yourself. This is gonna be a very long post. Kenapa post yang panjang? Karena 12 hari di Jepang tak mungkin selesai dalam satu post pendek. Apalagi, gue mengunjungi banyak tempat, dari pulau Hokkaido ke pulau Kyushu. Utara ke selatan. Kali ini, gue akan membahas semuanya. Destinasi, tempat makan yang seru, sampai yang unik-unik di tempat yang gue kunjungi. Let’s start from day one.

Beberapa tahun yang lalu di Kyoto, gue berjanji ke seorang penarik rickshaw untuk mengunjungi Jepang minimal 4 kali. Musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Gue menepati janji itu. Sayangnya, kupon yang ia berikan, yang baru berisi cap musim panas, hilang. Tetapi tak apa. Yang penting gue sudah menepati janji. Ketika menginjakkan kaki di Haneda akhir Juli kemarin, gue tersadar satu hal: siklus perjalanan gue ke Jepang kembali ke titik awal. Pertama kali ke Jepang saat musim panas, lalu berlanjut ke musim gugur, musim semi, dan akhirnya musim dingin. Bedanya, kalau di empat musim sebelumnya gue habiskan di pulau Honshu saja, kini gue melangkahkan kaki lebih jauh. Hokkaido.

Terima kasih tak terhingga kepada JNTO yang mau mengajak gue menjelajah Jepang, dari Hokkaido ke Kyushu, selama dua belas hari full!

HAKODATE

Dari Tokyo Station ke Hokkaido ternyata sudah bisa ditempuh menggunakan Shinkansen. Seperti biasa, Jepang selalu menyediakan kenyamanan dan keramahan. Kami berangkat berempat, makan siang dulu di Tokyo Station, lalu membeli bekal berupa bento yang asli, lucu-lucu banget bentuknya untuk di makan di dalam kereta.


Lama perjalanan Tokyo – Hakodate: 4,5 jam. Bosan nggak selama 4,5 jam itu? Sama sekali nggak, broh. Pemandangan di musim panas berarti: bukit hijau berderet-deret, sinar matahari yang melimpah, dan wajah-wajah yang lebih ceria.

Tiba di Hakodate menjelang sore, kami langsung digiring menuju hotel. Namun, kami tak sempat beristirahat lama, karena jadwal selanjutnya adalah melihat kota Hakodate dari Mt. Hakodate. Kabarnya, pemandangan di sini sangat spektakuler. Namanya baru kali pertama ke Hokkaido, tentunya gue nggak akan menolak, dong. Berangkatlah kami menggunakan mobil sewaan. Rupanya, puncak gunung Hakodate lumayan populer. Ramai betul orang-orang yang berkunjung. Sayangnya, kondisi malam itu berkabut tebal. Guide kami berulang kali meminta maaf. Aneh juga, sih, kalo dipikir-pikir. Kan ini bukan salah dia. You know what? Jangan cepet bete kalo apa yang kalian mau lihat tak sesuai ekspektasi. Gue malah menjadikan tempat yang diselimuti kabut sebagai ajang latihan memotret.

Dari motret orang-orang yang berduyun-duyun menembus kabut, sampai memotret mobil polisi yang lampu sirinenya menyala. Kabut di malam hari dan lampu jalanan yang kuning menimbulkan suasana misterius dan eerie. Siluet manusia yang ada jadi seperti pasukan zombie dengan asap dan kabut di belakang dan sekeliling mereka. Seru! Selalu ada cara menyenangkan diri walau situasi tak mendukung atau tak sesuai ekspektasi, kok. Dan akhirnya, saat turun dari Mt. Hakodate, gue berkesempatan juga melihat cityscape dan memotret beberapa kali, walau bukan di puncak gunungnya.

Perjalanan berlanjut. Kami keliling kota, ke Motomachi district yang terkenal dengan gereja-gereja katolik tua, melihat bangunan tua bergaya western yang tambah cantik karena diterangi lampu-lampu, pergi ke jalan yang katanya paling mahsyur di Hakodate, yang mengingatkan gue akan San Fransisco karena jalannya turun naik dan di ujung jalan ada laut dan foto-foto di sana, dilanjutkan dengan makan malam di tengah kota, di tempat makan yang bernama Daimon Yokochoo.

Hari itu ditutup dengan epic: gue nongkrong di depan McD dekat hotel untuk menangkap Pokemon karena ada yang pasang lure di dua pokestop. IH CINTA, DEH. (gue dapet banyak magnemite, voltorb, drowzee dkk, lho!)

Hari kedua dimulai dengan wajah ngantuk dan semprot parfum karena nggak sempat mandi. Bayangin aja, belum pukul 8 pagi, kami sudah tiba di pasar. Tepatnya, Hakodate Morning Market. Kalau kalian pernah ke Tsukiji Fish Market di Tokyo, Hakodate Morning Market ini akan terasa familiar. Bedanya, di sini banyak, amat, sangat, banyak kepiting yang gedenya gak masuk akal, plus ada beberapa kolam untuk memancing cumi-cumi hidup. Dengan biaya sekitar 800 yen, cumi-cumi yang kalian pancing (caranya supermudah! Hanya memasukkan kail ke kolam, sangkutkan ke sirip si cumi, maka cumi-cumi akan tertangkap) akan langsung diolah menjadi sashimi yang super segar.

Ada dua hal yang menggelitik gue. Yang pertama, ternyata cumi-cumi itu berubah-ubah warna ketika tertangkap. Yang kedua, tentakel cumi-cumi yang udah jadi sashimi, uget-uget di piring ketika disiram shoyu. Agak geli sih, ngeliatnya. But still, food is food. Rasanya endolita estaurina alias enak! Segar, jelly-like, dan ada rasa manisnya. Recommended banget! Oh, di sini juga gue mendapatkan reaksi pertama atas tattoo Ghibli gue. Seorang pedagang literally menjerit senang sambil menunjuk-nunjuk tangan kanan gue dan memberikan isyarat ke gue untuk memperlihatkan tattoo tororo, kaonashi, susuwatari, dan moro waktu itu sih belum nambah ke yang lain ehe ehe). Saking senangnya, ibu-ibu penjual cumi idup bahkan minta… selfie. I kid you not. hahaha!

Jika puncak kecantikan perempuan Indonesia adalah Dian Sastro, maka Goryokaku Park menjadi lambang kecantikan kota Hakodate. Asli, ya, gue nahan napas lama banget sampe hampir bengek karena bengong. Sebelumnya, sih, gue udah survey di internet tentang Goryokaku Park yang tadinya adalah sebuah benteng. Namun melihat taman berbentuk bintang ini secara langsung dari Goryokaku Tower beda banget feelnya ketimbang liat foto doang. Hal lain yang membuat gue melotot: soft serve rasa melon Hokkaido dan susu yang dijual di tower ini. Along with Cremia, it was the best soft serve I’ve ever had. Rasa manis segar melon berpadu lembut dengan susu Hokkaido (btw, Hokkaido memang sangat terkenal dengan melon, keju dan susunya), meleleh di lidah, dan menghilangkan segala rasa capek berjalan kaki sepanjang pagi. Gue nggak berkesempatan menginjakkan kaki di Goryokaku Park, dan gue berjanji, gue akan kembali lagi. Mungkin di musim semi, karena Goryokaku Park mendapatkan julukan one of the best parks to see cherry blossom.



OTARU

Sama seperti halnya gue nggak pernah mendengar nama kota “Hakodate”, gue juga nggak pernah tau tentang Otaru. Dan gue bersyukur nggak googling dan mencari tahu, karena kota kecil ini langsung mencuri hati gue selepas berkendara kurang lebih dua jam dari Hakodate. Tiba di pusat kota Otaru siang hari, kami disambut banyak sekali perempuan berlalu lalang mengenakan yukata. Dengan penuh semangat, tour guide kami menjelaskan, nanti malam akan ada Hanabi, atau festival kembang api di dermaga. Itu sebabnya banyak perempuan yang sudah cantik menjadi lebih cantik dengan make up dan kostum yukata. Wah, gue langsung semangat. Kembang api selalu menjadi favorit gue sejak dulu karena keindahannya, dan karena susah difoto. Diam-diam gue mencatat dalam hati, nanti malam harus dapat spot yang bagus dan harus berhasil memotret kembang api. Rupanya, guide kami, Kazu-san begitu dia meminta kami semua memanggilnya, juga penggila kembang api. Matanya berbinar cerah ketika bercerita, bahwa ia belum pernah ikutan hanabi festival di Otaru.

Selain punya deretan gedung kuno bernuansa Eropa, Otaru juga kota kotak musik! Ketika mau menyeberang jalan, clock tower di pusat kota menunjukkan angka 4 sore pas, dan dengan segera alunan nada khas music box memenuhi udara. Gue terkagum-kagum. Apalagi ketika angin bertiup, lonceng-lonceng dari kaca berwarna-warni dengan ukiran lucu-lucu berdenting-denting, saling bersahutan dengan musik dari clock tower. Dengan segera gue jatuh cinta ke kota kecil ini.

Alasan mengapa banyak lonceng kaca kecil warna-warni yang dipasang di tiang-tiang listrik terjawab tak lama kemudian. Kami dibawa masuk ke sebuah tempat untuk membuat kotak musik sendiri, dan di situ, gue diberitahu bahwa selain music box, Otaru juga terkenal akan kerajinan dari kaca. Mulai dari piring, gelas, mangkuk, mug, sampai mainan yang lucu-lucu. Prestasi sore itu: gue berhasil membuat sebuah music box yang nggak malu-maluin visualnya.

Binar mata Kazu-san membuahkan hasil yang luar biasa. Pengharapan bahwa kami akan menyaksikan kembang api yang indah, terbayar tuntas dan lunas. Dermaga di Otaru dipenuhi ribuan orang yang duduk dengan tertib, tak ada yang menyampah, dan semuanya takjub menyaksikan kembang api yang meledak dan mekar susul menyusul dalam ragam bentuk dan warna, satu jam nonstop. Gue juga berhasil mendapatkan beberapa foto yang bagus-bagus! To sum it up, that day was perfect.

Hari selanjutnya, kami dibebaskan jalan-jalan keliling Otaru sampai siang hari. Gue memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba cheesecake terenak di dunia, di gerai LeTao (seriously, kalau kalian ke Jepang, jangan sampai nggak makan double fromage-nya LeTao. It’s like heaven melts in your mouth!), lalu makan soft serve delapan rasa. Secara nggak sengaja gue masuk ke dalam satu toko mainan yang terletak di samping Clock Tower di city center Otaru, lalu terkaget-kaget (dan histeris!!) karena lantai dua toko ini penuh dengan berbagai merchandise dan pernak-pernik Studio Ghibli. Dari Totoro imut sampai boneka Totoro raksasa, neko bus, kotak musik Totoro, gambar dan lukisan Princess Mononoke, buku bersampul Howl’s Moving Castle, sampai bantal Laputa Castle In The Sky dan banyak lagi judul film Ghibli lainnya, lengkap. Gue berpindah dari satu surga ke surga lain siang itu. Seandainya kami tak harus berangkat menuju Sounkyo, gue pasti akan tinggal di toko mainan ini sampai malam.
img_1171-mediumimg_1181-medium

img_1182-1-medium

img_1171-medium

img_1170-medium

img_1169-medium

img_1168-medium

img_1167-medium

img_1166-medium

img_1164-medium

img_1165-medium

img_1163-medium

Gue keluar dari toko ini dengan dompet kempis dan hati buncah oleh bahagia karena tiga kantung oleh-oleh serba Ghibli di tangan kiri dan kanan serta senyum yang tak henti-hentinya berkembang.

Sekian dulu ceritanya. Bersambung ke part dua. Kalo gue terusin sekarang, mata kalian dijamin jereng. Cek juga video-video gue selama di Jepang, di channel youtube gue. Ihiy Ini dia: TONTON DAN SUBSCRIBE YAAA

So what do you think? It would be really good if you let me know by commenting below. Cheers!

SHARE
Previous articleMilky Way Obsession
Next articleFrom Hokkaido To Kyushu (Part 2)
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow