SHARE

DSC_0351

Kalau ditanya lebih suka gunung atau pantai, gue dengan mantap pasti akan menjawab: PANTAI! Bukannya nggak suka gunung, tapi buat gue mendaki itu bukan perkara mudah. Dibutuhkan stamina yang mumpuni, napas yang panjang, dan tentunya, komitmen dan tekad yang kuat. Ditambah lagi, gue bukan tipe orang yang suka memanjat-manjat. Karena hal ini pulalah, gue jarang sekali memasukkan gunung ke dalam daftar destinasi.

Ketika ada teman yang mengajak jalan ke Dieng beramai-ramai, hal pertama yang gue tanya adalah, “Ada adegan manjat gunung, nggak?” Pertanyaan gue dijawab dengan cengiran dan kalimat, “Cuma manjat bukit doang, kok, buat liat sunrise. Salah satu sunrise terbaik di Jawa, lho. Masak gak mau, sih?” Dan segampang itu, semudah itu, gue mengiyakan tawaran ke Dieng. Dasar murahan. Haha.

Rupanya, Dieng tak hanya menyimpan sunrise cantik di puncak Sikunir. Telaga Warna dan desa Sembungan, desa tertinggi di tanah Jawa, juga ada di sini. Suasana di Telaga Warna pada hari yang kelabu itu mengingatkan gue pada Kawah Putih di Ciwidey, Jawa Barat. Bedanya, di Kawah Putih banyak sekali pohon yang tinggal batang dan dahan, di Telaga Warna semuanya serba hijau. Mulai dari air telaga yang berwarna hijau pupus, hingga dedaunan di pohon-pohon yang tumbuh subur di sana. Kesan pertama mengunjungi dataran tinggi Dieng: wah, tempatnya keren, ya!

DSC_0317

Cuaca yang mendung berawan mulai membuat gue khawatir bahwa tak akan ada sunrise cantik yang menjelma keesokan paginya. Kekhawatiran semakin bertambah karena malamnya hujan. Artinya, jalur pendakian menuju Puncak Sikunir akan licin. Benar saja, ketika berangkat menjelang subuh, kami ditantang oleh jalanan yang lumayan licin dan terjal dan tentunya: gelap. Tiga hal ini saling melengkapi, membuat gue lumayan manyun. Namun, gue bertekad tak akan membuat orang lain kehilangan mood baik hanya karena gue tak suka mendaki. Gue berpegang pada prinsip satu langkah di satu waktu. Kaki kanan. Kaki kiri. Kaki kanan. Kaki kiri. Begitu terus, sampai betis terasa kebas dan napas terasa berat. Ketika gue hampir putus asa, puncak Sikunir menjelang.

Segala penat dan lelah sirna begitu saja ketika menginjakkan kaki di puncak Sikunir. Gue sangat bersyukur karena tak memutuskan untuk berhenti di tengah pendakian. Menatap kabut yang menutupi gunung-gunung di sekitar Sikunir, gue baru mengerti ungkapan bahwa Dieng adalah negri di atas awan. Perlahan, langit berubah warna dari kelabu ke biru tua, and the magic begins.

Semburat keemasan menyibak kabut-kabut yang menutupi Sindoro dan Sumbing. Siluet manusia yang berjajar, beberapa dari mereka berpelukan. Mata yang berbinar, bibir yang mendaraskan kebesaran Tuhan, napas yang tertahan dan tercekat ketika menyaksikan sinar pertama memupus gelap. Tombak-tombak cahaya keemasan kemudian menyirnakan warna-warna kelabu dan pucat langit. Hangat menelusup perlahan, lalu semua warna melebur; oranye, kuning, biru tua, biru muda, ungu, pink, dan merah, menjadi terang.

DSC_0358

Tak peduli seberapa sering seseorang menyaksikan matahari terbit atau terbenam, kekaguman itu akan selalu ada. It’s like falling in love at the first time, every single time. Pendakian ke Sikunir pagi itu membuat gue tak akan ragu menjawab “MAU!” jika ada yang mengajak gue jalan-jalan ke bukit, atau ke gunung untuk menyaksikan bagaimana magisnya matahari menyapa dunia. It’s worth all the pain and the effort. It’s addicting to inhale the fresh air and to see and feel how the bleak and dark and cold night slowly dissapear into vibrant, colorful, warm world.

IMG_1592 copy

Tak cuma Telaga Warna dan sunrise yang menakjubkan, Dieng juga menyimpan banyak keindahan lain. Contohnya, Desa Sembungan. Desa tertinggi di tanah Jawa yang dikelilingi banyak bukit dan gunung.

DSC_0464

Lalu masih ada minuman ajaib yang bernama Purwaceng yang diklaim berkhasiat meningkatkan ‘kebugaran’.

“Meningkatkan kebugaran gimana, Bu?” tanya gue ke Ibu-ibu penjual minuman ini. Si Ibu lantas mesem-mesem.
“Pokoke bugar, Mas.”

Serentak, beberapa orang tergelak. Kemudian gue baru sadar maksudnya apa. Astaga. Sempat tergoda mencoba, sih… Namun gue pede, kok, kalau gue amat sangat ‘bugar’ tanpa harus minum si Purwaceng. #eaaa #sekalilagi #EAAAA

Selain Purwaceng yang ‘ajaib, ada juga buah Carica, sejenis pepaya khas Dieng yang rasanya gabungan antara peach dan mangga. Sampai sekarang, kalo lagi maen ke supermarket yang jualan buah, gue selalu menyempatkan diri untuk mencari carica kalengan. Sebagai orang yang nggak doyan pepaya, carica adalah pengecualian. Dia nggak lembek dan berbau seperti pepaya. Rasanya lebih renyah dan teksturnya nggak ‘mblenyek’ seperti pepaya umumnya. Ngomongin Carica, gue jadi ngiler….

Dari sunrise yang mindblowing, kami balik ke penginapan sebentar, lantas melipir ke kawah Sikidang. Masker adalah peralatan yang wajib dikenakan, karena aktifitas belerang yang tinggi di kawah ini.

DSC_0509

Pagi itu, gue bersama teman-teman bengong melihat pemandangan absurd berupa manusia berkostum Hanoman sampai manusia berkostum pembunuh di film Scream, duduk-duduk di bebatuan coklat dan jingga, berderet-deret. Ada yang tiduran di tanah tandus, ada yang menggerus tanah lalu ditebar-tebar. Entah kenapa. Mungkin dia bosan. Manusia berkostum dan latar pegunungan tandus dengan asap tipis yang mengepul di puncaknya, menjadi objek jepretan kamera gue beberapa kali. Nggak setiap hari kan, elo ngeliat ‘pembunuh di film Scream’ selonjoran di gunung?

DSC_0524
DSC_0571

Yang lebih absurd, di kawah Sikidang ada penduduk sekitar yang menyewakan kudanya dengan harga murah. Ada satu kuda putih bertotol coklat yang terlihat gagah sekali. Teman-teman bergantian mengelus kuda itu. Ketika giliran gue tiba, mendadak teman-teman tertawa kencang sekali. Rupanya, elusan sakti tangan gue membuat kuda itu … ereksi.

Si Bapak Pemilik Kuda ikut bengong. Katanya, kuda putih bertotol coklat itu tak pernah bertingkah seperti yang barusan terjadi. Dengan wajah memerah dan menatap sebal ke teman-teman yang masih terbahak-bahak, gue mundur cepat-cepat, tak mau meneruskan belaian sakti gue ke si kuda. Yang paling absurd: untuk meredakan ereksi si kuda, pemiliknya sampai harus membawa kudanya berjalan-jalan di sekitar Kawah Sikidang.

Sejak saat itu, kalau diajak melihat matahari terbit di bukit atau di gunung, gue selalu mengingat satu hal penting: jangan sampai membelai kuda apapun. Nanti mereka horny.
IMG_1711