SHARE

Setelah timeline mendadak gloomy semalam, gue merasa perlu menuliskan ini ke dalam bentuk blog. Biar kalau mau baca ulang, tinggal ke sini, nggak perlu obrak-abrik tweet gue yang bejibun.

Jadi, semalam gue udah kepengin update blog yang #26DaysinEurope. Masih cerita tentang Brussels. Untuk membangkitkan mood menulis, gue ngetweet pancingan ->

When people told you that s/he wanted to commit suicide, what would you do?

Twit ini rupanya mendapatkan beragam reaksi. Ada yang positif, dan pastinya ada aja manusia yang negatif. Tak apa. Banyak yang nggak ngerti lantas langsung ngejudge. Itu natural, kok. Kan, kita penginnya dianggap dan terlihat lebih pintar dari orang lain. Terus, gue membuka sedikit tweet yang tadi. Gue jelaskan. Ini dia:

This person is a stranger. He asked for my opinion because he thought his life was not worth living anymore. And I was unable to say a single word.

Nah, ini topik yang mau gue angkat di postingan Brussels. Tapi, karena terlalu heboh tanggapan di tab mention, gue memutuskan untuk membahas topik ini saja, minus travelingnya.
Akhirnya gue bercerita. Cerita yang selama ini gue simpan sendiri, karena toh udah berlalu dan nggak perlu diungkit lagi. Alasan gue bahas dan gue keluarkan, karena ada banyak sekali yang bernasib sama.
Ada beberapa yang gue RT.

Di bawah ini, adalah RT-an dan lanjutan tweet gue dan ada yang gue edit plus tambah-tambahin biar layak menjadi blog.

Pernah berpikir untuk mengakhiri hidup nggak?

Why do people wanted to kill themselves?

One of the reasons is losing hope, I think. What is life without hope?

Ada juga yang pengin bunuh diri karena bosan sama hidup yang gitu-gitu aja. You know, perasaan kayak ngambang. Kayak hidup tuh diabisin buat napas makan tidur berak doang. Hidup yang stagnan dan gak guna.

Gue pernah mikir pengin bunuh diri. dua kali.

Pertama waktu smp, dalam perjalanan menuju pontianak naik kapal pelni dari jakarta.

I was only 12, i think.

Ketika dipaksa dewasa sebelum waktunya, dikasih tanggung jawab besar dan tekanan dari segala arah dan elo merasa nggak siap, itu depresif.

Waktu kecil, gue selalu ngerasa sebagai outsider. Nggak Sepenuhnya diterima di keluarga. Merasa nobody understand me. Merasa asing.

Kemudian papa meninggal. keluarga berantakan. si lexy kecil yang haus perhatian tambah terpinggirkan, dan harus pindah ke Malang.

Waktu di dek kapal malam-malam, gue mikir gini:

Kalau gue loncat ke laut lalu dimakan hiu, nggak akan ada yang kehilangan juga.

It’s the sadness and loneliness so thick that almost drowned me and made me wanted to end my life.

Alasannya

Gue nggak bisa berenang, terus lupa pake jaket, ngerasa dingin, masuk ke dalam, terus ketiduran.

Malesin banget ya, alasannya? Well… i was 12 and labil.

Kali kedua, ketika lulus SMU dan ikut kakak lalu buka toko sendiri. Gue bosan bosan bosan bosan.

Bosan karena gue tau tempat gue di situ.
Bosan karena gue nggak tau harus ngapain.
Bosan karena itu lagi itu lagi yang gue hadapi.

The feeling that you don’t belong anywhere. the feeling that you’re incapable of doing something good. and you’re bored.

Jadi gue kayak zombie. bangun – buka pintu toko – jualan – sore tutup pintu toko – ulang. setiap hari.

Ketawa sih sama emak-emak rumpi, tapi ketawa karena mereka ketawa. Ngobrol sih, tapi ya gue merasa bosan sama rumpian mereka.

I was bored, seriously bored, because i felt i didn’t have purpose in life. pinter kagak kuliah kagak punya duit kagak punya skill kagak.

Gue bosan luar biasa. sumpah. bosan dibanding-bandingin sama orang lain. bosan dihina. bosan sama semuamuamuanya.

Karena superbosan itu, gue jadi nggak bisa marah nggak bisa sebal nggak bisa sedih nggak bisa bahagia. semuanya flat. dunia gue monotone. Warna yang gue liat ya cuma warna abu-abu. Nggak menarik sama sekali. Jarang banget gue nangis. Lebih jarang lagi merasakan empati, simpati, atau hawa senang. Seringkali, ketika udah tutup toko, gue merasa kosong. Sepi yang mencekik. Maka, gue menyalakan TV. Gue tatap TV itu. Tapi nggak ada satupun yang membekas. Karena gue hanya menatap dengan pandangan kosong. Biar kamar nggak terlalu sunyi. Biar ada suara. Biar gue nggak terlalu merasa sendirian. And then I would lay down. And I would think out loud.

Why should i live?

Ngapain gue ngabisin jatah oksigen?

Do I have a purpose?

Kenapa gue merasa bosan setiap saat?

Kenapa gue harus menjalani hidup yang monoton terus menerus?

Besok pasti akan begini lagi.

Gue nggak punya skill apa-apa.

Gue nggak tajir. Kenapa sih gue nggak terlahir jadi orang kaya aja?

Kenapa gue udah kerja keras banget tiap hari, tapi masih kayak gini aja?

Kenapa orang lain lebih fortunate dari gue?

Salah gue di mana?

Kok nggak ada yang bisa gue ajak ngobrol, ya?

Kenapa mereka menertawakan kalau gue cerita?

Hidup gue kenapa nggak ada gunanya sama sekali?

So… why should I live?

Pikiran yang gitu lagi gitu lagi gitu lagi. pas bangun, bantal basah. bukan, bukan iler. ternyata i cried myself to sleep. And this shit kept on happening, on repeat. Almost every single day. Punya pacar juga nggak membantu, karena ternyata kami nggak satu frekuensi. Nevertheless, the relationship lasted for almost two years. Dan selama itu juga, dia nggak tau apa-apa tentang depresi gue. To be honest, gue bahkan nggak ngeh kalau gue depresi. Aneh? Nope. A lot of people just live their life without even knowing they have depression.

I’m really good showing my happy face while deep down inside I feel like the loneliest man on earth. It took years of practice, and I’ve managed to mastered it.

Sampai akhirnya gue ketemu internet. kemudian chatting sama banyak orang. dari malam sampai pagi. buka toko, tutup toko, ke warnet. repeat.

Apparently, i just needed company.

Terus browsing sana sini, ternyata gue ada gejala depresi. Di sini gue baru ngeh. Ada yang salah sama diri gue. Apa? Itu lah yang terus gue gali. Ketika gue punya masalah, gue akan berkubang di masalah itu, baru setelah capek luar biasa, gue mencari solusi. Dan solusinya sederhana. Gue kepengin punya teman berbicara. Jadi… tiap hari gue maen ke warnet. Just to talk with people. I didn’t care who they are. I just didn’t want to feel alone. But still, there’s a hollow feeling inside once I got home.

Punya teman real life nggak? Teman sma punya. tapi gue nggak ngerasa nyambung sama mereka. It’s like we live in completely different world with barrier so thick no one could penetrate it. And I was tired of trying.

Setelah beberapa bulan, gue nemu artikel yang menyarankan untuk menuliskan semua perasaan gue.

Gue cuma berhasil menulis satu kalimat:

“I’m so bored i wanna die.”

Di puncak kebosanan, ada yang nawarin untuk buka konter henpon. Tanpa pikir panjang, gue iyakan.

Kenapa? karena kebosanan dan rasa kesepian itu membunuh perlahan.

Akhirnya, lewat konter handphone ini, gue beneran nemu temen yang nyambung. Yang bisa diajak ngobrol dan tukar pikiran.

Pelan-pelan, pikiran pengin bunuh diri itu hilang. Karena gue nggak bosan lagi. Orang di sekitar gue memacu gue untuk punya sesuatu. Perlahan juga, tanpa gue sadari, hidup gue jadi lebih berwarna. Dunia nggak melulu kelabu. Gue bisa nangis dan beneran sedih atau terharu. Gue bisa tertawa lepas dan beneran merasa senang. Gue menanggalkan topeng ceria dan menyambut emosi yang kembali membanjiri setiap sel di tubuh. Pikiran untuk bunuh diri, sudah terkunci di sebuah peti di sudut otak. Kuncinya nggak tau di mana. I really hope I won’t ever open it again. It’s so scary.

Alasan utama kenapa gue bisa perlahan lepas dari depresi, adalah harapan. Gue berharap gue bisa menjadi seseorang. Gue berharap, dan percaya, gue suatu hari nanti akan menemukan apa yang gue suka. Gue waktu itu sudah memulainya dengan menulis. Menurut gue, punya harapan dan melakukan apa yang disuka itu penting banget untuk membunuh depresi.

To have a purpose in life in an anchor to live.

Gue percaya banget sama ini.

Kalau mau flashback lagi, alasan awal kenapa selalu merasa tertekan yang akhirnya berujung ke depresi adalah lingkungan dan orang tua.

Buat para orang tua yang membaca tulisan gue, tolong jangan membandingkan anak kalian ke orang lain. Itu beban yang sangat besar. Kalimat kayak, ‘halah si itu aja bisa masak kamu nggak?’ atau ‘si itu udah ke langit, elo masih gini gini aja!!’ meruntuhkan mental banget.

Serius. Gue merasa amat sangat tertekan harus juara kelas. harus jadi yang terbaik. Harus begini harus begitu dibanding-bandingkan secara konstan.

Mungkin kalian, para orang tua, merasa yang kalian lakukan adalah memberi motivasi dan mencambuk anak supaya lebih semangat. believe me it’s not what we want. Kami berbeda dengan anak lain. Kami mempunyai hobi yang berbeda, minat yang tak sama. Yang kalian pikir harus jago matematika, mungkin tak relevan sama kami yang sukanya main bola. Yang kalian pikir harus hebat dalam hafalan, mungkin tak menarik untuk kami yang suka melukis.

Jangan paksa kami untuk menjadi orang terbaik sesuai bayangan kalian. Let us be the best in our own version. Don’t force us to be something/someone we’re not. It’s not gonna work, it won’t make us happy, it will only become a burden. A burden you might never notice because we will do our best to make you, parents, happy and proud. You see, as your children, you are everything to us. You are the hero. The one to look up to. We are afraid to see you angry, we fear you might resent us if we don’t abide your rules. And that’s when the early stage of depression kicked in.

Let us be the best, with our own way. We need you to guide us, to support us, and most of all, to love us. Of course we will make mistakes. A lot of them. But you know what? Your cruel punishment, the way you yelled at us, the humiliation we have to endured because you would talk about our foolishness and our stupid mistakes to your fellow parents while we’re there, and then you would laughing out loud with them, while we stood there, holding back tears, felt so ashamed and worthless… that would leave holes and scars.

I am the perfect example from a broken home family. From parents who wanted me to be the best by forcing me doing what I didn’t like. Who would get punishment because I was not good enough for my parents. Who crave for attentions, but didn’t get enough of it.

When it’s become to unbearable, the easiest way to escape, in my young bruised mind, was to kill myself. I am lucky I still live to tell this story. I am fortunate to be able to fight my way up from the hole of depression.

Dan buat yang (semalam) mention pengin bunuh diri, apapun masalah kalian… please don’t. talk to someone who would listen, not judge.

Kalau lo merasa lega dengan berdoa, lakukanlah. tapi menurut gue, you need someone to talk to. lo butuh ‘tempat sampah’.

‘tempat sampah’ gue dulu adalah ngobrol sama stanger di internet. gue menyibukkan diri. gue berhenti mengasihani diri sendiri.

Growing up with so many caci maki dibanding-bandingin sama orang dikata-katain mau jadi apa lo kalo udah gede dll … the scar never healed.

Rasa minder itu masih sering muncul. rasa insecure. merasa worthless. merasa was-was dan takut kalo yang gue lakukan gak cukup baik.

Seriously. when you’re depressed, seek help. don’t be alone. or… be alone, but don’t drown in loneliness that leads to self pity

Ada masanya gue benci banget sama nyokap yang jahat. sekarang sih udah nggak. I make peace with her. And most importantly, gue berdamai dengan diri sendiri. Gue menerima fakta bahwa gue nggak ganteng, nggak tajir, nggak jago, and that’s okay. Gue nggak perlu minder hanya karena orang lain punya apa yang gue nggak punya. It’s okay. Karena gue sadar, jalan hidup setiap orang berbeda.

Everyone fights a different battle.

If you have suicidal thought and need someone to talk to because no one is there for you, you can email me.

I have been there done that and i’m still alive. i just want you to know that you’re not alone.

But seriously, i’m okay now. gue punya banyak orang yang sayang gue. yang ngejaga gue. finally, i feel ‘content’.

Btw, postingan ini adalah pelengkap postingan tentang krisis identitas dan merasa worthless dan gak tau mau ngapain dan apa yang akhirnya menjadi jalan keluarnya untuk gue. Mudah-mudahan, berguna untuk kalian. Silakan baca “Galau Usia 20an“.

  • Agata

    Tulisan ini bakal kuingat2, supaya aku gak banding2in anakku sama siapapun, mgkn bpknya yg perlu baca, wong anak ulangan math sdh dpt 8, masih dibilang kurang, gara2 salahnya simple..gini ae gak isa, wong gampang, lu blajar apa gak sih.. yg kayak2 gitu tuh ngomongnya..
    Duluuuuu , pernah sih kepikiran mau bundir, trs mikir.mikiirrr panjang, nyawa yg kasih Tuhan, kalo pas sudah dipendem, dicor, trs idup lagi?
    . Dan akhirnya hrs mati pelan2 gara2 kurangoksigen.. serem toh.., jd buang jauh2 itu pikiran.. hhehehe #iyaakupenakut..

  • Shar

    Well.. Actually I think about it, to just end my life, because I have no reason to go through the days. By no reason, means no reason. For me, I have no reason. But when I told this to a friend, she told me I have to keep holding on, because there are more than just “something valuable that you think is everything for you” in this world. I agree with her, but still, I can’t get “that something”, ” my something”, “the something”..
    At some points I’ll quote what Cristina Yang told Meredith Grey about Derek Sheperd. Cristina said, ” He is maybe McDreamy, but he is not the sun”. I know that “the something” is not the everything. I realize that my life is not always about “the something”. So yes, I am holding on, like my friend told me, and like your blog says..
    Thanks Lex, for always sharing. I learn so many lessons from your writing. A least I know that I really have to think for holding on and keep moving on, no matter I have no idea where I will end up…

  • Yuda Panjaya Kaloka

    been there done that juga..

    tapi “harapan” ternyata bukan jawaban buat gw..karena “harapan” pasti gak datang dengan hal2 bagus doang..di sudut lain “kecewa”, “ekspektasi yang gagal”, dan kroni2nya bisa sewaktu-waktu nongol dan ngagetin kayak Susana tau2 nongol minta 1000 tusuk sate ke tukang sate. :D

    akhirnya jawaban gw mentok ke “acceptance”…gw kudu nerima…apapun itu…good or bad…gw mikir, setiap option pasti ada resikonya..entah besar atau kecil..dan yang kita bisa lakuin ya itu…nerima..sikapi..hadapi..

    …..dan skrg gw malah jadi nulis banyak disini…hahahahaha…sori Koh…

    dan Koh…kita gak saling kenal…but, I am so proud of you…live your life as you should..don’t ever forget to be happy in your every single day…

    oh nambah dikit..setelah nemu “acceptance” itu akhirnya gw bisa betul2 paham sama tanda tangan gw yang dulunya gw buat asal pas jaman SMA…tanda tangan gw berupa sebuah kalimat..”a life for us”… :)

  • Melda

    About 5 or 6 months ago, i was in very deep depressed and suidical thought. Nobody notice, and nobody cares. Until now, but lucky me at least i have some friends now. Setidaknya sekarang gak sendirian lagi, setidaknya sekarang ada temen bicara dan jalan-jalan. Dulu sempat self-harm, and i don’t even know what for, and why i did that.. Maybe just bcz the pain on our skins arent so hurt than the pain in our heart? But that was pretty stupid and not so helpful. Dulu pengen cerita ttg masalah yg bikin depresi takut diketawain karena menurut aku hal yg bikin aku miserable itu adalah sesuatu yg sepertinya mudah bagi orang2.. My life was so crumbling those days.

    Aku gak nyangka orang se-adoreable koko pernah mengalami hal seperti ini juga. Walaupun aku udah pernah baca beberapa cerita hidup koko yg dulu jg gak semenyenangkan anak-anak lain.

    Buat yg lagi mengalami yg namanya depression and suidical thought, sebanyak apapun kalian berpikir untuk mengakhiri hidup, just don’t. Karena seberat dan serumit apapun, semuanya akan berlalu.

    Thanks for your writing koh Lexy, i love you very much.

  • mega

    Koh ngerasa ada yang peluk :’)

  • femmy J

    Brebes mili bacanya koh. Aku masih berjuang buat ngadepin ini. Keluarga broken home, bapak sering mukul pas kecil, mama nikah lagi, keluarga besar kacau, gak punya tujuan hidup, dituntung macam macam, banyak banget beban sampe gak bisa nafas. Dan perasaan kalo aku gak sendiri itu priceless koh.

    Terima kasih karena sudah membagi, terima kasih karna sudah memberikan harapan, terima kasih karna seengaknya aku ngerasa bukan cuma aku yang ngalamin. Terima kasih banyak. Semoga selalu bahagia. Dan semoga aku juga bisa menemukan kebahagiaanku sendiri kaya koh Alex. :’)

  • Je W Pang

    Wah, banyak yg alasannya negatif ya. Kalo aku pernah ngerasa yg sama, tapi justru karena masalahku udah selese. Keluarga sempet berantakan karena papa sibuk dan mama kesepian karena kita di luar kota dan dia ga punya teman. Lewat ini itu susah dan pastinya ga senang, akhirnya semua beres tuntas. Ga tau kenapa malah mikir begitu. Idiot little old me. Dan semua pikiran itu hilang karena satu lagu. Kalo jaman sekarang nyebutnya idol, tapi orang ini akan selalu jadi idola, artis, panutan, dan segalanya buatku. Orang ini ajaib, aku bahkan ga ngerti dia nyanyi bahasa apa, tapi feel nya bisa bawa aku tersenyum lagi, lagi, dan laaaagggiiii~ XD

  • Dewi Handayani

    Alex… Postingan ini banyak grammatical errorsnya. So unlike you. Seperti terburu-buru nulisnya. Ehehehehe… Maap yak.
    Btw, gw juga pernah tuh punya suicidal thought. Masalahnya menye lagi. Gara-gara diputusin. Hehehe… Waktu itu yang bikin batal adalah pemikiran begini; kalo sampe iya, pertama: gw bakal jadi bahan ejekan karena suicide gara-gara cowok. Kedua: kasihan orangtua gw kalo nyebar berita anaknya suicide, gara-gara cowok pulak. Ketiga: takut cyiiiin ama dosanya.
    So… I’m still here. The emptiness is still there, shallowly buried, cuz sometimes it comes up. Lucky me, I have my little happy family to busy my self with. I can start any new hobbies I want everytime I get bored. Yes, I’m lucky.
    To those out there with suicidal thoughts, semoga kalian menemukan “jangkar” untuk bertahan di dunia ini. Dunia ini terlalu singkat untuk kalian akhiri cepat-cepat. The afterlife itu kan selamanya, tanpa batas. Yakin mau ninggalin dunia ini sebelum muas-muasin diri? Or versi relijiusnya: yakin mau ninggalin dunia ini tanpa bekal? ?

  • yudi

    untuk seseorang yg butuh orang asing sbgai tempat sampah untuk cerita , bisa email gue..
    yudisetiawan135@gmail.com
    seriously, banyak yg bilang gue orang dngan tipikal ‘pendengar yang baik’ :)))

    • gurglaugh

      beneran boleh?

      • yudi

        silahkan email aja :)))

  • Ika Mardiana

    My both parents are teachers. As a first child, they gave me burdens to be always the best at school, extras and then college etc, which I couldn’t really achieve. Being second was my best. But still, it’s not enough to satisfy them. I was depressed. I envied my younger brother who got so many chances to do and get what he wants. I wished I could vanish into thin air. I had no one to talk to. But I had a diary to write onto. Yes, my savior wasn’t a “someone”, it was only a diary. In that diary I wrote so many things that I couldn’t talk to anyone else. I wrote my hidden thoughts, my hopes, my everything there. After the diary was full, I burnt it, in the hope that I could burnt my burden. And for me, it worked.
    For everybody around me, I was and am a good listener. I am their trash bin of their problems. But they have no idea that a “trash bin” like me also needs somebody else to listen. But, hey, that’s life, isn’t? We don’t always get what we want.

    And thanks to you, Alex, I finally could write something what’s on my mind years ago that anyone can read and I’m not ashamed of it.

  • Iwed

    Alex… Postingan lo ini banyak grammatical errorsnya. So unlike you. Lagi terburu-buru ya?
    Anyway… To those with suicidal thoughts, semoga lo menemukan “jangkar” untuk bisa bertahan di dunia ini. Dunia ini cuma sebentar loh. Sementara the afterlife itu kan selamanya. Tanpa batas. Yakin ga mau muas-muasin diri dulu disini? Atau versi relijiusnya: yakin ga mau nyiapin bekal dulu disini? ☺️

  • Icha Liem

    Thanks koh, sampe ga sadar bacanya sambil nangis. *baru ini bisa nangis*
    Sakit, nyesek banget bacanya. Ngerti banget rasanya.
    Di umurku yang segini, terlalu banyak tekanan yang harus dihadapi, dari kecil selalu dituntut ini itu dan jadi akumulasi aku rasa. Depresi parah, dan gatau harus ngomong sama siapa.
    Ga ada yang bisa ngerti dan malah ditanggepin nyinyir bukan di support. Dari SMP dulu, sampe sekarang bener bener flat, sampe dibilang ga punya hati.
    Ya, ga ada yang bisa satu frekuensi dan sepenuhnya tulus dengerin, ga pernah punya yang namanya sahabat. Ga tau harus ngomong sama siapa, sakit dipendem sendiri ancur inside tapi harus stay cool outside. Yes, im fake people
    Pengen mati, berasa hidup sendiri.

  • dilla tiffa

    the craziest thought just to end my life right then and there was coming when i was in 5/6 grade in elementary school… lupa kenapa alasannya, tapi yang paling saya ingat adalah saya nangis di kelas dan bilang “mendingan aku mati aja..” dan orang pertama yang nunjukin empatinya ke saya adalah orang yang selama waktu itu saya anggap ‘bukan siapa-siapa’…. kami berteman iya, tapi kami nggak sedekat itu sampai bisa curhat-curhatan ala-ala gitu.. she said, “Jangan ngomong sembarangan, nggak mikirin Umi-mu gimana nanti? Aku harus ngapain?” we were not that close, even now we’re not close…. back then, kalo kami ketemu malahan suka caci-maki satu sama lain… tapi pas saya merasa ada masalah, justru dia adalah orang pertama yang menujukkan empati. Tiap keinget sama hal itu, saya jadi mikir…ah, so help comes from everywhere and every direction. Nggak bakal bisa ditebak. Bahkan yang kita anggep ‘siapa sih loh’, malahan bisa jadi orang yang punya rasa empathy yang gede banget.
    Dan setelah makin gede, saya bisa makin mikir, dan akhirnya sadar…. saya ini kurang syukur pada waktu itu… like seriously, my parents loves me, have a great sister….what can i ask for more? saya bukan dari keluarga serba wow, tapi dengan keterbatasan yang kami punya, orang tua saya ngajarin buat gimana caranya kami bisa liat apa yang ada dan bersyukur, bukannya ngitung yang nggak ada dan ‘nggresulo’… and it works for me, till now..
    good thing, pas saya berkali-kali gagal dan harus mengerjakan tugas akhir sampai bertahun-tahun, saya ketemu orang-orang awesome yang belom pernah sekali pun saya temui langsung, yang saya kenal lewat layar laptop dan handphone saya.. yang ngobrolnya via keyboard… dan itu adalah salah satu hal yang paling saya syukuri, sampai saat ini…..
    Thank you for remind me thru this post, that i should look at a half glass of water not a half empty glass..
    Thank you,

  • Hana Evelina

    Kooohhh ????
    Sudah kuketik curhatanku di kolom komen ini berulang kali, dan berulang kali lagi kuhapus. Akhirnya cuma bisa menghela nafas dan senyum miris aja.
    Makasih loh koh buat tulisannya. I just love being myself and i want to live life just the way i am. But, for now I can’t. Huhuhu

  • Listya Indrianti

    koh, aku baru buka di PC anw tampilan blog mu yang baru tampilane LYUAR BIASA (gak gerti) mau coment aja bingung hahaha. tapi lupakan kebodohan gue.
    kali ini aku baca isi artikel mu berasa lagi belajar. belajar untuk menikmati hidup seberapa pun menderita nya hidup mu, belajar bahasa inggris juga :))
    ini juga salah satu artikel the most fav akoh selama jadi followers mu

  • maria harina nugraheni

    This is my current feel ko. Gagal di percintaan dan akademik membuat saya menarik diri dari semua org. Hal itu malah bikin org lain men judge. Dan judge yang didapatkan malah dari org terdekat. That makes everything going to worse.. understand us dont judge us :(

  • Tara

    langsung nangis pas ditulisan tentang ortu jngan membanding2kan dgn anak org lain..udah pernah ngalamin,dan yah..saya tau bagaimana prasaan saat itu X’)

  • Soffi

    I’m afraid that someone very dearly to me have this kind of thought. The second I finished read this post, I texted her and said that whatever happens she will always have me and I will always be there for her. Thank you for reminding me, Koh. You’re right, we all just need someone to talk to.

  • Soffi

    I’m afraid someone very dearly to me have this kind of thought. The second I finished read this post, I texted her and told her that whatever happens she will always have me and I will always be there for her. Thank you for reminding me, Koh. You’re right, we all just need someone to talk to.

  • Ela Amna

    :) this post touched my heart deeply..
    I mean, I know that I’m never alone, but sometimes to share this kind of suicidal thoughts to someone who don’t understand it, is also a burden, till eventually talking this kind of thing to somebody who understands it, is way more valuable than anything.

    I know it sometimes sounds so cliche, when you’re drowned in those dark thoughts, where you think there’s no more way out from those problems. Because I’m having it too, my second suicidal thought with same reason, (I know I hate it too) :’ that there’s nothing you can do to make life get better and I’m bored of trying so hard in having thoughts on how to overcome those same problems, every single day. that maybe I’m feeling like I’m never relieved, that as you can say I start to loose my sympathy over things and I feel inhumane. that I actually start to not care and just go with the best I could.

    but still, thank you for making me (and anybody out there) not to feel alone, and mostly thank you for eventually understand and got to say “I know that feeling too”
    just, thank you koh Lexy for sharing, and cheering and in the end inspiring that no matter what storm will always pass and “when there’s life, there’s hope..” :’)

  • Haeristian

    The best lah, koh..
    gw pernah juga saat ortu uda ngerasa gak mampu nyekolahin gw tapi gw keukeh bgt pengen nerusin sekolah sampe kuliah. di saat itu I WANNA DIE!
    dan akhirnya ortu bela2in pinjem sana sini.

    dan sampe sekarang, alhamdulilah gw uda bisa bantu perekonomian keluarga gw dan bantuin ade2 gw sekolah, karna flashback ke zaman gw sekolah dulu itu sedih bgt, dan ade gw gak boleh kaya gw.

    dan kata2 ” I wanna Die” itu berganti jadi ” I Should alive!” hehe..

  • Maya Edward Tjaja

    Gue nangis baca ini , karena gue merasakan hal yang sama. Yang bikin gue pengen bunuh diri bukan cuma karena banyak masalah dihidup gue tapi karena gue sendirian, kesepian dan merasa gak ada yang perduli sama gue. Gue sering kali merasakan iut dan merasa berdosa, merasa gak bersyukur dan itu malah membuat gue makin terpuruk.

  • Aku lebih banyak di kamar sih kalau berkumpul sama keluarga. Soalnya mereka menurutku aneh. Dan aku menurut mereka mungkin juga aneh. Tapi aku nggak papa sih. Gak sampe depresi. Toh aku menemukan teman sefrekuensi di internet. Bisa ketemuan juga tinggal tetapkan harinya.

    Masalah mati dimakan ikan hiu, aku juga kepikiran pingin mati dimakan ikan hiu aja lebih bermanfaat HAHAHA. Terinspirasi sama Bjork soalnya (Dia juga pingin pas sudah mati nanti mayatnya diumpankan ke ikan hiu, nggak dikubur).

  • Clara Mauretha

    Telat banget bacanya. Tapi seneng banget bisa baca post yang ini. Nangis bacanya, Koh.. Hehe
    Koh Alex berhasil bikin sadar kalo kita gak pernah “benar-benar sendiri” di dunia ini. Masalah kita bukan satu-satunya masalah paling berat. Kita bukan satu-satunya orang yang merasa “gak berguna”.
    Koh Alex bikin banyak orang jadi berani mengungkapkan masalah yang selama ini hanya mereka pendam untuk dirinya sendiri, dan juga membuat kita jadi merasa punya banyak teman karena nasib yang kurang lebih sama.
    Terima kasih banyak, Koh, for sharing this post. Semoga semakin banyak orang lain di luar sana yang mampu menghadapi masalahnya dengan baik, tanpa harus memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. :)

  • Desi

    ini yang lagi gue rasain kh, gue merasa selama ini gak tau hidup gue untuk apa dan untuk siapa. gue ngejalanin hidup tanpa ada “Rasa” , kaya “Zombi”. Yag gue tahu gue harus tetap hidup buat keluarga gue tetap hidup.

  • Nurul Qomaria

    nice post koh..

  • eMa rachmawati

    :’)

  • lina fee

    dan aku disituasi ini sekarang koh,,yes right, needs “tempat sampah” tapi belum nemu atau siapa yang mau aku jadiin “tempat sampah” sekarang,,,:)

  • shofiya

    gue pernah lumayan banyak sampe lupa berapa kali… dari masalah yang adek gue kecelakaan gara gara gue. terus pilih kasih. ngebanding bandingin sama anak orang dan di bandinginin sama adek sendiri nah itu lebih sakit dibandingin sama adek sendiri bahkan sampe sekarang. nilai sekolah yang ancur dan masalah pribadi. ternyata banyak yang masalahnya lebih parah dari gue. sekarang gue sadar masalah gue itu kecil di banding yang lain brokenhome misal. tapi jujur sampe saat ini gue belum punya “tempat sampah” yang pas buat semua curhatan yang gue pendem dalem dalem. gue mikir apa gue aneh apa temen temen gue yang kurang cocok sama gue. dan gue itu orangnya introvet dan termasuk orang dapet temen itu susah. jadi sampe sekarang gue belum dapet tempat sampah… dan cara lain gue buat ngeplongin curhatan gue dengan nulis masalah gue walupun sebenernya yang gue butuhin adalah real person

  • Muammila

    Tulisannya nampol banget kooohh. Suatu saat pengin nulis kek beginian koh. Skrng ak mersa kek koh Lexy yg dulu. Merasa gak punya tujuan hidup, bingung mau ngapain, bosan sma hidup yg monoton, blum nemu orang yg nyambung bgt diajak ngobrol. Ak punya latar blkang keluarga yg broken koh. Ibuku udah duluan dipanggil sma yg Maha Kuasa, dan ak jg sempat benci sma bokap yg ak anggap jahat. Ak berharap depresiku segera terbunuh koh.
    Thanks tulisannya koh, sukak banget 💚❤💜💙

  • Anggie

    Tulisannya luar biasa.
    And I cried

    I’ve been suffering from depression. I’ve always thought about doing suicide countless times.
    The reason is family and work. My parents expecting too much from me. Because they’ve been hurted too much by my older brother so I try not to hurt them with answering their expectation.
    But if I can’t fullfil it they will really mad on me. It can’t be helped I am also still humans, I am not perfect I am making mistake sometimes.
    my work also make me stressed a lot. sometimes also I feel bored with my job.

    sometimes I feel so lonely and empty.
    I’ve always ask myself
    “why am I born in this world ? for what reason ?”
    living with only trying to answer people expectation
    living with strict job and bored with daily activity..

    My friends only know that I am a cheerful person. They just don’t know I’ve spent countless night crying alone wanting to do suicide but still afraid of God.
    so here I am.. keep living as a chicken without a freedom, with only answering people expectation. Have no goals for my own life.

  • Cat

    Aduuuh koh ini nih yang aku rasain udah lebih dari berapa bulan ini dan sampai sekarang niatan buat bunuh diri tuh ada terus.. yaampun aku kira punya pikiran kayak gitu kayak anak alay.. sedih banget rasanya enggak ada temen cerita, ketika cerita pun temen tsb malah ngejude bukan bisa jadi “tempat sampah”. Emang sendirian itu enggak enak banget, butuh banget sama seseorang yang bener” bisa bantu dan perduli.

  • Geena0806

    Gw baru baca doong…thanks bwt sharing penderitaannya koh. Worth to read.
    mengetahui bnyk orang punya masalahnya masing2 – bikin gw merasa gw gak sendirian – udh bbrp kali godaan “setan” itu hinggap – yes I’m still alive – masih depresi – but still tryhard to find way out for my own happiness and keep on My Hope.

    Dan elu salah satu orang yg jagain hope gw. Liat elu wara wiri travelling bikin gw mupeng dan semangatt kalo gw juga mau bisa kayak elo koh hahaha

  • anggun fuji

    Oh My God. Serius, gue juga sama, pernah kepengen suicide aja gara2 gagal SNMPTN, dan belom diterima kerja, padahal gue sekolah di sekolah ternama. Tapi Alhamdulillah nya nyokap masih mau biayain kuliah di kampus swasta (Ya Allah alhamdulillah banget), dan sejak saat itu gue nggak mau ngecewain orang tua lagi.

    Setelah itu gue ketemu dg temen2 yg bener2 mau ndengerin, sahabat yang sebenarnya.

    Bahkan sampai kapan pun pasti lah kita ngalamin yang namanya depresi, tapi gue sadar, ngapain bersedih-sedih depresi, dendam. Lebih baik kita mengalihkan energi kita ke hal-hal yang bermanfaat.

    Hidup ini indah! :)

  • Enci

    Mungkin hampir semua alasan untuk suicide adalah gara-gara dibandingin dengan orang lain. Gua hidup di keluarga yang kalo lu jadi nomor dua itu gak ada artinya, dan jadi nomor satu itu adalah hal yang biasa. Ketika lu udah berjuang buat jadi nomor satu dan tanggapan orang tua adalah itu adalah hal yang biasa, itu menyakitkan. Gua belajar mati-matian, cuma tidur beberapa jam, mengorbankan waktu sosial gua cuma buat belajar doang, dan tanggepan mereka cuma itu. Apalagi kalo lu dibandingin sama kakak sendiri yang gua akuin emang lebih pintar dan segalanya. Rasanya semua gak adil. Cliche sih, cuma ya gitu. Bahkan gua mungkin dari sd atau smp udah kepikiran buat suicide. Gua anak yang suka sakit-sakitan pas sd dan harus konsumsi banyak obat, gua bahkan pernah makan hampir semua obat itu dalam satu waktu biar overdosis. Ah, aib gua :’)) Yah, saat ini gua masih mencoba untuk mencari cara agar rasa kenginan untuk suicide itu hilang. it’s killing me.