SAMSUNG CSC
September 13, 2014

Iceland Winter Wonderland

“Where are you from?”
“Indonesia!”
“Tropical country, right?”
Gue tersenyum dan mengangguk.
“Well, are you ready for magic?”
Kali ini, gue tertawa. Mata Björn berbinar menunggu jawaban gue.
“To quote Queen, what kind of magic?”
“You know… since you’re from a tropical country, have you ever seen the world covered in snow?”
Jantung gue langsung berdesir lebih cepat. Golden Circle Tour yang di-booked oleh teman gue tampaknya akan melebihi ekspektasi. Sebelum tiba di Iceland, Kenny memang sudah booking beberapa tour yang menurutnya wajib untuk diikuti. Karena gue seorang pemalas, gue tak berusaha untuk sekadar googling dan mencari tahu apa itu Golden Circle Tour. Gue lebih memilih untuk “expect the unexpected” dan membiarkan kejutan yang manis menghampiri. Dengan kalimat yang skeptis, gue membalas ucapan Björn, “Uhm… I’ve seen snow in Reykjavik, but…”
“… but that’s not the main attraction! Now hop on and welcome to winter wonderland!”
Tanpa buang waktu, gue segera naik ke dalam jeep yang dikendarai Björn, bergabung dengan empat penumpang lainnya. To the grand adventure, I go.

SAMSUNG CSC

/ continue reading

IMG_6877 (1)
June 26, 2015

Ini Salah Kita

Ketika pegipegi mengumumkan pemenang blog adalah Neng Biker yang memilih untuk menjelajah pantai di Malang Selatan, gue bersorak gembira. Tapi sekaligus bingung. Gembira karena ada kata ‘pantai’. Bingung karena gue nggak ngeh sama sekali kalau di Malang ada pantai. Biasa, selain suka nyasar, pengetahuan geografi gue juga jeblok. Wekaweka.

Kontes blog yang beberapa bulan lalu diadakan pegipegi sebenarnya cukup simpel. Mereka akan bayarin elo jalan-jalan ke destinasi yang elo mau di Indonesia. Syaratnya, cukup bikin blog dan yakinkan mereka bahwa elo beneran mau ke sana, bukan cuma buat pamer di socmed doang. Banyak lho yang mengaku traveler supaya bisa pamer foto (yang cakep juga nggak malah kebanyakan isinya selfie) #eaaa. Anyway, Neng Biker menang karena di tulisannya, dia mengangkat isu ecotourism yang memang menjadi tema lomba blog dengan kental sekali. Tulisannya pun ciamik. Jadi ya nggak heran kalo menang. Nah, sekarang mari berjalan-jalan ke Malang Selatan.

FullSizeRender 30 Neng Biker dari jauh (iye, dari jauh aja, biar pokus ke pemandangan xD)

/ continue reading

SAMSUNG CSC
May 15, 2015

Zodiak Kamu Apa? (Part 3)

Entah kenapa, setiap kali mau nerusin postingan zodiak, ada aja halangannya. Kangen nasi padang, lah, harus ganti soptek, lah… *wait what…*

Ini bulan Mei, kan, ya? Berarti masih masuk bulan para penderita kepo warbiyasak, keras kepala, sok cuek tapi butuh, pekerja keras tapi kalo lagi angot celana dalem bisa gak ganti tiga bulan yang berjudul Taurus, kan, yheaa? Baiklah, mari kita mulai omongin yang jelek-jelek zodiak satu ini.

/ continue reading

download
April 22, 2015

Avengers: Age of Ultron, Age of Disappointment

What makes a good movie, a good movie? For me, it’s always the story and the characters. A good and great movie always, awalys makes me root for the characters. Their story should make me care about them. Nggak peduli itu penjahat nyebelin atau karakter pendukung yang nggak banyak ngomong. Sayangnya, Age of Ultron gagal di sini.

Gue nggak peduli sama Ultron yang ingin menghancurkan dunia.
Gue nggak peduli sama perkembangan kisah Romanoff – Banner.
Gue nggak peduli sama pendalaman karakter Hawkeye.

Padahal, gue sayang banget sama mereka.

Pada nonton Guardians of The Galaxy? Suka? Kalo gue, suka banget banget banget banget. Gue sampe nonton tiga kali saking sukanya. Dan ketika diingat lagi, gue meninggalkan bioskop dengan senyum lebar ala anak kecil dikasih mainan favorit dan hati yang hangat. Kenapa? Karena di luar dugaan, Guardians of The Galaxy sangat menghibur. Gue jatuh cinta sama Groot, pohon (yang diduga reinkarnasi pohon ngamuk di Lord of The Rings *plak*) yang cuma bisa ngomong, “I AM GROOT” doang sepanjang film. Gue sangat ingin si Star Lord berhasil mengalahkan musuhnya dan gue ngakak kenceng banget liat usaha dia mendekati perempuan hijau (bukan, bukan Hulk versi cantik) berjudul Gamora, ngakak tambah kenceng liat Peter Quill adu wit sama si Rocket. Gue mengerti motif balas dendam Drax, gue memahami mengapa Gamora ‘berkhianat’, dan tentunya, gue kagum sama Rocket, si rakun kecil – yang punya sedikit syndome megalomaniac, yang amat sangat cerdas.

/ continue reading

20150409_101856
April 17, 2015

Berani Bermimpi, Berani Mewujudkan.

Kayaknya hari gini, semua kegiatan traveling selalu dimulai dengan berburu tiket murah. Contohnya, gue. Dulu banget, gue pernah dapet tiket supermurah ke Jepang. PP cuma 965rebu. Seriusan. Sembilan Ratus Enam Puluh Lima Ribu Rupiah Pulang Pergi sumpeh gak boong!

Euforia dapetin tiket mureh ke Jepang menjadi layu ketika menjelang hari keberangkatan, gue dapet deadline skenario buanyaknya ngalahin seberapa sering dia PHP-in kamu. Dengan amat sangat terpaksa, melayanglah sudah harapan pergi ke Jepang dengan harga tiket kurang dari sejuta.

Tapi, gue yakin banget, kalau saat itu gue belum berkesempatan pergi ke Jepang, suatu hari nanti, entah kapan, gue pasti akan pergi. Keyakinan itu gue pegang terus walau gue masih belum melihat ‘lights at the end of the tunnel’. Dan ketika elo berani bermimpi dan lebih berani mewujudkannya, ‘cahaya’ yang dijanjikan pasti akan muncul.

Dan tentunya, munculnya lewat tiket murah juga. Hihihi.

Berawal dari keinginan menonton konser Coldplay di Tokyo, gue dan pacar membeli tiket Garuda yang memang lagi sale. Apakah gue berhasil nonton Coldplay di sana? Nggak. Tiketnya sold out karena konser Ghost Stories mereka berjudul ‘intimate concert’, yang artinya cuma diadakan di tempat kecil dengan jumlah penonton terbatas. Apakah gue lantas tak bersenang-senang? Let’s just say, perjalanan ke Jepang pertama kalinya membuat gue berjanji ke tukang becak (atau rickshaw kali, ya) di Kyoto yang lebih pantas menjadi lead di sinetron saking gantengnya, bahwa gue akan ke Jepang minimal 4 kali. Summer, Autumn, Winter dan Spring.

Janji itu sudah dipenuhi setengahnya. Setelah musim panas 2014, musim semi 2015 menjadi kali kedua gue pergi ke Jepang. Nih, satu foto pamer:

Alex

/ continue reading

semarang
March 29, 2015

Galau Usia 20an

Cukup sering gue mendapatkan mention di twitter yang isinya kurang lebih:

Gue nggak tau mau jadi apaan, nih, di usia gue yang udah segini.
Temen-temen gue udah jadi ‘orang’, gue masih gini-gini aja.
I don’t know what should I do with my life, I have no idea how to make my parents proud of me.
Gue sama sekali nggak ada ide masa depan gue akan gimana.

Pernah nggak menanyakan pertanyaan di atas ke diri sendiri? Pernah krisis identitas? Pernah merasa kayaknya hidup itu stagnan, nggak bergerak ke mana-mana, nggak maju, nggak mundur, tapi stuck. Everything looks bleak, stale, boring. And the worse thing is, you have no idea what to do. Kalo jawabannya iya, worry not, you’re not alone. Buanyak banget kok anak muda kayak gue (hey, dilarang protes, gue masih muda!​(˘̯˘ )​( ˘˘̯) )dan kalian yang galau masa muda dan galau krisis identitas.

Contohnya, gue. Waktu usia dua puluhan, gue nggak tau harus ngapain. Gue nggak tau harus jalan ke mana. Gue nggak tau ‘passion’ gue itu apa. Bahkan sampai berusia 27, gue nggak tau mau jadi apaan. Kerjaan gue sehari-hari ya jaga toko doang. Bosen, gak? Buset, dah. Bosen gilak! Bayangin aja, gue tiap hari buka toko pagi, nyiapin dagangan, nimbang gula-terigu-minyak goreng, melayani ibu-ibu rempong yang seringkali masih bau ketek karena belum mandi, mencatat dagangan apa aja yang abis dan harus segera re-stock, dengerin para pelanggan (mostly, ibu-ibu), komplen mengenai anak-suami-sinetron di tipi. Begitu terus setiap hari, bertahun-tahun.

Gue bosen gila.

Yang gue tau pasti: nggak mau jadi beban hidup buat orang lain, nggak mau ngerepotin orang, nggak mau jadi tukang minta duit ke keluarga. Jadi, gue terus kerja, sambil nyari, apa ya, kesempatan yang akan datang ke gue?

Kemudian, gue pindah ke konter hape. Mendingan, sih. Pelanggan gue nggak terbatas ke ibu-ibu. Bapak-bapak dan abege alay bau ketek juga ada. Tapi jauh di lubuk hati, gue tau, hidup gue bukan untuk dihabiskan di kotak berukuran 2x2m2. I knew that I was meant for greater things. I knew I didn’t belong there. The thing was, I didn’t know what were ‘the greater things’ I was supposed to do. (untuk cerita konter hape, silakan cari buku gue: The Not-So Amazing Life-of @aMrazing. Okay, this is a shameless plug. Sorry, not sorry. Muehehehe.) Galau nggak, gue? Galau gila. Setiap hari selalu ada sebuah gelombang yang pelan-pelan berkumpul dan menghantam ketika malam tiba. Mau jadi apa hidup lo kalo tiap hari elo begini terus? Mau mati bosen melakukan rutinitas yang sama?

Sampai ketika gue menginjak usia 27 lebih beberapa bulan. Seorang sahabat menawarkan gue untuk menjadi penulis. Gue terima tawaran itu tanpa pikir panjang. Untuk lengkapnya, baca TNSALOA2, kayaknya terbit tahun depan, deh. (promo tanpa tau diri muehehe)

Titik balik gue bukan di usia 27, tapi di usia 25an. Suatu malam, mendadak gue terbangun dari tidur gelisah gue, duduk tegak di kasur, dan pikiran ini nongol:

If I keep worrying about my future, how will I be able to enjoy my present?

Kalimat ini terus menerus menggaung dan bergema. Ia menjelma menjadi semacam mantra. Terlalu sibuk galau masa depan, gue lupa menikmati masa sekarang. Keesokan harinya, ketika gue buka konter, gue merasa lebih enteng. Akibatnya, gue lebih sering senyum ke calon pelanggan, gue jadi lebih ramah, gue jadi lebih hidup.

Karena pemikiran itu juga lah, gue berhenti mencemaskan masa depan. Susah, nggak? You bet it is! Susah! Tapi seiring dengan perjalanan waktu, seiring dengan memfokuskan diri di SAAT INI, di DETIK INI, MENIT INI, SEKARANG, pikiran itu berangsur terdorong ke belakang, dan mendekam nyaman tanpa berniat untuk mendobrak keluar.

Mind you, there will be times when you look at your friends who are at your age, and you get this empty feeling and a descending self esteem and feel so worthless because they are more successful, they look happier, they seem enjoy life more than you do. Then you will start questioning yourself: mereka udah sukses gue masih receh… mereka udah tajir gue masih ngitung duit buat nyukupin makan di warteg, mereka udah jalan ke mana-mana sedangkan gue stuck… mereka udah ini-ina-inu sedangkan gue cuma butiran upil kering yang disentil juga mental dan gak guna.

Let me tell you a secret. Kebanyakan orang hanya memperlihatkan sisi yang mereka ingin dunia lihat. Di balik sebuah kesuksesan, 99% ada tangis, duka, jatuh bangun, keringat, kerja keras, malam-malam begadang ngerjain tugas, dan lain-lain, dan lain-lain. Di balik sebuah kebahagiaan dan hidup yang tampaknya senang-senang saja, ada sebuah kamar bernama ‘What I Have Done To Proceed To This Stage’. Kamar ini berisi kegagalan, perjuangan melawan dunia dan diri sendiri (lebih banyak perjuangan melawan diri sendiri), kegalauan, keraguan atas keputusan yang sudah diambil, kegamangan karena tempat berpijak yang seperti pasir hisap, kebosanan, pelajaran berharga yang diperoleh dengan pahit, kegagalan, kegagalan, kegagalan, dan penerimaan diri.

Dan percaya deh, suatu saat elo akan mengalami hal itu juga. Mungkin sekarang, elo sedang berada di kamar ‘The Struggling Room’ atau ‘Who I Am, Really?’. Nggak apa-apa. Nanti, entah berapa bulan atau tahun lagi ketika elo mengunci pintu-pintu itu, mengantungi kuncinya, dan membawa pelajaran-pelajaran yang elo dapatkan, lo akan nyengir, tersenyum lebar, tertawa keras seraya berkata: Hey, been there, done that, got the t-shirt that says: I am alive and kicking and happy, bitches!

But for now, just enjoy whatever comes to you. Boleh kok ngeluh asal nggak overdosis. Boleh kok nangis malem-malem asal nggak setiap malam. Boleh kok ngadu ke Tuhan kalo udah nggak kuat. Yang penting, jangan putus asa karena elo nggak akan tau pelajaran keren apa yang bakalan elo kantungi.

Yang jelas, usia dua puluhan itu memang ajang menempa mental dan skill, sih. Cari tau apa yang lo suka kerjakan, dan perdalam hobi itu. Itu yang namanya passion. Jadi, bukan mendadak ada bola lampu pijar di kepala lo yang nyala dan suara, “tring! passion gue adalah menulis.” No. Jose. It doesn’t work that way. Passion itu akan ada dan hadir ketika elo sudah mengerjakan sesuatu, dan menekuninya, dan ternyata, elo suka.

Elo iri sama teman sebaya yang kelihatannya udah sukses? Gak apa-apa. Itu normal dan diperbolehkan. Asalkan elo bisa ubah energi dari rasa iri jadi motivasi, bukan dengki yang berubah jadi benci karena hidup orang itu lebih oke dari elo. Kalo kayak gini, sih, sampe kapan pun elo nggak akan jadi orang sukses.

Sekali lagi deh gue tulis: Olah rasa iri menjadi motivasi.

Dulu, gue bilang gini ke diri gue: Kalo dia bisa, gue harus lebih jago. Bukan untuk buktiin ke orang itu, tapi pembuktian ke diri sendiri, that I can do this shit.

So I think it’s perfectly fine if you haven’t found what you’re looking for in your twenties. Sooner or later it will come for you.

Good luck and have a great day. Don’t forget to smile.