SHARE

Seharusnya gue melanjutkan cerita gue tentang Brussels beberapa hari yang lalu. Dan sebenarnya, postingan yang ini: UDAH BACA? menjadi bagian integral dari #26DaysinEurope. Namun, karena respons yang gue terima over whelming banget, gue memutuskan untuk memisahkan postingan itu menjadi satu tulisan tersendiri. Kemudian, gue harus berangkat ke Cyprus, dan terbengkalailah proyek 26 Days in Europe ini. Muuph, ea.

But seriously, baca respons dan email yang masuk bertubi-tubi ternyata draining banget. Ada beberapa yang gue balas, tapi ada juga yang hanya gue baca karena udah nggak sanggup balas. Seringkali, gue malah nggak tau harus membalas apa. Segala kata-kata penghiburan menguap sia-sia karena kesannya seperti basa-basi semata. Tapi beneran, gue baca semua curhat kalian. Please stay strong.

Jadi, kenapa harus ada topik yang depresif banget? Karena hidup memang nggak selalu berisi senyum, tawa dan bahagia. People could get hurt, they could be in pain, being in the crowd but feel utterly lonely. And that happens a lot. Even in Belgium.

Pagi itu, gue memutuskan berjalan sendiri, untuk melihat suasana pagi di Brussels. Padahal, malam sebelumnya gue baru balik ke hotel selepas tengah malam. Ngapain aja? Cuma nangkring di seputaran Grand Place aja, sih. Soalnya rame, ada pohon natal gede dan pertunjukan cahaya diiringi musik di central square Brussels ini. Bangunan-bangunan di central square memang menakjubkan banget. Dari City Town Hall, The Breadhouse yang berisi The Museum of The City of Brussels, sampai Guildhalls dan cafe-cafe. Bisa dibilang, central square Brussels yang jadi UNESCO World Heritage adalah salah satu central square tercantik di Eropa. Makanya gue betah banget nongkrong di sini sambil ngeliatin orang.

Kayak apa sih, bentuknya? Here goes. Awas ngiler. Btw, fotonya cuma gue resize, nggak diedit sama sekali. Kenapa? Karena saya sedang malas *digetok*

Kebayang, nggak, lampu di bunderan ini ditimpali dengan musik klasik yang megah, sementara kepala ratusan, ribuan orang mendongak menyaksikan permainan cahaya dari gedung ke gedung? Gue ikut mendongak dan berdecak kagum. Kamera udah gue setting untuk mengambil foto dalam interval waktu tertentu supaya gue nggak keganggu dalam menyaksikan permainan cahaya dan musik dan manusia yang berseliweran. It’s one of the nights I will always remember.

Gue pengin bilang gini: nggak apa-apa kok, main ke main tourist attraction. Nggak masalah menjadi mainstream. Toh apa yang kita alami nggak akan seratus persen sama dengan apa yang orang lain alami. Nggak usah takut dicap norak atau alay atau mainstream whatever. You deserve it. It’s your money you spend, not theirs.

Now let’s go back to the morning after, the depressive part. Setelah keluar dari lobby Novotel Grand Place, gue berjalan lurus saja. Tanpa ada tujuan tertentu. First stop: Mon Des Arts. Walaupun malam sebelumnya sudah maen ke sini, gue tetap penasaran, seperti apa rupa Mon Des Arts di pagi hari. Ternyata memang sangat berbeda!
Belgium - Brussels

Belgium - Brussels

Tuh, beda banget, kan? Itu sebabnya gue nggak suka main ke satu tempat cuma beberapa menit, terus kabur ke tempat lain. Gue berusaha kembali ke tempat yang sama beberapa kali, untuk menyerap dan mengamati perbedaan suasananya. Eiffel di malam hari dan di siang hari dan di pagi hari, atmosfirnya beda banget, lho. Sama seperti tempat-tempat lain.

Dari Mon Des Arts, gue kelaperan, dan mulai craving hot chocolate. Sialnya, saat itu baru pukul 9 lewat, dan hari minggu pula. Toko yang jualan cokelat enak belum ada yang buka. Gue baru nemu satu toko yang buka selepas pukul 10 pagi. Ceritanya, ada di postingan 26 Days in Europe sebelum ini, tentang gadis penjual cokelat yang grumpy. Silakan diubek blog gue.

Kelar jajan cokelat dan frites dengan segabrek mayo, gue jajan hot chocolate. Niatnya, minum hot chocolate-nya di kamar aja. Maka gue berjalan kembali ke hotel. Namun langkah gue otomatis terhenti.
The Old Man and The Book

The Old Man and The Book

Bapak tua ini membaca buku tanpa peduli keadaan di sekitarnya. Ia tenggelam di dunia baru yang dibentuk oleh imajinasi yang dipandu oleh kalimat-kalimat di bukunya. Gue memutuskan duduk di bangku yang sama, sambil minum hot chocolate. Berulang kali, si Bapak Janggut menghela napas panjang. Tak lama kemudian, dia menutup buku dan mengusap wajahnya, berulang kali. Gue memberanikan diri untuk bertanya.

“Sir… are you okay?”

Dia menoleh dengan cepat. Menatap gue dengan tatapan yang amat sangat terkejut. Gue deg-degan banget, takut ditampol mendadak. Abisnya si bapak ini mukanya rada serem. Mana tau dia menderita mental yang nggak stabil dan memutuskan wajah gue terlalu ofensif jadi harus ditampol?

Setelah dia mendelik-delik ke gue, gue memutuskan untuk diam sambil minum hot chocolate. Eh, doi nunjuk cup cokelat gue. Bingunglah awak.

“Uhm… you want this?”
Dia mengangguk. Tanpa ragu, gue mengulurkan cup chocolate yang langsung dia sambar dan dihabiskan dalam satu teguk. Padahal ya, isinya masih penuh dan panas banget. Yawla… aus amat, Pak…
“Do you want more?”
“No.”
Gue diam. Dia diam memandangi cup putih yang kini telah kosong. Saat gue mau bangkit dan berjalan menuju hotel yang berada tepat di seberang taman kecil yang sedang beralih fungsi menjadi Christmas market, si bapak janggut menyapa.
“Thank you. Where are you from?”
Gue duduk kembali, dan tersenyum lebar.
“Indonesia. And you?”
“Right now? Belgian.”
“And before that…?” Alis gue mengernyit, agak heran mendengar penuturannya. Dengan suara sengau dan parau, bapak berjanggut menjawab.
“I was a british.”
“Was?”
“I’ve lived here for more than thirty years. So now … I am a Belgian….”
“Ah… That’s why your English is very good…”
Untuk pertama kalinya, bapak ini nyengir. Memperlihatkan sederet gigi putih berkilau.

Gue kembali terdiam. Bingung mau ajak ngobrol apa. Sebenarnya, gue kepengin tanya, kenapa dia duduk di situ pagi-pagi, membaca buku, bawa ransel biru besar yang tampaknya berisi semua harta bendanya. But I had a feeling he wouldn’t be too keen on answering those questions. So, I just sat there quietly.

“Do you have any regrets in your life?”
“Excuse me?”
Oh, I heard him alright. I was just not ready to answer because he shot the question out of the blue and I was taken aback.
“What is the biggest regret in your life?”
“Uh… I guess… Uhm… Oh, I know. I will never have the chance to watch Michael Jackson’s concert!”
Lamat-lamat, bapak berjanggut tersenyum. Entah kenapa, gue merasa dia bertambah sedih.
“Good answer.” Dia bangkit dan membuang cup hot chocolate ke tempat sampah, lalu kembali duduk di sebelah gue, menengadah menatap matahari. Pagi itu, cuaca sedang bersahabat. 10 derajat dengan matahari dan langit biru dan tanpa angin yang biasanya menusuk-nusuk kulit. Gue memberanikan diri bertanya kembali.

“What about you, sir? what is your biggest regret in life?”
“To watch my fucking life passing me by.”
I could sense the bitterness in his tone, in his deep voice. Dia berbicara masih sambil menengadah.
“I could’ve been a great person. I could’ve travelled the world. But I didn’t.”
“Why?”
“Because I wanted to kill myself. I still do.”
Dan gue benar-benar tak bisa berbicara apa-apa. Kami dia beberapa menit. Waktu seperti merenggang, melamban, menyiksa. Rasanya awkward sekali ketika ada orang asing yang bilang mau bunuh diri. Dan saat itu, gue tertampar keras, menyadari gue pernah berniat mengakhiri hidup juga. I could totally relate to this man.
“You are the first person in years who asked me if i were okay. Thank you.”
“The truth is, I was afraid to start the conversation.”
“Because of the way I look?”
“If I answer yes, would you be offended?”
“I’m surprised you are not offended by the way I look! Look at me. A minger knobhead! Even the next homeless lad looks better!”

Lalu kami berdua tertawa. Gue tertawa gugup, dia benar-benar tertawa atas hinaan ke dirinya sendiri.
“You know… I have nothing else to do. So if you want to share your story to a stranger…”
“My story is even more tragic than some bloody soap opera.”
“I’m all ears for your… uhm… soap opera.”
Dia memejamkan mata sejenak. Lalu nyengir. Entah kenapa, melihat orang yang lagi depresi nyengir lebar membuat hati gue tambah teriris.
“The very extremely short version … I lost my job and when I got home my wife was shagging another wanker. That bloody cunt…”
Dia menghela napas, gue bengong di tempat.
“So I fucking left the house. Of course after I beat that abominable wanker to pulp while my ex wife, the cunt, screaming. She’s lucky my principle is never to hit a fucking female. Sometimes I regret why I didn’t do that.”
“No, you don’t.”
“Yea you’re right. I don’t. Listen. Never hit a woman no matter how cunt she becomes. You hear me, boy?”
“Why, of course, sir…”
“So… I lost everything and somehow ended up in this boring country. Pennyless. Worthless. A big pile of shite. I was depressed. Fucked up. I am still depressed. So, tell me. Do you think I should fucking kill myself?”
“If you really wanted to, you would’ve done it.”
Meledaklah tawanya. Kencang sekali. Beberapa orang menoleh dengan wajah masam, merasa terganggu. Pak Janggut tak peduli.
“I like you.”
“Thank you?”
“Yeah. I think I’ll live this fucking boring life until the fucking god’s decided enough is enough and end my fucking misery.”

I secretly counted, how many time he has said the f word. British do swear a lot, don’t they?

Dia mengangkat bukunya.
“It’s been a long time I haven’t laughed like that. Thank you, lad. Now sod off. I want to finish this boring book.”

Buset, dah. Abis curhat ngusir. Namun gue nggak merasa tersinggung atau marah. Diam-diam, gue berharap ada sedikit raga lega di diri pak janggut. Katanya kan, kalau kita menceritakan beban hidup kita ke orang lain, walau tak mendapat respons, kita akan merasa lebih lega.

Gue balik ke hotel.

“Hey!”
“Yes?”
Matanya berbinar saat dia menatap gue.
“Thank you. Really.”
Gue mengangguk singkat, dan berjalan meninggalkannya.

Sometimes, people just need to be heard. They don’t want a judge, they need people to sit there, and listen.