SHARE

Pembukaan dikit:

Jadi, ceritanya hari ini gue ikutan tim Gagas Media ke Bandung dalam rangka peluncuran novel baru @vabyo, Kedai 1002 Mimpi. Nah, di jalan, gue ditantang team Gagas untuk berkompetisi lawan Michan, editor Gagas (yang juga akan menjadi editor novel gue, ihiy!) dalam menulis dengan gaya free writing. Free writing itu kira-kira elo nulis tanpa persiapan, penuh kejutan, dan dalam jangka waktu tertentu. Gue dan Michan dikasih waktu sepanjang perjalanan dari tol Cikarang – Pasteur. Mayan, 2 jam. Omem, si anak promosi Gagas memberikan kami tiga kata random yang harus diolah:

Minggu
Bandung
Perang

Tiga kata di atas harus dirangkai menjadi satu tulisan utuh. And, here is mine. Komen-komennya ditunggu. :D :D

There’s a war in my heart and I so know it that I’m gonna win this time. At least, that’s what I told my heart, earlier this morning. You see, I am a girl with confidence. I am a girl who knows what I should do. And I am a girl with many lies.

Shit. I am a liar.

Bahkan ke diri sendiri, gue suka berbohong. Gue selalu bilang kalau gue akan menang walaupun otak gue menjeritkan satu hal yang pasti: kemenangan adalah kata yang mustahil untuk dicapai oleh seorang Michan. Gue selalu berkata kalau gue pasti bisa percaya diri menghadapi orang yang akan sebentar lagi gue temui di Dago, Bandung, namun otak gue menjeritkan mulut gue akan terkunci dan tak akan ada satu katapun yang akan keluar dari mulut gue lima belas menit pertama pertemuan kami. Yang sudah pasti terjadi, gue akan sibuk menatap manusia yang berlalu lalang di belakang laki-laki yang akan gue temui, lalu gue akan melayangkan pandangan ke arah tanah, menekuri pola lantai dan garis-garis halus sepatu Keds gue sembari memikirkan berbagai kata makian yang tak akan pernah sanggup gue lontarkan. So help me God.

Ada satu juta dua ratus ribu kata “seharusnya”, “what if”, “andai saja” yang sedang bermain-main dan berperang di benak gue saat ini. Kata-kata yang melambangkan betapa imajinasi suka mempermainkan manusia-manusia yang pura-pura kuat seperti gue. Menatap keluar jendela, melihat pohon-pohon yang saling berlarian menyusul satu sama lain, sengaja melupakan detil dan warna mobil yang menyalip mobil gue dari sebelah kanan. Otak gue terus bergulung dan memainkan berbagai skenario. Ario yang tak punya senyum yang terlalu charming dan selalu berhasil meluluhkan benteng pertahanan berlapis gue. Ario yang tak pernah menghubungi gue setelah setahun setengah menghilang. Ario yang tak pernah menggenggam hati gue dan berkata ia akan menjaganya sebagaimana ia akan menjaga keutuhan kata “kita”, Ario yang tak pernah mengulurkan buku Murakami di sebuah toko buku lima tahun yang lalu.

Skenario yang paling menggema adalah; gue yang tak perlu menuju Bandung di hari Minggu hanya karena gue mendengar dari kedua orang tuanya, bahwa Ario sudah di Bandung sekarang. Dan betapa dia merindukan gue.

Ia ingin bertemu. Setelah delapan belas bulan tanpa ada kabar apapun. Setelah tiga setengah tahun gue dan dia menyebut “kami” dengan sebutan “kita”. Setelah dia berlutut di hadapan gue, membuka kotak beludu merah yang berisi cincin pertunangan, di hadapan papa dan mama. Untuk pertama kalinya dalam hidup, malam itu gue baru berhasil meyakinkan diri bahwa gue memang layak mendapatkan kebahagiaan. Gue memang layak untuk tersenyum tanpa beban. Lalu keesokan paginya, dia menghilang. Gue seperti dihantam kutukan Avada Kedavra. Bedanya, Voldemort benar-benar membunuh dengan kutukannya, gue sekadar hidup. Tanpa tujuan selain mencari keberadaan Ario.

Keluarganya tak tau Ario ke mana, di mana, sedang apa. Tak ada satu pun petunjuk yang berhasil gue dapatkan. Telepon, SMS, whatsapp, email, semua metode komunikasi yang mungkin terpikir, sudah gue lakukan. Bahkan, dengan tololnya, tiga bulan setelah Ario menghilang, gue menghanyutkan selembar surat di dalam botol ke laut sewaktu gue menangis tanpa suara di pantai di Karimun Jawa, sembari berharap Ario akan menerima surat itu di suatu pantai nun jauh di sana, lalu dia akan menyadari kami memang ditakdirkan bersama, dan memutuskan untuk pulang. After more than a year of nothingness, I become a woman with too many questions without a single answer.

Stupidity knows no limit, let alone stupidity because of something strange yet familiar called love.

Gue bahkan tak sadar sudah melewati gerbang tol Pasteur. Everything is blurry. Dago tak jauh lagi. Ario tak jauh lagi. Seluruh sel di tubuh gue menjeritkan satu hal: berbaliklah dan kembalilah ke Jakarta. But no. I need an answer. Curiosity kills the cat and right now I am a tigress so I won’t die that easily. Or maybe I am already dead inside?

Lima menit menjelang Dago, gue baru tersadar satu hal: gue bahkan tak ingat untuk memulas wajah, sekadar bedak atau segaris tipis lipstik di bibir pun tidak saat berangkat pagi tadi. I must look like shit right now. Wajah dan pikiran dan hati sama saja, berantakan. Luar dalam. Luar biasa, Michan. Luar biasa.

And there he was. Sitting at a corner in his room. Alone. Still as gorgeous as I remember him. Scruffy and short hair, looking as sharp as ever, a Sundanese Greek God with a pair of sad eyes. Yang membuat jantung gue berhenti berdetak sejenak dan terjatuh ke lantai adalah … dia memakai baju pemberian gue. Baju yang gue belikan karena dia menghadiahkan 1Q84-nya Murakami untuk melengkapi koleksi Murakami gue. That white tattered shirt. God, this is just too much to handle. Dan jari manis dia … what kind of game he’s playing? Mengapa dia masih mengenakan cincin pertunangan itu? Why? Why? WHY?

So I just stood there. Unable to look into his eyes. I know I should’ve run to him and hug him and hit him as strong as I could. I know I should’ve curse him for leaving me all of this time. I know I should’ve cry right now. But I couldn’t do anything but to stood there. Absolutely nothing. Look what have I become, Ario.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, gue perlahan mendekati Ario. Dia menunduk. Memegang sesuatu yang terlihat seperti selembar foto. Apakah itu foto kami berdua?

“Ario…”
“Michi… My Michi…”

My Michi, he said. Dan segala amarah mereda begitu saja. Semua emosi yang mungkin masih gue punya mengerucut menjadi satu: keinginan yang meluap untuk memeluk dia. Namun gue duduk dalam diam. Dia juga masih menunduk menatap foto itu. Perlahan, Ario menghela napas panjang dan meletakkan foto itu ke meja. Foto kami berdua. Gue sedang membaca 1Q84 di pangkuannya, sementara ia sibuk menatap gue. Foto karya sahabatnya. Satu-satunya foto candid kami berdua. Dengan gerak perlahan juga, Ario meloloskan cincin dari jari manisnya.

“Michi, sudah saatnya. Aku harus melanjutkan hidup, walau tanpa kamu.”

Hati gue yang baru saja menghangat kembali pecah berantakan di dasar sumur kengerian yang dingin. Gue ke sini ingin bertemu dia, ingin kembali, ingin bersama, dan dia menancapkan bilah kata-kata di tempat yang tepat.

“Kamu yang pergi, kamu yang menghilang, aku yang mencari kamu selama satu setengah tahun ini, dan sekarang kamu … Ario… Ario, no. No. No. You can’t do this to me. You can’t!

Gue menjeritkan seluruh amarah yang gue punya.

“YOU CAN’T DO THIS TO ME. YOU CAN’T!!”

“Aku minta maaf, Michi. Setahun lebih mencari kamu. Dari Karimunjawa sampai Jakarta. Aku tak pernah bisa terima kenyataan. Aku tak bisa. Tetapi ini sudah saatnya.”

Dingin merambati setiap inchi kulit gue. Perlahan, pasti, mencengkeram. If this is a nightmare please somebody wake me up. Ario menoleh ke arah pintu. Evan melangkah masuk. Sahabatnya yang juga tak pernah punya jawaban atas menghilangnya Ario.

“Gimana?”
“Berat, bro. Tapi … kayaknya gue siap.”
“Harus siap, Yo. Harus. Elo gak bisa kayak gini. Udah setahun. Udah cukup usaha elo nyari Michan.”
“Seandainya gue nggak kecelakaan…”

Kecelakaan apa?! Kenapa mereka berbicara seolah gue tak ada di sini, di antara mereka? What the hell is happening here?!

“ARIO!!!”

Teriakan gue seperti terhisap ke dalam lubang hitam tanpa dasar. Hilang begitu saja. Mereka berdua bahkan tak menoleh ke arah gue. Sebenci itukah Ario ke gue?

Pertanyaan tentang ‘kecelakaan apa’ terjawab sesaat kemudian. Evan mendorong kursi roda Ario. Detil yang tak gue sadari sama sekali sedari tadi. Kecelakaan… selama ini Ario kecelakaan? Tapi … mengapa dia nggak menghubungi gue?!

“Gue percaya elo bisa jalan lagi kok, Yo.”
“Haha. Gue udah setahun begini, Van. Dan elo juga denger dokter ngomong apa. Tulang paha gue ancur. Gue koma 4 bulan. Di negara orang. Dan pas gue balik ke Jakarta ….”

Apakah itu airmata? Ario? Laki-laki yang paling tangguh yang gue tahu, menangis?!

“Ario, peluk aku. PELUK AKU. PELUK AKU!!!”

“Gue cuma akan mengulang ini satu kali ya, Yo. Stop menyalahkan diri elo sendiri. Bukan salah elo karena elo kecelakaan lalu koma. Bukan salah elo ketika elo udah balik ke Jakarta, Michi malah sudah pergi.”
“TAPI GUE NGGAK PERGI, VAN!!” Jeritan gue kembali menghajar tembok tebal karena baik Ario maupun Evan tak menoleh sama sekali.

“… dan bukan salah elo bahwa elo nggak pernah berhasil menemukan jasadnya, Yo. Bukan salah elo.”

Jasad. Jasad. Jasad. This can’t be true. This can’t be true. This, can’t be true.

Seiring dengan Evan yang meremas bahu Ario untuk menguatkannya, lalu mendorong kursi rodanya keluar ruangan, pandangan gue terpusat pada satu artikel koran di meja yang tertimpa foto gue dan Ario serta cincin pertunangannya yang ia tanggalkan tadi.

Artikel itu berjudul: Jasad Seorang Perempuan Tak Pernah Ditemukan Setelah Tenggelam di Perairan Karimunjawa.

SHARE
Previous articleA Night To Remember
Next articleA Blast from The Past
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow