SAMSUNG CSC
September 13, 2014

Iceland Winter Wonderland

“Where are you from?”
“Indonesia!”
“Tropical country, right?”
Gue tersenyum dan mengangguk.
“Well, are you ready for magic?”
Kali ini, gue tertawa. Mata Björn berbinar menunggu jawaban gue.
“To quote Queen, what kind of magic?”
“You know… since you’re from a tropical country, have you ever seen the world covered in snow?”
Jantung gue langsung berdesir lebih cepat. Golden Circle Tour yang di-booked oleh teman gue tampaknya akan melebihi ekspektasi. Sebelum tiba di Iceland, Kenny memang sudah booking beberapa tour yang menurutnya wajib untuk diikuti. Karena gue seorang pemalas, gue tak berusaha untuk sekadar googling dan mencari tahu apa itu Golden Circle Tour. Gue lebih memilih untuk “expect the unexpected” dan membiarkan kejutan yang manis menghampiri. Dengan kalimat yang skeptis, gue membalas ucapan Björn, “Uhm… I’ve seen snow in Reykjavik, but…”
“… but that’s not the main attraction! Now hop on and welcome to winter wonderland!”
Tanpa buang waktu, gue segera naik ke dalam jeep yang dikendarai Björn, bergabung dengan empat penumpang lainnya. To the grand adventure, I go.

SAMSUNG CSC

/ continue reading

Bali4
August 25, 2015

Looking For Perfection

Bali4

Perfection. Kesempurnaan. Satu kata yang membuat semua orang jungkir balik. Ingin perfect dalam nilai sekolah, nilai kuliah, dalam relationship, penampilan, dan sebagainya. Walaupun yang terjadi adalah, kita sendiri yang menentukan seberapa perfect perfection itu. Sempurna di mata kita, tentunya beda sempurna di mata orang lain.

Sebagai contoh, gue punya temen. Dia bukan berasal dari keluarga kaya. Pada satu titik dalam hidupnya, dia cuma bisa makan mie instan selama sebulan penuh. Dia juga nggak punya handphone yang sedang ngehits waktu itu. Nonton di xxi? Yah, dua bulan sekali juga udah seneng. Pacar? Oh tentunya dia menjomlo. Bahkan, dia pernah tidur di kasur tipis hasil kredit. Bayarnya sepuluh ribu sehari ke tukang kredit keliling.

Bagi orang luar yang nggak kenal teman gue ini, kehidupan dia sangat mengenaskan. Bayangkan, mie instan yang isinya karbo, dia tambahkan nasi putih yang adalah karbo juga, dengan alasan: biar kenyang. Sementara teman-temannya sibuk membicarakan film terbaru dan fashion termutakhir serta gadget yang kamera belakangnya udah canggih, teman gue tetap selow menimbang terigu dan gula dan cekikikan bareng emak-emak berdaster yang hobi ngutang di warungnya.

Nggak ada yang salah dengan temannya teman gue, yang menilai kehidupan yang sempurna adalah ketika dia up to date dengan film – gadget – fashion – gaya – gaul dan kopi mahal. Nggak ada yang salah juga dengan teman gue yang sehari-hari harus jagain warung dan tidur di kasur tipis hasil kredit. Dia tetap tertawa-tawa bahagia ketika ngerumpi dengan emak-emak berdaster yang terkadang bau asem dan hobi ngutang. Dia nggak merasa kehilangan ataupun minder karena belum mampu membeli barang-barang yang saat itu terasa tak terjangkau.

Mereka tetap berteman tanpa saling iri. Temannya teman gue salut sama teman gue mampu bahagia dengan kehidupan sempurna versinya saat itu, dan teman gue juga nggak merasa silau dengan segala kekayaan sempurna milik temannya.

Justru orang-orang lain yang sering membandingkan dan memberi label bahwa kehidupan yang sempurna itu harus begini begina beginu. Mereka terkadang lupa, rasa bahagia nggak melulu datang dari materi. Mungkin mereka nggak sadar, bahwa teman gue yang hidupnya dipandang sebelah mata, nggak merasa ada masalah dengan makan mie instan, nggak minum kopi mahal, nggak bisa jalan-jalan. Dia tetap merasa happy. Nggak merasa kekurangan.

Sering kali kita menilai individu tertentu, mungkin teman, mungkin public figure, dengan kehidupan ‘sempurna’nya. Kita menginginkan apa yang mereka punya sampai melupakan apa yang kita punya. Padahal, belum tentu apa yang mereka punya cocok dengan apa yang kita butuhkan. Instead of envious what other have, why don’t we create our own version of perfection without the venom of jealousy?

Sebenarnya, versi sempurna teman gue ada di satu kata: cukup. Dia merasa cukup dengan apa yang dia punya. Dia merasa cukup bisa makan kenyang, bisa tertawa senang, bisa tidur nyenyak. Bahkan, ketika kehidupan memberinya rezeki dan dia mampu jajan kopi mahal, makan di restoran dan nggak perlu menyantap mie instan ditambah nasi, pandangannya tetap sama. Dia, bagaimanapun keadaan ekonominya, merasa cukup. Karena dia sadar, mengejar ‘sempurna’ versi utopis nggak akan ada habisnya. Yang ada malah capek dan merasa nggak puas dengan hidup. Nggak enak, kan?

Teman gue, yang dulu tidur di kasur tipis hasil ngutang namun sekarang udah bisa tidur di kasur empuk hasil nggak ngutang, sedang menikmati white tea sempurna versinya. Dari dulu dia menyukai teh. Dan dia tadinya mikir, yang namanya white tea itu teh yang warnanya… bening. Setelah baca-baca, dia baru tahu bahwa white tea ternyata diambil dari pucuk daun muda yang masih menggulung, yang setelah dikeringkan berwarna putih keperakan dan mengkilat dari bulu-bulu yang menyelimutinya.

Sambil memejamkan mata, teman gue menyesap white tea yang sengaja dia dinginkan, meresapi rasa lembutnya, sambil mengingat-ingat, betapa kehidupan itu lucu. When you feel content, anything you have, let it be expensive or cheap, let it be branded or just another ordinary brand, you’re still you. You don’t let the value of your possesions determined who you are. You don’t see others who are less fortunate than you with disgust look. You appreciate them as humans. You don’t feel you are the ruler of everything. You’re just grafeful.

Sesederhana itu. Merasa bersyukur atas kesempurnaan versi kita masing-masing. Sesempurna anti oksidan di dalam white tea yang sedang teman gue minum. Sesempurna angin semilir yang berembus di sela-sela daun bambu di siang yang terik. Sesempurna senyum yang terukir ketika mengingat binar mata mamanya yang berkata, “I’m proud to have you as my son.” The white tea is just perfect. Not too sweet, not too strong, it’s rather mild with pleasant flavor of jasmine or peach or lychee. His favourite is of course, peach. He loves the smell. It’s perfect.

His life may not filled with ultra branded stuff or jet set life style or the latest tech on his gadgets and super-luxurious suite when he’s on holiday. He’s okay with that. He doesn’t mind. He has what he needs and that’s all that matters. He feels content. He feels the perfection. He loves his Fiesta White Tea. His life, with all the limitations, is perfect.

FullSizeRender 32

His name is Alexander Thian and he is grateful.

FullSizeRender 31

IMG_6422
August 10, 2015

Mengejar Milky Way di Alila Manggis

Kalian pernah melihat galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang? Gue pernah, beberapa kali. Kali pertama, ketika main ke Bromo. Saat itu pukul 3 subuh, gue harus siap-siap ke Penanjakan untuk melihat sunrise. Ketika berada di atas motor dan menatap langit, gue tertegun. Sementara motor terus menanjak dan melaju, pandangan gue tak lepas dari langit kelam tanpa awan. Hamparan langit luas dan cerah malam itu dihiasi dengan sebaris garis penuh bintang. Butuh waktu beberapa untuk menyadari, gue sedang menatap galaksi tercinta kita: Bimasakti. Saat itu lah, air mata gue mengalir sendiri. Terharu dan merinding hebat.

Lebay? Biarlah. Nggak apa-apa dikatain lebay karena milky way memang seindah itu.

Kali kedua menatap milky way dengan mata telanjang, ketika gue diundang ke Australia. Bulan November di Australia berarti menjelang musim panas, yang artinya, matahari bersinar lebih lama. Menjelang pukul 7 malam, matahari terbenam. Di saat blue hour itu lah, ketika sisa-sisa berkas oranye melintasi cakrawala, tepat di atasnya gue melihat milky way. Sepanjang ingatan gue, itulah milky way terindah yang pernah gue lihat. Lengkap dengan bonus Big Magellan and Small Magellan Cloud.

Melihat milky way di tempat yang sama sekali nggak gue sangka adalah bonus besar! Ketika diundang menginap di dua resort ternama di Bali, Alila Manggis dan Alila Villas Soori, gue tak berekspektasi untuk mendapatkan pemandangan ciamik apalagi sampai melihat milky way. Namun seperti biasa juga, jalan-jalan tanpa ekspektasi justru membawa hasil yang amat luar biasa.

IMG_6187 (1)

FullSizeRender 12 (1)

FullSizeRender 24 (1)

Selesai makan malam, gue berjalan dari arah restoran ke arah pantai. Salah satu suara favorit gue adalah suara ombak yang mengempas pantai. Dan pemandangan favorit gue di kala malam, langit penuh bintang. Dua elemen itu menyatu, membuat gue terpaku lebih dari lima belas menit sebelum buru-buru kembali ke kamar dan mengambil kamera dan tripod untuk mengabadikan apa yang gue lihat.

Alila Manggis terletak di daerah Karangasem, Bali, yang artinya tak banyak terpapar polusi cahaya. Seandainya malam itu gue di Denpasar, mungkin langit malamnya tak akan secerah yang gue lihat, dan kemungkinan besar milky way tak akan tampak sejelas itu. Sepanjang malam gue habiskan untuk memotret, dan berbaring selama hampir satu jam di pinggiran kolam, hanya menatap langit. Langit malam itu, walau penuh bintang dan dihias sabuk Bima Sakti, juga berawan tebal, yang sering kali menutupi langit. Namun gue bertahan, menyaksikan awan bergerak pelan menutupi langit, kemudian pecah perlahan-lahan, kembali menampilkan milyaran bintang.

IMG_6267

Di malam kedua, gue masih tak berharap banyak. Hari itu gue habiskan bersama driver dari resort Alila dan berkeliling Karangasem. Kami pergi ke pemandian raja Karangasem yang bernama Tirta Gangga. Mungkin karena bukan high season, tak banyak turis yang kami temui di tempat ini. Terdiri dari beberapa kolam yang menawarkan pemandangan luar biasa dan taman yang tak kalah cantiknya, Tirta Gangga memberi hiburan dan memanjakan mata. Desainnya sedikit banyak terinspirasi dari taman-taman Cina, dengan ornamen-ornamen seperti patung dan bentuk jembatan yang ‘Cina banget’. Gue menghabiskan waktu beberapa jam di sini sebelum kembali ke resort untuk makan malam.

IMG_6324

FullSizeRender 27 (1)

IMG_6302 (1)

FullSizeRender 31

Pantai di Alila Manggis menghadap ke selatan, yang artinya, gue tak bisa melihat sunset. Bulatan matahari yang biasanya ditelan laut lalu mengubah warna laut menjadi merah-oranye, tak terlihat sore itu. Gue hanya kebagian semburat kuning-oranye-ungu di langit. Walau demikian, pemandangan di sana tetap sangat cantik dan membuat hati adem.

IMG_6238 (1)

IMG_6239 (1)

Untuk kali kedua, lagi-lagi langit malam pamer kecantikan. Kali ini tanpa bonus awan tebal yang mengganggu. Kalau teman gue bilang, ‘langitnya ketombean!’ Gue tertawa mendengar komentarnya setelah mengirimkan foto langit malam di atas resort Alila Manggis. Memang, langit yang hitam kelam seperti rambut, dan bintang-bintang yang tak terhitung banyaknya, seperti pasukan ketombe yang tak merusak, namun menonjolkan keindahan sesungguhnya.

Seringkali dalam hidup, ketika kita sudah penat dengan segala pekerjaan dan rutinitas yang memacu stress, yang kita butuhkan adalah relaksasi. Berbaring dalam diam, mendengarkan suara ombak yang membuai, menatap langit tanpa batas yang berhiaskan bima sakti, merasakan kenyamanan dan keamanan, serta memutuskan hubungan dengan gaya hidup perkotaan, membuat gue bahagia sekali malam itu. Dua malam di Alila Manggis langsung melesat ke dalam top ten malam terbaik gue.

IMG_6339 2

Gue menarik napas dalam-dalam, bersyukur bisa menjauh dari keriuhan kota dan polusi cahaya. Malam itu gue menghabiskan dengan memotret dan mengagumi keindahan yang jarang-jarang gue saksikan di Jakarta. Satu pikiran yang melintas di benak gue: kita ini nggak ada apa-apanya di hadapan kebesaran Tuhan. Mengingat bahwa posisi Bumi berada di ujung Bima Sakti, yang tersaji di langit hanyalah sebagian kecil dari semesta yang mahaluas, membuat gue semakin merasa kecil, dan bersyukur bahwa masih ada pemandangan seindah ini di bumi Indonesia. Once we are grateful of what we have, we will never have to be worry about what we don’t have.

IMG_6422

IMG_6650-resize
August 6, 2015

What Is The Story of #SomewhereOnlyWeKnow?

IMG_1477
Sebelum masuk ke cerita di balik novel baru gue, mari umumkan pemenang tongkat Voldemort dari postingan gue bulan lalu. Hello, T.M.Riddle.Jr aka Mr. Bagus Rezandi (yes, I track you down! #eaaa)  yang posting komen epic ini, elo menang tongkat Voldemort! Mention gue di twitter, atau email gue, ya!
Screen Shot 2015-08-06 at 02.58.56

Untuk tata cara pre order buku gue, ada di postingan sebelum ini, atau, klik ini: PO SOWK

Now, let’s visit my memories.

Mei 2014. Gue udah mulai rajin ngetweet tentang novel baru gue. Ide ceritanya, didapat dari kisah tiga orang teman gue setahun sebelumnya. Awalnya, gue udah punya ide lain untuk dijadikan novel. Namun ketika negara api menyerang, … wait, joke ini udah basi. Namun ketika dua teman gue (Ari dan Widya) datang ke apartemen sambil bawa ayam endeus dan menceritakan bagaimana relationship mereka, gue langsung ‘terpanggil’ untuk menuliskan kisah mereka berdua, dalam versi gue sendiri. Betapa senangnya gue ketika mereka mengangguk setuju.

Beberapa bulan kemudian, gue maen ke Ubud. Di sini, gue ketemu Daniel. Di sebuah kedai piza, Daniel cerita tentang relationship-nya dengan seseorang yang belum pernah ia temui. Gue kaget dan terpesona mendengar cerita absurd bin ajaib Daniel hingga melupakan piza enak yang sedang gue makan. Lagi-lagi, Daniel mengizinkan gue mengadaptasi kisah aslinya menjadi sebentuk fiksi.

Okay. Dua cerita yang berbeda kutub udah ketemu. Tugas gue: menjahit cerita tersebut menjadi satu kesatuan. Lalu, gue mulai merancang karakter. Ada empat karakter utama di #SomewhereOnlyWeKnow. Ririn, Kenzo, Arik, dan Hava. Empat karakter ini gue bedah. Apa kesukaan mereka. Hobinya apa? Cara ngomong gimana? Fisiknya kayak apa? Kelemahan mereka di mana? Apa yang mereka takuti? dan seterusnya. Bahkan, di daftar karakter yang gue buat, gue cantumkan zodiak masing-masing karakter. Gak hanya zodiak, gue ngasih kepribadian berdasarkan 16 personalities Myer-Briggs.

Karakter kelar, saatnya membuat outline. Gue ini orangnya gampang banget terdistraksi (maklum, gue kan, Aquarius, wekawekaweka), maka gue membutuhkan ‘panduan’ untuk meniti cerita SOWK. Setelah utak-atik, gue memutuskan untuk menulis dari dua sudut pandang. POV Ririn, dan POV Kenzo. Apa artinya? Artinya gue cari mati. Gue harus menenggelamkan diri ke kepribadian Ririn ketika menuliskan chapternya, dan berubah menjadi Kenzo ketika menuliskan kisahnya. Susah, nggak? Oh, it was challenging! Menulis dari POV orang pertama itu artinya elo harus bisa mengubah gaya tulisan sesuai kepribadian si karakter. Ririn itu orangnya happy-go-lucky, cablak, lebay, gampang khawatir pada hal-hal kecil, centil, dan pikirannya tuh ‘cewek banget’. Sedangkan Kenzo itu pendiam, suka menyimpan masalahnya sendiri, seorang hopeless romantic, depresif, over-thinking-nya parah. Dua karakter yang bertolak belakang, dan dua karakter ini berbeda jauh dari karakter gue.

Karena model ceritanya adalah ganti-gantian di setiap chapter, maka emosi gue ketika menulis juga terjungkir balik. Misalnya, di chapter satu, gue menulis dari sudut pandang Ririn dengan mood ceria, lalu di chapter dua, mood ceria itu lesap dan berganti jadi mood yang mellow parah tapi nggak boleh menye. Seterusnya, berganti-gantian. Gue pun jadi mengikuti mereka, pindah-pindah mood. Sebenarnya, bisa aja gue menulis bagian Kenzo dulu sampai kelar, atau bagian Ririn dulu sampai kelar. Tetapi, gue nggak mau. Kenapa? karena alur cerita kedua orang ini bertabrakan, bersisian, saling bahu membahu. Dengan menuliskan cerita satu orang sampai kelar, gue khawatir akan banyak plot yang bolong.

Ada kalanya, gue nulis satu chapter dengan hati berbunga-bunga, dan ketika memulai chapter baru untuk Kenzo, gue mendadak mellow luar biasa, bahkan di beberapa titik, gue ngetik sambil nangis. x)))) Kacau, deh, pokoknya. But, hey, i am so proud of this book. Kalau gue Voldemort, maka #SomewhereOnlyWeKnow adalah horcrux gue, karena gue menumpahkan sebagian jiwa gue ke situ. *lebay but it’s true*

Sekarang, mari simak sedikitttttt teaser yang pernah gue bagi di socmed. Btw, yang gue upload di sini adalah versi yang belum selesai diedit, yang belum gue kirim ke editor. Saat kalian membaca bukunya, bisa jadi ada bagian yang hilang, atau bagian yang berubah. 😉

SOWK1

SOWK2

SOWK3

SOWK4

SOWK5

SOWK6

SOWK7

SOWK8

SOWK9

Bahkan, gue juga berbagi playlist yang jadi teman ketika mengetik. Silakan dicatat dan dicari lagunya kalau memang belum tau.
Satu lagu di antara sekian banyak lagu ini, akhirnya menjadi judul novel gue. Yep, it’s Somewhere Only We Know from Keane. The reasons are simple enough:
Lagu ini paling sering gue dengerin.
Di dalam novel, memang ada tempat spesial untuk karakter utamanya.

By the way, kalian cari lagu The Promise-nya Tracy Chapman, deh. Ketika tiba di bagian yang ada lagu ini, dengarkan sambil membaca. I promise you, it’s worth it. 😀

SOWKPLAYLIST1

SOWKPLAYLIS2

Kayaknya segitu dulu cerita tentang #SOWK #SomewhereOnlyWeKnow, ya. Oh, satu lagi, deh. Di bawah ini adalah blurb untuk buku gue.

“You don’t define love. You just… love.”

Kenzo
Menyusuri jalanan Hanoi yang basah, menerobos hujan yang masih turun dengan deras, gue melangkah tanpa peduli ke mana kaki membawa gue pergi. Lampu kuning jalanan membuat jejak-jejak rintik hujan tampak jelas. Entah karena gue yang delusional atau terlalu romantis menjijikkan, gue setengah berharap dia akan muncul di ujung jalan, bersandar pada tiang lampu, membawa payung, dan tersenyum melihat gue.

Ririn
Kenangan itu masih sejelas dan sebening film yang berformat blu-ray. Gue tertawa kecil ketika membuka pintu taksi, membayangkan wajah aneh Arik sore itu. Dalam perjalanan pulang, gue bermimpi tentang berdansa di awan, sementara kembang api meledak-ledak di sekitar gue dan Arik.
Arik, can we be infinite? Most of all, is this the love we think we deserve?

IMG_6650-resize
August 6, 2015

What You Need To Know About #SomewhereOnlyWeKnow.

IMG_1477

Tanggal 4 Oktober 2014, gue mengetikkan kata terakhir di draft novel gue. ‘FIN’. Artinya, tamat. Apakah perjuangan gue berhenti di kata itu? Nope. It’s just a temporary ending. Dengan berakhirnya menulis, kerjaan baru menyusul: mengedit. Untungnya, setelah ditelaah editor gue, Michan yang manits, nggak banyak yang harus diperbaiki. Revisi minor berjalan lancar. Tiba-tiba, udah masuk ke tahun 2015. Tiba-tiba, pihak Gagas sudah menetapkan novel gue akan terbit September. Mundur dari bulan Juni. Pertimbangannya, Juni masuk bulan puasa, dan butuh waktu untuk merancang promo buku ini. Gue setuju.

Tiba-tiba… sekarang udah Agustus. Preorder sudah besok (baca: ntar malem tepat pukul 00.00) Gue. Nervous. Setengah. Mati! Now, let’s talk about the pre-order.

Dari awal, gue kepengin mencetak foto gue dan menjadikannya dalam bentuk kartu pos. Rencana awal malah jualan kartu pos. Kenapa kartu pos? Simpel sih, alasannya. Yang pertama, kartu pos itu collectible. Yang kedua, ia nggak mahal. Yang ketiga, siapa pun yang menerima kartu pos pasti akan senang. Maka, ketika meeting promo dengan team Gagas, gue melontarkan ide ini: ngasih bonus kartu pos yang gambarnya adalah setting di novel Somewhere Only We Know saat pre order. Ide gue diterima. Kami kemudian brainstorming. Nongol ide lain. Kemudian gue mencari sponsor. Dapet sponsor, timbullah golden ticket. And now… let’s talk about the pre order of my upcoming book.

1. Pre order #SomewhereOnlyWeKnow akan berlangsung mulai tanggal 7 Agustus 2015, pukul 00.00. Cuma ada seribu buku untuk pre order yang berisi:

– Novel #SomewhereOnlyWeKnow bertanda tangan dan dikasih nomor, mulai dari 0001-1000.

kartu pos! Sedikit cerita, gue mengadakan semacam voting di akun instagram gue. Dari 12 foto yang gue post, gue meminta teman-teman memilih 6 foto yang akan dicetak dan disertakan di dalam buku pre-order. Hasilnya menakjubkan sekali. Banyak yang ikutan vote dan berkomentar I couldn’t be happier. Ini dia para kartu pos pilihan kalian:

#SomewhereOnlyWeKnow postcards for you! So, here's the thing: I need your help. Read carefully because you are the one who will help me for the next step of this book. Dalam waktu tiga hari ke depan, gue akan upload 12 foto di Instagram dengan hashtag #SomewhereOnlyWeKnow. Setiap hari gue akan upload 4 foto dengan lokasi yang berbeda-beda. Bantuan yang gue butuhkan dari kalian adalah: vote 6 foto yang menurut kalian HARUS BANGET dicetak dan dimasukkan ke dalam novel saat pre-order nanti! Cara vote-nya gampang banget: 6 (enam) foto dengan jumlah likes teratas yang akan dicetak dan bisa jadi milik kamu dalam bentuk kartupos! Gue udah pilih 12 foto yang merupakan hasil karya gue sendiri, dan foto-foto ini adalah setting di buku #SomewhereOnlyWeKnow This is the second image. Double tap if you think you should have this postcard inside the pre-order book. Yuk mari di-vote!

A photo posted by Alexander Thian (@amrazing) on

#SomewhereOnlyWeKnow postcards for you! Salah satu adegan di novel #SomewhereOnlyWeKnow, adalah ketika tokoh utamanya, Kenzo merayakan tahun baru sendirian di #Paris. Nah, foto ini diambil tanggal 31 Desember 2014. Sunset terakhir tahun 2014. Gue beruntung banget bisa dapet shot ini. Saat itu, Galleries Lafayette lantai 7 yang biasanya digunakan untuk foto-foto, ditutup aksesnya karena saat itu udah masuk malam tahun baru. Akhirnya, setelah berkeliaran dengan hati galau, gue nemu satu spot di lantai 5, deket cafe-cafe. Pas gue tiba di situ dan menempelkan jidat di jendela, langit berubah warna. Setengah biru, setengah jingga. Padahal seharian itu Paris sangat mendung. It was one of the best sunset I've seen! If you laaaaf this pic, show your love so this photo can make it to top 6 and transformed into a beautiful postcard. Besok gue akan posting 4 foto terakhir. See you! ❤️

A photo posted by Alexander Thian (@amrazing) on

Setiap buku pre-order akan dikasih dua kartu pos. Kenapa dua? Karena kalo enam kebanyakan. *dikeplak* Niat gue sih, ke depannya, pemilik kartu pos bisa saling tukeran. Mana tau elo dapet kartu pos yang bukan favorit elo, dan teman elo mengalami nasib yang sama. Kan bisa tukeran, tuh…

Oh, desain bagian belakang kartu pos-nya kece, lho! Mau liat? Ini dia!

IMG_1795

Nah, ini baru satu desain. Liat deh, di pojok kiri atas. Ada quote-nya, kan? Total ada 6 quote. Apa aja quote-nya? Ah, nanti juga tau.

Golden Ticket! Thanks a lot to Hotel Quickly, sebuah app untuk yang mencari hotel murah (and yes, I’ve tried it, and yes, it’s really cheap. Go, get the app!) yang bersedia jadi sponsor tunggal untuk masa pre order novel #SOWK, dan memberikan kejutan yang amat sangat keren. Penerima Golden Ticket (3 orang!) akan jalan-jalan bareng gue. Ke mana? Sesuai dengan judul buku gue, elo, elo, elo dan gue akan ke #SomewhereOnlyWeKnow. Dalam kalimat lain, kalian yang pegang Golden Ticket nggak akan tahu ke mana sebelum ketemu gue di bandara. Seru? Oh, you bet it will!

Voucher Hotel Quickly. Hah? INI APA? Tenang, karena sponsor gue baik hati, di dalam setiap buku pre order, akan diselipkan selembar voucher app Hotel Quickly. Kalian akan dapet diskon 15% kalau memesan kamar hotel via app ini. Sweet!

2. Ini penting: di mana pre order buku gue? Bisa ke:
Buku Buku Laris. Link -> KLIK INI
Buku Kita. Link -> KLIK INI
Buka Buku. Link -> KLIK INI

Jadi, cuma tiga toko buku online ini yang jadi partner pre order. Kalo ada website lain yang ngasih tau elo bahwa mereka ada PO buku gue dengan bonus seperti di atas, itu dusta.

3. Harga buku.
Nah, harga buku gue 65 rebu doang. (iye, pake doang. Nulisnya 2 tahun, lho :p) Namun di toko online, biasanya akan ada diskon. Dari 10-20%, itung sendiri deh berapa jadinya. xD Oh, satu lagi. Tebal buku ini sekitar 350 halaman. Mayan banget. Dua kali lipat lebih tebel dari The Not-So Amazing Life-of @aMrazing.

4. PO sampai kapan?
Untuk 1000 buku bertabur bonus macem-macem, ya jatahnya cuma 1000 buku aja. Kalau habis dalam waktu 10 menit, ya udah. TAPIIIIIII, selain 1000 buku dengan bonus, ada 1000 buku lagi, kok, yang bisa di PO. Nah, 1000 buku ini cuma berisi buku dan tanda tangan gue. Mari rekap: ada 1000 buku ber-ttd + bernomor + bonus dua kartu pos + voucer diskon 15% Hotel Quickly + Golden Ticket (untuk yang memang the chosen ones), dan ada 1000 buku berisi novel dan tanda tangan. Total: 2000 buku!

5. Postingan ini akan bersambung ke postingan satu lagi. Di situ, gue akan cerita sedikit mengenai isi buku, sekaligus kasih pengumuman pemenang tongkat Voldemort di postingan ini: HarPot Giveaway!

Now, are you ready to get your #SomewhereOnlyWeKnow? It’s H-1, yang artinya, mulai nanti malam kalian bisa pre order! 😀 😀

IMG_5650 2_Fotor
July 4, 2015

The Magical World of Harry Potter

Tahun 1997 adalah tahun yang bersejarah banget. Dari meninggalnya Putri Diana, sampai terbitnya salah satu novel yang paling populer dalam sejarah: Harry Potter and the Philosoper’s Stone. Tak ada yang menyangka Harry Potter and the Philosoper’s Stone atau Harry Potter and the Sorcerer’s Stone akan menjadi best-seller di mana-mana, digila-gilai, dan membuat J.K. Rowling menjadi salah seorang penulis perempuan tersukses di dunia.

7 buku dan 8 film kemudian, demam Harry Potter telah menggurita dan mengglobal. Gue termasuk salah seorang yang tergila-gila, dan iri setengah mati karena di Orlando sana, tepatnya di Universal Studio, ada The Wizarding World of Harry Potter. Melihat foto-fotonya di internet membuat gue menelan ludah berkali-kali, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika gue sampai pergi ke Amerika dan mendarat di Universal Studio Orlando. Sebuah mimpi yang terkubur sampai beberapa bulan yang lalu.

IMG_5602 IMG_5601

Begitu melihat salah satu teman mengunggah foto dengan latar Hogwarts, mata sipit gue membelalak. Gue bertambah heboh ketika tahu itu di Osaka, Jepang, yang juga menjadi tujuan liburan gue. Wah, pas! Buru-buru, gue mencari berbagai info, googling sana googling sini, melihat berbagai foto, hingga gue memutuskan: oke, nggak mungkin banget kalau pergi ke Jepang tanpa ke Universal Studio Osaka!

/ continue reading