SHARE

FullSizeRender 33

What would you do when someone suddenly hold your hand, take a really serious look to your palm, and tell you the story of your life, perfectly? You’d freak out, right?

Itu juga yang terjadi ke gue, ketika mengikuti tour ke Rumah Desa di Bali. Awalnya, gue enggan mengikuti tour ini karena gue mikir, ini semacam tourist trap. Namun, gue percaya penuh ke rekomendasi Dewi, Assistant Director Hotel Intercontinental Bali, tempat gue tinggal selama dua malam di sana. Menurut Dewi, tour ke Rumah Desa akan menjadi highlight perjalanan gue ke Bali, selain mencoba spa dan makanan-makanan enak di Intercon. Okay, I was sold. I trusted her.

Padahal, gue udah membayangkan untuk tidur sampe siang di kamar gue. Namun, gue juga penasaran atas cerita Dewi yang bilang, Rumah Desa sangat layak dikunjungi. Baiklah..

FullSizeRender 36
IMG_4213
IMG_4210 Kamar gue di Intercontinental Bali. Kece, luas, bikin betah.

Pagi-pagi sekali, gue dan guide beserta dua peserta lain dari Jerman sudah berangkat. Mereka berdua, (as usual, gue ini tukang lupa nama lupa wajah ingat cerita), sedang honeymoon, dan pilihannya adalah Bali. What a great choice! Sejauh ini, mereka sangat terkesan dengan budaya Bali yang luar biasa. Gue aja yang udah sering ke Bali masih terheran-heran dan takjub setiap tau satu detil kecil mengenai kebiasaan dan kebudayaan di Bali, apalagi orang asing yang baru sekali datang. Anyway, off we go.

Sepanjang perjalanan, Pak Wayan, guide kami, memukau gue dengan pengetahuannya yang mendalam tentang tempat-tempat yang kami kunjungi. Ia bercerita tentang pasar tradisional, tentang pohon raksasa keramat yang rupanya adalah dua pohon besar yang kemudian bersatu sehingga membentuk satu pohon yang membuat semua orang terpesona. Tinggi menjulang, lebar membentang, dan tak bisa ditebang. Bahkan dengan menggunakan lensa 10mm, gue harus mundur beberapa meter untuk mendapatkan foto pohon ini. Yang menakjubkan, Pak Wayan lancar sekali bercerita dengan bahasa Jerman kepada dua sejoli yang ikut tur. Iseng, gue bertanya ke Pak Wayan, Pak, bisa berapa bahasa? Dia menjawab dengan nada kalem, tanpa terselip nada sombong: Hmm… saya bisa bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, Itali, sedikit Prancis… (dan entah bahasa apa lagi yang beliau sebut, gue udah bengong duluan saking kagumnya)

IMG_4446
IMG_4447
IMG_4457
IMG_4458

Nah, di Rumah Desa ini lah, saat dua Jerman itu ikut cooking class, saat gue melipir ke Pura dan menemani Pak Wayan, saat dia bercerita tentang aksara Bali dan mengisahkan tentang bagaimana orang Bali zaman dulu menulis di daun lontar, gue melihat ada satu batu dengan cetakan tangan manusia. Iseng, gue mencoba cetakan tangan itu, mana tau pas. Eh, Pak Wayan meraih tangan kiri gue dan menatapnya dengan serius, menelitinya.

IMG_4315
FullSizeRender 37

Gue deg-degan, raut wajah Pak Wayan berubah. Dia melirik gue sedikit, kemudian menekuri garis-garis di tangan gue. Kemudian, dia mengucapkan satu hal yang tak akan pernah gue lupa.

“Wah, ternyata Bapak ini orang penting, ya?” Entah apanya yang penting, gue cuma bisa nyengir bego. Dia melanjutkan lagi, “Bapak ini rupanya berbakat di banyak bidang, ya…” “Oh, ya?” tanya gue sambil cengar-cengir. Dibilang berbakat di banyak bidang oleh orang yang belum lo kenal, sapa sik yang gak seneng? (oh, i am so easy to pleased ahahahaha!). Pak Wayan melanjutkan kalimatnya, “Sayangnya, kamu ini nggak bisa menentukan skala prioritas. Semuanya mau dicoba. Orangnya susah fokus ke satu hal.”

Cengiran gue sudah lenyap sepenuhnya. Kayaknya, muke gue juga udah mulai pucat. Anjer, kok tau sik?! Masak iya gue di-stalking? #eaaa

“Sekarang kamu bayangkan, lebih baik mana, menggali satu sumur tapi dalam dan airnya nggak habis-habis, atau menggali banyak sumur tapi dangkal semua?”

Lagi-lagi, gue tak bisa menjawab selain dengan, “he he he he.” Kena skak mat! Ketampar abis. Selama ini, gue memang tipe orang yang demen coba-coba hal baru. Ketika gue merasa tak terlalu tertarik karena udah bisa, gue beralih ke hal lain. Pak Wayan meneruskan ‘bacaannya’.

IMG_4316Tulisan ‘Alexander Thian’ dalam aksara Bali. Yang bisa baca, bener, nggak, sih? xDDD

“Kamu itu orangnya beruntung. Ada aja orang yang akan bantu kamu saat kamu kesusahan. Banyak juga yang ‘melindungi’ kamu. Kamu juga orang yang terlalu baik. Gak perhitungan. Gegabah. Gampang dimanfaatkan. Tapi, nggak apa-apa. Tetaplah menjadi orang baik.”

Lagi-lagi gue tertampar dan saat itu juga, berasa kayak deja-vu. Beberapa bulan sebelumnya, gue dibacain tarot oleh Azza, dan si Azza ngomong hal yang sama persis. Tentang gue yang terlalu baik dan gak perhitungan dan gampang dimanfaatkan dan banyak yang melindungi. Jangan-jangan, si Azza dan Pak Wayan itu jodoh *ditoyor*

Yang paling bikin wajah gue merah kek warna tudung The Red Riding Hood, saat Pak Wayan bilang gue ini genit dan suka flirting. Hey, just because I flirt with someone, it doesn’t mean I’m love with that someone! ​(˘̯˘ )​( ˘˘̯) Ah, ya sudahlah. Memang naturenya Aquarius kan, suka genit dan flirting. #teteupzodiak. Perjalanan ke Rumah Desa berakhir setelah gue dikasih kalung yang bertuliskan nama gue dengan aksara Bali yang digoreskan di daun lontar, mencoba semacam lulur yang rasanya hangat banget, ikutan masak masakan khas Bali, maen ke sawah dan ditantang membajak sawah naik kebo (yang gue tolak mentah-mentah karena hellaw, gue gak bawa baju ganti dan gak mau cemong-cemong kena lumpur (padahal alasan sebenarnya, gue takut diseruduk kebo)), dan dikasih dua markisa oleh pak petani dan istrinya yang murah senyum. A day well spent, and I thank Intercontinental for this!

IMG_4309
FullSizeRender 35

Sesampainya di kamar hotel, gue kembali merenungkan ucapan Pak Wayan. Bahkan, ketika keesokan harinya gue merem melek keenakan ikutan treatment spa hotel ini, apa yang Pak Wayan katakan terus bergaung. Ada beberapa hal lagi sih yang Pak Wayan bilang ke gue, tapi gak akan gue ceritain di sini. Malu. Hihihihihi! Mendingan kalian gue ajak ‘maen’ ke Intercon aja.

IMG_4265
IMG_4356
IMG_4402

Sedikit bayangan, Intercontinental ini LUAS GELA. Dia bukan tipe hotel yang bergedung tinggi, namun lebih ke resort dengan buanyak kolam renang. Kalo gak salah hitung, ada enam kolam di sini. Dari kolam yang kayak pemandian raja Tirtagangga, kolam anak-anak, kolam yang menyatu dengan bar dan Jimbaran Garden-nya (es grim bambunya ENDEUS!!), sampe ke kolam yang khusus untuk tamu dengan kamar premium.

IMG_4357

Yang bikin bengong lagi, adalah resto-resto di resort ini. Jimbaran Garden dengan makanan khas Bali dan Indonesia, lalu ada Club Lounge yang tampilannya klasik, mewah dan sangat elegan. Mau liat sunset sambil mimik-mimik lucu? Ada Sunset Beach Bar and Grill. Kangen masakan Jepang? Bersiaplah menyaksikan akrobat chef di KO Restaurant. Pengin pasta atau masakan Itali lain? Tuh, ada Bella Cucina yang berkonsep fine dining tapi santai. Kayaknya masih ada beberapa resto/bar atau tempat hang out. Gak sempet gue cobain semua soalnya tempat ini luas banget. Yang gue tau, lain kali kalau ke Intercontinental, gue pasti males ke mana-mana lagi. You get the beach, you get the perfect sunset, you get the pool(s!), you get the great food from many restaurants here, and you get the relaxing massage from the Uluwatu Spa. Oh, the gelato, THE GELATO! Don’t forget the gelato! xD xD

FullSizeRender 34
IMG_4387
IMG_4224
IMG_4360
IMG_4374

So, yeah. Pak Wayan dan resort Intercontinental Bali kembali berhasil membuktikan bahwa Bali itu memang magis dengan segala daya tariknya. Itu juga sebabnya, pulau ini nggak akan pernah membosankan. Selalu ada hal baru yang terjadi. Selalu ada tempat menarik untuk dieksplor. Without a hesitation, I’d recommend Intercontinental Bali Resort as a perfect weekend getaway. You’d be surprise by a lot of things. A very nice surprise.