SHARE

Hai, Halo! Selamat datang!

Sekarang gue lagi di Maluku, tepatnya di Kepulauan Kei. The good thing: di hotel ada dua wifi hotspot. The bad news: NONE OF THEM WORK. Kayak jatuh cinta ke dua orang, dan dua-duanya udah punya pacar yang jauh lebih segala-galanya dari elo. But since I’ve made a promise, here you go, part dua dari perjalanan 12 hari gue ke Jepang yang dengan baik hatinya disponsori JNTO (Japan National Tourism Organization) cabang Indonesia. Love banget deh sama mereka.

Kalau kalian belum membaca bagian satu dari entah berapa bagian tulisan ini, baca dulu, deh. Here you go: CUS DIBACA, NEYK

Now, let’s continue our journey. Next stop:

ASAHIYAMA ZOO and SOUNKYO

Sekitar dua jam gue tak berhenti berdecak kagum gara-gara pemandangan di kanan kiri jalan yang seperti diambil dari pemandangan di film-film animasi Ghibli – ladang hijau, deretan pohon pinus tumbuh tak beraturan di kaki gunung yang memayungi lembah-lembah yang dipercantik dengan rumah khas Jepang serta aroma ceria yang menggantung di langit biru dan kapas-kapas putih. Menyenangkan sekali! Sebelum menuju Sounkyo, kami melipir terlebih dahulu ke kebun binatang paling populer di Jepang, Asahiyama. Sebenarnya, atraksi paling terkenal di Asahiyama adalah penguin walk, yang biasanya terjadi di musim dingin. Memasuki kota Asahiyama, awan menebal di langit. Untuk kali pertama dalam beberapa hari terakhir, cuaca jadi muram.

Dan sebenarnya lagi, gue tak terlalu bersemangat bermain ke kebun binatang karena… well, it’s a zoo. And for me all zoos are the same. Namun lagi-lagi gue membuktikan ke diri sendiri bahwa gue salah. Di Asahiyama inilah gue pertama kalinya dalam hidup menyaksikan lolongan sekawanan serigala yang diikuti dengan pergulatan antara alfa male dan pengikutnya. Lolongan serigala yang susul menyusul ditimpa cuaca yang mendung membuat gue merinding hebat karena terdengar mengancam, mengerikan, menusuk ke tulang. Gue menghabiskan lebih dari 40 menit di depan kandang berkawat jarang untuk mengamati dan memotret para serigala. Keanggunan dan keganasan mereka, menimbulkan rasa jeri sekaligus kekaguman yang berlipat. Di bawah ini beberapa jepretan gue memakai kamera Olympus OMD EM-5 Mark II. Lensanya Zuiko Lens 75mm f/1.8, Editannya hanya cropping di satu foto.

Highlight lain dari Asahimaya Zoo tentulah melihat ulah para penguin. Ada seekor penguin bandel yang terus menerus mengikuti pawangnya walau sudah didorong pergi berkali-kali. Ia mengharapkan ikan dengan mengikuti sang pawang. ‘Kerja keras’ si penguin berbuah hasil. Pawang akhirnya tak tega, dan memberinya ikan lalu menepuk-nepuk pelan kepala sang penguin sambil nyengir lebar, dan diikuti tepuk tangan pengunjung.

Namun ternyata di laptop ini foto penguinnya nggak ada. Belum gue pindahin dari harddisk, dan harddisknya ada di Jakarta. Jadi kalian liat foto binatang lain aja, ya. Polar bear, monyet jepang yang minum aja kudu melingkarkan ekor kayak lagi pacaran, dan burung hantu aja mau, nggak? Susah lho, motretnyaaa. Dan foto-foto ini belum pernah gue share di mana pun. Mau share di IG, ntar disangka akun NatGeo (padahal aku ingin #eaa)

Kunjungan ke Asahiyama berakhir dengan kebodohan gue yang salah menuju pintu keluar. Panik dengan sinyal internet yang ngos-ngosan, setelah menunggu lebih dari dua puluh menit akhirnya gue berhasil menghubungi rombongan dan memberitahu mereka posisi gue. Untunglah, gue dijemput. Nggak kebayang kalau sampai ditinggal. Mungkin gue akan melolong sepanjang malam lalu dikeroyok kawanan serigala.

Satu jam berselang, kami tiba di hotel di daerah Sounkyo. Melihat awan tebal, gue pesimis akan mendapatkan foto milkyway malam itu. Namun karena gue bandel, sekitar pukul sebelas malam gue keluar dari hotel dan mencari tempat yang gelap. Di Jepang walau berada di wilayah terpencil tanpa akses internet di pegunungan, lampu-lampu jalan menyala terang, tak seperti di negara kita. Tetapi hal ini justru membuat gue gusar, karena untuk memotret langit, gue membutuhkan tempat yang gelap gulita. Akhirnya, gue bergerak ke tempat lain, berusaha mencari lapangan terbuka yang tak ada penerangan sama sekali. Sambil komat-kamit menghafal jalan, langkah gue terhenti di sebuah tempat yang dikelilingi banyak pohon dengan gunung menjulang tinggi di belakangnya. Di bagian depan, ada semacam bangunan yang supergelap.

Dengan hati riang gembira, gue mulai memasang tripod dan beberapa kali memotret langit yang selepas pukul sepuluh malam mendadak cerah ceria. Selama kurang lebih lima belas menit gue asik memotret, dan kegiatan itu harus terhenti oleh suara gemerisik di balik pohon. Gue membeku di tempat, otak langsung mengingat-ingat, apakah di Jepang ada macan liar? Atau ada sekawanan serigala yang hidup di dalam hutan? Tak mau mengambil risiko, gue langsung mengangkat tripod dan terbirit-birit kabur dari situ. Tepat di persimpangan antara hutan dan kawasan rumah penduduk, mendadak gue melihat sepasang titik putih di seberang jalan. Jantung gue langsung melorot ke aspal ketika sadar ada seekor rusa jantan yang sangat besar menatap langsung ke gue. Tanduk rusa ini bercabang, panjang, mengancam. Tanpa berpikir panjang, setelah membeku dua detik yang terasa dua hari, gue lari sekencang-kencangnya. Gue tak memelankan lari gue sampai di lobi hotel. Di kamar, gue tertawa histeris teringat pengalaman barusan. Mungkin tamu di sebelah hotel langsung duduk dari tidurnya sambil mengutuk. Anehnya, malam itu gue tidur nyenyak tanpa dihinggapi mimpi buruk.

Buat yang follow instagram gue, pasti ngeh sama foto ini. Di captionnya gue janji akan cerita. Now you know the story!

Keesokan paginya, gue baru tahu bahwa tempat yang semalam gue datangi sendirian adalah Kurodake Ropeway yang memang ada di itinerary. Jadinya gue tertawa sendiri mengingat kejadian ‘mengerikan’ semalam. Diam-diam, gue berharap akan ketemu rusa di pagi itu. Pengin gue foto. Namun rupanya si rusa memutuskan dia tak mau difoto sehingga ia tak terlihat sama sekali.

BIEI AND FURANO

Sebelum berangkat ke Jepang, gue bertanya, berhubung berangkatnya akhir Juli sampai awal Agustus, apakah memungkinkan melihat kebun bunga lavendel di Biei atau Furano? Ketika gue menerima itinerary, gue melonjak-lonjak kegirangan. Gue udah lama sekali ingin melihat langsung dan mencium wangi kebun lavendel di Jepang. Maka setelah selesai membuat timelapse di Kurodake, di sepanjang perjalanan menuju Biei, gue berdebar-debar. Penuh antisipasi dan nggak sabar untuk akhirnya melihat sesuatu yang sudah gue impikan bertahun-tahun.

Tiba di Biei, kami berhenti di pinggir jalan, dan gue langsung mengerti kenapa. Di hadapan kami, terhampar semacam ladang menguning dengan gulungan-gulungan besar rumput kering yang menambah bobot fotogenik tempat ini. Di belakang ladang, berderet-deret pohon pinus dan pohon lain berjajar, diselingin dengan rumah dari kayu. Pemandangannya terlalu indah gue sampai menahan napas.

Kami tak berlama-lama di sini karena jadwal hari itu yang lumayan ketat. Namun gue masih sempat membuat video dan memotret dan membeli cherry segar yang dijual ibu-ibu di pinggir jalan dan jajan eskrim soft serve khas Jepang sebelum melanjutkan perjalanan.

Gue mulai gelisah dan bertanya ke Kazu-san, kapan kami akan pergi ke ladang bunga berwarna-warni? Kazu-zan, seperti biasa, nyengir dan menjawab, kami akan makan siang di restoran di depan ladang-ladang bunga yang gue maksud. Nama tempatnya: Shikisai Hill atau Shikisai-no-Oka, yang merupakan ladang bunga terluas di Hokkaido. Itu berita bagusnya. Berita buruknya, kami tak punya banyak waktu karena selepas makan siang kami harus ke Furano untuk membuat keju di Furano Cheese Factory. Kami diwajibkan hadir tepat waktu karena sudah booking jauh sebelumnya. Berita ini membuat gue lemas. Makan siang di resto di depan ladang bunga terluas di Hokkaido namun tak ada waktu untuk berlari-lari di antara jejeran bunga seperti Incess Syahrini? Nggak. Gue gak terima. Pokoknya harus bisa. Maka, gue merayu-rayu Kazu-san ditambah menatapnya dengan mata memelas. Akhirnya gue diberi waktu ekstra dua puluh menit dengan syarat gue harus menghabiskan makan siang gue kurang dari sepuluh menit.

Hari itu, gue mencatatkan rekor: makan siang tercepat dalam hidup gue. 7 menit! Nggak pake tiup nasi atau menunggu katsu gue sedikit hangat. Di kunyahan terakhir, gue sudah berdiri, menyambar kamera, meneguk ocha dingin, dan pamit lalu kabur secepat mungkin.

The next twenty minutes was one of the best twenty minutes of my life.

Gue terpesona melihat deretan bunga warna-warni yang begitu rapih dan menyenangkan mata. Gue menelusuri kebun himawari (bunga matahari), gue berjalan sampai ke ujung untuk mengamati gundukan lembah karpet bunga ungu-merah-biru-putih-oranye-kuning dedaunan hijau dan langit biru dengan saputan awan putih bergumpal-gumpal kecil. Gue memotret dan membuat video. Gue menatap pasangan-pasangan muda maupun tua yang tampak berseri-seri sambil bercakap-cakap dan berjalan pelan di antara barisan bunga warna-warni.

Apakah dua puluh menit cukup untuk mencerap semua keindahan ini? Tentu tidak. Tapi, itulah waktu yang gue punya, dan gue harus menepati janji. Jadi, gue berlari lebih dari lima ratus meter kembali ke restoran lalu ke parkiran mobil, dan gue masuk ke dalam mobil tepat waktu. Dua puluh menit. Oh, gue bahkan masih sempat membeli minuman jelly rasa melon Hokkaido yang luar biasa yummy.

Oh, iya. Ini foto paling paling paling paporit sewaktu motret dan jalan dan bengek dikit selama dua puluh menit yang terasa seperti dua menit di Shikisai Hill. Tadinya gue males upload namun setelah pamer ke grup wasap JNTO, eh mereka upload duluan. Akhirnya gue upload juga, deh. Jadi kepengin print foto ini gede-gede dan digantung di rumah. Mau pesan, gak? Harga bisalah dibicarakan. #eaaa

Di Furano Cheese Factory, kami belajar membuat keju mascarpone dan diwajibkan menggambar ‘label’ atau ‘brand’ kami pada kertas penutupnya. Sebagai orang yang luar biasa jago menggambar, gue dengan pedenya menghasilkan tulisan di label “Kejunya Lexy” dengan spidol warna-warni norak, yang kemudian ditertawakan karena dua rekan gue berhasil menggambar label dengan kartun lucu-lucu unyu. Tak apa. Yang penting gue berhasil bikin keju.

Akhirnya, saat itu tiba. Saat gue melihat bentangan bunga lavendel (yes, bahasa Indonesia bunga lavender adalah lavendel. Gue ngetik lavendel bukan karena cadel. CATET, YE) dari ujung ke ujung, yang biasanya hanya gue lihat di poster atau di foto di internet atau di tv. Entah apa kaitan emosional antara gue dan kebun bunga yang tertata rapih dari segala arah, tetapi gue hampir nangis. Trip dua belas hari, dan baru di hari ke empat gue udah berhasil mewujudkan salah satu mimpi terbesar gue — melihat kebun penuh lavendel? Seriously, God. What have I done to deserve this? Gue. Bener. Bener. Berada. Di. Kebun. Lavendel. Sesuai dengan impian gue! Dan viewnya memang sebagus yang gue bayangkan! Dan kali ini gue diberi waktu dua jam untuk berjalan-jalan bukan cuma dua puluh menit! It felt so surreal and to be honest, I wouldn’t mind spending the rest of the night there. I couldn’t even properly described how I feel. All I know, I wanted to transformed into a bee and suck the honey hell out of those pretty lavenders and spend the rest of my life as a bee just to be near the flowers. Or maybe become a lavender farmer. Or move to Hokkaido and work at a lavender farm. Whatever. I was too happy.

DREAMS DO COME TRUE. They do, they do.

Masih banyak banget foto-foto di Tomita Farm. Semuanya gue suka dan nggak mungkin juga kan gue upload seratus empat puluh foto kebun bunga dalam berbagai angle? wk. Walau semua yang berbau lavendel gue suka, ternyata gue nggak doyan makan soft serve rasa lavendel. Rasanya … Kayak makan obat nyamuk bakar karena wangi lavendelnya. Aselik. Herannya, yang antre beli banyak banget. Mungkin di rumah mereka gak ada nyamuk jadi gak perlu pasang obat nyamuk warna ungu tua melingkar-lingkar kali, ya…

So, anyway, it’s been more than 1900 words. Mari tuntaskan di sini, dan tentunya bersambung ke Part 3, segera! Let me know what you think because one of my favorite things to do is reading your nice comments. And if you love this blog, please, do share it with your friends and your beloved ones. Until next time! Itadakimasu! (mana tau situ baca sambil makan tiramisu)

  • Gea Laksita

    di kantor bukannya kerja, malah baca ini. hahahaa.
    Semoga suatu saat nanti, gua yang ke Jepang dan bisa mengunjungi kebun Lavendel seperti di blog ini.

    Ada amiin?? :D

  • flowerqian

    apalahhhhhhhhhhhhh baca ini cuman bisa iri maksimal kapan jnto mau ngajak aku juga ahhahahahahhahahahaha gila sih ini trip hal yg emang aku mau

  • Bernadette Shanti Ch

    Rasa pengen nangis itu nular gak sih? Kok abis lo bilang berasa pengen nangis di kebun lavendel, saat itu juga gw terharu dan berasa nyesek juga sampe akhir cerita 😂

  • ya ampun koh, aku juga suka banget sama bunga dan lavendel (baru tau kalau cara bacanya gitu). dan foto-foto di tulisan ini bagus banget. sampai pengin langsung nyemplung di antara bebungaan itu. Lucky you for made your dream came true. I wish could go there too :))

  • Agata

    Waaaa. Ke kebun binatang ituu yaa, entah km liat gk, waktu kmu mau kejpg, ditwitter aku smpat tulis, lex klo smpt ke kebun bintang asahiyama, klo lihat penguin baris potretin yaa… aku pengen liat penguin barisss, klo nemu fotonya upload yaaaa..😊😊😊😊.

    Katanya bisa lihat polar bear nyelem ya?, soalnya ada terowongan bwh air dikandang si bear itu… huaaaa aku sdh lama baca ttg zoo ini pengen kesanaaaa😅😅😅

    Itu kebun lavendel breathtaking bgt ya… hiks cantiknyaaaa.. pengen deh duduk ditengah2 situ trs ngeteh… hehehe…

  • Inna Mayniza

    Baca ulang cerita tentang trip ini tapi rasanya beda dengan yang pertama karena pertama baca tapi belum merasa yakin bisa pergi, kali kedua baca berasa beda karena trip summer ke Jepang keyakinan berangkatnya udah 60%, ditambah liat foto-foto Otari, kembang api, kebun Lavendel, hamparan bunga di Bei.. keyakinanku buat summer di Jepang naik jadi 90%.