SHARE

Suatu siang di tahun 2011, saya bertemu dengan seorang perempuan di sebuah kafe di Senayan City. Perempuan ini saya kenal di Twitter. Tujuan bertemu dengannya, hanya untuk mengobrol. I wanna know this interesting woman. Saya suka kicauannya, dan (mungkin) dia juga tertarik kenapa saya bawel sekali di Twitter. Hehe.

Setelah ngobrol beberapa saat, Windy, perempuan pecicilan yang hobi nyengir ini bilang, “Kamu nulis buku komedi aja, Lex.” Otomatis cengiran saya hilang. Me? Writing a comedy book? You’ve gotta be kidding me, right?! CIYUS LO?! Sejuta dua belas alasan saya kemukakan, bagaimana saya nggak bisa menulis komedi. Bagaimana saya nggak lucu, dan bagaimana-bagaimana lainnya yang kalau dipikir sekarang, tak lebih dari excuses. Alasan. Orang membuat alasan dan menghindar karena mereka takut menghadapi tantangan, bukan?

Tapi Windy tetap pada pendiriannya. Menurutnya, saya bisa menulis komedi. Padahal saya kepenginnya menulis novel yang berbau sastra. *pret*

“Lo mana bisa tau sih kalo nggak nyoba?”

Kalimat ini lumayan nampar. Di balik penampilannya yang oh-sungguh-biasa-saja, Kak W (panggilan saya ke Windy – setelah bertransformasi dari Mbak, Windy, Mbak lagi, terakhir ini: Kak W) sangat tau apa yang ia mau. There is more than meets the eye. Dan pada saat itu, saya cuma tau, bahwa ia adalah seorang editor dari Gagas Media. Dan saya cuma tau bahwa Gagas Media itu penerbit buku anak-anak muda. Sebuah perkenalan yang menyenangkan yang kemudian menumbuhkan cinta saya ke Gagas Media dan Kak W. Yes, I love her. Not ‘that’ kind of love, tho’. :p

Lalu, beberapa bulan kemudian, saya mengirimkan sebuah tulisan tentang perjalanan untuk dimuat di buku The Journeys. Dan alangkah kagetnya saya ketika tahu nama-nama besar yang ikut menulis di buku ini. Valiant Budi, Windy Ariestanty, Ferdiriva, Ve Handojo, Sepatu Merah,  Adhitya Mulia, Trinity Traveler, Gama Harjono, sampai Raditya Dika. Dan Kak W tak memberitahu saya siapa saja penulis yang ikutan sampai saat terakhir. Mungkin kalau dia memberitahu sejak awal, saya sudah ketakutan dan memutuskan tak akan ikut menulis dengan alasan: BOK GILA LO ITU PENULIS TENAR SEMUA MATI AJA GUE KARYA GUE DISANDINGKAN SAMA MEREKA!!

Begitu tahu penulis-penulis mana saja yang nimbrung, saya langsung ngomel ke Kak W. Reaksinya? Cuma nyengir dan tertawa. Ya sudahlah. Padahal diam-diam sih saya bangga karena tulisan saya lolos sensor Gagas yang ketat. Hehe.

Tahun 2012, buku solo pertama saya, The Not-So Amazing Life-of @aMrazing terbit.  Genrenya: komedi. Yap. Saya menelan omongan saya sendiri, dan memutuskan untuk mencoba hal yang baru. Hal yang Kak W tau saya punya, namun nggak saya sadari. Yang luar biasanya, Gagas Media sangat supportive. Dari pemilihan judul, cover buku, edit-mengedit isi buku, sampai ke ilustrasi, semuanya saya ikuti. Nggak ada yang namanya keputusan sepihak. Nggak ada yang namanya “Woy, elo penulis baru gak usah kebanyakan gaya, deh, and we know what’s best for you so sit down and shush it!” Mereka semua seperti keluarga baru saya. *terharu*

Seiring berjalannnya waktu, saya mulai sering merekomendasikan calon penulis yang saya anggap bisa menulis ke Kak W untuk diajak menulis di Gagas. Dan memang, Gagas adalah rumah penulis. Nggak ada perbedaan antara penulis baru maupun senior. Semuanya diperlakukan sama baiknya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Kak Alit, Kak Resita, Kak Christian menangani, memberikan masukan, dan berbicara kepada calon penulis tentang apa yang mau mereka tulis, bagaimana mereka akan menulisnya, dan bagaimana supaya tulisan mereka lebih bagus. Senang rasanya melihat interaksi mereka.

Bahkan untuk meningkatkan kualitas penulisnya, Gagas tidak segan-segan mendorong kami, para penulis, untuk belajar terus. Salah satunya, dengan mengikuti workshop kepenulisan selama tiga bulan. Pengajarnya pun tak main-main, Mas AS Laksana. Dan saya teramat beruntung menjadi salah satu orang yang dipilih Gagas untuk belajar bersama Mas AS Laksana. Pengalaman dan ilmu yang saya dapat? Believe me, you would want to learn for him!

Hari ini adalah ulang tahun ke 10 Gagas Media. Semoga terus menjadi rumah yang hangat dan menyenangkan untuk para penulis muda. Saya bangga menjadi bagian dari keluarga Gagas. Saya bangga melabeli diri saya sebagai penulis dari Gagas Media.

 

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

HAPPY BIRTHDAY, GAGAS MEDIA!

 

 

 

SHARE
Previous articleLelaki Yang Mengayuh Laut
Next articleAku. Kamu. Hujan.
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow