Sunset Is Happiness
August 4, 2014

You Deserve To Be Happy

Gerah gak sih, setiap kali buka timeline, selalu ada aja hawa negatif menguar seperti bau ketek abang ojek yang rela nggak mandi tiga hari dan gak pake deodorant seminggu karena mereka anggap itu adalah cara mendapatkan pelanggan lebih banyak?

Gerah gak sih kalo setiap kali buka timeline, adaaaa aja yang ngeluh tentang hidupnya yang gak sempurna, percintaannya yang selalu gagal, uang jajannya yang selalu kurang, kerjaannya yang gak sesuai dengan apa yang dia mau, bosnya yang lebih kejam dari ibu tiri Upik Abu, keteknya yang selalu bau… *bentar, kenapa gue bahas bau ketek mulu, ya…*

Now I don’t wanna be a motivator here, I just want to say, segala macam keluhan yang beredar baik dari diri elo, maupun dari orang-orang di sekitar elo, nggak akan membuat segala sesuatu lebih baik.

Let’s say, elo bete banget karena hari ini cuacanya sangat panas. Elo gak dapet angkot karena setiap angkot penuh sementara elo udah nunggu berpuluh-puluh menit lamanya di pinggir jalan yang puanasnya kek ngeliat mantan pamer pacar barunya yang lebih cakep dari elo. Pas ada ojek, eh ada orang lain yang loncat dulu ke pangkuan abang ojek dan mereka pergi menyongsong matahari senja, meninggalkan hadiah berupa debu-debu intan di wajah elo. Dandanan elo yang tadinya kece, makin lama makin gak berbentuk karena udah kecampur sama keringet dan debu dan asep knalpot segala macam kendaraaan. Seakan belum cukup, elo mendadak keingetan sama video absurd Syahrini yang, “I feel freee~~~”

Tambah bete kan, lo? Udah gak dapet angkot, mau naik ojek malah dicurangi sama orang lain, kepanasan kena debu dan keringetan, ditambah bonus flashback video Instagram Syahrini yang bikin sirik dan empet.

Nah, kalo kasusnya kayak gini, boleh gak ngeluh? YA BOLEH, LAH. Gile aja kalo udah kayak gitu gak boleh misuh-misuh tukang ojek yang tak berperikeadilan karena memutuskan mengangkut orang lain ketimbang diri elo.

Mengeluh itu manusiawi banget, kok. Wajib malah.

 

/ continue reading

IMG_1592 copy
March 14, 2013

Unconditional Love

Dulu gue selalu, SELALU, menganggap, there’s no such thing as unconditional love. Even a mother’s love is not an unconditional love. Yes, a mother will always love their children. Tetapi, kasih seorang ibu pun bersyarat. Kita diharapkan, diwajibkan, diperintahkan untuk melakukan ini, itu, ina, inu, which we obeyed – kadang suka rela, kadang terpaksa. – Ibu mau kita menjadi manusia yang lebih manusia. Manusia yang bisa dia banggakan. Yang bisa dia ceritakan ke kolega, ke teman, ke sanak saudara, bahwa anaknya bisa begini, berprestasi begitu, menghasilkan ini, ina, inu. Dan hal ini wajar saja. Ibu mana yang tak bangga jika anaknya berprestasi dan mengharumkan nama keluarga?

Ibu, akan menyayangi kita walau kita mengecewakan, walau kita menyebalkan, walau kita melanggar perintah dan permintaannya. Ibu tetap sayang walau kita lebih memilih menghabiskan waktu seharian untuk ngetwit, main sama teman, main game sampai lupa waktu lupa mandi, menonton film bareng teman atau malah pacaran ketimbang menghabiskan bersamanya. Ibu akan menelan kekecewaan, atau kadang menasihati, atau bahkan sedikit memaki. Despite all that, she will always love us. No matter what. Is this what they called an unconditional love? No. I don’t think so. Cinta tak bersyarat tak akan punya syarat apapun dari awal. Cinta tak bersyarat – unconditional love – menurut gue adalah cinta yang tak pernah menuntut sama sekali. Dalam bentuk apa pun. And it doesn’t exist. Unconditional love is just beyond any man’s reach. Or at least that’s what I used to think. Until my mother told me her love story…

This is a story about how my mother met my step father. And no, I will not spend eight seasons telling it. *lirik judes ke Ted Mosby*

/ continue reading

FullSizeRender 24
March 17, 2015

Semarang and Solo VS KL and Penang

FullSizeRender 16
IMG_1314
Februari selalu menyenangkan. Bukan hanya karena bulan ulang tahun gue, tapi juga karena prospek jalan-jalan. Kalau tahun lalu gue menghadiahi diri sendiri dengan trip ke Iceland, tahun ini gue memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama pacar (baca: gue nggak dikasih izin jalan-jalan cendilian huhuhu…) Etapi, ya… percaya nggak, justru ketika elo nggak ngarepin apa-apa, maka ada aja rezeki yang terbang centil menghampiri? Itu juga yang terjadi ke gue.

/ continue reading

Melb12
February 21, 2015

Zodiak Kamu Apa? (Pt2)

Sebenarnya ya, gue males ngelanjutin menuliskan karakter Zodiak yang gue tau. Soale… mantan gue Libra. Kan males bahas mantan. *LOH KENAPA CURHAT* But anyway, gue udah janji. Sebagai seorang Aquarius, gue selalu berusaha untuk menepati janji. Di post sebelumnya,

http://amrazing.com/zodiak-kamu-apa/,  gue baru bahas Aquarius dan Gemini, ya? Nah, mari kita lihat, berapa zodiak yang gue bahas kali ini.

Sebentar lagi masuk bulannya para pemimpi, Pisces. Jadi, kenapa nggak bahas zodiak ini aja, ya? Let’s!

PISCES

/ continue reading

IMG_4698
February 9, 2015

Zodiak Kamu Apa?

Sering banget gue nemu orang-orang yang nggak percaya sama zodiak, tapi diem-diem seneng kalo ramalan zodiaknya kece. Begitu dapet yang busuk, eh, marah-marah. Nah, elo gitu juga, nggak? Sebenarnya, bisa nggak sih ramalan zodiak itu dipercaya? I’d say: NGGAK. Jangan percaya ramalan zodiak harian, mingguan, bulanan, atau menitan. #apeu.

Apalagi, kalo misalnya yang elo baca itu adalah ramalan tentang gimana nasib elo, kehidupan percintaan elo, rezeki elo hari ini besok dan lusa. Jangan mau dibegoin sama yang kayak gituan. Like, bitch, please! Masak iya elo menggantungkan harapan pada ramalan zodiak? Yekali elo bakalan percaya sama ramalan yang berbunyi:

Dear Leo, bae-bae hari ini elo kesetrum colokan aipon elo tiga kali.
atau
Yo, Aries! hari ini elo akan liat pacar elo selingkuh!

Lah, kalo Aries yang jomlo, piyeeee? Kalo Leo yang tinggal di hutan tanpa listrik dan ndak punya aipon, piyeee?

Ramalan bintang is stupid and never meant to be taken seriously.

Lain halnya dengan penggambaran karakteristik zodiak secara umum, yang sering iseng gue lakukan. Apakah ini bisa dijadikan patokan? Bisa iya, bisa nggak. Kan, ini pengamatan gue pribadi, dan tentunya, pasti menggeneralisasi. Yang sering gue lakukan, namanya cold reading. Biasanya, sepengamatan gue, tipe zodiak tertentu punya karakter yang emang nempel di zodiak itu. Let’s say… gue Aquarius, dan gue ini pelupa orangnya. Apakah ini berarti semua Aquarians pelupa? Nope. Nggak semua. Mungkin sebagian besar aja. Contoh lain: Cancer itu susah move-on. Bener apa nggak? Banyak yang akan bilang, iya, banget, Lex! Gue belajar move-on udah 5 tahun tapi susahhhh! huhuhu, soalnya gimana mau move-on kalo tiap hari ketemu karena di kantor yang sama.. blabliblubleblo *curhat dimulai* Tapi nggak akan sedikit Cancer yang putus hari ini eh, besoknya udah jadian sama yang lain. Padahal ngakunya cinta banget, ngakunya nggak bisa hidup tanpa gue, lalala yeyeye. Kan bangsat… *loh kenapa gue emosi*

Anyway, postingan ini bertujuan untuk bahas karakter seseorang berdasarkan zodiak. Karena ada 12 zodiak dan nggak lucu aja kalo gue posting sekaligus, di sini gue akan bahas Aquarius, Gemini, dan Libra. Yang mau request zodiaknya dibahas, taro di komen aja. Yang ngerasa zodiaknya gue bahas, what do you think?

Sekali lagi, ini cuma berdasarkan pengamatan gue terhadap temen-temen gue, orang-orang di sekitar gue. Kalo bener, ya artinya gue emang awesome. Kalo salah, ya namanya juga manusia, nggak luput dari kesalahan. Tuhan aja maafin, masak kamu mau dendam terus? *mendadak relihius*

Mari mulai dengan Aquarius. The one to rule them all. First of Her Name, Queen of Meereen, Queen of Andals, the Rhoynar and the First Men, Lord of the Seven Kingdom, Protector of the Realm, Khaleesi of the Great Grass Sea, the Unburnt, Mother of Dragons! *ini mau bahas Aquarius apa Daenerys Targaryen, sih…*

/ continue reading

IMG_4507
February 5, 2015

New Year, New Glasses, New Lens

Gue kalo pake kacamata jadi lebih ganteng.

Seriusan. Begitu lepas kacamata, terus ngaca, gue kaget sendiri. Whooooo~ is the boy I see staring straight, right at meee~ *nyanyik* Ya gimana, ya. Mata sipit dan hidung model minimalis ini jadi lumayan tersamarkan begitu pakai kacamata. Terus, keuntungan lain pake kacamata adalah, kalo makan mie rebus, semuanya jadi remang-remang karena uapnya nempel di lensa. *plak*

Gue mulai pake kacamata pas kelas 2 SMP. Diawali dengan komplen ke guru, pak nulisnya tebelan dikit, kek. Tulisan di papan tulis nggak kebaca! Burem! Pak Guru tentu menimpuk gue dengan kapur karena dia menyangka gue ngeledekin dia. Gue berusaha mencari dukungan ke teman-teman yang duduk di belakang gue.

“Kalian juga nggak bisa baca tulisan di papan tulis, kan?”
“Iya, nggak kebaca!”
“Tuh, kan!”
“Gimana mau baca, tulisannya jelek. Lagian mendingan baca ini…”
Ternyata di balik buku pelajaran, temen gue nyelipin komik. Setan.

Beberapa hari kemudian, gue pindah tempat duduk. Kali ini, gue duduk paling depan. Tetap saja gue susah membaca tulisan di papan tulis. Gue bahkan harus memicingkan mata untuk fokus membaca tulisan di sana. Lama-lama, kok gelap, ya? Oh, ternyata gue terlalu memicingkan mata hingga merem. Ya gimana, namanya juga sipit…

Anyway, akhirnya gue pake kacamata. Kanan kiri minus 2,75. Gelo. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2012, minus gue jadi 5 di kiri, 4,5 di kanan. Abang optik sih menyuruh gue ganti lensa. Katanya, mata kiri gue sebenarnya minus 6. Tapi kalo gue memaksakan pake lensa yang minus 6, mata gue sakit kayak ditusuk gituh. Udah gitu, kalo jalan, gue jadi limbung kayak orang mabok padahal gue gak doyan minum. Jadilah gue bertahan dengan lensa minus 5 di mata.

IMG_8301

Nah, akhir tahun kemarin, gue merasa mata kiri gue nggak asik. Ngelirik yang cakep, kelihatan agak burem. Aduh, jangan-jangan minus gue bertambah. Demi menunjang cita-cita melihat yang cakep tidak burem melainkan tetap cakep, akhirnya gue pergi ke optik. Cek mata. Lalu gue kaget.
/ continue reading

IMG_4609
December 27, 2014

Terus Kenapa Kalo Jomlo?


Udah di penghujung 2014 dan kamu masih jomlo? Tenang. Postingan ini nggak bermaksud meledek jomlo, kok. Btw, you read it right. Yang bener itu ternyata ‘jomlo’, bukan ‘jomblo’. Walaupun, menurut gue, enakan nyebut jomblo, sih. But anyway, berasa gak sih, kalau di social media mana pun (terutama Twitter), joke yang ngeledek para jomlo udah overrated banget dan udah sampai di titik, nyet gak lucu deh ngeledekin jomlo terus. Kek nggak ada bahan tweet aja.

Tapi gimana, dong. Para jomlo juga pasrah sih, kalo diledekin. Termasuk ketika diledek tentang friendzone, LDR yang gagal, dijadiin kakak atau adek zone, dan berbagai kasus yang mengakibatkan seseorang menjadi tuna asmara. Jadi, mari kita teruskan meledek jomlo. *lah*

Nggak ada salahnya juga kalau kalian *baca: jomlo* punya resolusi: punya pacar di tahun 2015. How about, punya pacar yang cakep dan baik dan setia dan tajir dan royal dan … dikasih aipon 6 baru? Jreng! Mau? Okay.

/ continue reading