SHARE

Beberapa waktu yang lalu, gue dan pacar pergi ke Lombok. Selain untuk jalan-jalan, kami berdua juga sekalian merayakan anniversary yang kedua. :”>  Kenapa Lombok?! Kenapa gak ke Bali? Kenapa gak ke Maldives? Atau ke Turki? Karena oh karena gue diracuni foto-foto Lombok yang beredar di timeline Twitter.  Dan karena juga, ke Maldives itu mahal, ke Bali udah sering. Kalo ke Turki, biarlah menjadi mimpi dulu. Atau ada yang mau bayarin gue ke Turki dengan akomodasi ala putri raja? :D *ditampol*

Sebelumnya, gue cuma tau Lombok = Gili Trawangan dan Gili Air. Sama sekali nggak ada bayangan bahwa Lombok menyimpan begitu banyak pantai-pantai yang luar biasa indahnya. Gue bahkan taunya Pantai Kuta adalah milik Bali. Dan ternyata, di Lombok juga ada Pantai Kuta, yang keindahannya jauh lebih bagus dari Pantai Kuta Bali.

Di bawah ini, ada foto-foto dari pantai-pantai keren di Lombok, yang bahkan belum gue jelajahi setengahnya. Dari Pantai Kuta, Mandalika, Tanjung Aan, Senggigi, Gili Trawangan, Gili Air, Malimbu, Pink Beach Tangsi, sampai ke Pink Beach Sebui yang tersembunyi dan nggak banyak yang tau.

Ada beberapa orang yang nanya: kalo ke Lombok pake tour guide apa nggak? Kalo belum pernah ke sana dan punya hobi nyasar, WAJIB PAKE. Lombok itu tempat wisatanya dari ujung ke ujung. Dari pantai sampai gunung, ada semua. Dan letaknya berjauhan. Jadi, pake guide aja. Berhubung gue buta soal Lombok dan emang ogah repot, gue kemarin nanya-nanya sama @momo_DM yang orang Lombok tentang tour guide. Dia lalu ngasih gue kontak Pak Azis, orang Lombok yang memang profesinya adalah guide. Dan rekomendasi @momo_DM emang keren!

Pak Azis ini ternyata orang perhotelan. Sebelum jadi tour guide Lombok, beliau kerja di kapal pesiar. Dan … udah keliling dunia. *minder*. Gue sempat nanya ‘Pak Azis udah keliling dunia, kenapa jadi tour guide?’ Beliau jawab ‘Selain faktor anak istri, Lombok itu indah.’ :)

Selama di Lombok, Pak Azis ini rajin sekali berbagi informasi tentang Lombok. Dari sejarahnya, sampai kebiasaan masyarakatnya. Banyak sekali detail tentang suku Sasak yang beliau bagi. Bahkan, sejarah suatu tempat wisata pun tak luput dia ceritakan. Very informative. Jadi, yang mau ke Lombok, pake jasa Pak Azis aja. Supir + guide + asli Lombok dan sangat ramah. CP: 081915972999. Silakan atur itinerary dan masalah harga dengan Pak Azis, ya. Orangnya fleksibel, kok. Mau ke mana aja di Lombok, pasti beliau mau mengantarkan. FYI, selama 3 hari berkelana (tsaaah… apa banget pilihan kata gue..) di Lombok, fee Pak Azis adalah 4 ratus ribu sehari. Selain menjadi guide, Pak Azis juga menjadi supir kami. 1,2 million for 3 full days is reallllllly cheap, I tell you. (btw, karena sangat sangat puas dengan pelayanan dan keramahan Pak Azis, gue ngasih beliau 1,5 juta. It was sooo worth it.)

Untuk itinerary, sebelum nyampe Lombok, gue udah ngelist duluan tempat mana aja yang mau gue kunjungi. Nah, karena gue di Lombok cuma 3 hari, maka gue memutuskan untuk ke:

Day 1: Nyampe airport Mataram, dijemput Pak Azis, langsung jalan ke Pantai Kuta dan Tanjung Aan. Dalam perjalanan ke Pantai Kuta, kami melewati desa Suku Sasak, yang namanya Desa Sade. Maka diputuskan untuk mampir sejenak di sini. Di desa Sade, gue bengong begitu tau bahwa lantai rumah-rumah di sini pake kotoran kerbau. Anehnya, lantai di rumah-rumah yang bentuknya unik ini nggak bau sama sekali.  Ini dia rumah adat Suku Sasak:
Dari kunjungan ke Desa Sade ini, gue jadi paham: kecintaan kepada adat dan budaya membuat kita lebih memahami dan mencintai alam sekitar. Seperti orang-orang di Desa Sade yang tak menggunakan listrik sama sekali, yang menggantungkan hidup dari hasil kain tenunan dan bermacam pernak-pernik unik yang mereka buat. Mereka bahkan tak menggunakan peralatan elektronik apapun. Everything here is by the nature. I was really impressed.

Selanjutnya, gue bengong ketika sampai di Pantai Kuta/Pantai Mandalika. Pasirnya yang seperti butiran merica, karang-karang yang dipahat alam dan ombak, warna laut yang hijau toska dan biru bening, Pulau (Gili) di seberang laut yang cantik, sampai ke langit yang biru bersih dihiasi sedikit awan putih dan embusan pelan angin laut membuat gue tersenyum dan mulai sibuk mengabadikan tempat ini. Indah adalah sebuah kata penghinaan untuk pantai secantik ini .^^

Pak Azis sempat bilang “Ini sih masih termasuk pantai yang cantiknya biasa aja. Nanti di Tanjung Aan akan lebih bagus.” Wah, ekspektasi gue langsung melambung tinggi banget mendengar ucapan Pak Azis. Dibandingkan dengan Pantai Kuta di Bali, Pantai Kuta Lombok jauh lebih cantik. Manusia yang berkeliaran pun tak banyak. Hari itu, gue hanya bertemu dengan beberapa wisatawan asing. Melihat pantai yang masih bersih ini, gue berharap dalam hati semoga keindahannya nggak dikotori tangan-tangan jail manusia yang suka sembarangan membuang sampah. Terutama dari wisatawan lokal yang suka buang puntung rokok, bungkus makanan, bekas botol minuman sembarangan. Pantai yang kotor itu nggak enak untuk diliat, tau!

Setelah kelar makan siang dengan menu khas Lombok yaitu plecing kangkung yang ternyata ada parutan kelapanya (endes, nek!) kita menuju Tanjung Aan yang hanya sekitar 15-20 menit perjalanan dari Pantai Kuta. Dan Pak Azis benar. Tanjung Aan jauh lebih megah keindahannya. Dan tentunya, gue lagi-lagi bengong. Kok bisa sih ada pantai sekeren ini yang masih jarang diketahui banyak orang? Naik ke tebing di pantai ini, keindahannya lebih spektakuler lagi. Barisan bukit, karang-karang, teluk kecil dengan air hijau muda, perahu yang tertambat di pinggiran serta siluet ibu-ibu berjilbab dan dua anaknya di puncak bukit membuat gue tersenyum sendiri. Ah, Lombok itu indah.

Dari Tanjung Aan, kami berusaha mengejar sunset di Senggigi. Apa daya, baru setengah jalan matahari sudah mulai terbenam. Bukan Pak Azis namanya kalau nggak punya akal. Kami dibawa ke Loang Baloq. Pantai berpasir hitam yang juga jadi tempat nongkrong sekaligus pacaran di Lombok. ^^ And out of my expectation, the sunset was so stunning! And this is the unedited version of the magic hour at Loang Baloq. Ihiy!

Day 2: Gili Day! Begitu sampai di Gili Air dan Gili Trawangan, gue baru sadar kenapa Lombok identik dengan kedua gili (pulau) kecil ini. They’re sooooo pretty! Personally, gue lebih suka Gili Air yang lebih kecil, lebih tenang dan lebih indah. Tentunya, Gili Trawangan lebih ramai dan lebih ‘happening’. Kabarnya, sering ada party seru di sini selepas senja. Jadi penasaran. Dan katanya di Gili Trawangan melihat sunset adalah salah satu pengalaman tak terlupakan karena breathtaking scenery nya. Tambah penasaran, soalnya gue nggak nginep di sana. Yang harus dicoba kalau main ke Gili Air: sewa sepeda keliling pulaunya. Ujung ke ujung, pemandangannya keren! Kalau di Gili Trawangan, karena pulaunya lebih besar, mendingan naik Cidomo atau andong untuk keliling pulau itu. Satu hal yang gue suka banget, di Gili Trawangan nggak ada kendaraan bermotor. Dilarang sama pemerintah setempat, katanya. Jadi, either naik sepeda, jalan kaki, atau naik cidomo.

Makanan di Gili Trawangan relatif mahal, dengan rasa yang biasa aja. Agak kecewa juga sih makan siang di sini. Gue udah berharap rasa makanannya akan sebanding dengan harganya. Eh, taunya biasa aja. Untung makan siangnya sambil menatap pemandangan indah. Baik pemandangan alam, maupun pemandangan bule-bule cakep nan sexy :D Oh, satu hal lagi yang harus dilakukan di sini: Makan gelato made in Gili Trawangan! Segar, yummy, dan lumayan murah. ^^

Lihatlah betapa beningnya perairan di Gili Trawangan:

Pak Azis menyarankan kami kembali ke pulau Lombok nggak lebih dari pukul empat sore, karena selepas itu, ombaknya akan makin besar. Daripada dihajar gelombang galak, kami menyetujui sarannya walaupun sedikit ngedumel karena belum puas. Well, next visit I’m so gonna spend the night here and partying all night long with all those sexy bules. *plak* *ditoyor pacar*

Untuk mengobati kekecewaan nggak menyaksikan sunset di Gili Trawangan, Pak Azis membawa kami berdua ke Malimbu, salah satu spot untuk menyaksikan sunset yang ciamik. (dan ini untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun gue memakai kata ‘ciamik’. ASTAGA GUE TUA!!) Ada dua bagian Malimbu. Malimbu dan Malimbu 2. Dan tentunya percayalah apa yang dikatakan Pak Azis, karena sunsetnya memang spektamazing! (baca: spektakuler plus amazing). Di seberang laut terlihat siluet Gunung Agung, dan di sekeliling kami ada banyak perbukitan serta laut yang terbentang luas. Pohon-pohon yang meranggas daunnya dan siluet pasangan yang pacaran sambil berpelukan menambah romantis senja itu. I was really satisfied. One of the best sunset view, ever!

Day 3. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 7 an (dilarang protes! Buat gue, pukul delapan pagi itu masih subuh, secara gue biasanya baru tidur jam segitu. :D) kami berangkat menuju PINK BEACH, BABY!! Dan FYI, ini bukan ke Pink Beach Pulau Komodo yang sudah tersohor. Little did I know, di Lombok juga ada Pink Beach. Namanya: Pantai Tangsi. I was told it’s gonna be a very bumpy and really far and uncomfortable ride. Sekitar 4 jam perjalanan dari hotel tempat gue nginep di Senggigi.

Pak Azis bilang, jarang ada orang yang mau ke Pantai Tangsi lantaran jalanannya yang memang nggak bersahabat. Gue sih memang udah ngincer pergi ke pantai ini, makanya gue nggak keberatan dengan jalanan yang sedikit ancur dan jauh. Toh pemandangan di kanan kiri juga bagus. Untuk ke Pink Beach Tangsi, disarankan membawa bekal, karena sesampainya di sana, nggak ada yang jualan makanan, dan rumah penduduk sangat jarang.

The long trip was paid off. Inilah puncak keindahan pantai di Lombok selama gue tiga hari di sana. Pantai Kuta, Tanjung Aan, Loang Baloq, Senggigi, Gili Air, Gili Trawangan, Malimbu, semuanya kalah cantik dengan Pantai Tangsi (dan Pantai Sebui). Gue bersyukur banget gue orangnya keras kepala yang ngotot mau ke sini walau perjalanannya jauh. Pantai Tangsi pasirnya memang pink! Well,  bukan pink gonjreng nan norak sih. Di sini pasirnya adalah pasir putih yang sudah bercampur dengan karang merah yang hancur. Kalau terkena air laut dan diterpa sinar matahari, warna pasirnya memang menjadi pink pucat. Cantik banget. Pemandangan di sekeliling pantai ini nggak kalah bagus. Naiklah ke tebing sebelah kanan pantai. Di sana, ada semacam padang rumput dan di ujung tebing, ada sebuah ‘gazebo’ yang bisa digunakan untuk makan siang sekaligus duduk-duduk (dan pacaran). Pemandangan dari tebing ini sulit sekali dilukiskan dengan kata-kata. Gue cuma bisa bergumam, ‘God is the greatest painter, indeed.’

Melihat ke bawah, karang-karang dan dasar lautnya kelihatan sangat jelas saking beningnya. Warna airnya, hijau tua. Makin ke tengah, warna airnya makin biru, tanpa gelombang sama sekali. Pulau-pulau kecil juga bertebaran di sekitar perairan Pantai Tangsi. Di sini kabarnya kita juga bisa mengunjungi Gua Jepang, sebuah gua yang dipergunakan oleh tentara Jepang untuk bersembunyi di masa perang dunia kedua. Whoa! Sayangnya, karena keterbatasan waktu, kami nggak sempat mengunjungi gua itu.

Kami kemudian memutuskan untuk mengelilingi perairan Pantai Tangsi. Menggunakan sebuah perahu kecil yang bisa disewa hanya dengan lima puluh ribu, mulailah kami menjelalah. Setelah mampir ke Gili Petelu yang juga pernah disinggahi bupati (makanya ada tangga yang dipahat menuju bukitnya), perjalanan dilanjutkan. Surprise yang sangat menyenangkan ketika pemilik perahu bilang mau mengajak kami ke sebuah hidden beach. Namanya, Pantai Sebui. Menurut Pak Pemilik Perahu, bahkan orang Lombok asli pun jarang yang tau tentang Pantai Sebui. Dan yang lebih keren, pasir di Sebui juga berwarna pink! Boy, I was in for a big treat! Yang lebih membanggakan, sepanjang 2012, baru gue dan pacar orang Jakarta yang main ke Sebui. Ihiy! Gue rada nggak percaya sama omongan Pak Pemilik Perahu. Makanya, gue lirik-lirik Pak Azis dan bertanya, Pak Azis tau dan pernah ke Pantai Sebui nggak, sih? Pak Azis menggeleng. Rupanya beliau juga belum tau tentang Pantai Sebui. Yak. Confirmed. Sekarang gue percaya, perkataan Pak Pemilik Perahu bawa gue adalah orang Jakarta pertama yang ke sini bukan sekedar bualan.

Menginjak Pantai Sebui, gue langsung lupa diri. Perairannya sangat tenang. Pasirnya lebih pink ketimbang Pantai Tangsi! Dan pulau kecil ini rupanya tak berpenghuni, yang artinya selain kami berempat, nggak ada lagi orang lain di situ. Gue tanpa buka baju lagi langsung nyebur di pinggiran pantai. Main air. Berenang-renang cantik. Guling-gulingan di pasir yang pink. It felt like i am the owner of this little heaven. And i really didn’t want to go home. :(

Kalau ada hari yang nyaris sempurna, mungkin itu adalah hari gue menginjakkan kaki ke pantai berpasir pink di Lombok. Satu hal lagi yang bisa gue coret dari bucket list gue. Kesempurnaan hari itu sedikit ternodai ketika gue menyadari: it was my last day in Lombok. *sigh*

Pukul empat sore, masih dengan baju dan celana basah dan penuh pasir, kami harus pergi dari salah satu pantai terindah di dunia ini, menuju bandara. Ah, rasanya berat meninggalkan Lombok dengan pantai-pantai indahnya. Gue bahkan belum mengunjungi Gunung Rinjani, belum main ke Pantai Selong Belanak, Pantai Mawun, Pantai Gerupuk, Pantai Tanjung Ringgit, Pantai Bangko Bangko, Pantai Segar, Gili Nangu, Air Terjun Sendang Gile, Pantai Mangsit, dan entah pantai apalagi yang cantik-cantik.

But hey, there will be next time. And I will definitely going back to Lombok again. :’)

See you again (hopefully) very soon, Lombok!

 

 

Di bawah ini ada beberapa foto hasil jepretan kamera hape waktu gue di Lombok. :)IMG_6520 IMG_6542 IMG_6559 IMG_6563 Lombok53 Tangsi IMG_6694 IMG_6735

 

Lombok2 Lombok9 Lombok3 Lombok4 Lombok5 Pose ganteng di Tanjung Aan Lombok13 - Gili Air Lombok18 - Gili Air Lombok15 - Gili Air Lombok22 - Malimbu Lombok27 TheRoad Lombok28 Malimbu Lombok25 Malimbu Lombok41 Malimbu Lombok43 TanjungAan Lombok46 Sebui Lombok35 Tangsi Lombok45 Sebui Lombok37 Sebui Lombok47 Sebui Lombok48 Tangsi Lombok52 Malimbu

Enjoy!

PS: Lombok is a place you have to visit before you die. If there’s a place called island of heaven, then it would be Lombok. ^^

SHARE
Previous articleYou and Me VS The World, No More.
Next articleFaith
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow