SHARE

Dulu gue selalu, SELALU, menganggap, there’s no such thing as unconditional love. Even a mother’s love is not an unconditional love. Yes, a mother will always love their children. Tetapi, kasih seorang ibu pun bersyarat. Kita diharapkan, diwajibkan, diperintahkan untuk melakukan ini, itu, ina, inu, which we obeyed – kadang suka rela, kadang terpaksa. – Ibu mau kita menjadi manusia yang lebih manusia. Manusia yang bisa dia banggakan. Yang bisa dia ceritakan ke kolega, ke teman, ke sanak saudara, bahwa anaknya bisa begini, berprestasi begitu, menghasilkan ini, ina, inu. Dan hal ini wajar saja. Ibu mana yang tak bangga jika anaknya berprestasi dan mengharumkan nama keluarga?

Ibu, akan menyayangi kita walau kita mengecewakan, walau kita menyebalkan, walau kita melanggar perintah dan permintaannya. Ibu tetap sayang walau kita lebih memilih menghabiskan waktu seharian untuk ngetwit, main sama teman, main game sampai lupa waktu lupa mandi, menonton film bareng teman atau malah pacaran ketimbang menghabiskan bersamanya. Ibu akan menelan kekecewaan, atau kadang menasihati, atau bahkan sedikit memaki. Despite all that, she will always love us. No matter what. Is this what they called an unconditional love? No. I don’t think so. Cinta tak bersyarat tak akan punya syarat apapun dari awal. Cinta tak bersyarat – unconditional love – menurut gue adalah cinta yang tak pernah menuntut sama sekali. Dalam bentuk apa pun. And it doesn’t exist. Unconditional love is just beyond any man’s reach. Or at least that’s what I used to think. Until my mother told me her love story…

This is a story about how my mother met my step father. And no, I will not spend eight seasons telling it. *lirik judes ke Ted Mosby*

Setelah papa meninggal, keluarga gue ceritanya kacau balau. Nggak ada kepala keluarga, nggak ada yang cari duit. Nah, Mama harus ambil alih tanggung jawab itu. Menghidupi kami semua. The five of us. Not an easy job. At all. Lalu, beberapa bulan kemudian datanglah tawaran dari saudara jauh dari pihak Mama: pekerjaan di Hong Kong. Mama ambil tawarannya itu. Tentunya, Mama nggak serta merta langsung mengambil tawaran pekerjaan di Hong Kong. Banyak yang beliau pertimbangkan. Sering gue lihat, beliau mondar-mandir ke telepon umum untuk menelepon saudara jauhnya, mendiskusikan pekerjaan tersebut. Diskusi tentang pekerjaan disambung dengan diskusi bagaimana nasib kami, anak-anaknya. Nggak mungkin kan, bawa lima orang anak ke Hong Kong? Semua risiko Mama pikirkan. Kerja di Pontianak, gajinya berapa? Hijrah ke Jakarta … ngapain? Mendingan ke Hong Kong sekalian. Ketahuan uangnya lebih banyak. Risiko terbesar dan terberat: Mama harus meninggalkan kami semua. Mama nggak akan bisa mengasuh, mengajar, menjaga, dan berada di dekat anak-anaknya. It was the hardest decision she had to make. I’m glad she took the risks.

Jadilah gue diasuh Om di Malang, adik gue ikut nenek dari pihak Mama di Jakarta. Dan adik bungsu gue, Oliver, dibawa Mama ke Hong Kong karena dia masih terlalu kecil untuk ditinggal. Kedua kakak gue juga harus terpisah satu sama lain. Terpisah dari kami. Kakak pertama tetap tinggal di Pontianak, sambil bekerja. Kakak kedua, disekolahkan di Jakarta.. Berpisah dengan Mama, dengan adik-adik gue, dengan kakak-kakak gue, dan harus tinggal dengan Om yang tadinya hanya setahun sekali bertemu sangatlah berat. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, gue merindukan mereka. Gue marah ke Mama. Gue marah ke Tuhan. Gue marah ke keadaan. Gue marah ke kemiskinan kami.  Gue marah ke diri gue sendiri.

Setelah itu, selama bertahun-tahun lamanya gue nggak ketemu Mama. Dia harus bekerja keras. Dia harus menabung. Harus hidup irit. Bahkan untuk sekadar menelepon ke Indonesia pun jarang beliau lakukan dengan pertimbangan: mendingan uangnya disimpan untuk pulang. It was so hard for all of us. And it was even harder for my mother. She had to live in a strange land. With no relatives. No friends. Just her and her youngest son.

Setelah beberapa tahun bekerja di HK, Mama ketemu seorang. Mereka lalu jadi dekat. Orang ini, – yang kemudian jadi papa tiri gue- baik banget. Sadar bahwa orang ini jatuh cinta kepadanya, Mama bilang terus terang sama orang ini, ‘i have no desire to love another man.’ to which he replied, ‘i will wait, until you are ready.’

Mama nggak mau jadi PHP, nggak berminat nyari suami, pikiran dia cuma kerja ngumpulin uang untuk anak-anaknya. But that man won’t back down. Bahkan setelah ditolak berkali-kali, orang ini dengan setia nungguin Mama pulang kerja, setiap hari. Walk her home, buy her dinner. Never once tried to touch her. Dia hanya ingin ngobrol sama Mama. And that’s all he did. Cuma ngobrol. Tentang cuaca. Tentang kehidupan. Tentang Oliver. Tentang apa saja. Kecuali tentang cinta.

Waktu berlalu. Orang ini masih saja tetap muncul di dekat tempat kerja Mama, setiap hari, pada waktu yang sama persis. Bahkan ketika Mama lembur, dia akan tetap menunggui Mama, walau pun sedang musim dingin. Mama pernah bertanya, ‘why do you do the things you do to me, almost everyday?’

Orang ini menjawab, ‘because I need to do that. I need to make sure that you are safe. So, I need to walk you home. I have to.’

‘Don’t you have other things to do?’

‘Other things can wait. You matter more.’

Mama nggak bisa ngomong apa-apa lagi.

*Sampai bagian ini, cerita Mama sudah hampir membuat gue berkaca-kaca*

Melihat orang ini makin serius, Mama agak luluh. But there is one big problem. Jadi, Mama ajak orang ini ketemuan. Sebelumnya, orang ini berkali-kali bilang ‘i will marry you. You’ll see.’ And my mom would said ‘No you won’t. Believe me.’ Begitu terus, berulang kali. Dan jawaban Mama selalu sama. Berkali-kali. Setelah ke sekian kalinya orang ini melamar Mama, di restoran kecil itu Mama bertanya,

‘why do you want to marry me?’

Orang itu jawab dengan serius, ‘because i want to take care of you. Because i see your son as my son too…’

Lalu hati perempuan mana yang tak akan luluh? Mama tentu saja terharu.

Lalu, mama menjatuhkan bom: ‘saya sudah disteril. Nggak bisa punya anak lagi. Masih mau nikah?’ Orang itu mengangguk. Tegas.Tanpa mengalihkan matanya dari wajah Mama. Di wajah orang ini sama sekali tak ada keraguan setelah Mama bilang dia tak bisa punya anak. My mom told me, as the man nodded with no doubt, she cried. That night, she said yes.

Mama masih penasaran, dan kembali bertanya, ‘Saya nggak bisa kasih kamu anak. Why do you still want to marry me?’
Jawaban orang itu pendek, dan sederhana, ‘kita udah punya anak. Your son.’
Sebelum Mama sempat menjawab, orang itu sudah berbicara lagi. ‘I want to marry you not because i want an offspring. But because i want to spend my life with you.’
Mom cried again. This time, she shed happy tears.
That man is not super rich nor super handsome. But he is so sincere and love my mother like he’s never loved anyone else. Setelah mereka menikah, adik gue, Oliver, diadopsi dengan resmi. Alasannya, supaya setelah papa tiri ‘pergi’, harta yang dia punya akan jatuh ke tangan Oliver. Papa tiri menyayangi Oliver selayaknya anaknya sendiri. Dia tak pernah sekali pun mengungkit bahwa adik gue bukan anak kandungnya. Si papa tiri ini nggak pernah anggap gue, kakak-kakak gue sebagai orang lain. Kami semua dianggap sebagai anak-anaknya sendiri.
Hobi Papa tiri gue: jalan kaki berdua Mama. Seperti yang selalu mereka lakukan saat papa pedekate ke Mama. Papa bilang ke Mama, ‘I will walk with you, beside you, until these legs give up. And that would be a long long time.’ Dan sampai sekarang, mereka berdua masih sangat hobi ke mana-mana jalan kaki. Dan setiap berjalan kaki bersama Mama, Papa akan menggandeng tangan Mama. Selalu. Di mana pun.
MomDadPVJ
MomDad

So, do i believe in unconditional love? Yes, i do. Is loving someone means you’re sacrificing? No. You do it willingly.

 

Oh oh. Sebagai penutup, tentunya nggak afdol kalo gue nggak ikutan mejeng di postingan ini. Here you go, foto gue dan Papa tiri, hampir 3 tahun yang lalu. :D :D

 

dad and me

 

Unconditional love. It does exist. :)

 

SHARE
Previous articleHappiness
Next articleUnrequited Love
I have a lot of stories to tell. That's why I write. That's how I become immortal. New book: #SomewhereOnlyWeKnow