SHARE

I woke up this morning with one single thought: everything will be, as usual, fine. I was wrong. I, apparently, dumb enough to scheduled two meetings at the same time, while I also scheduled a gym session with my personal trainer, at exactly the same time. So, practically my morning was ruined because of my stupidity. I had to make phone calls, whatsapp-ed the other party, and canceling on my PT. But I was too late. My PT was already at my gate. I apologized several times while complimenting his look (not that it mattered but it felt like the ‘right’ thing to do). -__-

As I walked out of my door, I said to meself: okay, this would be the last stupid thing I do for the day, another disaster happened: my key was jammed. INI KENAPA LAGI YAWLAAAAA! Setengah jam lamanya gue mencoba narik kunci, putar ke kanan putar ke kiri lalalalalalalalalalalaaaaa~ #yousingyoulose — tanpa hasil. Akhirnya, gue memisahkan kunci gerbang, dan pergi sambil berpikir, semoga gak ada maling yang ngeliat kalo kunci rumah tergantung syantiek.

Hasilnya, gue bete seharian. Fortunately, the first meeting went well. The second meeting was fine. Kemudian gue (terpaksa) pulang karena memang harus benerin kunci rumah. Nyampe gerbang, gue nelpon bapak-bapak benerin kunci. Dia masuk, kutak-katik-kutak-katik sementara gue menunggu di luar dengan wajah sebal. Kok bisa sih gue sebego dan sesial itu…

And you know what? Mendadak ada seorang ibu-ibu berbadan kecil, kurus, agak bongkok, berwajah keriput dan legam, pakaiannya lusuh, mengenakan penutup kepala (jilbab? hijab?) sederhana yang juga sudah lusuh karena terlampau sering dicuci, menghampiri gue. Dengan suara gemetar, beliau bertanya, apakah gue punya uang kecil? Menatapnya mengingatkan gue pada nenek. Nenek gue juga kecil, kurus, agak bongkok. Tanpa ragu gue menarik dompet dan memberikannya uang. Dia kembali bertanya dengan suara kecil dan lemah, agak bergetar, “Adek namanya siapa?”
Kening gue berkerut. Ngapain ya, nanyain nama? Tetapi gue tetap menyebutkan nama sambil bertanya, “kenapa kok nanya nama, Bu?”
“Supaya saya bisa mendoakan adek setiap malam…”

Entah kenapa, wajah dan mata gue langsung terasa panas. I mean, yang gue kasih nggak seberapa, tapi dia mau mendoakan gue tiap malam. I didn’t even expect that. Akhirnya, kami mengobrol. Dia bercerita, bahwa suaminya sudah meninggal, dia istri kedua, dan punya satu anak berusia 21 tahun, laki-laki, lulusan SMK, bernama Dewa. Anaknya sudah pernah diterima kerja di Bursa Efek, namun terpaksa keluar kerja karena setelah minggu pertama, dia tak sanggup membiayai ongkos anaknya. Mereka tak punya motor, tak punya handphone, basically nggak punya apa-apa. Mereka sudah berusaha keras cari pinjaman sana-sini, apa daya tak ada hasil. Ibu Yuni, begitu beliau memberitahu gue, memohon, apakah ada lowongan kerjaan untuk anaknya? Karena gue juga freelancer, gue nggak menjanjikan apa-apa. Namun gue bilang, silakan Ibu datang ke rumah dan kasih surat lamarannya. Siapa tau ada yang mau terima. Setelah itu, beliau kembali menangis. Tangisannya berupa dua anak sungai kecil di pipi, tanpa suara sama sekali.

Gue merenung lama sekali setelah ia berlalu. Kalau kunci gue nggak stuck, maka gue nggak akan berdiri di depan gerbang menunggu kunci pintu dibenerin. Kalau gue nggak menjadwalkan ulang meeting gue yang gue kacaukan sedari awal, maka gue nggak akan pulang buru-buru untuk benerin kunci. Dan kalau gue nggak pulang, gue nggak akan ketemu Ibu Yuni ini.

Sesuatu yang lo anggap kesialan, ternyata berbuah sebuah pelajaran. Bertemu dengan Ibu Yuni dan mendengarkan ceritanya, merupakan berkah terbesar untuk gue hari ini.

Dan karena Ibu Yuni jugalah, gue akhirnya tergerak untuk kembali ngeblog.

It also made me think how cruel this world is. Ada orang yang sudah berusaha mati-matian, sudah jungkir balik dengan segala upaya, sudah mengerahkan semua kemampuan, namun masih tak mendapatkan hasil yang pantas mereka dapatkan.

So right now I’m asking you, jika kalian melihat orang tua sedang berjualan di pinggir jalan, belilah dagangan mereka walau kalian tak membutuhkan apa yang mereka jual.
Jika kalian melihat ibu-ibu tua atau bapak-bapak renta yang sedang meminta-minta, lepaskan segala prasangka, bantu mereka sebisa kalian.
Bantuan yang kita anggap receh, bisa jadi penyambung hidup mereka hari itu.

Terima kasih Ibu Yuni yang sudah membuka mata gue, bahwa masalah yang gue anggap berat dan membuat gue kesal setengah mati, ternyata sungguh receh dan tak berarti.

See you on the next post!

SHARE
Previous articleThe Abusive Relationship
Next articleMilky Way Obsession
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow