SHARE

Amsterdam. Malam. Gelap. Gemerlap. Dingin, tapi hangat. Angin kencang, tapi tetap menyenangkan.
AmsterdamBeda dengan siang yang cerah, Amsterdam di malam hari berawan tebal dan anginnya mengiris-iris.Amsterdam

Malam itu, gue pengin main (lagi) ke Red Light District. Ketika gue dan pacar mau nyebrang, kami terkejut melihat satu sosok menjulang berjalan gemulai. Gayanya penuh percaya diri, menyeberang jalan dengan lenggak lenggok seperti model victoria secret di runway. Gue berhenti. Mengamatinya. Mengaguminya. Dandanannya, luar biasa banget. Full make-up, rambut disasak, (ibu-ibu sosialita yang hobi arisan mah gak ada apa-apanya dibanding orang ini), dress keren,dan tingginya gue yakin lebih dari dua meter (karena bantuan sasakan di rambut juga)

Beberapa kali, gue candid orang ini. Dia sudah di seberang jalan dan saat itu sudah gelap sehingga hasil foto gue nggak optimal karena nggak ada lenza zoom. Akhirnya, gue beradu argumen sama pacar, tentang siapa yang mau nyamperin dan minta foto. Tentu saja, gue kalah. Akhirnya gue memberanikan diri dan menyeberang jalan. Jujur aja, gue takut banget. Lho, takut kenapa? Karena yang barusan nyebrang itu bukan cewek, tapi cowok berumur yang dandan heboh. Mungkin dia cuma seorang drag queen, mungkin emang transgender. Yang jelas gue takut karena waktu kecil gue pernah digrepe banci. Jadi setiap ngeliat banci, bawaannya kepengin kabur sejauh-jauhnya.

Nah, gue berusaha keras untuk nggak nge-judge. Namun tanpa sadar, pikiran nge-judge udah terbentuk pada pandangan pertama.

Buset deh orang itu serem amat sik?!
Hiiii! Kenapa deh harus dandan kayak gitu?
Yawla, apa dia kurang perhatian ya sampe harus caper segitunya…
Gimana kalau itu rambut aslinya?
Pasti di real life orang ini menyedihkan hidupnya
dan sebagainya, dan seterusnya.

Gue nggak mengucapkan judgement gue. Sama sekali nggak. Yang ada gue ditonjok sama bapak-bapak/emak-emak ini. Dan gak pantes juga, kan? Jadi, gue berusaha menelan rasa takut dan hawa menghakimi sedalam-dalamnya, dan berprinsip: selama gak ganggu hidup lo, biarin aja. Selama elo gak ngasih dia makan, elo gak berhak ngata-ngatain dia.

Gue sudah di seberang jalan. Tangan gue terasa dingin, dan bukan karena ini winter. Tapi masih ada sedikit rasa takut. Harus gue akui, semakin dekat, gue semakin kagum. Kagum karena orang ini berani berekspresi. Kagum karena dia nggak peduli sama tatapan orang lain. Kagum karena dia memancarkan aura percaya diri yang tinggi. Dari bahasa tubuhnya, cara dia melirik orang di sebelahnya, bagaimana dia bercakap-cakap dan cuek ketika ada yang memotret. Gue jadi yakin, dia nggak akan memakan gue kalau gue sapa.

“Uh… hi…”
Dia menoleh. Buset. Wajahnya putih semua kayak disiram cat tembok. Gue menelan ludah. Gentar. Terintimidasi. Kemudian, orang ini tersenyum. Dan serius, tingginya lebih dari dua meter karena gue harus benar-benar mendongak untuk menatap matanya yang dihias bulu mata anti kiamat dan dibingkai eye shadow warna biru ungu pink dan entah apalagi. So awesome.
“Yes, Darling?”
“Can I …” gue menelan ludah lagi. Jiper. Gentar. Ragu. Dia melirik. Gue kembali menelan ludah dan akhirnya, mengumpulkan keberanian.
“Can I take your photo? You look so stunning.”
Gue serius. Menurut gue, dia sangat stunning. Dan menurut gue, ketika elo udah bisa mengalahkan prasangka dan sikap judgemental yang entah-entah, ada realitas baru yang menyeruak. Saat itu, realitasnya adalah, orang ini stunning dan awesome.
Dia tersenyum.
“Yes, Darling. You can take anything you want.”
Lah, dia malah sassy.
“Just photo. Uhm… thanks!”
Gue motret sekali. Liat hasilnya. Dia melirik. Gue sebenarnya kurang puas. Namun, orang bersasak Opera House ini udah mengambil ancang-ancang masuk ke dalam club. Ah, ya sudah. Gue tak mau mengganggunya lagi.
“Thank you so much!”
“No problem, Darling.”
Drag QueenCaranya mengucapkan kata ‘darling’ seperti berlagu. Pakai nada turun naik dan enak didengar walau suaranya berat, dalam, dan parau. Gue mengamati bagian depan club ini. Banyak cowok macho tinggi di samping ibu (?) bapak(??) mb(??) mz(??) ini. Cowok-cowok berbadan bagus, berjaket kulit, rata-rata botak, dan nggak ngondek sama sekali. Namun mereka mengobrol sama mbak (seriously, panggilnya apaan sik) drag queen ini dengan santai. Nggak ada pandangan jijik, kaget, malu, marah, sedih, nggak ada. Cuma tatapan seperti ngobrol sama teman biasa.

And I think we all need that.

Just because we see people who are different than us, it doesn’t mean we have the right to give them the pity look, or the ashamed look, or the judge-y look. We don’t.

Gue belajar banyak malam itu. Bahwa gue masih belum sepenuhnya bisa memandang orang tanpa tatapan menghakimi. Bahwa gue masih jauh dari apa yang gue harapkan ke diri sendiri. Bahwa untuk nggak menilai/menghakimi orang berdasarkan penampilan itu susah.

When you don’t have anything nice to say, then say nothing at all and shut the hell up because people don’t deserve your mean words when they’ve done nothing to hurt you.

Sambil jalan ke arah Red Light District, gue merenung tentang bagaimana kita bisa dengan sangat jahat melabeli dan menghakimi orang lain. Gak usah jauh-jauh di Belanda, deh. Tuh, di instagram para artis. Komennya pedes-pedes banget. Apalagi instagram Mulan atau Syahrini atau… Dijahyellow. Segala macam caci maki diarahkan ke mereka tanpa henti. Are we actually better than them? Are we really free from sin we have the privilege to cast the first stone? But hey, bagi sebagian orang, menjadi keyboard warrior adalah kebanggaan. Lah, tinggal ngetik doang nggak perlu berhadapan bertatapan wajah. Coba kalo disuruh ngomong, “elo manusia nggak guna mendingan elo mati aja dari pada ngabisin jatah oksigen!” di depan wajah si artis, masih pada berani, nggak? Nggak yakin gue. Hahaha.

Jadi, ketika sampai di Red Light District, gue mencoba seselow mungkin. Btw, di sini nggak boleh motret. Nggak etis. Kalo nekat motret para cewek yang berada di balik kaca yang berpose melet, menggoda, kedip-kedip mata, pamer dada dan paha dan kadang buka beha, kamera lo bisa direbut dan dimaki orang-orang. Kalo motret pemandangan atau kanal atau gedung, boleh. Beberapa kali gue dikedipin cewek berambut pirang, di’kissbye’ sama cewek berkulit hitam yang seksinya gak kalah sama beyonce, dan dikasih kode pake jari untuk masuk ke dalam bilik kaca sama cewek ber-cup D. Semuanya gue tolak, dong. Aku kan hebat. *apaan* Dan gue perhatikan, rata-rata yang memberikan tatapan menghakimi adalah turis Asia. Orang Belandanya sendiri mah ya udah, sebodo. Turis negara Eropa lain juga cuek sambil jalan. Terkadang ada yang berhenti, mengamati cewek di balik kaca, terus si ceweknya buka pintu kacanya, terjadi transaksi tawar menawar, si cowok masuk, dan tirai tertutup. Selanjutnya, ya adegan haah hooh. Nyam. *eh*

Amsterdam - Red Light District

Hal yang paling menarik dari Red Light District selain pameran cewek-cewek di balik pintu kaca, adalah bau ganjanya. Di Belanda, ngeganja emang legal. Bahkan ada toko yang jualan bibit ganja, permen lolipop ganja dan entah apa lagi. Kalo gue sih, lebih memilih masuk ke tempat berjudul ‘Live Sex Show’. Soalnya penasaran, sih. :))

Amsterdam - Red Light District

Amsterdam - Red Light District

Amsterdam - Red Light District

Amsterdam - Red Light District

Tempatnya penuh cahaya lampu warna warni kayak di diskotik. Ada banyak biliknya. Biliknya tuh kayak kotak telpon umum, dengan tempat masukin koin. Untuk nonton, bayarnya 2 Euro. Masukin koin, dan mendadak kaca gelap di depan gue jadi terang. Di balik kaca ternyata satu ruangan bundar. Dan… di situ ada cowok dan cewek lagi ngewe. Yawla… gue kaget beneran. Gue pikir, ‘live sex show’ itu nonton dvd porno gitu. Yang nonton nggak cuma gue. Ada banyak bilik lain, dan gue bisa melihat wajah mereka. Semuanya cuek sementara pipi gue terasa panas karena rada malu. hihihihi. Pertunjukan berlangsung kira-kira 6 menit, setelah itu, kacanya menggelap lagi. Kalo penasaran dan mau lanjut nonton adegan hooh, ya masukin koin 2 euro lagi. Gue nonton sekali doang, abis itu kabur.

Terus penasaran lagi sekitar satu jam kemudian.
Terus masuk lagi.
Masukin koin.
Dan kaget.
Di depan gue cuma ada satu cewek telanjang yang kayaknya berusia akhir 30-an(well, teteknya kendor, so…) yang mempertunjukkan kelenturan tubuhnya sambil menggoda semua orang yang nonton untuk bergabung dengannya. Lama-kelamaan, gue jengah. Soalnya ngilu liat orang ini masukin mulai dari dildo berukuran sedang sampai dildo berukuran superbesar (seriously, those fake dicks were so freaking huge!) sambil merem melek mengundang. Akhirnya, gue kabur. Itu dildo ada kali 30 senti panjangnya dengan diameter sekepala bayi… :))

So, yeah. Malam itu gue cuci mata sekaligus belajar tentang bagaimana menahan diri untuk nggak ngejudge orang, dan belajar dari seorang drag queen yang cares no shit about what people say. She (or he) is really awesome.

Sekian dulu postingan hari ini dan untuk sementara, gue sudahi postingan tentang Belanda. Silakan dipelototi bonus fotonya. Mana tau kepengin main ke RLD dan tergoda untuk masuk ke bilik kaca. #eaaa

Besok gue akan mulai beranjak ke negara lain. Menurut kalian, lebih baik bahas berdasarkan perjalanan gue, yang artinya bahas Belgia – Jerman – Swiss – Italy – Austria – Ceko, atau loncat-loncat aja? Kalau maunya loncat-loncat, enakan bahas apa dulu? Let me know!

Amsterdam - Red Light District

Amsterdam - Red Light District

Amsterdam - Red Light District

Amsterdam - Red Light District