SHARE

Sore ini, di tengah deadline novel yang sedang gue kerjakan, gue merasa membutuhkan sebuah distraksi. Gue merasa harus membuat sebuah tulisan lain, untuk memperlancar tulisan gue sendiri. Jadi, lagi-lagi, gue meminta followers memberikan sebuah kalimat. Seperti yang bisa ditebak, hampir semua kalimat yang masuk ke kolom mention adalah kalimat yang galau berbunga-bunga. Nggak ngerti juga deh kenapa. Haha. Kalimat yang gue pilih adalah kepunyaan @commaditya, yaitu “Aditya mengayuh sepedanya ke laut.” Lalu, gue juga memilih kalimat dari @fionafirdausa, “Melupakan itu rumit, kau tahu?” Kalimat ketiga berasal dari @blackinbook, “Tatapannya tertuju ke buku itu, tapi dia hanya menatap, tak membacanya.” Terakhir, gue memilih kalimat yang sungguh absurd dari @lzchan: “Aku menangkap kecoa di belakang pintu.”

*lalu bengong menatap 4 kalimat di atas* Baiklah, mari lihat seperti apa hasilnya.

Tatapannya tertuju ke buku itu, tapi dia hanya menatap, tak membacanya. Kumpulan huruf menari-nari, menggoda, dan ia tetap bergeming. Ketika terlalu banyak yang berseliweran di dalam otak, yang bisa kau lakukan hanyalah menarik napas panjang. Sekadar bernapas saja, tanpa mengharapkan solusi apa-apa. Masalahnya adalah, terlalu banyak masalah. Seperti mengurai benang kusut beraneka warna, menelusuri di mana pangkal benang membuat kepala Aditya berdenyut hebat.

Aditya melempar buku yang dia tatap sedari tadi tapi tanpa dibaca ke lantai. Dia bahkan sudah tak peduli buku itu kini bercampur tumpukan pakaian kotor, bungkus rokok, majalah, korek api yang sudah habis isinya, dan celana dalam yang tak dicuci lebih dari seminggu. Kamar itu sumpek, sesumpek pikirannya. Matanya beralih ke dinding krem lusuh, dan ia sedikit terhibur melihat barisan semut-semut yang bolak-balik berjalan ke arah meja yang menempel ke dinding. Mangkuk bekas mie instant kini menjadi kolam renang semut. Semut-semut itu entah sedang berpesta, entah sedang bunuh diri karena kebodohan mereka sendiri. Mungkin suatu hari Aditya akan mencobanya, menenggelamkan diri ke kubangan kuah mie instan. Tapi tidak untuk saat ini.

Pandangan Adit kembali beralih ke seekor kecoa yang merayap pelan di atas celana dalamnya. Akhirnya, ada juga teman berbicara. Satu sambaran tangan, kecoa itu sudah berada di dalam genggaman. Adit menangkap kecoa tak berdosa itu di belakang pintu, di atas celana dalamnya yang bau.

“Elo jadi temen ngobrol gue, ya? Mau, kan? Ah, elo nggak bisa jawab. Pasti elo mau. Buktinya elo diem aja. Lo liat buku itu?”

Adit menjulurkan tangannya ke arah buku yang tadi ia tatap tanpa dibaca. Kecoa di tangannya menggelepar.

“Buku itu dari cewek gue. Ehem, maksud gue, dari mantan gue. Dia anak Sastra. Sedangkan gue anak … berantakan. Kamar gue aja begini bentuknya. Jadi ceritanya, cewek gue, eh, mantan gue, ngasih buku itu supaya gue tau apa itu kesendirian. Dia nggak tau kalau gue bersahabat dengan kesepian. Menurutnya, berkawan dengan kesepian itu salah. Kesepian itu membuat orang jadi gila. Padahal kalau gue suka, terus kenapa?”

Adit beringsut ke arah buku itu, meraihnya dengan tangan kiri, dan menunjukkan covernya ke si kecoa malang yang terus memberontak.

“Nih, liat. Judulnya, The Perks of Being A Wallflower. Tentang Charlie, anak remaja yang selalu kesepian. Persis kayak gue, ya? Bedanya, gue bukan remaja lagi, dan gue nggak tersiksa sama kesendirian. Charlie hobinya nangis, gue hobinya ngomong sama kecoa sampe disangka gila. Charlie suka bikin review buku yang dia baca, gue hobinya bengong menatap buku yang entah apa isinya. Cewek gue, mantan gue, ah! damnit! nggak tau sebelum film The Perks of Being A Wallflower ngehits di bioskop luar, gue udah baca duluan. Dan gara-gara ribut kecil, gue diputusin. Lo mau tau kenapa?”

Si kecoa malang rupanya sudah malas memberontak. Mungkin kecoa itu sudah mati digenggam terlalu lama, Adit tampaknya tak peduli. Dia terus mencerocos.

“Dia minta gue merapikan kamar gue. Dia minta gue berpenampilan normal. Dia minta gue nggak ngomong sama kecoa. Dia minta gue berhenti berkawan dengan kesepian. Dan dia minta gue untuk lebih kritis, lebih melibatkan diri dalam hidup. Gue berusaha, lho. Serius. Gue merapikan kamar sesekali. Gue berpenampilan normal, tanpa tau apa itu normal. Kayak apa sih, normal itu? Kalau Syahrini berpenampilan glamor setiap saat dan dia menganggap penampilannya normal, kenapa orang-orang pada berisik? Kalo gue nyaman pake jeans belel dan kaos oblong, kenapa harus maksa gue pake kemeja rapi dan celana bahan yang disetrika setiap hari? Toh gue bukan anak kantoran. Lo ngerti kan maksud gue? Woi, diem aja nih kecoa!”

Dan memang, kecoa itu diam saja. Aditya memerhatikan kecoa itu lagi, memastikan bahwa dia masih berbicara dengan mahkluk hidup. Seulas senyum tersungging. Kaki kecoa masih bergoyang pelan.

“Anywaaaayyy, gue berusaha membuat setiap orang yang berada dalam hidup gue senang. Sampai akhirnya gue merasa capek sendiri dan berhenti di kesimpulan: hidup itu udah susah, kenapa juga gue harus membuat orang lain bahagia dengan tidak menjadi diri sendiri? Kenapa mereka nggak bisa berbahagia melihat gue dengan segala keanehan gue? Toh gue nggak memaksa mereka untuk menyimak setiap racauan gue, kan? Dan gue juga nggak merasa mereka harus mengerti gue. Mereka cukup diam, nggak perlu banyak komentar atas pilihan hidup orang yang tak mengganggu mereka. Selesai. Jadi, hidup itu nggak perlu dibuat susah. Hidup itu harusnya penuh dengan senyum. Kayak gue sekarang, senyum ke elo. Hehe.”

Untuk sesaat, genggaman Aditya ke kecoa itu melonggar, dan rupanya si kecoa merasa ini adalah kesempatannya untuk terbang dan kabur. Aditya tak kaget sama sekali. Ia hanya menyaksikan kecoa itu terbang terbirit-birit mengelilingi kamarnya.

“Oke. Elo kabur. Tenang, masih banyak sodara elo di sini. Mungkin ini adik ipar elo. HAH!”

Seekor kecoa kembali berada dalam genggaman Adit. Kali ini, kecoanya berukuran lebih besar.

“Hai, gue Adit. Elo jangan durhaka kayak teman elo, ya? Main kabur sebelum cerita gue selesai. Karena elo dari tadi di situ, gue beranggapan elo denger semuanya. Jadi gue akan lanjutin cerita gue. OKEH?”

Si kecoa menjawab dengan menggeleparkan sayapnya, dan hal ini membuat Adit menggenggamnya makin erat.

“Tenang. Cerita gue tinggal dikit, kok. Oh, tentang melibatkan diri dalam hidup. Hal ini membuat gue bertanya sendiri, apakah dengan bernapas saja tak cukup? Oke. Pertanyaan bodoh. Apakah menjadi penonton hidup saja tak boleh? Kenapa gue harus ikut sirkus kehidupan yang isinya orang-orang saling menyikut, menjatuhkan, menusuk dari belakang, kalang kabut mencari status, sementara gue bisa duduk dengan tenang dan nyaman di bangku penonton? Gue nggak suka bergunjing. Gue nggak suka ikut meledek kekurangan fisik orang, karena gue nggak mau ikutan meledek Tuhan. Ntar gue kualat dan dikasih hobi ngobrol sama gajah gimana? Gak mungkin toh, gue tiap kepengin ngobrol harus ke kebun binatang dulu? Nah, cewek — mantan gue nggak mau ngerti. Dia bilang gue terlalu pasif. Dia salah. Gue menjalani hidup yang tak terburu-buru. Diburu-buru itu nggak enak. Kita semua sama-sama punya dua puluh empat jam sehari, kan? Apa yang orang-orang itu kejar, sih? Uang? Terus, kalo banyak duit, apa itu menjamin hidupnya bahagia? Lebih mudah sih iya, lebih bahagia, belum tentu. Gue memilih untuk ‘cukup’. Konsep yang banyak orang nggak ngerti, dan akhirnya, menuduh gue kurang ngoyo. Gue cuma bisa ketawa, lho. Manusia itu lucu. Mengejar banyak hal sekaligus, padahal kalau mereka fokus pada satu hal, hasilnya akan lebih maksimal. Dan jangan salah, gue aktif banget, kok. Buktinya, otak gue nggak pernah berhenti mikir. Buktinya, gue berkarya, walaupun karya yang menurut dia — mantan gue — nggak berguna. Bikin game yang membuat orang ketagihan nggak berguna? Ah, perempuan.”

Aditya mengernyit saat kaki-kaki berduri si kecoa menekan telapak tangannya.

“Oke. Elo capek dengerin gue ngoceh. Sama kayak gue yang capek karena ditekan terus dari segala arah. People have the urge to force their thinking, and having a hard times accepting differences, aren’t they? Funny creatures. Oh, satu lagi. Sampai sekarang, biar bagaimanapun bedanya gue dan mantan gue, gue tersadar akan satu hal: melupakan itu rumit, kau tahu? Apalagi dengan otak yang suka seenaknya memutar kenangan. Tapi itulah hidup. Semakin dicoba untuk melupakan, semakin deras juga kenangan membanjiri setiap sel abu-abu gue. Jadi, gue nggak tau apa gue bisa melupakan dia atau nggak. Tapi gue nggak mau maksa. Kalo kenangannya datang, paling gue nyengir bego nahan sakitnya. Oh, gue lupa bilang, gue diputusin karena dia nemu cowok yang lebih ‘normal’ dari gue. Cowok yang setiap hari pakai baju kantoran, yang ngomong sama manusia bukan sama kecoa, cowok yang berambisi menaklukkan dunia, cowok yang menjadi pemeran utama hidup dan bukan menjadi penonton di kursi yang nyaman. Makasih ya, Kakak Kecoa. Sekian sesi curhat sore ini.”

Demikianlah, si kecoa kembali Aditya lepaskan, dan dengan riang gembira, kecoa itu mengepakkan sayapnya, terbang keliling kamar sementara Aditya meraih jaket abu-abu lusuhnya, dan beranjak keluar kamar, dengan satu tujuan: dermaga tempat dia biasa bersepeda.

 

Sore itu, Aditya mengayuh sepedanya dengan pelan. Ia menikmati setiap embusan angin yang mengelus rambutnya. Ia membayangkan, angin yang berembus adalah seorang kawan lama yang ingin bertegur sapa. Dermaga itu menjadi tempat favoritnya — setelah kamar lusuh penuh kecoanya — sejak dua tahun yang lalu. Tempat ┬áia bisa bersepeda dengan bebas. Tempat sedikit manusia berkumpul menikmati matahari mengubah biru laut menjadi lautan jus jeruk. Tempat kehidupan berdenyut lebih pelan. Tempat manusia berkumpul tanpa saling menyikut. Dan sore ini, Aditya mengayuh sepedanya ke laut.

 

 

SHARE
Previous article3 Sentences, One (love) Story.
Next articleUnforgotTEN
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow