SHARE

Mari flashback sedikit.

Gue nggak suka ke museum. Lebih tepatnya, biasa aja. Ke museum boleh, nggak juga nggak rugi. Gue lebih demen maen ke pantai, bengong di bukit/gunung. Lebih suka motret langit malam dan air terjun dan sungai dan pantai dan danau dan segala sesuatu yang terbentuk dari alam ketimbang ciptaan manusia. Kalaupun ke museum, rasanya udah cukup puas dengan motret bagian luarnya, yang rata-rata desainnya keren. Contohnya, Louvre di Paris. Piramida bening di tengah bangunan klasik? Siapa juga yang nggak suka?

Namun, tergelitik oleh rasa ingin tahu, gue bela-belain beli tiket masuk yang mahal (tapi lupa harga persisnya berapa euro), hanya untuk liat lukisan Monalisa yang mahsyur itu. Dan gue kecewa. YAELAH, KECIL AMAT DAH! Udah gitu, biasa banget lukisannya. Gak beda sama yang kita sering liat di mana-mana. Gue nggumun, buset, demi lukisan kecil elek kayak gini, orang seluruh dunia rela antre berjam-jam? Mendingan juga lukisan yang onoh…

‘Lukisan yang onoh’ di sini maksudnya adalah lukisan yang memenuhi satu dinding full di Louvre, kalo ndak salah, Lukisan Perjamuan Terakhir. Kisah kurang oke gue dengan museum berhenti di situ. Udah males maen ke museum di Paris yang lain, padahal kan, ada banyak, ya. But hey, buat gue Notre Dame jauh lebih menarik!

Nah, di Indonesia sendiri, gue mulai terpikat sama museum. Mulai dari kunjungan ke Ullen Sentalu yang auranya mistis (serius, gue nggak tau kenapa di museum ini gue bawaannya merinding melulu!), Museum Tsunami di Banda Aceh yang membuat gue menangis dan merinding (kalo ndak salah, gue udah pernah tulis mengenai museum ini. Ubek-ubek aja blog gue), sampai ke Museum Angkut di Batu, Malang, membuat gue berdecak kagum karena memang cakep banget. Tiga museum ini sangat layak dikunjungi.

Kemudian, dua tahun lalu, gue main ke Vatikan. Di sinilah gue mulai mengakui, main ke museum itu sangat menyenangkan dan menambah pengetahuan plus, memanjakan mata. Karya seni di Musei Vaticani emang gila-gilaan sih. Butuh waktu seharian untuk keliling. Tapi bukan itu yang mau gue bahas. Mari kita kembali ke Amsterdam.

Pernah liat foto yang tulisannya Iamsterdam? Nah, itu letaknya depan Rijksmuseum. Tujuan utama turis-turis untuk narsis, tuh. Berbekal dua tiket; Rijksmuseum + Van Gogh Museum yang gue beli di kios penjual tiket canal cruise yang tersebar di mana-mana, gue masuk tanpa ekspektasi apa-apa.

Amsterdam - Rijksmuseum 8Rijksmuseum

Let me get one thing straight: I know no shit about art. Gue nggak paham gaya lukisan. Gue nggak tau siapa itu Meneer, eh, Vermeer, gue cuma tau lukisan Starry Night-nya Van Gogh tenar banget tapi gak paham kenapa bisa tenar. Gue nggak tau impresionis surealis naturalis itu lukisan yang gimana. Kalo nudist, sih, gue tau. *plak*

Di balik ketidaktahuan gue, di balik kebodohan gue atas gaya lukisan dan pelukis dan sejarahnya, ternyata gue sangat menikmati jalan-jalan dan mengamati lukisan di Rijksmuseum. Salah satu faktor utamanya adalah banyaknya lukisan yang bertemakan pemandangan. Yang bikin gue takjub setengah mati, lukisan-lukisan itu gak kayak lukisan, tapi kayak foto.
Amsterdam - Rijksmuseum 11

Amsterdam - Rijksmuseum 12
perhatikan lukisan-lukisan ini. tone warnanya sangat ‘anak instagram masa kini’ ya? pucet-pucet sedap!

Amsterdam - Rijksmuseum 14

Amsterdam - Rijksmuseum 15

Amsterdam - Rijksmuseum 16

Ada satu moment ketika gue heran banget: itu ngapain sik orang-orang rame berkerubung di depan satu lukisan penuh manusia kayak laler mengerubungi lemper? Karena mereka heboh menunjuk-nunjuk ke arah lukisan, gue pun heboh motretin mereka.

Amsterdam - Rijksmuseum 7

Beberapa menit kemudian, gue baru ngeh, lukisan yang dikerubungi itu adalah Night Watch-nya Rembrandt yang memang terkenal luar biasa di seluruh dunia. Kalian pasti pernah denger, kan? KAN?! KAN?!! Astaga, saat itu gue kepengin jedotin kepala ke tembok. HAHAHAHA. Sumpah, malu banget gue! Pantes aja pada rame.

Kalau kamu hobi mengamati manusia, museum adalah tempat yang tepat. Interaksi antar manusia, interaksi manusia dan karya seni, interaksi manusia dan lingkungannya, semuanya tergambar di sini. Jadi, selain bengong liat lukisan yang kece-kece, gue juga seneng liat seorang kakek-kakek yang dengan semangat menjelaskan (asumsi gue, yaaa) kenapa Night Watch itu tenar ke cucunya, kakek nenek yang bergandengan tangan lalu terdiam di depan lukisan Portrait of Alida Christina Assink yang duduk anggun ditemani anjingnya, berkomentar tentang gaun berenda putih di bagian bahu dan berwarna marun sampai ke lantai, sang kakek yang mengangguk ketika sang nenek menunjuk ke arah kepala putri di lukisan ini, yang mempunyai tata rambut yang… spektakuler, seorang laki-laki yang diam-diam mencium pipi perempuannya ketika si perempuan mengamati lukisan satu keluarga yang tampak sangat nyata, sampai ke bapak-bapak yang mengeliling sebuah meriam.
Amsterdam - Rijksmuseum 6

Diam-diam, gue merevisi kalimat yang pernah gue ucapkan dengan lantang: museum itu membosankan, ke: museum itu amat sangat menarik! Di bawah ini bisa kalian liat beberapa foto Rijksmuseum.

Amsterdam - Rijksmuseum 1

Amsterdam - Rijksmuseum 2

Amsterdam - Rijksmuseum 3

Amsterdam - Rijksmuseum 5

Amsterdam - Rijksmuseum 9

Amsterdam - Rijksmuseum 10

Satu catatan lagi, di Rijksmuseum, selain karya pelukis kenamaan Belanda, ada juga kepingan sejarah kolonial Belanda, termasuk lukisan, artefak, serta karya seni yang menggambarkan Indonesia di zaman VOC. Mengunjungi museum berarti mempelajari sejarah, dan yang terpenting buat gue, tempat yang ideal untuk mengamati manusia.

Mari main ke tetangga Rijksmuseum..

Van Gogh Museum

Amsterdam - Van Gogh Museum 1

Tau lukisan Starry Night? Pasti tau, dong. Gue yang buta seni aja tau, keterlaluan kalau kalian nggak. Waktu ke Van Gogh Museum kemarin, sedang ada Exhibition ‘Munch : Van Gogh’. Kalau nama pertama sering gue dengar, nama kedua membuat kening gue berkerut-kerut. Sape lagi coba nih orang… Kok bisa sih dia disandingkan sama Van Gogh? Rupanya, gue yang beloon. Apa? Kalian nggak tau Munch juga? Asik, gue nggak bego sendirian. Tapi, gue yakin banget, hampir semua orang tau tentang The Scream, lukisan yang katanya termahal di dunia itu. What? Nggak tau? Okay. Liat foto ini.

 

The Scream
The Scream

*lalu sejuta tiga belas orang serentak menggumam, ohhhhhhhhh!*
*foto nyomot dari Wikimedia karena ndak boleh motret di museum Van Gogh dan gue walaupun bandel selalu menurut meski tangan gatel pengin motret wk*

Well, you are not alone. Gue juga nggak tau The Scream adalah karya Edvard Munch. Awalnya gue malah mikir The Scream itu cuma sekadar lukisan creepy yang bikin hati nggak nyaman saat diliat lama-lama. Nah, rupanya Van Gogh dan Edvard Munch belum pernah sekalipun bertemu walau karya-karya mereka mempunyai kesamaan. Baik dalam gaya, maupun dalam cara mereka mengekspresikan dan menuangkan pikiran ke dalam lukisan. Van Gogh dan Munch dikenal dengan karya yang warna-warni, penuh emosi, intens, dan … bikin mikir. At least, buat gue sih begitu setelah memelototi karya mereka.

Gue beruntung main ke Museum Van Gogh saat ada exhibition ini. Munch : Van Gogh exhibition berakhir tanggal 17 Januari, tiga hari dari sekarang. Setelah itu, lukisan-lukisan terkenalnya akan dibalikin ke museum lain (seperti Musee d’orsay, Paris, Museum of Modern Art, New York, dll) atau ke pemiliknya. Apa gue tau ada eksibisi ini? Boro-boro, neyk. Pan tau Munch juga kagak. That’s why I said I was so so so so lucky!

Ternyata, ya, gue gak bego-bego banget, lho. Gue mengenali beberapa lukisan mereka, baik Van Gogh maupun Munch. Analoginya kira-kira gini: ‘eh, gue sering denger lagu ini cuma kagak tau aje siapa yang nyanyi’. Sering, kan, kayak gitu? Di bawah ini beberapa karya Van Gogh yang terkenal banget. Untuk karya Edvard Munch, silakan kalian gugel. Dan karena di Museum Van Gogh kagak boleh motret, gue nggak ngambil banyak foto.

Tips maen ke museum: kalau ada audio guidenya, mendingan pake walau harus bayar ekstra. Dengan audio guide, kita jadi lebih tau sejarah dan cerita di balik sebuah karya, nggak cuma bengong melihat lukisan aja. Gue jadi lumayan tau kenapa Vincent Van Gogh depresi, gimana dia surat-suratan sama adiknya, (etapi, Vincent kirim 600an surat ke Theo sang adik, sementara si Theo cuma kirim 40 ke Vincent. Dasar kurang perhatian kamu, mz Theo!), tentang bagaimana Van Gogh sangat religius dan sayang keluarga, tentang pengakuan cintanya ke seorang perempuan namun ditolak karena si cewek diam-diam tunangan sama orang lain yang mengakibatkan Van Gogh makin mengisolasi diri dan kesepian. Hidup Van Gogh ini sedih banget, sumpah.

Sunflowers (F.456), third version: blue green background
Sunflowers (F.456), third version: blue green background
Starry Night Over the Rhone
Starry Night Over the Rhone
Van Gogh - Self Portrait with felt Hat
Self Portrait with felt Hat

 

Van Gogh - Starry Night - Google Art Project
Van Gogh – Starry Night

Amsterdam - Van Gogh Museum 2

Amsterdam - Van Gogh Museum 3

Now, let’s move to..

Anne Frank House

Ketika tiba di Anne Frank House, gue terkejut. Mak, ramainya yang antre! Mengular! Panjang banget! Gue jadi agak bete. Kemudian satu keajaiban terjadi. Seorang perempuan berambut pirang menghampiri tempat gue mengantre.

Hei, everybody. I have two tickets. Does anybody want it? It’s for 11 today.

WIH. Gue menoleh. Berpikir. Menimbang-nimbang.

Hi.
Yes. You need tickets?
Well, yea…
Here, I have two. I will sell it with the exact same price. You don’t have to queue anymore!

Now, when something is too good to be true, maka curigalah. Gue tanya, kenapa kok tiketnya mau dijual? Perempuan pirang beraksen Amerika ini menjawab, seharusnya dia pergi sekarang sama sepupunya. Tapi ternyata, sepupunya juga beliin tiket jadi mereka kelebihan. Okay. Make sense. Gue liatin cewek ini dari atas ke bawah. Mencari-cari sinyal elo-penipu-apa-bukan-sik-kek-calo-tiket-di-itali-yang-cakep-cakep-tukang-tipu….

Pada akhirnya, yang bisa lo percayai adalah intuisi elo. Intuisi gue berkata, cewek ini nggak nipu. Maka gue keluar dari barisan antrean yang superpanjang, dan bayar dua tiketnya.

Amsterdam - Anne Frank House 0

Orang-orang lain ngeliatin gue dengan tatapan antara anjeng-kenapa-bukan-gue-yang-beli-tiket-itu-sih/bego-deh-percaya-aja-sama-orang-asing/ha-rasain-lo-itu-tiket-palsu-lo-bakalan-kesel-terus-antre-lagi-dari-ujung-bakalan-gue-ketawain-wkwkwk!

Terima kasih wahai intuisi, dua tiket yang gue beli, asli! Gue boleh masuk tanpa antre tepat pukul 11, kurang lebih 40 menit lagi. HAHAHA. EAT THAT SUCKAAAAAH! jerit gue dalam hati ke orang-orang yang lagi antre. :))))

Waktu luang 40 menit, gue gunakan untuk keliling area situ dan motret-motret. Soalnya lagi cerah ceria!

Amsterdam - Anne Frank House 7

Amsterdam - Anne Frank House 8

Amsterdam - Anne Frank House 9

Amsterdam - Anne Frank House 10

Amsterdam - Anne Frank House 11

Amsterdam - Anne Frank House 12

Seperti halnya Museum Van Gogh, di Anne Frank House nggak boleh motret. Terus apakah gue nurut? Ya pasti, lah. Mereka pasti punya alasan sendiri. Salah satunya, supaya kita lebih fokus pada cerita yang ingin disampaikan museum ini. Dan, gue setuju.

Anne Frank House bukanlah tempat yang instagramgenic. Rumah persembunyian Anne Frank dan keluarganya menguarkan kesan suram dan pedih. Sisi-sisi rumah, tembok, lemari buku, papan tempat Anne Frank menempelkan foto maupun gambar, loteng dengan jendela yang dicat hitam legam (supaya tentara Nazi gak bisa melihat ke dalam), tangga curam yang sempit, ruangan yang berlangit-langit rendah dengan warna pucat dan kusam, serta pameran foto, video dan suara Otto Frank, papa Anne yang pada akhirnya membuat sebagian besar orang menangis.

Tapi, siapa sih, Anne Frank ini? Kenapa dia ngumpet dari Nazi?

Tau buku “Anne Frank : The Diary of A Young Girl”?
Nggak?
Oke. Masukkan ke dalam daftar bacaan wajib, deh. Ini buku yang bagus sekali.

Jadi, ceritanya Anne Frank adalah orang Jerman yang kabur ke Belanda karena Nazi mulai berkuasa. Kenapa Otto Frank ajak keluarganya kabur? Karena mereka adalah orang Yahudi. So, mereka ngumpet di Belanda, kalo nggak salah dari tahun 30-an. Sialnya, Nazi Jerman mengokupasi Belanda juga. Yahudi di sini kena juga. Dikumpulin, lalu dikirim ke kamp konsentrasi. Di kamp konsentrasi tentunya mereka nggak disuruh main bekel, ya. Banyak yang berakhir di gas chamber, atau disuruh kerja sampe mati.

Otto mengkhawatirkan keselamatan keluarganya, dan ia merencanakan untuk membawa mereka ke Amerika. Namun, sebelum hal itu terjadi, Nazi udah masuk Belanda. Terpaksa semuanya bersembunyi di rumah ini. Dari luar, rumahnya sih kecil aja. Tapi begitu masuk… ternyata lumayan. Tiga tingkat pula. Anne dan Margot, adiknya, harus ngumpet selama dua tahun lebih di dalam rumah, nggak bisa keluar sama sekali, nggak bisa merasakan sinar matahari menerpa kulit (ada satu rekaman suara Anne (bukan suara asli dia) yang berisi, Anne pengin banget main ke luar rumah hanya untuk main sinar matahari, yang membuat jantung terasa diiris-iris)

Selama tinggal di rumah ini, Anne kecil, yang ingin sekali menjadi penulis, tak bisa main keluar, jadi, dia menyibukkan dirinya dengan menulis diary. Ada banyak buku yang ia tulis. Dia ingin, suatu hari nanti bisa menerbitkan buku tersebut.

Mereka mengira, mereka aman tinggal di rumah berjendela hitam pekat ini. Mereka semua salah. Ada pengkhianat yang melaporkan persembunyian mereka. Sampai hari ini, siapa pengkhianatnya tak pernah ketahuan. Anne dan Margot dikirim ke camp konsentrasi Bergen-Belsen, Otto Frank dikirim ke camp lain. Yang paling bikin nyesek: Anne Frank dan adiknya meninggal di camp konsentrasi itu. Kemungkinan karena malnutrisi atau thypus. Padahal, beberapa minggu setelah mereka meninggal, Jerman kalah dan penghuni camp dibebaskan…

Otto pulang, dan menemukan diary-diary Anne yang disimpankan oleh pembantu mereka.

Salah satu kutipan dari diary Anne Frank yang gue suka banget:

When I write I can shake off all my cares. My sorrow disappears, my spirits are revived! But, and that’s a big question, will I ever be able to write something great, will I ever become a journalist or a writer?

Gue sering membayangkan, seandainya Anne Frank selamat dari camp konsentrasi Nazi, apakah dia akan terus menulis? Kalau iya, apakah dia akan menjadi legenda seperti sekarang? Apakah karyanya setelah ia dewasa akan jauh lebih bagus? Apakah dia akan berbahagia dengan hidupnya? Akankah ia menikah lalu punya anak yang lucu-lucu? Apa dia akan terus menulis diary seperti masa kecil dan remajanya? Masih banyak pertanyaan yang terus berputar, dan akhirnya, gue menyimpulkan satu hal:

Seseorang seperti Anne Frank memang ditakdirkan untuk hidup abadi dan menginspirasi jutaan orang dengan karyanya.

Siapkan tissue ketika mengunjungi Anne Frank House, you’ll need it, even if you don’t know her at all. And please, read the book. Jangan lupa main ke cafenya juga. Pemandangan dari cafe di Anne Frank House itu cakep!

*Foto nggak diedit kecuali diresize biar gak berat loadingnya.*
Amsterdam - Anne Frank House 1

Amsterdam - Anne Frank House 2

Amsterdam - Anne Frank House 3

Amsterdam - Anne Frank House 4

Amsterdam - Anne Frank House 5
Amsterdam - Anne Frank House 6

Sampai bertemu di postingan selanjutnya.
Apa lagi dari Belanda yang harus gue bahas? Kasih tau gue di kolom komen.

Survey: postingan segini panjang, membosankan, nggak, dibacanya? Capek nggak bacanya? Perlu lebih pendek? atau? Let me know!