SHARE

“Pokoknya jangan terpengaruh sama yang cakep-cakep, ya.”
“Maksudnya gimana?”
“Yang cakep-cakep di Paris itu biasanya copet.”

Gue langsung terbengong-bengong, menyangka teman gue bercanda. Namun, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia serius, dengan kening yang berkerut dan alis yang hampir menyatu. Saat itu juga, teman gue bercerita panjang lebar tentang Paris yang walaupun indah, namun menyimpan banyak lorong-lorong gelap serta cerita tentang copet, rampok, dan scam artists yang tak kalah gelapnya.

“Jangan mau kalau dipuji ganteng oleh rombongan pelukis penipu di daerah Sacré-Cœur atau Montmartre. Mereka itu ahli sekali dalam mengalihkan perhatian. Begitu elo terlena, mereka bisa aja mengambil handphone elo, atau dompet elo.”
“KOK SEREM?!”
“Atau, elo akan dibujuk untuk dilukis. Begitu elo setuju, elo akan dilukis beneran, setelah jadi, mau gak mau elo harus bayar mahal banget.”
“Oke. Gue akan inget. Jangan deket-deket pelukis jalanan, jangan mau dilukis juga.”
“Waspadai orang-orang yang deketin elo sambil bawa kertas. Mereka biasanya minta sumbangan.”
“Oh, kayak di Hong Kong?”
“No, even worse. Once you’re interested in donating money, they will rob you dry. Elo nggak akan sadar ketika dompet elo dicopet.”
“That good?”
“YES! They are that good.”
“Ada lagi?”
“Hati-hati juga sama rombongan anak kecil yang tampak innocent dan menari-nari atau nyanyi-nyanyi mengelilingi elo. Lengah sedikit, hape, kamera dan dompet bisa lenyap.”
“Anak kecil?! Aduh, pucink pala Barbie!”
“Bisa juga perempuan Eropa Timur yang luar biasa cantik dan seksi yang akan ngajakin elo ngobrol sementara temannya beraksi. Inget, kalau makan di café pinggir jalan, jangan pernah taruh handphone di meja. Take care of your belongings!”
“Memangnya, kenapa kalau taruh hape di meja?”
“Ya nggak apa-apa sih, kalau elo mau hape lo mendadak hilang. Biasanya, akan ada penipu yang pura-pura jadi waiter, menawarkan untuk mengangkat gelas bekas minum elo. Begitu dia pergi, hape lo udah di kantung dia, tanpa elo sadar.”

Mendengar paparan teman gue itu, gue menjadi semakin was-was. Kepala jadi pening. Mau jalan-jalan aja kok ancemannya banyak amat? Mana pergi sendiri pula. Gimana kalo gue dihadang pelukis, anak kecil, cewek cakep, dan cowok ganteng minta sumbangan sekaligus? Aku kudu piye? Abis semua dong, barang gue? Kok, Paris yang romantis mendadak terkesan seram, ya? Nggak jauh beda sama Jakarta, dong?

Jujur aja, gue jadi parno abis. Image Paris yang (awalnya) ramah, mendadak jadi kayak Bronx di Amerika, lengkap dengan lorong gelap berbau bacin, mata berkilat yang mengintai di kegelapan, suara kaki yang berderap mendekati gue lalu gue dicekek dari belakang. *oke mulai lebay*

I mean, look at these pics! Kota secakep ini, banyak copet dan serem? Serius?

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC

Namun, tak ada salahnya berhati-hati ketimbang menyesal di kemudian hari.

Berbekal beberapa petunjuk dan warning dari teman gue, setibanya di Paris gue jadi ekstra waspada. Gue mengingat semua petunjuk teman gue. Tips dari teman gue kemudian ditambahkan oleh host AirBnB tempat gue menginap. Houcine, host gue yang ramah itu, berkata dalam Bahasa Inggris beraksen Prancis yang – tentu saja, terdengar seksi, bahwa gue harus menggembok ransel gue, dompet jangan sampai ditaruh di saku belakang, berhati-hatilah kalau naik Metro, serta jangan sembarangan meminta orang untuk mengambil foto.

Pernah ada kejadian, temannya yang datang dari Inggris meminta tolong ke ibu-ibu untuk memfotonya dengan latar belakang Eiffel. Begitu kamera teman Houcine sudah di tangan ibu-ibu itu, si ibu-ibu langsung ngacir dengan amat sangat cepat. Temannya cuma bisa melongo dan terpaksa merelakan kamera kesayangannya lenyap begitu saja. Lho, nggak dikejar? Tanya gue. Lah, kalo setelah dibawa kabur doi bengong dulu, si pencopetnya udah ngilang, dong. Jawab Houcine dengan wajah serius.

Gue mencatat semua petunjuk Houcine dalam hati.

Tambahan dari dia: do not go to the wrong side of Montmarte. Waduh… gue bahkan tak tahu di mana right side of Montmartre, gimana bisa tau yang mana wrong side-nya… Ah, sudahlah. Gue memutuskan untuk mengandalkan intuisi dan insting gue.

Biasanya, intuisi tak pernah salah. Kecuali di saat gue nyasar.

Kota Paris serta beberapa kota di Eropa, seperti Roma atau Barcelona, memang terkenal dengan ‘scam artists’-nya. Having fun is a must, but you have to be careful, do not let them take advantage of you.

Gue bersyukur banget, selama beberapa hari di Paris, nggak ada kejadian yang nggak menyenangkan yang menimpa gue. Gue nggak ketemu scam artist, walaupun sempat liat pelukis-pelukis (yang ganteng-ganteng banget, sumfeh) di Montmartre menawarkan jasa mereka ke cewek-cewek unyu. Oh, gue juga sempat disamperin perempuan yang berniat minta sumbangan, yang tentunya langsung gue tinggalin sambil gue maki pake bahasa Indonesia, ‘heh, lo pikir gue gak tau elo mau nipu? Muke lo tuh jauh! Dasar bule miskin!’ *kemudian kabur cepet-cepet, takutnya dia bisa bahasa Indonesia muehehe*.

SAMSUNG CSC

Karena gue juga sudah diperingatkan untuk nggak dekat-dekat dengan penjual suvenir pinggir jalan – yang biasanya lelaki imigran dari Afrika, maka gue juga menghindari mereka. Padahal, ya, gue kepengin, lho, beli minatur Eiffel yang unyu nyala kelap-kelip gitu. Tapi… gue ngga mau ambil risiko di negeri orang. Apalagi, gue sedang bepergian sendirian. Bayangkan kalau dompet dan passport gue kena tilep? Tentunya gue akan cedih dan nangis di pinggir jalan lalu diselamatkan seorang prince atau princess terserah deh yang mana aja yang penting cakep kemudian gue dibawa ke kastil indah menawan penuh harta karun dan gue diangkat jadi pangeran lalu hidup bahagia selama-lamanya yang tentunya nggak kejadian jadinya gue akan teteup nangis cedih di pinggir jalan tanpa ada yang peduli bete kan lo baca kalimat panjang gak pake titik koma.

Supaya gak kesel, liat ini dulu, deh:
SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC

Ketika manusia sudah terlalu nyaman, ia akan menurunkan level kewaspadaannya. Nah, hal ini lah yang terjadi.

Ketika sedang mengagumi lansekap kota Paris dari lantai dua menara Eiffel di malam hari, mendadak gue mendengar jeritan. Buru-buru gue menoleh. Tak jauh dari tempat gue berdiri, seorang perempuan Korea menjerit-jerit. Gue pikir lagi ada suting drama Korea, soale yang menjerit ini amat sangat menjiwai sampe jeritannya mirip lolongan desperate cewek diputusin di Eiffel. Eh ternyata dia kecopetan aja, dong! Cewek ini segera dihampiri oleh teman-teman satu grupnya. Masih sambil menjerit-melolong histeris nan heboh, cewek Korea berjaket pink itu menunjuk-nunjuk ke arah lift. Rupanya, kamera digital yang ia pegang baru saja dijambret. Gue segera mengikuti perempuan ini yang bergerak ke arah lift bersama teman-temannya. Sesampainya gue di dekat lift, beberapa orang petugas keamanan muncul, dan mereka segera meringkus seorang laki-laki. Si pencopet. Puantes… di Eiffel bertebaran tanda untuk menjaga barang bawaan dari dompet sampe hape. Jangan lengah, banyak pickpocket!

Begitu melihat wajah pencopet ini, gue kaget setengah mati timbul lope-lope di udara dan mimisan tiga galon saking gantengnya dia. Si copet ini jangkung dengan badan yang proporsional dan rambut berwarna gelap yang disisir dengan rapih (ala-ala brightspot dengan sisiran ke arah belakang, analisa gue, doi pake pomade, deh. Klimis bener abisnya). Matanya dalam, hidungnya mancung sempurna, tulang pipi tinggi, dan ia mengenakan setelan jas yang terlihat sangat bagus. Pencopet ini bahkan jauh lebih tampan ketimbang Bradley Cooper. Yak, betul, sodara-sodara, kalian nggak salah baca. Pencopet kamera digital kepunyaan perempuan Korea ini memang lebih ganteng dari Aa Bradley Cooper.

Seandainya orang ini mendekati gue, rasanya gue tak akan curiga sama sekali karena penampilannya yang sungguh meyakinkan. Yang ada gue merelakan diri digerayangi, kali, ye. *oke maap*

Gue belum sepenuhnya pulih dari kekagetan ketika pintu lift menutup, pencopet tampan itu tampak sedikit memberontak dengan wajah marah, tapi dia dipegang dengan erat oleh petugas keamanan (yang jugak ganteng. ADOH). Seketika, gue sadar, dan terjadi adegan keplak diri sendiri di dalam kepala, jangan pernah meninggalkan sikap waspada di Paris, karena bisa jadi manusia tampan atau cantik di sebelah elo adalah seorang pengutil atau pencopet. Waspada tak ada salahnya, kan?

Kesimpulan postingan ini: Paris, dengan segala keindahannya, termasuk manusia yang rupanya indah-indah, jangan membuat elo lengah. Tapi… jangan terlalu tegang juga. Ntar disangka cepirit di celana. Santai, tapi waspada. Gituh.

SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC

Kesimpulan lain: copet di kota ini ganteng-ganteng. Ih, ganteng-ganteng kok copet. Kalo gue sih, mendingan juga jadi model lalu sepikin cewek di twitter. #eaaa