SHARE

Terminal 2, Bandara Soekarno-Hatta. Gue menyeret koper, hendak mencari taxi pulang. Namun langkah gue terhenti karena melihat seorang ibu-ibu yang berdiri dengan kepala tertunduk di sebelah vending machine. Suara isaknya pelan, namun menembus bisingnya percakapan orang-orang di bandara. Untuk sesaat, gue berperang dengan diri sendiri: menghampiri si ibu, atau tetap antre taxi? Kalau gue hampiri, gue harus ngomong apa?

Akhirnya, setelah beberapa saat berdialog dalam hati, gue menghampiri vending machine itu, memasukkan uang dan membeli sebotol air mineral.

“Minum dulu, Bu.”

Si Ibu kaget sekali dan buru-buru menghapus airmatanya, membenarkan letak kerudung ungunya, menyisipkan anak rambut yang jatuh di pipinya. Jejak airmata masih terlihat di pipinya dan di punggung tangannya. Gue jadi ngerasa gak enak udah ganggu acara nangis dia.

“Kalau Ibu sekarang nggak haus, nggak apa-apa. Tapi saya serius, air minum ini buat Ibu aja. Ibu bisa minum nanti kalau sudah haus. Saya masih ada sebotol lagi kok, di tas.”
Ragu-ragu, si Ibu Berkerudung Ungu mengambil botol air mineral dari tangan gue sambil menggumamkan sesuatu yang tak tertangkap telinga gue. Mata kami bertemu, dan gue bisa melihat jelas kerutan halus di bawah matanya yang sembab.
“Makasih, ya.”
Si Ibu Berkerudung Ungu udah lebih tenang sekarang. Yang jelas, dia sudah tak menangis lagi. Tugas gue selesai.
“Saya pamit ya, Bu.”
“Rumah kamu di mana?”
“Di daerah Pancoran. Ibu di..?”
“Rumah saya … baru saja terbang ke Sydney, Dek.”
“…”


“Itu sebabnya saya menangis tadi. Anak saya adalah rumah saya.”

Gue tak bisa merespon apapun. Tak juga bisa beranjak dari situ. Si Ibu menghela napas panjang, minum seteguk, menyeka bibirnya, dan bertanya kembali.
“Kamu mau buru-buru pulang?”
Gue menggeleng.
“Kalau saya minta ditemani sebentar, boleh?”
Gue mengangguk, dan tersenyum.
“Mau dengar cerita dari Ibu-ibu bawel?”
Kali ini gue tertawa kecil.
“Silakan, Bu. Saya akan seneng dengerin. Tapi … Ibu nggak keberatan cerita sama orang … asing?”
“Saya mau cerita, justru karena kamu orang asing.”

Ah. She’s right. Some times, many times, it’s easier to tell your story to a complete stranger. Orang yang nggak punya kepentingan apa-apa dalam hidup lo. A person you know nothing about.

And this woman tells me the story of her ‘home’.

“Saya single parent. Papanya anak laki-laki saya memilih perempuan lain ketika anak saya masih berusia dua tahun…”
Tak ada amarah di nada bicara si Ibu. Gue tetap diam, menunggunya selesai cerita. Sometimes, you just need to listen what other tells you, because that’s all they want: to be heard.
“Selama 18 tahun terakhir, anak saya, namanya Rico, adalah rumah saya. Saya membesarkan dia dengan semua yang saya punya. Saya mengajari dia semua yang saya tau. Saya membesarkan anak saya dengan kelembutan, dengan segala kekuatan saya. Dan sekarang… dia mendapatkan beasiswa di Sydney. Full scholarship. Meninggalkan saya sendiri…”

Suara si Ibu Berkerudung Ungu diselimuti nada bangga, sekaligus sedih. Kemudian dia buru-buru menghapus airmatanya, seolah takut gue lihat. Gue … gue bahkan nggak tau harus berbuat apa saat itu. Memeluknya? Menggenggam tangannya? Diam saja?

“Di depan anak saya, saya harus tetap ceria. Saya harus tertawa. Saya harus tetap semangat dan mendorongnya untuk pergi. Saya harus meyakinkan bahwa Rico, ibunya ini kuat, ibunya nggak akan kenapa-kenapa walau ditinggal.”

Ibu Berkerudung Ungu tertawa sambil menangis dan gue tak tahan lagi. I hugged her. I just hugged her, no words were spoken. Gue merasakan dua kehangatan. Kehangatan seorang ibu, dan kehangatan airmatanya yang menembus bagian bahu kaus gue.

“Makasih, Dek… Makasih…”
“Maaf kalau saya lancang ya, Bu…”
“Nggak. Nggak apa-apa. Beneran. Anak saya pernah bilang begini, ’Ibu ini selalu bikin aku bingung. Ibu itu lembut, tapi tegar banget. Kuat banget. Ibu nggak pernah nangis depan aku. Tapi aku tau malam-malam ibu suka tahajud sambil nangis.Tapi di depan aku, Ibu nggak pernah ngeluh. Kuatnya kelembutan Ibu membuat aku tambah bangga jadi anak Ibu.’ Setelah itu, saya ndak bisa bilang apa-apa lagi. Kami berpelukan saja.”
“Terus, Bu?”
“Takdir seorang perempuan yang menjadi seorang ibu, adalah menjadi orang yang penuh kelembutan, sekaligus kuat. Saya adalah seorang bapak yang kuat dan juga seorang Ibu yang lembut. Setelah Rico pergi, ndak ada lagi yang akan mendatangi saya malam-malam lalu merengek minta dibuatkan mie. Tak ada lagi yang akan diam-diam mengejutkan saya dengan setangkai anggrek putih dan sekotak martabak. Tapi ndak apa-apa… saya pasti kuat.”

Ibu Berkerudung Ungu membuka tasnya dan menarik keluar setangkai anggrek putih.
“Ini dari Rico tadi. Dia selalu tau ibunya cinta sekali sama anggrek putih… Bunga yang melambangkan kekuatan karena awet, sekaligus sangat lembut. Dua tahun itu ndak lama kan, Dek?”
Gue menggeleng. Ibu Berkerudung Ungu menyeka airmatanya lagi. Kali ini, dia benar-benar tersenyum.

“Saya pasti akan kuat. Saya pasti akan bisa menunggu Rico kembali. Makasih ya, kamu udah mau dengerin ocehan ibu yang ndak penting. Ibu jadi lumayan lega. Kamu … pasti udah nggak sabar ya, mau pulang? Ketemu orang-orang yang kamu sayang?”
“Hehe… nggak apa-apa, Bu. Makasih untuk ceritanya. Kuatnya kelembutan Ibu yang membuat Rico bisa dapat beasiswa, dan saya yakin ibu bangga banget, kan?

Kami berpelukan. Perpisahan dengan Ibu Berkerudung Ungu ini terasa manis. She is a mother and a strong woman. I know she’s gonna overcome everything and I know she will meet her son again and when she finally meets him, she will know it’s worth the wait.

Di dalam mobil menuju rumah, gue teringat sesuatu: gue nggak tau nama Ibu Berkerudung Ungu itu.