SHARE

“Where are you from?”
“Indonesia!”
“Tropical country, right?”
Gue tersenyum dan mengangguk.
“Well, are you ready for magic?”
Kali ini, gue tertawa. Mata Björn berbinar menunggu jawaban gue.
“To quote Queen, what kind of magic?”
“You know… since you’re from a tropical country, have you ever seen the world covered in snow?”
Jantung gue langsung berdesir lebih cepat. Golden Circle Tour yang di-booked oleh teman gue tampaknya akan melebihi ekspektasi. Sebelum tiba di Iceland, Kenny memang sudah booking beberapa tour yang menurutnya wajib untuk diikuti. Karena gue seorang pemalas, gue tak berusaha untuk sekadar googling dan mencari tahu apa itu Golden Circle Tour. Gue lebih memilih untuk “expect the unexpected” dan membiarkan kejutan yang manis menghampiri. Dengan kalimat yang skeptis, gue membalas ucapan Björn, “Uhm… I’ve seen snow in Reykjavik, but…”
“… but that’s not the main attraction! Now hop on and welcome to winter wonderland!”
Tanpa buang waktu, gue segera naik ke dalam jeep yang dikendarai Björn, bergabung dengan empat penumpang lainnya. To the grand adventure, I go.

SAMSUNG CSC

Lima belas menit pertama perjalanan, belum ada pemandangan yang membuat gue tercekat. Björn rupanya menyadari kegelisahan gue. Dia melirik dan tertawa lagi.
“Can’t wait to see the snow?”
“More like… managing my expectation.”
Sepasang turis yang berasal dari Inggris yang duduk di belakang gue menyahut bergantian. “We’ve been here before.”
“Expect some spectacular sceneries, Alex. This is our third time, and every time, it gets better.”
Gue menoleh ke belakang. Kerut di wajah sepasang suami istri ini tampak menyenangkan untuk dilihat. Di belakang mereka, duduk sepasang suami istri yang jauh lebih muda dari pasangan Inggris ini. Mereka berkebangsaan Kanada.
“Alex, you must do the snow angel!”
Mendengar kalimat lelaki Kanada itu, semua orang di dalam jeep tertawa, termasuk Björn. Gue tak ikut tertawa karena gue tak mengerti, apa itu ‘snow angel’. Ketika mempertanyakan hal ini, istri lelaki Kanada berujar, “instead of describing it to you, we’d rather show you. Oh my God!! LOOK!”

SAMSUNG CSC

Leher gue hampir terpuntir ketika menoleh dengan kecepatan kilat menyambar ke arah yang ditunjukkan perempuan muda dari Kanada tersebut. Jalanan yang tadinya dihiasi rumah berwarna-warni ala Iceland, dengan tanaman khas daerah tundra yang berwarna kelabu, gelap dan pendek, serta rerumputan yang mulai membeku berwarna kuning keemasan sudah tergantikan dengan salju. Salju menutupi seluruh tempat kecuali jalan aspal tempat mobil kami meluncur. Puncak pegunungan terlihat di kanan, kiri, dan di depan jalan. Semuanya dilapisi salju. Dari lereng sampai ke puncak gunung. Tak ada tempat untuk warna lain selain putih dan sedikit sapuan hitam. Gue seperti diempaskan ke sebuah dunia yang benar-benar baru. Dunia hitam putih dengan sedikit sepuhan biru muda. Langit putih. Daratan putih. Pegunungan putih. Jalanan hitam. Padang salju maha luas putih kebiruan. Gue merinding hebat. Hampir menggigil malah.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

“Don’t hold your breath, Alex! The best is yet to come!”, seru Björn sambil berbelok ke kanan dengan tangkas. Semua orang di dalam mobil tertawa girang. Tawa mereka makin menjadi ketika melihat ekspresi wajah gue.
“It’s … okay, I’m lost for words.” Gue benar-benar kehilangan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan pemandangan di sekeliling kami.
“Eerie?”
“Otherwordly?”
“You’re Alex in wonderland!”
Björn dan yang lain tertawa lagi. Gue hanya sanggup mengangguk. Lidah kelu. Mata tak mau berkedip menatap dunia yang tak pernah gue saksikan sebelumnya. Björn berbelok lagi, lalu berhenti di sebuah tempat yang bahkan namanya tak bisa gue sebut dengan lidah Indonesia gue. Kami berenam turun dari mobil.

SAMSUNG CSC

Lagi-lagi, gue bengong. Kini, di hadapan gue menjulang sebuah lereng gunung yang meraksasa. Tumpukan salju menghampar sejauh mata memandang. Jauh di bawah kami, sebuah jalan berkelok-kelok, mengular tanpa ujung, membelah salju dan bukit-bukit salju dan gunung-gunung salju. Jalan yang dua jam lalu kami lewati. Gue memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang, dan berjalan mengikuti kelima orang itu memasuki sebuah kabin besar dari kayu yang ternyata sebuah museum mini yang menjelaskan betapa gegap gempitanya jalur Golden Circle.

SAMSUNG CSC

Dua puluh menit kemudian, setelah mencerap sejarah Golden Circle Tour dan area yang akan dilalui, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini berjalan kaki melewati sebuah celah yang diapit dua dinding mahatinggi dengan tepian tajam berwarna hitam. Jauh di bawah, selain padang salju, ada sederet pepohonan dan beberapa rumah yang atapnya putih. Jalan berkelok-kelok di depan rumah-rumah, sementara di belakangnya, berderet-deret pegunungan berlomba memamerkan keindahannya. It’s a postcard perfect view!!

SAMSUNG CSC

“Welcome to þingvellir National Park!” Björn, selaku guide yang sudah hafal daerah ini, menjelaskan keajaiban berderet-deret pegunungan di sekitar situ. þingvellir National Park adalah tempat lempengan tektonik Amerika dan Eurasia terpisah beberapa sentimeter pertahun. Mungkin beberapa puluh tahun mendatang, pemandangan di þingvellir tak akan sama lagi, karena jurang pemisah antara lempeng Amerika dan Eurasia makin jauh jaraknya.

SAMSUNG CSC

Gue kembali ternganga ketika mendengar Björn menunjukkan gunung tempat syuting film Oblivion, daerah tempat syuting scene awal film Prometheus, serta yang paling epic; tempat syuting Game of Thrones!! Rupanya, area Golden Circle memang menjadi langganan tempat syuting film-film yang membutuhkan pemandangan magis, pemandangan dengan suasana seperti di planet lain. Setelah seharian menjelajahi area Golden Circle Tour, gue paham mengapa Golden Circle menjadi salah satu andalan wisata di Iceland. Kami berpetualang di Geysir, daerah geothermal Strokkur yang mempunyai geyser besar yang menyemburkan air panas setinggi 30 meter lebih setiap beberapa menit! Saat-saat menegangkan menunggu geysernya menyemburkan air panas dengan suara yang bergemuruh amatlah menyenangkan.

Lalu, petualangan di padang es, tentunya harus melibatkan salah satu olahraga yang hanya bisa dilakukan di … padang es, lah. Yekali padang rumput *ditapuki* Gambar di bawah ini adalah deretan snowmobile. Gue diajak untuk menjajal dengan membayar sekitar 19ribu kron (atau dua juta). Karena nggak bisa nyetir mobil (baca: belum jago), dan rada ngeri ngebayangin kalo gue panik mendadak lalu bukannya ngerem malah ngegas yang mengakibatkan snowmobile-nya melenting dan terbang dan akhirnya jatoh nibanin gue, maka gue menolak tawaran ini.

Alasan gue yang sebenarnya, sih…. gue gak punya duit. HAHAHAHACEDIHKAKHAHAHA.

SAMSUNG CSC

Salah satu tempat paling impresif yang dicakup oleh Golden Circle Tour adalah Gullfoss Waterfall. Tempat ini, menurut Björn, menjadi salah satu tempat favorit untuk menyaksikan sang dewi cahaya, Aurora Borealis, berdansa di angkasa. Yang membuat gue takjub ketika berada di Gullfoss Waterfall, adalah fakta bahwa sebagian air terjun raksasa ini membeku. Es berwarna putih kehijauan menyelimuti tebing air terjun, menciptakan pilar-pilar memanjang ke bawah yang mengesankan.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Namun, yang paling gue ingat adalah ketika jeep yang kami tumpangi mendadak terjebak salju. Di jalur pegunungan Golden Circle, jalanan dilapisi salju yang ketebalannya lebih dari satu meter. Tak ada mobil pembersih salju yang lewat, sehingga di sepanjang jalur mobil dipasang tonggak kuning mencolok. Jeep yang kami tumpangi melenceng setengah meter dari jalur tonggak kuning yang mengakibatkan ban jeep tak bisa bergerak. Dua jam lebih kami berjuang bersama-sama untuk memadatkan jalur supaya jeep bisa kembali bergerak dengan menyekop salju yang menyilaukan mata. Perjuangan kami tak membuahkan hasil sama sekali. Mobil hanya bisa bergerak beberapa meter untuk kemudian terperangkap salju tebal nan empuk. Walau terjebak di pegunungan tanpa tanda kehidupan, kami sama sekali tak khawatir, karena kami yakin akan ada bantuan yang segera datang. Tiga jam menyekop dan memaksa mobil jeep bekerja lebih keras dan tak sukses, akhirnya Björn menghubungi temannya yang datang dan membawa tali tebal untuk menarik jeep kami dengan jeepnya.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Sebelum pergi dari pegunungan salju tempat syuting banyak film ternama itu, gue akhirnya mengetahui apa itu ‘snow angel’. Lelaki Kanada dan istrinya menyuruh gue menjatuhkan diri ke salju yang empuk, yang gue lakukan tanpa secuil keraguan. Kemudian, mereka memberikan petunjuk selanjutnya: gue harus menggerakkan kedua tangan dan kedua kaki, seperti burung yang mengepakkan sayap. Akibatnya, di salju tercetak jelas bentuk tubuh dan jejak kedua tangan dan kaki gue.

“That’s snow angel! You did it!” Seru si lelaki Kanada. Suara tawa kembali terdengar. Gue tak memedulikan dingin yang mulai menggigit ujung jemari yang terbungkus sarung tangan. That moment, I feel eternal.
Screen Shot 2014-09-13 at 18.02.39