SHARE

Iya, tau. Harusnya kemarin posting blog. Iya, tau. Harusnya pas Sabtu posting dua. Ternyata aku tak menepati janji. Cedih. Tapi gimana dong, aku kan pemalas. Masih bagus udah posting *loh kok nyolot* Maafkan! Ini posting lagi, kok.

Buat yang nanya, kenapa postingannya masih belanda lagi, belanda lagi? Karena oh karena, gue di Belanda 7 malam. Kenapa kok sampe 7 malam? Karena niat awalnya, 4 malam pertama di Belanda, 4 malam selanjutnya di Belgia. Eh, terjadinya di Brussels Lockdown sehingga gue rada parno dan memutuskan untuk selow dulu di Amsterdam. Jadinya, di Belgia cuma dua malam, deh. But hey, nggak nyesel sama sekali kok. Soalnya memang banyak banget yang bisa dieksplor dari negara kecil ini.

Salah satunya, Kinderdijk. Udah pernah ke sini? Apa baru denger? Yang baru tau ada tempat bernama ‘kinderdijk’, gak usah minder. Gue juga baru tau pas di Belanda. Setelah merencanakan akan ke negara mana saja, gue akan berhenti di situ. Paling bikin mental note mau ke lokasi mana aja, yang ikonik, tourist attraction. Udah. Gitu doang. Nah, di hari ketiga di Amsterdam, gue mulai iseng googling enaknya ke mana, sambil tanya-tanya di Twitter. Salah satu follower ngasih tau, ke Kinderdijk aja. Karena namanya asing, googling lah gue. Pas liat fotonya, WAH KOK BAGUS YAAAAA. Gue langsung cari info how to get there yang ternyata, yaelah, lo naik kereta aja. Gampang. Naik kereta apa? Dari Amsterdam Centraal, coba ke bagian informasi. Tanya di sana. Gue gak akan kasih tau di sini biar kalian nggak malu bertanya. *padahal alasan aslinya, gue lupa wkwk*

Amsterdam Kinderdijk 4

Amsterdam Kinderdijk 19So, Kinderdijk. Alasan utama gue pengin ke sini adalah karena pengin liat kayak apa sih, tempat yang dijadikan Unesco Heritage Site ini? Selain itu, gue pengin liat kincir angin khas Belanda juga, sih.

Setelah bayar tiket dan melihat jajaran kincir angin di kejauhan di kiri kanan, gue berjalan. Pelan. Nggak terburu-buru. Toh tak ada agenda ke mana-mana. Baru berjalan beberapa puluh meter, di sebelah kiri gue terlihat kincir angin yang bentuknya unyu. Beda dari yang lainnya. Gue selalu tertarik sama sesuatu yang ‘out of place’. Yang nggak biasa. Yang menonjol. Tapi bukan di tengah celana. Udah punya kalau itu. Jadi, gue melintasi rumput yang menjadi pembatas jalan aspal di kanan kiri. Awalnya gue agak ragu karena di tengah-tengah rumput kok kayaknya becek berlumpur gitu. Tapi gue meyakinkan diri. Yakali di Belanda ada got di tengah rumput gitu…

CEPROT. Sepatu boot kanan kejebur di tanah gembur. Gue panik dan berusaha loncat. Untung nggak jatuh dengan pantat nungging dan dua tangan melambai-lambai plus wajah menyapa rumput duluan. Bisa berubah jadi niggah sipit gue kalo wajah ketemu lumpur. Jadi posisi gue, tangan kanan terangkat tinggi-tinggi karena kamera ada di situ, tangan kiri melambai-lambai untuk menyeimbangkan badan, kaki kiri masih di rumput empuk, dan kaki kanan separuh boot njeprot di lumpur. Bagus banget. Keren. Hebat. Setengah memaki, gue berjalan lagi. Kali ini, gue memastikan untuk tetap berada di atas aspal. Well, at least for 20 minutes or so.

Amsterdam Kinderdijk 9

Dua puluh lima menit berikutnya, gue sudah menyusuri jalan tanah untuk mengamati deretan kincir angin dari dekat. Lumpur what? Udah lupa, tuh.

Amsterdam Kinderdijk 23

Rasanya seperti memasuki dunia yang sunyi ketika melangkah masuk ke Windmill Museum yang beneran berada di dalam windmill. Aroma masa lalu menyeruak dan menerbangkan gue kembali ke masa berpuluh, bahkan beratus tahun yang lalu. Seiring anak tangga yang gue pijak, gue bisa melihat bagaimana kincir angin berputar, tempat tidur mungil yang digunakan penjaga kincir beserta keluarganya. Walau kecil, tampaknya nyaman bergelung ramai-ramai di musim dingin. Dapur yang juga kecil dengan langit-langit rendah. Gue membayangkan air yang dijerang, sup yang meletup di panci, pie labu yang menguarkan aroma sedap. Di seberang dapur, ada sebuah lemari yang sudah tua, tempat menaruh piring, garpu, pisau. Alat memasak yang setengah berkarat. Oven tua yang dulunya rajin mengepulkan wangi roti yang dipanggang. Dinding batu dingin yang menjadi saksi bagaimana penjaga windmill bercengkerama bersama keluarganya. Kini, atas nama renovasi dan supaya terlihat lebih ramah, ia dicat putih cerah dengan bagian bawah sewarna bata. Lalu, ada lemari baju. Mungkin dulu lemari baju ini berisi topi kain yang dipakai istri penjaga kincir. Celana bahan kasar yang digunakan sehari-hari, dipakai ke ladang, naik perahu keliling kanal, bretel/suspender yang setia menggantikan fungsi ikat pinggang. Mungkin dulu lemari ini juga berjejal selimut perca nan tebal. Yang walau tua, tetap menghangatkan malam-malam bersalju.
DSCF5949
DSCF5950
DSCF5951
DSCF5952
DSCF5956
DSCF5957

Sepertinya, gue terdiam di pojok ruang bundar ini lebih dari 15 menit, membayangkan kehidupan orang yang tak gue kenal. Meraba jejak-jejak masa lalu yang mereka tinggalkan dalam benda-benda berkarat, berbau besi dan apak, dan dinding batu dingin abu kehijauan. Sudahkah gue ceritakan, bahwa gue sekarang sangat menyenangi museum?

Setelah kunjungan ke museum ini, gue tak berniat lagi untuk memotret membabi buta. Gue memilih ke museum satunya, yang berbentuk windmill tapi aneh. Kalau windmill standar bentuknya panjang lonjong dan besar (hayo, jangan ngeres…), windmil yang ini bagian depannya berbentuk rada jajaran genjang. Dengan bangunan dasar yang juga rada kotak, windmill ini tampil aneh sendiri. Kayak robot berwajah baling-baling.

Amsterdam Kinderdijk 20

Amsterdam Kinderdijk 14

Amsterdam Kinderdijk 5

Amsterdam Kinderdijk 10Di belakang windmill aneh ini, ada spot enak buat merenung. Nangkringlah gue di situ selama hampir dua jam. Waktu kosong ini gue manfaatkan untuk melakukan satu hal keren: nggak ngapa-ngapain selain mengamati pengunjung yang bisa dihitung sebelah jari.

Amsterdam Kinderdijk 3jpg

Ada satu turis yang gue asumsikan: orang cina, karena… well, sipit dan berkulit kuning langsat kayak gue. Dia di Kinderdijk naik sepeda. Ketika melintasi jembatan menuju Windmill Museum, kami berpapasan. Melihat gue pegang kamera, dia menegur. Suaranya hangat, aksen bahasa inggrisnya sama sekali nggak ‘berbau’ cina. Lebih ke british english malah.

“Hi, could you take my picture, please?”
tanyanya sambil mengulurkan iphone 6-nya.
Gue mengambil handphonenya, lalu menatapnya dan bercanda, “you’re not afraid i’m gonna runaway with your phone?”
“You’re on foot, i’m with bike. so… no. I trust you. haha!”
“Good point!”

Kami sama-sama tertawa. Gue mundur beberapa langkah, mengkomposisi, dan motret sekali. Karena nggak puas, gue menyuruhnya turun dari sepeda, menuntun si sepeda ke arah gue, dan mengambil beberapa foto lagi. Dia mengamati hasil foto, menatap gue, mengamati fotonya lagi, menatap gue lagi.

“Wow… These are… very good. You are good. Are you a photographer?”
“Not quite there yet. But yeah, I’d love to be one.”
“Thanks, man! Good eyes!”

Gue nyengir, dan berjalan ke arah windmill aneh. Dan sekarang, setelah amprokan di jembatan putih menuju Windmill Museum, kami kembali bengong di belakang windmill aneh. Menatap ke seberang kanal, memerhatikan orang yang lewat berjalan kaki, bebek yang berenang dalam diam, angsa yang sesekali meleter, dan pengendara sepeda yang lewat sesekali.

“Where are you from?” gue mencoba membuka percakapan setelah sama-sama diam selama beberapa belas menit.
“China.” TUH KAN GUE BENER. DOI TURIS CINA! BLELELELELE.
“For a Chinese, your English is excellent.”
“I have to because I study in London.”

Kami tertawa lagi. Nggak tau apa yang lucu. Yang namanya ketawa, nggak harus karena ada yang lucu, bukan? Melihat dia mengambil handphonenya, gue berinisiatif untuk memotretnya dengan latar kanal dan kincir angin.

“Let me take your pictures.”
“Mmm… I’m okay…”
“Oh, c’mon. You think I didn’t see you take selfies with your camera? While it’s kinda cool, it’s also a bit… sad.”
Sialan. Ketahuan deh udah selfie nggak penting tadi. Setengah malu setengah mupeng karena background yang bagus, gue menyerahkan kamera, sambil ngasih tau harus pencet yang mana.
Dua kali jepret, gue harus mengakui, difoto itu hasilnya lebih oke ketimbang selfie sendiri. #youdontsay

Amsterdam Kinderdijk 18

Setelah hening beberapa lama, dia pamitan.
“Hey, thanks for the photo. Gotta go. By the way, I am serious. Your eyes are really good. I know you’ll be a great photographer someday.”
“Thanks! Really appreciate it. I wish you all the fun with your study!”
“Yea, right. I’d rather backpacking around the world. But hey… London’s not so bad. Take care!”
“Bye!”

Kami tak berkenalan. Tak saling tau nama. Mungkin kalau bertemu lagi, gue nggak akan mengenali wajahnya. But it’s okay. Pujian ‘good eyes’nya yang membuat gue geer, akan selalu gue ingat.

Amsterdam Kinderdijk 17

Adakalanya, ketika gue kumat, gue bisa diam berlama-lama di satu tempat hanya untuk memotret sekali. Di bayangan gue, kanal, rumput kering, langit biru berawan, sebatang pohon dan kincir angin akan membentuk komposisi yang lucu banget, kalau setelah pohon dan kincir ada orang yang lewat naik sepeda. Momen ini tergambar jelas dan sedemikian jernih di kepala gue. Namun, tak ada sepeda yang lewat. Sekalinya ada, gue sedang bengong sehingga telat mengangkat kamera. Setelah bersabar hampir setengah jam, gue mendapatkan juga shot yang gue mau. I know, I am weird. Dan untuk seorang Alex yang supertaksabaran, menunggu hampir setengah jam untuk mendapatkan satu foto adalah prestasi besar. Idealnya, orang yang naik sepeda melewati kincir dan pohon memakai coat merah. Tentunya gue tak berani memaksakan keberuntungan gue. Udah bagus ada yang naik sepeda dan bisa gue potret.

Ada kesenangan yang aneh ketika berhasil mendapatkan foto sesuai bayangan. Saking senangnya, selama beberapa minggu, gue menyimpan foto itu. Gue lihat berulang-ulang. Berkali-kali. Setiap kali dengan senyum tersungging. It’s the sense of scale that makes this photo special. Dan tentunya, kesabaran yang mendadak muncul.

Sisa hari gue habiskan dengan menjelajahi area luas Kinderdijk, berkeliling ke semua, 19 kincir angin. Gue bersyukur tak banyak turis yang tumpah ruah di tempat tenang nan damai ini. Penduduk lokal dengan anjingnya, ibu-ibu dan bapak-bapak berwajah ramah, beberapa orang Kanada yang berpapasan dengan gue lalu salah satunya menanyakan bagaimana cara mengoperasikan DSLR Canon yang baru ia pinjam dari temannya (gue berusaha sebisa mungkin memberitahu settingan kamera walau gue nggak ngerti pake Canon gimana namun anehnya dia happy banget karena berhasil motret. Rupanya, selama tiga jam terakhir, dia nggak berhasil memotret pake DSLR canggih itu. :D)

Capek ngider, gue memutuskan untuk duduk-duduk saja. Ngapain? Ya bengong, lah. Ngapain lagi coba. Enak tau, bengong dengan pemandangan kayak gini…

Amsterdam Kinderdijk 21
Amsterdam Kinderdijk 16
Amsterdam Kinderdijk 13
Amsterdam Kinderdijk 12
Amsterdam Kinderdijk 11
Amsterdam Kinderdijk 2

Baru sorenya gue bertemu dengan orang yang memakai coat merah. Ibu-ibu yang tampaknya sudah berusia di atas lima puluh tahun lewat bertepatan dengan sunset. Siang yang cerah berganti awan yang menutup matahari, menyisakan langit semi kelabu. Namun, sorenya angin berembus. Matahari dan langit biru kembali terlihat, berdansa bersama awan yang berarak. Hasilya, secercah semburat sunset merah, pohon, jembatan, kincir angin, dan ibu yang mengenakan coat merah, terekam sempurna di lensa.

Amsterdam Kinderdijk 1
Amsterdam Kinderdijk 15
Amsterdam Kinderdijk 8
Rupanya, si Ibu Bercoat Merah melihat gue memotretnya dari kejauhan. Ia melambai. Tanpa ragu, gue mendekat.
“May I see the picture?”
Gue sedikit ragu. I really like the photo. What if she didn’t feel happy and asked me to delete it? But I showed the photos to her anyway. She didn’t say anything for a few minutes.
“if you want, I can send the photo to you. Just give me your email.” Gue berusaha mencairkan suasana yang rasanya agak canggung. Ibu Bercoat Merah mengalihkan mata dari kamera, dan bertemu dengan mata gue.
“Maybe I’ll see this photo again someday, hanging in your exhibition display.”
“Excuse me?” Gue bingung-bingung sedap. Nggak ngerti dia memuji atau berniat mencaci.
Dia tersenyum hangat, mengembalikan kamera gue.
“Do you travel a lot?” tanyanya, tanpa menjelaskan maksud ucapannya tadi.
“Yes, I think so. What about you?”
“Oh, dear. Yes. I couldn’t even remember how many countries I’ve visited.”
“Wow… And… are you traveling alone?”
“Lately, yes. Few years ago, with my husband.”
“Where is he now?”
Seketika itu juga, gue menyesal. Tatapan matanya sudah memberikan jawaban: sang suami telah tiada. Ada satu duka yang terapung di bening matanya. Mata yang dikelilingi kerutan pengalaman. Mata yang memancarkan kehangatan, kecerdasan, dan rasa sepi.
“I’m very sorry. I shouldn’t have asked.”
“No, no, no. Don’t be sorry. Death can be beautiful. My husband is at a much better place now. And I have with me so many beautiful memories of us. So don’t you feel sorry or pity me.”
Gue mengangguk. Kami berjalan beriringan, menuju pintu keluar karena hari sudah mulai gelap. Bulan menggantung di langit yang sudah berubah dari biru pupus ke ungu gelap. Sisa cahaya terakhir matahari di cakrawala tinggal menghitung menit, setelah itu ia akan menyapa belahan bumi lain.
“Why do you travel?” tanyanya pelan.
“Uhm… why…. not?” Jujur aja, gue nggak siap dengan pertanyaan ini.
Dia tergelak sedikit.
“I like your answer. Why traveling? Yes. Why not?”
“The world is too big. Ans I want to see it as much as possible. What about you? Why do you travel?”
“Because every night I want to tell stories to my husband. About my day. My journey.”
Dia mengenakan sarung tangan. Angin mulai berembus kencang. Rasanya, temperatur sudah terjun beberapa derajat. Berbekal dua lapis kaus thermal, penutup telinga, shawl, kaus kaki wol, sarung tangan dan jaket penahan angin, gue tetap hangat. Percakapan kami, dua orang asing yang tak saling tau nama, membuat gue merasa tambah hangat.
“We didn’t travel enough when we were young. We were too busy with work. Raising children. Maybe a month in Italy or France or Switzerland every year. We were saving money to travel together. It went quite well, until he’s gone. I didn’t stop. He wouldn’t want me to stop. And my children are doing well on their own, I have nothing left to do but to see the world. And oh, boy… what a sight.”
“What kind of stories you tell to your husband?”
Seulas senyum menghiasi wajahnya. Kami sudah hampir mencapai pintu keluar. Jalan besar sudah terlihat. Deretan pohon serupa jemari kurus berbonggol yang bergoyang perlahan, mengikuti irama angin malam.
“Maybe tonight I will tell a story about a young Asian man who has good eyes in photography.”
Di antara hembusan angin dingin, gue bisa merasakan pipi gue perlahan memanas.
“Don’t stop roaming the world, you are not made to stay where you are for the rest of your life.” Itu kalimat terakhirnya sebelum kami berpisah. Tak ada jabat tangan. Tak ada acara saling berkenalan. Namun gue yakin, dia akan mengingat gue sebagaimana gue akan selalu mengingatnya sebagai perempuan luar biasa yang memandang dunia dengan cara luar biasa. Kalimat terakhirnya, akan selalu gue ingat. Sampai kapan pun.

Amsterdam Kinderdijk 7