SHARE

Kemarin, di kelas menulis novel di Jakarta School yang berlokasi di Bintaro, gue mendapatkan pelajaran sekaligus tantangan yang sangat menarik.

Mentor sekaligus guru (AS Laksana) memberikan kami tantangan: menjawab pertanyaan. Satu pertanyaan dijatah lima menit. Total sepuluh pertanyaan, lima puluh menit.

Tujuan dan tantangan ini: untuk melatih kita menulis cepat, melatih otak berpikir cepat, dan tentunya melatih daya imajinasi kita.

Pelajaran menarik yang gue dapet adalah: buatlah pertanyaan-pertanyaan atas ceritamu. Punya premis cerita? Sudah membuat plot? Stuck di bagian tertentu? Nah, metode ini akan sangat berguna. Tanyakanlah pertanyaan ‘apa’, ‘siapa’, ‘bagaimana’, ‘di mana’, ‘kapan’, dan sebagainya ke cerita yang kalian buat. Lalu, setelah membuat list pertanyaan-pertanyaan itu, jawablah satu persatu. Cara ini akan lebih membantu dalam menghadapi ‘kebuntuan’, atau … ‘writer’s block’.

Di bawah ini adalah PR yang gue kerjakan. Tema pertanyaannya ‘Orang yang punya hobi menyakiti diri sendiri,’  *dan nampaknya banyak orang yang punya hobi serupa* Hihihi.

Semoga bisa membantu yang stuck dalam menulis, ya. ^^

Apa saja cara orang itu menyakiti dirinya sendiri?

Hari ini ia akan mencari cara baru. Cara kemarin, yaitu membenturkan kepalanya ke meja, rupanya tidak terlalu berhasil. Tidak ada yang memperhatikannya. Tidak ada juga yang peduli. Satu orang mendatanginya dan menanyakan apakah dia sedang pusing? Hal ini membuatnya frustrasi. Orang yang dia harapkan menyelamatkannya malah melengos saja. Sekarang dia sudah siap. Sebentar lagi orang itu akan muncul. Selalu seperti itu setiap hari. Ia sudah hafal kebiasaan orang itu. Melewati lorong yang sama dengan wajah tertunduk sambil memeluk diktat-diktat kuliahnya. Dan ia selalu benar. Lelaki itu sudah muncul. Kaus polos krem dan celana jeans biru tua. Artinya, ini hari Jumat. Hari berpakaian santai. Begitu lelaki itu terlihat, ia melancarkan aksinya. Lelaki itu tersentak, dan berteriak. ‘HEY!! ELO GILA?!’ Ah, rupanya cara kali ini berhasil. Lelaki itu memeluknya dari belakang. Mencegahnya menyakiti diri sendiri. Ia berterima kasih dalam hati kepada tembok di depannya. Darah yang mengalir dan luka yang berdenyut di pelipis adalah hadiah yang sepadan untuk satu pelukan.

Apakah ia sudah punya pacar atau suami atau istri?

Ia menginginkan hukum kekekalan benar-benar hadir dalam hidupnya. Tepatnya, ia menginginkan hukum kekekalan berlaku pada mantannya. Ia benci kata mantan. Ia ingin meningkatkan kata ‘pacar’ ke level baru yang kekal: level suami. Sayangnya, hukum kekekalan tidak berlaku pada suatu hubungan. Ia harus merasakan kehilangan. Ia harus merasakan hati yang tercabik pelan-pelan setiap mengenang kalimat ‘Kita sudah tak bisa lagi bersama’. Kini, mantannya bersama orang lain. Orang yang bahkan tidak sebanding dengannya. Menyebalkan. Ia sudah bertekad, bahkan mengguratkan kalimat sakti itu ke pohon, ke tembok kamar, ke dinding café kesukaannya, bahkan mengukirnya ke dinding hati dan menanamkan ke otaknya: Kita akan kembali bersama.

Apa pengalaman buruknya di masa kecil?

Ia tak suka bandara. Ia tak suka terminal. Ia tak suka stasiun. Ia tak suka tempat-tempat yang selalu menyajikan adegan perpisahan. Baik perpisahan yang meninggalkan jejak kering airmata di pipi, atau pun perpisahan yang mengundang peluk erat dan senyum hangat serta tatapan penuh cinta dan ucapan ‘Kita akan bertemu lagi.’ Kalimat ini membuatnya terlempar ke masa lalu. Masa yang dia harapkan bisa dia hempaskan jauh-jauh. Bahkan kalau bisa memilih, ia ingin menghapus semua ingatan tentang 17 tahun yang lalu. Ia masih ingat dengan jelas sepasang mata bening Papa yang menatapnya. Ia masih ingat sepasang tangan kokoh Papa yang meremas bahunya dengan lembut. Ia masih ingat bibir Papa yang serupa busur panah berucap hangat ‘Kita akan bertemu lagi’. Papa tak pernah pulang. Ia tak pernah melihat papanya lagi. Kejadian 17 tahun yang terasa seperti kemarin, setiap hari. Ia benci perpisahan.

Apa yang ia lakukan malam itu untuk menyakiti dirinya sendiri?

Mari berkubang dalam kenangan. Malam ini ia tak perlu minuman untuk lupa. Malam ini, ia memilih untuk membuka pintu bendungan pikiran, membiarkan banjir kenangan melanda. Membiarkan setiap kenangan yang masuk menorehkan satu luka. Bayangkan, jika manusia mempunyai dua kenangan pahit yang ingin dia lupakan sepanjang hidupnya, berusaha mati-matian untuk melakukan apapun supaya kenangan itu tak perlu kembali karena terlalu menyakitkan, apa yang akan terjadi jika setiap hari dalam masa kecilmu adalah kubangan kenangan buruk? Ia ingin merasakan siksaan itu lagi. Malam itu, ia dengan sengaja mematikan lampu, seperti malam saat Papa pergi. Seperti saat ia berdiri di depan pintu rumah tanpa penerangan apapun, berharap senyum papanya akan menyalakan lorong gelap di depannya. Malam itu, kenangan membanjir dalam gelap. Ia sudah bertekad tak akan teriak. Ia berhasil. Ia hanya menangis dalam sepi, tanpa suara sama sekali.

Perhatian seperti apa yang ia butuhkan?

Ia tak butuh uang. Ia tak butuh berlian. Ia tak butuh emas. Ia ingin seperti sepasang orang tua yang setiap senja dia lihat di taman di dekat rumahnya. Mereka bercakap-cakap. Mereka merasa nyaman satu sama lain. Mereka berpegangan tangan tanpa malu-malu. Mereka saling membutuhkan. Di ujung senja, mereka berdua, akan saling membelai keriput di wajah pasangannya, lalu lamat-lamat tersenyum. Seiring matahari yang menebarkan warna oranye, ia melihat sepasang orang tua itu mengakhiri senja dengan satu pelukan. Persis yang seperti dia inginkan. Pelukan. Dari orang yang dia sayang.

Perhatian dari siapa yang ia butuhkan?

Perpisahan selalu meninggalkan ruang-ruang kosong. Dalam pikiran. Dalam hati. Dalam hidup. Papa meninggalkan ruang kosong berdebu, penuh sarang labah-labah. Di dinding ruang kosong berdebu dan dihias sarang labah-labah di setiap sudutnya itu, ada guratan-guratan kenangan yang terus bernanah. Dan setiap harinya dinding hati dan dinding pkirannya mengucurkan darah yang semakin hari semakin pekat. Ia membutuhkan Papanya untuk kembali. Ia membutuhkan papanya untuk menepati janji. Dan ia membutuhkan orang yang masuk ke dalam hidupnya dan memberikan arti, tidak akan pernah pergi.

Kapan ia akan berhenti menyakiti dirinya sendiri?

Kapankah hidup akan berhenti menyajikan jalan yang penuh dengan kepahitan? Kapan ia akan berhenti, menarik napas, dan menyadari hidup ini sebenarnya indah? Yang ia rasakan sekarang, setiap kali bernapas, ada pahit yang menyusup ke paru-parunya. Ia sering sesak. Sesak oleh kenangan. Sesak oleh perkataan ‘Kita sudah tak bisa lagi bersama’ dan perkataan ‘Kita akan bertemu lagi’. Ia merasakan sakit setiap kali berharap. Masalahnya, ia tak pernah bisa berhenti berharap. Begitu ia berhenti, maka saat itu juga akan ada bagian otaknya yang mengirimkan kalimat penuh racun ‘papanya sudah mati.’ Mungkin, ia lebih memilih merasakan sakit mengharapkan papanya kembali dan mengharapkan mantannya memeluknya lagi daripada mematikan harapan dan tak mendapat apa-apa. Setidaknya dengan berharap, ada rasa sakit yang membuatnya tetap menjadi manusia.

Kenapa ia mustahil bisa menghentikan kebiasaan menyakiti dirinya sendiri?

Sama seperti bayi yang membutuhkan pelukan sayang dari seorang ibu, ia membutuhkan rasa sakit untuk hidup. Rasa sakit adalah sahabat terakrabnya. Rasa sakit sudah seperti bayangan yang selalu mengikutinya. Bukankah pertanda seorang manusia adalah manusia, adalah bayangannya yang selalu mengikutinya? Setelah bertahun-tahun, ia mulai terbiasa, bahkan mencandu pada rasa sakit. Fisik maupun mental. Tak ada alasan untuk berhenti. Tak ada alasan untuk pergi. Kecuali dua lelaki yang mengisi hidupnya kembali. Dan kemungkinan dua hal tersebut terjadi seperti menyaksikan apel menimpa kepala Isaac Newton. Mustahil. Namun ia percaya pada keajaiban. Dan ia sangat percaya pada rasa sakit. Bukan hanya percaya. Ia mengimaninya.

Di mana saja ia pernah menyakiti dirinya sendiri?

Sebut satu tempat yang tak pernah membangkitkan kenangan buruk. Ia pernah menanyakan pertanyaan bodoh itu ke dirinya sendiri. Jalanan. Kamar. Halaman belakang. Ruang kelas. Taman yang penuh dengan anak-anak berlari sambil menenteng balon warna-warni. Pantai berpasir putih yang tak ada orang sama sekali. Satu-satunya jejak kaki yang tercipta di pasir dan kemudian dihapuskan ombak adalah jejak kakinya. Gunung. Gunung adalah tempat yang menyenangkan. Dia pernah bermalam di kaki gunung bersama pacar, ralat, mantannya. Menyenangkan. Dan kini menyakitkan. Kenangan membuatmu menjadi manusia yang tak terbatas ruang dan waktu. Kenangan membuatmu tak berdaya. Kenangan bisa menyakitimu di mana saja. Bahkan ketika sedang buang air besar, kenangan itu menyergap tiba-tiba. Mulas yang terasa di pagi hari menjadi kecil dan amat sangat tak berarti. Jadi, apakah ada satu tempat yang tak pernah membangkitkan kenangan buruk? Ada. Tempat di mana kematian berada. Sayangnya, ia tak pernah berminat menuju ke sana.

Bagaimana reaksi orang melihat ia menyakiti dirinya sendiri?

Untuk apa peduli apa yang orang pikirkan tentang diri kita? Untuk apa mengindahkan tatapan sinis mereka melihat perban di kepala? Dan untuk apa membalas pertanyaan mereka: mengapa ada bekas guratan halus di tangan kanan? Di tangan kiri? Ia sudah sepuluh tahun lebih untuk belajar tak peduli. Ia akan terus menyakiti dirinya sendiri. Ia yang bertanggung jawab atas rasa sakit itu, dan ia tak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh. Ia bahkan tak berminat menatap ke dalam mata mereka hanya untuk berkata, ‘aku tak butuh simpati palsu.’

 

 

 

SHARE
Previous articleUnrequited Love
Next articleTIGA KATA – Freestyle Writing

I have a lot of stories to tell. That’s why I write. That’s how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow