SHARE

Kepada pagi, tawarkan rasa sepi. Sebab dalam ramai, terkadang enggan menghadirkan damai.
Kepada hening, mari berbicara. Dari hati ke hati. Sebab nurani yang pernah terkubur, kini berdenting tiada henti.
Kepada mimpi, biarkan api harap terus meretih. Sebab aku ingin menghadapi realita dan membunuh perih.

Kepada hening, jawaban yang aku cari selalu hadirkan labirin yang menjalar. Di mana ujung waktu, mengapa sepi ini terus menggelegar?

Kepada penjelajah waktu. Di balik hadirmu yang samarkan pejal, masih bolehkah satu harap berpijar?

Kepada hening: bolehkah meminjam sebentuk rindu menembus relatifnya waktu? Aku tak ingin tua sendiri, dan layu menanti pagi.

Kepada hening: maaf jika terlalu banyak meminta. Tapi luka yang terus berdarah, apakah obatnya sebentuk cinta?

Kepada ramai: Rindu yang semakin berpijar. Lingkaran sempurna yang tak lagi samar. Ledakan di otak yang mencapai semesta. Meruah

Dan kepada cinta, tetaplah hadir. Sebab pengharapan tanpa asa akan selalu sia-sia.

SHARE
Previous articleKode Maut
Next articleIni Bukan Rindu

I have a lot of stories to tell. That’s why I write. That’s how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow