SHARE

Sering banget gue baca tulisan, entah itu fiksi, ataupun nonfiksi, dan mengernyitkan kening, karena penulisnya tidak membuat gue ingin membaca lebih lanjut. Salah satu penyebabnya, mereka malas menjabarkan perasaan para tokohnya. Si tokoh sedang marah, ditulis begini, “Dia sangat marah. Dia marah sekali sampai dia tak mau berbicara ..”, atau, “Dia takut setengah mati karena melihat setan..”, atau, “Hari ini dia senang. Ulangannya dapat sepuluh. Dia senang. Senang. Senang…”

Dan gue bosen bacanya.

Tulisan akan lebih bernyawa kalau perasaan tokoh yang kita baca dijabarkan. Bagaimana marahnya orang itu? Apa tindakannya kalau marah? Mengapa dia marah? Gimana menggambarkan marah tanpa harus menulis kata ‘marah’? Terus, kalau tokoh A senang, apa yang dia lakukan karena senang? Apakah wajahnya berseri-seri? Apakah dia bertepuk tangan? Apakah dia berlari lalu memeluk pacarnya, apakah dia kehilangan kata-kata saking senangnya? Gimana? Gambarkan. Tunjukkan kepada kami, pembaca, bagaimana dan apa yang mereka lakukan.

Di bawah ini, adalah contoh tulisan gue ketika masih menjadi siswa di Jakarta School. Kami ditugaskan mendeskripsikan perasaan, tanpa memakai kata sifat yang dimaksud. Misalnya, mendeskripsikan ‘takut’, atau ‘malu’, atau  ‘tegang’, tapi nggak boleh pakai kata ‘takut’, ‘marah’, ‘tegang’. Biarkan pembaca yang mengambil kesimpulan apa yang sedang karakternya rasakan.

Yuk, belajar bareng-bareng mendeskripsikan perasaan. :)

Mendeskripsikan: Malu.

LENYAPKAN AKU.

Menjadi jomblo itu menderita.

Akan banyak orang yang mencibir pernyataan di atas. Tetapi mereka mungkin belum merasakan bagaimana menjadi seperti aku. Jomblo kesepian. Jomblo yang halus belaian. Jomblo yang harus selalu menundukkan kepala saat diledek teman satu kampus karena sudah empat tahun kuliah tapi tak pernah pacaran. Satu-satunya yang mau membelaiku adalah tanganku. Satu-satunya teman baikku adalah laptop dan koneksi internet yang senantiasa memberiku hiburan.

Seperti sekarang ini, laptop dan koneksi internet yang mumpuni memberiku kesenangan dengan menayangkan adegan tiga perempuan dan lima lelaki yang beraksi dengan dua ribu tiga belas gaya. Mereka ada di ranjang, berpindah ke dapur, membungkuk di balkon, sampai berkecipak di bathtub yang luar biasa besar. Pameran kebutuhan primitif manusia yang selalu menyenangkan untuk ditonton. Aku berharap berada di tengah-tengah mereka. Bukan hanya sebagai penonton, tapi juga menjadi pelaku. Aku hanya punya tanganku, dan itu cukup untuk saat ini.

Kiamat kecil terjadi ketika pintu kamar terbuka dan teriakan ibu mengalahkan lenguhan, desahan, dan jeritan perempuan dan lelaki di layar laptop. Kalang kabut aku mencoba melakukan banyak hal sekaligus: mengeluarkan tangan dari balik celana sambil menutup layar laptop sambil berusaha bersikap santai. Semuanya gagal. Tanganku tersangkut tak bisa bergerak. Laptopku jatuh terbanting. Wajahku gagal menampakkan raut santai. Aku bahkan bisa merasakan panas yang menjalar dengan cepat di seluruh wajahku. Aku yakin, saat ini wajahku sudah merah membara. Kau bisa menggoreng telur di wajahku jika mau.

Betapa aku berharap aku bisa lenyap saja ke dasar Bumi daripada harus menghadapi dan menatap wajah Ibu yang mendelik lalu berlari membanting pintu kamar sambil menjerit. Betapa aku ingin kembali ke tiga puluh menit lalu dan mengingatkan diriku yang tengah bersiap memulai rutinitas harianku untuk mengunci pintu. Aku tak tahu, setelah ini bagaimana cara menghadapi Ibu dan menatap matanya? Bagaimana aku meyakinkan Ibu untuk tak menceritakan apa yang beliau lihat ke para tetangga? Apa yang kurasakan bahkan lebih parah ketimbang saat itu; saat aku memberanikan diri ‘menembak’ perempuan bermata sendu pujaan satu fakultas, hanya untuk ditolak begitu saja, dan mendapat cap pecundang dunia akhirat. Bagaimana cara untuk lenyap? Bagaimana?

 

Mendeskripsikan: Tegang.

PILIHAN KETIGA

Pekarangan rumah itu dipenuhi ilalang setinggi dadaku. Aku terus berjalan. Pelan. Mengabaikan rasa gatal yang menyapa saat ilalang-ilalang berebutan menggaruk tangan dan kaki. Ada yang lebih penting. Jawaban yang aku cari, ada di balik pintu abu-abu di depanku.

Derit mengerikan saat aku mendorong pintu abu-abu yang rupanya pernah berwarna putih membuatku menelan ludah. Dentaman jantung tak mengizinkanku mendengar otak yang memerintahkanku untuk tetap tenang. Baru tiga langkah masuk ke dalam ruangan gelap itu, aku sudah terloncat karena pintu di belakangku terbanting dengan keras. Otakku berteriak-teriak, menyuruh jantungku berhenti berdetak sedemikian cepat. Percuma. Ia justru melawan.

Keringat mulai berkumpul di telapak tangan saat aku masuk makin ke dalam ruangan ini. Bau debu membuat tenggorokanku kering. Sinar matahari yang menyorot lewat genting yang pecah tak membantu sama sekali. Di depan bufet kusam itu aku berhenti. Pencarianku mungkin akan selesai di sini. Seluruh bagian tubuh terasa kaku, berat, tak mampu kugerakkan, bahkan untuk sekadar meraih pegangan bufet yang terbuat dari kuningan. Lalu, terdengar suara lain selain detak jantungku. Pistol yang dikokang.

Saat itu juga, hening yang aku harapkan sedari tadi hadir. Aku tak bisa mendengarkan suara jantungku lagi. Ia berhenti. Begitu saja. Telapak tanganku makin basah. Lutut gemetar. Aku bergeming. Kaku. Tak berani menjemput kematian dengan membuat gerakan tiba-tiba. Darahku rasanya sudah berhenti mengalir. Dinginnya pelatuk yang menekan erat pelipisku membuat otakku memberikan perintah lain: waspada. Jangan gegabah.

“Orang yang mencari, biasanya akan bertemu dengan dua hal: mendapatkan, atau malah kehilangan. Kau beruntung mendapatkan hal kedua.”

Seluruh tubuhku mengejang saat mendengar suara serupa belati dingin lelaki di sampingku. Suaranya menusuk dari ulu hati menembus ke punggung. Aku memperhitungkan dua hal. Maju ke depan untuk menghindari pelatuk pistolnya, atau langsung mematahkan tangannya dengan satu gerakan kilat. Salah bertindak, artinya aku akan terkapar di lantai yang penuh belulang tikus ini.

Jantungku kembali berdentam-dentam. Adrenalin terpompa deras. Telapak tangan semakin berkeringat. Pupil mata melebar. Pilihan ketiga yang kupilih. Aku menendang seiring letusan yang membuat telingaku dihantam halilintar. Menyaksikan tubuhnya melayang dalam gerak lambat tak mampu membuatku bertindak secepat yang aku ingin. Dengan satu salto yang sempurna, ia bukan hanya kembali tegak, namun tetap mampu menggenggam erat pistolnya. Letusan kedua terdengar. Setelah itu hening. Merah meraja.

 

Mendeskripsikan: marah

CELENGAN SILUMAN.

 

“Tiga bulan. Dan ini yang aku dapat?”

Dia tak menjawab sama sekali. Aku berusaha mengontrol suaraku supaya nadanya tak meningkat di setiap kata yang aku ucapkan.

“Apa saja kerjamu di tiga bulan ini? Bangun tidur, makan, mandi, makan, tidur lagi?”

Dia masih tak menjawab. Kali ini, pandangannya terarah ke tembok. Bukan ke mataku. Mungkin di matanya, mataku sudah memancarkan tombak api. Padahal aku masih bisa mengendalikan diri.

“Kamu sedang berbicara dengan manusia. Maka, lihat manusia yang mengajakmu berbicara. Bukan ke tembok.”

Pandangannya tetap saja mengarah ke tembok. Kali ini bagian bawah tembok yang dia tatap. Buatku, saat ini dia sudah berubah menjadi tikus yang terpojok di ujung ruangan. Tak bisa berkutik. Tak bisa ke mana-mana. Tinggal menunggu sang ular mencaploknya.

“Aku tak akan mengulang kalimatku lagi. Tatap aku. Pertanggungjawabkan perbuatanmu. Kamu punya waktu tiga bulan. 92 hari. Tak ada satu hari pun yang terlewat tanpa gaji. Dan ini hasilnya?”

Aku mengangkat sebuah celengan tanah liat berkepala entah ayam entah bebek dan berbadan entah sapi entah kambing. Celengan tanah liat itu bahkan tak diwarnai dengan sempurna. Kepala entah ayam entah bebek nya berwarna kuning pucat. Badan entah sapi entah kambingnya berwarna merah tanah basah. Tak enak dilihat. Yang membuat darahku semakin menggelegak, celengan ini tak punya tempat untuk memasukkan koin. Tak ada bagian di atas badan entah sapi entah kambing yang dikerat. Lalu bagaimana cara orang menabung di tubuh binatang jadi-jadian dari tanah liat ini?

“Aku memintamu membuat 70 buah celengan ayam. Kamu memberikan satu tanah liat berbentuk binatang siluman. Lalu uang yang kuberikan, semuanya, sudah kamu habiskan. Dan sekarang kamu cuma bisa diam?! Diam bukanlah jawaban!”

Celengan siluman menghantam bagian tembok yang sedang dia tatap. Pecah. Berantakan. Dan terlihat lebih cantik daripada bentuk sebelumnya. Dia terjengkal dari kursinya saat pipinya beradu dengan kepalan tanganku. Satu tinju untuk satu hari yang dia sia-siakan. Total 92 tinju. Hari ini aku akan membuat bubur wajah manusia.

 

 

—-

Mudah-mudahan tulisan ini membantu buat yang suka nulis, ya. Always remember: show, don’t tell. :D