SHARE

Itu yang menjadi pertanyaanku bertahun-tahun, ketika hanya bisa scroll postingan stranger atau teman yang membagikan pengalaman mereka naik pesawat dan duduk di kursi business class sedangkan hamba masih harus mengedit buanyak sekali naskah, atau menulis naskah untuk tayang keesokan harinya. Sebentar, menulis naskah untuk tayang besok, tapi kok malah scroll postingan orang, sih? Heyyy~~, hamba juga butuh refreshing sejenak dari deadline yang melanda, wahai padukaaaaa!

Refreshing sekaligus khayal-khayal unyu gitu, membayangkan kursi yang superlega, superempuk, pramugari yang mengantarkan makanan tanpa henti dengan sajian makanan seperti di restoran mahal yang tampaknya enak tiada tara, boleh minta sparkling wine, boleh minta jus apel tiga liter kalo mau, tipinya geda, terus kalo mau tidur nggak perlu khawatir nyender ke bahu penumpang di sebelah secara itu kursi business class bisa jadi kasur… Aduh, mau dong, sekali-kali merasakan naik bitnit klas…

Lantas, apakah hamba merasa iri? OH TENTU SAJA! BOHONG BESAR KALAU BILANG NGGAK IRI LIAT POSTINGAN ORANG NAIK PESAWAT DUDUK DI BUSINESS CLASS DAN AKU NGGAK IRI HEY, HAMBA HANYA MANUSIA BIYASAK! (mz, mz, bentar, jangan ngegas, dong…)

Lalu, bertahun-tahun kemudian, mimpi itu menjadi nyata. Nggak cuma sekali, tetapi berulang kali. Ada yang dari media trip, ada juga beli business class dari kocek sendiri, hasil berburu tiket diskon ehe ehe ehe. Dan ternyata, memanglah benar bahwa pelayanan naik business class itu beda jauh dari kelas ekonomi #youdontsay.

Dari Qatar Airways ke Turkish ke SQ ke Garuda ke Cathay Pacific, udah pernah aku jajal semua business class-nya. Memang semenyenangkan itu. Mulai dari proses check-in yang teramat sangat mudah, nggak perlu antre lama-lama karena ada jalurnya sendiri, masuk pesawat duluan, jatah bagasi yang jauh lebih banyak ketimbang naik ekonomi.

Have you seen the viral fb post of a young american man who was just graduated from harvard? The one where he told us how he went extra miles to be where he is now? It's inspiring, isn't it? . Well, I don't have that kind of story because I didn't go to college. Why, you ask? Classic reason: money. Going to college was out of reach and out of the question. It's a daydream that will never be. . When my dad died, my mother had to work abroad. We were seriously poor. Our family was scattered. I had to live with my uncle. . I worked for my sis for 3 years. She had (and still has) warung kelontong. After that, with 10 mio, I started my own. I rented a place. I didn't have a bed, no tv, no cellphone. I slept on the cardboards and ate instant noodles with rice for months because I didn't want to use my warung's capital. . I woke up at 6 in the morning, and closed the store around midnight. I learned how to engage with ibu-ibu customers, listening to their gossips, watching sinetrons (with a brand new tv, i bought it and had to paid it off daily, it was IDR 11.000 per day, for 150 days) so I'd know what they're talking about and they'd keep buying stuff at my place. . When fasting month came, I'd make nastar and caastengel and whatnot because in the day time my warung was as quiet as a cemetery. The profit was good so I could afford a kasur palembang (you know, the very thin mattress sold by abang-abang keliling kampung). . Then from pirated VCD (and DVD) I learned English. I'd listened to a song and wrote down its lyrics. My 'holiday' was visiting a mall, and watching people and write about it. I'd go to internet cafe to talk to strangers because I had no friends… and to practice my english skill and learned how to write. . Life was tough. Really tough. But i refused to be just 'ngkoh tukang warung'. I knew I had to acquire skills because I bear no 'S.H' or 'S.E.' behind my name. . Today I could travel the world. My solo photography exhibition was held last year. Mr. President read my novel. I've seen aurora borealis. If I can do it, so can you. I mean it. . P.S: pardon my grammar 🙈 . #QatarAirways #goingplacestogether #aMrazingTrip

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

Lalu, pramugari yang hafal nama aku, kursi empuk yang menjelma menjadi flatbed, mau champagne tinggal minta, mau cokelat premium tinggal tunjuk, bahkan di A380 Qatar, ada highest bar in the sky. Jadi, ini semacam bar di angkasa yang boleh ditongkrongi penumpang business class dan first class. Mau minuman apa pun, sebanyak apa pun, ada dan boleh. Terserah aja. Suka-suka.

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

Untuk long haul flight, emang berasa banget sih enaknya naik business class. Toiletnya aja beda. Amenities merk premium semua. Di beberapa airlines, disediakan piyama (dan boleh kita bawa pulang!). Ketika mau tidur, pramugarinya dengan senang hati membantu kita untuk menyulap kursi menjadi kasur, lengkap dengan bantal dan selimut. Bantal kurang banyak? Ya tinggal minta lagi. Kelaperan tengah malam? Tinggal minta, langsung dikasih makanan yang kita mau (yang tentunya tersedia di flight itu, ya).

Waktu balik dari Madrid ke Jakarta, aku dikasih cake ulang tahun karena pas tanggal 5 Februari itu ulang tahunku, lalu diajak toast champagne dan dinyanyikan lagu ulang tahun oleh in flight manager dan sederet pramugari. Aku nggak akan pernah lupa pengalaman ini. Kali pertama merayakan ulang tahun di pesawat, dengan muka bantal karena dibangunkan dari tidur. Hahaha!

This is the mastermind. Masih sakit tetap aja lho bisa ngatur ‘pesta’ kejutan buat aku. Aslik, terharu banget. THANK YOU, ERZA!

Punya akun miles dari airlines bersangkutan? Aduh, nilai miles tiket business class berlipat-lipat dibanding ekonomi. Jadi, kalau aku ditanya, worth it nggak sih naik business class? Jawabanku tentu saja, luar biasa worth it! It elevates the flying experience by many, many levels. Jangan lupakan, ada buanyak sekali promo yang bisa kita cek.

Contohnya nih, Oman Air pernah ngasih promo terbang dari Jakarta ke Milan atau Zurich, naik business class tentunya, seharga 13 juta saja. PP! Mari ulang: Business Class, Jakarta – Milan atau Jakarta – Zurich, 13 juta, PP. Atau waktu aku ke Amsterdam naik Turkish, 18 juta saja pulang pergi. Harga normal berapa? Ya mulai dari 30an juta. Lumayan banget, kan? Belum lagi kalau kamu redeem miles.

Kalau lewat app travel gitu bisa apa nggak? Bisaaaa! Aku yakin kalian udah pada punya aplikasi Traveloka, kan? Jadi silakan cari penerbangan business class di app-nya. Kalau khawatir akan perubahan jadwal penerbangan kalian, tenang, di Traveloka bisa kok reschedule gitu. Kena biaya tambahan nggak? Tentu tidak. Free of charge! Coba liat screenshot ini kalau masih bingung (walau harusnya sih nggak, soalnya simple banget kan app Traveloka itu).

And that’s it, you’re done. Simple and easy. Ya kayak beli tiket biasa aja, hanya saja ini business class. Gituh…

Btw, ya, screenshot di atas memang jadwal aku ke Swiss. Pakai Swiss Air sih, bukan pakai Thai. Nggak sabar banget akutu jalan-jalan (dan mewakili Asia Tenggara dalam event Influencer Summit wagelaseh deg-degan parah!) Kalau kalian, bakalan jalan ke mana nih pake business class?

 

SHARE
Previous articleNorway In A Nutshell (Part 1)
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow