SHARE

Semuanya terasa sama. Pasir yang sama. Warna laut yang sama. Dermaga yang sama. Kemiskinan yang sama. Aku mengerutkan hidung, menahan napas untuk bau busuk yang sama. Selamat datang di kampung halaman yang tidak pernah aku cinta. Kampung halaman yang tak pernah membuatku tersenyum lebih dari sepuluh detik. Kampung halaman yang selalu menjejaliku dengan cerita usang penuh kesedihan setiap hari. Setiap wajah menyorotkan sinar mata yang sama. Kemiskinan. Rasa bosan. Dan kebencian.

Aku tak sabar kembali ke kapalku. Di sini, walau luas, terasa sesak.

Aku tak pernah mengerti mengapa Nilam selalu memaksa untuk melihat kampung halamanku. “Aku ingin melihat seperti apa kemiskinan masa lalu.” Begitu katanya. Dan tak ada lagi yang bisa kuperbuat kecuali mengiyakan permintaannya. Telingaku lebih baik dipakai untuk mendengarkan teriakan kelasi dan juru masak dan debur ombak ketimbang mendengar ocehan tanpa henti perempuan yang kuperistri.

Satu-satunya hal yang kusesali, aku terlambat pulang. Bahkan, seharusnya aku tak perlu pulang sama sekali. Airmataku sudah kering bertahun-tahun yang lalu, ketika seorang kelasi berbau bacin menyampaikan berita itu: Ibu sudah meninggal terkena wabah kolera.

Aku baru saja mulai mengumpulkan keping-keping emas pertamaku. Emas yang tadinya akan aku persembahkan untuk ibu. Aku ingin melihat senyum bahagia di wajahnya. Aku ingin menghitung keriputnya, dan berbisik, ‘Mulai sekarang, semua akan baik-baik saja.’ Kolera keparat terlebih dahulu merenggutnya. Kalau aku memejamkan mata, aku bisa melihat sepasang mata sayu dan aku bisa sayup-sayup merasakan peluk ringkih Ibu saat aku berpamitan. Aku berjanji akan kembali untuknya. Mengangkatnya dari kemiskinan keparat ini. Dan aku telah gagal memenuhi janjiku. Ibu rupanya tak sabar, dan mengalah pada kolera.

Tak ada alasan untuk kembali. Namun, Nilam bersikeras. Baiklah. Perempuan keras kepala memang harus dituruti. Aku akan biarkan dia menggigil karena jijik melihat kampungku, dan akan tersenyum puas saat dia datang dan merengek, ‘ayo, kita pergi dari sini. Aku tak tahan dengan bau bacin di sini!’ Kemenangan adalah bagi yang tersenyum paling akhir.

Baru saja menginjakkan kaki di pasir yang kasar, rombonganku sudah diserbu nelayan-nelayan berbau busuk. Mereka seperti lalat yang mengerubungi makanan. Mereka adalah sampah-sampah peradaban. Manusia yang tak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Manusia yang tak pernah punya impian. Manusia yang menjalankan rutinitas yang sama setiap hari. Bukan. Mereka bukan manusia. Mereka hanya sekadar mesin. Lalu berakhir menjadi sampah. Dan makanan cacing.

Satu orang. Dua orang. Tiga orang sekaligus. Semua menggedor gendang telingaku dengan panggilan, “Anakku, anakku!” Perlahan, aku merasa cairan empedu naik ke kerongkonganku. Hasrat ingin muntah tak tertahankan. Bukan karena bau busuk, itu bisa kutahan. Aku tak terima ada orang yang berani-beraninya menganggap aku sebagai anaknya. IBUKU SUDAH MATI! KOLERA MERENGGUTNYA!! Darahku menggelegak. Aku hampir muntah. Aku tak ingin lebih lama lagi berada di sini. Semuanya silau pada harta. Pada baju yang kukenakan. Pada pedang bertahta ruby yang kusandang.

Perempuan tua ketiga tak mau menyerah. Dia terus berusaha menggapai ke arahku, mendesak maju dari sekian banyak manusia. Bau busuk menguar ke udara. Semua berlomba membuka mulut dan menciptakan neraka.

“Anakku! Anakku!! Anakku sudah pulang! Anakku!!”

“DIAM KAU, PEREMPUAN TUA! AKU TAK PUNYA IBU!! DIAM!!”

“Anakku! Anakku!! Kau anakku!”

“PEREMPUAN TUA BAU! JANGAN SENTUH AKU, DAN PERGILAH DARI SINI!”

Terkadang, kemarahan tak baik jika hanya disimpan. Aku merasakan satu kepuasan ketika melihat airmata palsu mengalir dari pipi keriput itu. Aku tak peduli saat tubuh ringkihnya menghantam pasir ketika aku mengibaskan tangannya yang lancang memegang lenganku. Maaf, Ibu tua. Kau tak akan bisa menipuku. Ibuku sudah mati.

“Anak durhaka. MALIN KUNDANG! KAU ANAK DURHAKAAAAA!! YA ALLAH. YA ALLAH. KUKUTUK KAU JADI BATU!!”

Sesaat kemudian aku sadar, kelasi berbau bacin itu berbohong.

SHARE
Previous articleMagical Sunrise of Borobudur
Next articleKuda Ngaceng di Dieng

I have a lot of stories to tell. That’s why I write. That’s how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow

  • Nilam! Mengingatkanku kepada dia, salah satu dari yang terkasih, yang ada di sana.

  • puspa

    Kereeenn..
    Semacam cerita tandingan dari sisi Malin Kundang,,
    No more words,speechless gw :D

  • sisi lain kisah Malin Kundang, keren euy. :D

  • Nooo! :(

  • Koh sumpah ini sedih :'(
    Apasih mau si kelasi-berbau-bacin bohong sm malin?? Kzl
    Ehh tapi masa si malin g ingat muka ibunya?

  • Bagus,,, :)
    Saya suka… saya suka…

  • renno

    Bagus ko, diceritakan dari sisi yg beda dari biasa… ini macam cerira snow whie, spiderman, dll yg baru2 ini diangkat dengan sudut pandang berbeda…

  • nonreguler

    Karena nggak akan ada ibu yg tega mengutku anak kandungnya.

  • Arinda

    Tapi, kenapa Malin tidak mengenali ibunya? Orang tua tidak akan banyak berubah kan?

  • Elisabeth Serafiyani

    Ibu yang saya kenal adalah ibu yang rela mengiris nadi untuk anaknya jika harus demikian adanya, jadi bagaimana mungkin kalimat kutukan dapat terlontar dari mulut seorang ibu? Nice koh alex. Super suka. Langsung kangen mama saya :’)