SHARE

Kalian pernah melihat galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang? Gue pernah, beberapa kali. Kali pertama, ketika main ke Bromo. Saat itu pukul 3 subuh, gue harus siap-siap ke Penanjakan untuk melihat sunrise. Ketika berada di atas motor dan menatap langit, gue tertegun. Sementara motor terus menanjak dan melaju, pandangan gue tak lepas dari langit kelam tanpa awan. Hamparan langit luas dan cerah malam itu dihiasi dengan sebaris garis penuh bintang. Butuh waktu beberapa untuk menyadari, gue sedang menatap galaksi tercinta kita: Bimasakti. Saat itu lah, air mata gue mengalir sendiri. Terharu dan merinding hebat.

Lebay? Biarlah. Nggak apa-apa dikatain lebay karena milky way memang seindah itu.

Kali kedua menatap milky way dengan mata telanjang, ketika gue diundang ke Australia. Bulan November di Australia berarti menjelang musim panas, yang artinya, matahari bersinar lebih lama. Menjelang pukul 7 malam, matahari terbenam. Di saat blue hour itu lah, ketika sisa-sisa berkas oranye melintasi cakrawala, tepat di atasnya gue melihat milky way. Sepanjang ingatan gue, itulah milky way terindah yang pernah gue lihat. Lengkap dengan bonus Big Magellan and Small Magellan Cloud.

Melihat milky way di tempat yang sama sekali nggak gue sangka adalah bonus besar! Ketika diundang menginap di dua resort ternama di Bali, Alila Manggis dan Alila Villas Soori, gue tak berekspektasi untuk mendapatkan pemandangan ciamik apalagi sampai melihat milky way. Namun seperti biasa juga, jalan-jalan tanpa ekspektasi justru membawa hasil yang amat luar biasa.

IMG_6187 (1)

FullSizeRender 12 (1)

FullSizeRender 24 (1)

Selesai makan malam, gue berjalan dari arah restoran ke arah pantai. Salah satu suara favorit gue adalah suara ombak yang mengempas pantai. Dan pemandangan favorit gue di kala malam, langit penuh bintang. Dua elemen itu menyatu, membuat gue terpaku lebih dari lima belas menit sebelum buru-buru kembali ke kamar dan mengambil kamera dan tripod untuk mengabadikan apa yang gue lihat.

Alila Manggis terletak di daerah Karangasem, Bali, yang artinya tak banyak terpapar polusi cahaya. Seandainya malam itu gue di Denpasar, mungkin langit malamnya tak akan secerah yang gue lihat, dan kemungkinan besar milky way tak akan tampak sejelas itu. Sepanjang malam gue habiskan untuk memotret, dan berbaring selama hampir satu jam di pinggiran kolam, hanya menatap langit. Langit malam itu, walau penuh bintang dan dihias sabuk Bima Sakti, juga berawan tebal, yang sering kali menutupi langit. Namun gue bertahan, menyaksikan awan bergerak pelan menutupi langit, kemudian pecah perlahan-lahan, kembali menampilkan milyaran bintang.

IMG_6267

Di malam kedua, gue masih tak berharap banyak. Hari itu gue habiskan bersama driver dari resort Alila dan berkeliling Karangasem. Kami pergi ke pemandian raja Karangasem yang bernama Tirta Gangga. Mungkin karena bukan high season, tak banyak turis yang kami temui di tempat ini. Terdiri dari beberapa kolam yang menawarkan pemandangan luar biasa dan taman yang tak kalah cantiknya, Tirta Gangga memberi hiburan dan memanjakan mata. Desainnya sedikit banyak terinspirasi dari taman-taman Cina, dengan ornamen-ornamen seperti patung dan bentuk jembatan yang ‘Cina banget’. Gue menghabiskan waktu beberapa jam di sini sebelum kembali ke resort untuk makan malam.

IMG_6324

FullSizeRender 27 (1)

IMG_6302 (1)

FullSizeRender 31

Pantai di Alila Manggis menghadap ke selatan, yang artinya, gue tak bisa melihat sunset. Bulatan matahari yang biasanya ditelan laut lalu mengubah warna laut menjadi merah-oranye, tak terlihat sore itu. Gue hanya kebagian semburat kuning-oranye-ungu di langit. Walau demikian, pemandangan di sana tetap sangat cantik dan membuat hati adem.

IMG_6238 (1)

IMG_6239 (1)

Untuk kali kedua, lagi-lagi langit malam pamer kecantikan. Kali ini tanpa bonus awan tebal yang mengganggu. Kalau teman gue bilang, ‘langitnya ketombean!’ Gue tertawa mendengar komentarnya setelah mengirimkan foto langit malam di atas resort Alila Manggis. Memang, langit yang hitam kelam seperti rambut, dan bintang-bintang yang tak terhitung banyaknya, seperti pasukan ketombe yang tak merusak, namun menonjolkan keindahan sesungguhnya.

Seringkali dalam hidup, ketika kita sudah penat dengan segala pekerjaan dan rutinitas yang memacu stress, yang kita butuhkan adalah relaksasi. Berbaring dalam diam, mendengarkan suara ombak yang membuai, menatap langit tanpa batas yang berhiaskan bima sakti, merasakan kenyamanan dan keamanan, serta memutuskan hubungan dengan gaya hidup perkotaan, membuat gue bahagia sekali malam itu. Dua malam di Alila Manggis langsung melesat ke dalam top ten malam terbaik gue.

IMG_6339 2

Gue menarik napas dalam-dalam, bersyukur bisa menjauh dari keriuhan kota dan polusi cahaya. Malam itu gue menghabiskan dengan memotret dan mengagumi keindahan yang jarang-jarang gue saksikan di Jakarta. Satu pikiran yang melintas di benak gue: kita ini nggak ada apa-apanya di hadapan kebesaran Tuhan. Mengingat bahwa posisi Bumi berada di ujung Bima Sakti, yang tersaji di langit hanyalah sebagian kecil dari semesta yang mahaluas, membuat gue semakin merasa kecil, dan bersyukur bahwa masih ada pemandangan seindah ini di bumi Indonesia. Once we are grateful of what we have, we will never have to be worry about what we don’t have.

IMG_6422