SHARE

Bali4

Perfection. Kesempurnaan. Satu kata yang membuat semua orang jungkir balik. Ingin perfect dalam nilai sekolah, nilai kuliah, dalam relationship, penampilan, dan sebagainya. Walaupun yang terjadi adalah, kita sendiri yang menentukan seberapa perfect perfection itu. Sempurna di mata kita, tentunya beda sempurna di mata orang lain.

Sebagai contoh, gue punya temen. Dia bukan berasal dari keluarga kaya. Pada satu titik dalam hidupnya, dia cuma bisa makan mie instan selama sebulan penuh. Dia juga nggak punya handphone yang sedang ngehits waktu itu. Nonton di xxi? Yah, dua bulan sekali juga udah seneng. Pacar? Oh tentunya dia menjomlo. Bahkan, dia pernah tidur di kasur tipis hasil kredit. Bayarnya sepuluh ribu sehari ke tukang kredit keliling.

Bagi orang luar yang nggak kenal teman gue ini, kehidupan dia sangat mengenaskan. Bayangkan, mie instan yang isinya karbo, dia tambahkan nasi putih yang adalah karbo juga, dengan alasan: biar kenyang. Sementara teman-temannya sibuk membicarakan film terbaru dan fashion termutakhir serta gadget yang kamera belakangnya udah canggih, teman gue tetap selow menimbang terigu dan gula dan cekikikan bareng emak-emak berdaster yang hobi ngutang di warungnya.

Nggak ada yang salah dengan temannya teman gue, yang menilai kehidupan yang sempurna adalah ketika dia up to date dengan film – gadget – fashion – gaya – gaul dan kopi mahal. Nggak ada yang salah juga dengan teman gue yang sehari-hari harus jagain warung dan tidur di kasur tipis hasil kredit. Dia tetap tertawa-tawa bahagia ketika ngerumpi dengan emak-emak berdaster yang terkadang bau asem dan hobi ngutang. Dia nggak merasa kehilangan ataupun minder karena belum mampu membeli barang-barang yang saat itu terasa tak terjangkau.

Mereka tetap berteman tanpa saling iri. Temannya teman gue salut sama teman gue mampu bahagia dengan kehidupan sempurna versinya saat itu, dan teman gue juga nggak merasa silau dengan segala kekayaan sempurna milik temannya.

Justru orang-orang lain yang sering membandingkan dan memberi label bahwa kehidupan yang sempurna itu harus begini begina beginu. Mereka terkadang lupa, rasa bahagia nggak melulu datang dari materi. Mungkin mereka nggak sadar, bahwa teman gue yang hidupnya dipandang sebelah mata, nggak merasa ada masalah dengan makan mie instan, nggak minum kopi mahal, nggak bisa jalan-jalan. Dia tetap merasa happy. Nggak merasa kekurangan.

Sering kali kita menilai individu tertentu, mungkin teman, mungkin public figure, dengan kehidupan ‘sempurna’nya. Kita menginginkan apa yang mereka punya sampai melupakan apa yang kita punya. Padahal, belum tentu apa yang mereka punya cocok dengan apa yang kita butuhkan. Instead of envious what other have, why don’t we create our own version of perfection without the venom of jealousy?

Sebenarnya, versi sempurna teman gue ada di satu kata: cukup. Dia merasa cukup dengan apa yang dia punya. Dia merasa cukup bisa makan kenyang, bisa tertawa senang, bisa tidur nyenyak. Bahkan, ketika kehidupan memberinya rezeki dan dia mampu jajan kopi mahal, makan di restoran dan nggak perlu menyantap mie instan ditambah nasi, pandangannya tetap sama. Dia, bagaimanapun keadaan ekonominya, merasa cukup. Karena dia sadar, mengejar ‘sempurna’ versi utopis nggak akan ada habisnya. Yang ada malah capek dan merasa nggak puas dengan hidup. Nggak enak, kan?

Teman gue, yang dulu tidur di kasur tipis hasil ngutang namun sekarang udah bisa tidur di kasur empuk hasil nggak ngutang, sedang menikmati white tea sempurna versinya. Dari dulu dia menyukai teh. Dan dia tadinya mikir, yang namanya white tea itu teh yang warnanya… bening. Setelah baca-baca, dia baru tahu bahwa white tea ternyata diambil dari pucuk daun muda yang masih menggulung, yang setelah dikeringkan berwarna putih keperakan dan mengkilat dari bulu-bulu yang menyelimutinya.

Sambil memejamkan mata, teman gue menyesap white tea yang sengaja dia dinginkan, meresapi rasa lembutnya, sambil mengingat-ingat, betapa kehidupan itu lucu. When you feel content, anything you have, let it be expensive or cheap, let it be branded or just another ordinary brand, you’re still you. You don’t let the value of your possesions determined who you are. You don’t see others who are less fortunate than you with disgust look. You appreciate them as humans. You don’t feel you are the ruler of everything. You’re just grafeful.

Sesederhana itu. Merasa bersyukur atas kesempurnaan versi kita masing-masing. Sesempurna anti oksidan di dalam white tea yang sedang teman gue minum. Sesempurna angin semilir yang berembus di sela-sela daun bambu di siang yang terik. Sesempurna senyum yang terukir ketika mengingat binar mata mamanya yang berkata, “I’m proud to have you as my son.” The white tea is just perfect. Not too sweet, not too strong, it’s rather mild with pleasant flavor of jasmine or peach or lychee. His favourite is of course, peach. He loves the smell. It’s perfect.

His life may not filled with ultra branded stuff or jet set life style or the latest tech on his gadgets and super-luxurious suite when he’s on holiday. He’s okay with that. He doesn’t mind. He has what he needs and that’s all that matters. He feels content. He feels the perfection. He loves his Fiesta White Tea. His life, with all the limitations, is perfect.

FullSizeRender 32

His name is Alexander Thian and he is grateful.

FullSizeRender 31