SHARE

What is the recipe for disaster? From what I know, it’s always doing things in a lebay way. Contohnya ya nggak usah jauh-jauh: dimanfaatkan orang yang ngakunya sayang sama elo sampai elo bersedia ngapain aja demi dia, bahkan membuang harga diri.

Ceritanya, gue punya seorang kenalan. Dia pacaran sama orang yang, menurut versi dia, sayang banget sama dia. Tentunya, dia pun sayang ke orang ini. Saking sayangnya, dia sampai melupakan hal yang esensial: mencintai dirinya sendiri. Berulang kali pacarnya selingkuh, berulang kali dia maafkan. Now, forgiving is good. Forgiving is realllllly good. Artinya elo memang berhati besar, atau elo emang bego kalau setelah memaafkan masih terjebak di lingkaran kusut yang sama.

So, pacar temen gue selingkuh. Temen gue akhirnya tau. Pacarnya minta maaf. Dia memaafkan. Pacaran lagi. Diselingkuhi lagi. Ketahuan lagi. Drama lagi, dimaafkan lagi, kejadian lagi, terus menerus kayak jadwal matahari terbit dan terbenam.

Ini cuma satu contoh betapa kita sering kali nggak menyadari bahwa rasa cinta ke diri sendiri terkikis habis dan terbuang jauh-jauh dan sia-sia demi mencintai orang yang sebenarnya kita tau, nggak pantas untuk dicintai. We are willing to hurt ourselves in order to be loved by someone else, while we know it’s not love. It’s a torture.

Ask yourself this question: kalau memang si pacar tukang selingkuh sayang sama elo, kenapa dia sampai tega selingkuhi elo berkali-kali?

Kalau alasan elo adalah ini:
– gue emang nggak pantas buat dia, jadi wajar dia selingkuh.
– dia selingkuh sama yang lebih cakep sih, gimana, dong…
– tapi dia udah janji mau berubah, kok. ciyus, khak.
– gue nggak spesial, gue nggak cakep, gue gak punya apa-apa, maka dia selingkuh.

Jawaban satu-dua-tiga-empat-dan seterusnya dan seterusnya cuma menandakan dua hal: elo udah kehilangan respek ke diri lo sendiri (1), dan elo nggak sayang sama diri lo sendiri (2). Yang kedua, itu yang fatal, karena sering kali nggak disadari. Tau-tau, hawa-hawa ‘i’m not worthy of love’, ‘i’m just an ugly who doesn’t deserve love’, ‘who would love a person like me when I have nothing to offer?’ nongol. Insecurity. Low self-esteem. Nggak pede. Merasa apapun yang dilakukan salah. Merasa nggak ada gunanya hidup. Merasa hidup gak ada artinya. Selalu merasa kesepian karena nggak tau bagaimana cara menikmati hidup.

Diselingkuhi cuma satu contoh dari sekian banyak kasus nggak punya rasa cinta ke diri sendiri. Masih banyak banget contoh lain. I know you know better.

Silakan berpikir demikian. Silakan insecure dan benci ke diri sendiri. Silakan merasa nggak pantas untuk siapapun. Silakan mikir kalau elo begini-begina-beginu-begono. Silakan. It’s your life. It’s your misery. Now, are you going to keep whining, or are you going to be better? One thing I know because I’ve learnt it the hard way is: no one will ever love you if you can’t love yourself.

Gue ulang lagi, pake huruf kapital, biar mantap greget meresap:

NO ONE, WILL EVER, EVER, EVER LOVE YOU, IF, YOU. ARE. INCAPABLE. OF. LOVING. YOURSELF.

Banyak banget sumber masalah yang berawal dari ketidakmampuan mencintai diri sendiri. Appreciate yourself more. That’s step one. Lo ngerasa gak punya kelebihan? That’s a problem. Solution: ya tingkatkan kualitas diri dengan punya minimal satu kelebihan, lah! Spare me the crap ‘nggak bisa’ because you can. Lo gak bisa, apa nggak mau? Dengan bilang elo gak punya kelebihan apa-apa, elo udah menghina Tuhan karena nggak mungkin elo brojol ke dunia with one sole purpose: ngerepotin orang lain dan ngerepotin diri sendiri.

Bad attitude drives people away.
But, low self-esteem and the zero capability of loving yourself, will only drive you away from…. you.

Cheers.

SHARE
Previous articleLooking For Perfection
Next articleAishiteru, Yamanashi Japan!
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow