Home Blog

Iceland Winter Wonderland

31

“Where are you from?”
“Indonesia!”
“Tropical country, right?”
Gue tersenyum dan mengangguk.
“Well, are you ready for magic?”
Kali ini, gue tertawa. Mata Björn berbinar menunggu jawaban gue.
“To quote Queen, what kind of magic?”
“You know… since you’re from a tropical country, have you ever seen the world covered in snow?”
Jantung gue langsung berdesir lebih cepat. Golden Circle Tour yang di-booked oleh teman gue tampaknya akan melebihi ekspektasi. Sebelum tiba di Iceland, Kenny memang sudah booking beberapa tour yang menurutnya wajib untuk diikuti. Karena gue seorang pemalas, gue tak berusaha untuk sekadar googling dan mencari tahu apa itu Golden Circle Tour. Gue lebih memilih untuk “expect the unexpected” dan membiarkan kejutan yang manis menghampiri. Dengan kalimat yang skeptis, gue membalas ucapan Björn, “Uhm… I’ve seen snow in Reykjavik, but…”
“… but that’s not the main attraction! Now hop on and welcome to winter wonderland!”
Tanpa buang waktu, gue segera naik ke dalam jeep yang dikendarai Björn, bergabung dengan empat penumpang lainnya. To the grand adventure, I go.

SAMSUNG CSC

Naik Business Class Itu Kayak Apa, Sih?

0

Itu yang menjadi pertanyaanku bertahun-tahun, ketika hanya bisa scroll postingan stranger atau teman yang membagikan pengalaman mereka naik pesawat dan duduk di kursi business class sedangkan hamba masih harus mengedit buanyak sekali naskah, atau menulis naskah untuk tayang keesokan harinya. Sebentar, menulis naskah untuk tayang besok, tapi kok malah scroll postingan orang, sih? Heyyy~~, hamba juga butuh refreshing sejenak dari deadline yang melanda, wahai padukaaaaa!

Refreshing sekaligus khayal-khayal unyu gitu, membayangkan kursi yang superlega, superempuk, pramugari yang mengantarkan makanan tanpa henti dengan sajian makanan seperti di restoran mahal yang tampaknya enak tiada tara, boleh minta sparkling wine, boleh minta jus apel tiga liter kalo mau, tipinya geda, terus kalo mau tidur nggak perlu khawatir nyender ke bahu penumpang di sebelah secara itu kursi business class bisa jadi kasur… Aduh, mau dong, sekali-kali merasakan naik bitnit klas…

Lantas, apakah hamba merasa iri? OH TENTU SAJA! BOHONG BESAR KALAU BILANG NGGAK IRI LIAT POSTINGAN ORANG NAIK PESAWAT DUDUK DI BUSINESS CLASS DAN AKU NGGAK IRI HEY, HAMBA HANYA MANUSIA BIYASAK! (mz, mz, bentar, jangan ngegas, dong…)

Lalu, bertahun-tahun kemudian, mimpi itu menjadi nyata. Nggak cuma sekali, tetapi berulang kali. Ada yang dari media trip, ada juga beli business class dari kocek sendiri, hasil berburu tiket diskon ehe ehe ehe. Dan ternyata, memanglah benar bahwa pelayanan naik business class itu beda jauh dari kelas ekonomi #youdontsay.

Dari Qatar Airways ke Turkish ke SQ ke Garuda ke Cathay Pacific, udah pernah aku jajal semua business class-nya. Memang semenyenangkan itu. Mulai dari proses check-in yang teramat sangat mudah, nggak perlu antre lama-lama karena ada jalurnya sendiri, masuk pesawat duluan, jatah bagasi yang jauh lebih banyak ketimbang naik ekonomi.

Have you seen the viral fb post of a young american man who was just graduated from harvard? The one where he told us how he went extra miles to be where he is now? It's inspiring, isn't it? . Well, I don't have that kind of story because I didn't go to college. Why, you ask? Classic reason: money. Going to college was out of reach and out of the question. It's a daydream that will never be. . When my dad died, my mother had to work abroad. We were seriously poor. Our family was scattered. I had to live with my uncle. . I worked for my sis for 3 years. She had (and still has) warung kelontong. After that, with 10 mio, I started my own. I rented a place. I didn't have a bed, no tv, no cellphone. I slept on the cardboards and ate instant noodles with rice for months because I didn't want to use my warung's capital. . I woke up at 6 in the morning, and closed the store around midnight. I learned how to engage with ibu-ibu customers, listening to their gossips, watching sinetrons (with a brand new tv, i bought it and had to paid it off daily, it was IDR 11.000 per day, for 150 days) so I'd know what they're talking about and they'd keep buying stuff at my place. . When fasting month came, I'd make nastar and caastengel and whatnot because in the day time my warung was as quiet as a cemetery. The profit was good so I could afford a kasur palembang (you know, the very thin mattress sold by abang-abang keliling kampung). . Then from pirated VCD (and DVD) I learned English. I'd listened to a song and wrote down its lyrics. My 'holiday' was visiting a mall, and watching people and write about it. I'd go to internet cafe to talk to strangers because I had no friends… and to practice my english skill and learned how to write. . Life was tough. Really tough. But i refused to be just 'ngkoh tukang warung'. I knew I had to acquire skills because I bear no 'S.H' or 'S.E.' behind my name. . Today I could travel the world. My solo photography exhibition was held last year. Mr. President read my novel. I've seen aurora borealis. If I can do it, so can you. I mean it. . P.S: pardon my grammar 🙈 . #QatarAirways #goingplacestogether #aMrazingTrip

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

Lalu, pramugari yang hafal nama aku, kursi empuk yang menjelma menjadi flatbed, mau champagne tinggal minta, mau cokelat premium tinggal tunjuk, bahkan di A380 Qatar, ada highest bar in the sky. Jadi, ini semacam bar di angkasa yang boleh ditongkrongi penumpang business class dan first class. Mau minuman apa pun, sebanyak apa pun, ada dan boleh. Terserah aja. Suka-suka.

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

A post shared by Alexander Thian (@amrazing) on

Untuk long haul flight, emang berasa banget sih enaknya naik business class. Toiletnya aja beda. Amenities merk premium semua. Di beberapa airlines, disediakan piyama (dan boleh kita bawa pulang!). Ketika mau tidur, pramugarinya dengan senang hati membantu kita untuk menyulap kursi menjadi kasur, lengkap dengan bantal dan selimut. Bantal kurang banyak? Ya tinggal minta lagi. Kelaperan tengah malam? Tinggal minta, langsung dikasih makanan yang kita mau (yang tentunya tersedia di flight itu, ya).

Waktu balik dari Madrid ke Jakarta, aku dikasih cake ulang tahun karena pas tanggal 5 Februari itu ulang tahunku, lalu diajak toast champagne dan dinyanyikan lagu ulang tahun oleh in flight manager dan sederet pramugari. Aku nggak akan pernah lupa pengalaman ini. Kali pertama merayakan ulang tahun di pesawat, dengan muka bantal karena dibangunkan dari tidur. Hahaha!

This is the mastermind. Masih sakit tetap aja lho bisa ngatur ‘pesta’ kejutan buat aku. Aslik, terharu banget. THANK YOU, ERZA!

Punya akun miles dari airlines bersangkutan? Aduh, nilai miles tiket business class berlipat-lipat dibanding ekonomi. Jadi, kalau aku ditanya, worth it nggak sih naik business class? Jawabanku tentu saja, luar biasa worth it! It elevates the flying experience by many, many levels. Jangan lupakan, ada buanyak sekali promo yang bisa kita cek.

Contohnya nih, Oman Air pernah ngasih promo terbang dari Jakarta ke Milan atau Zurich, naik business class tentunya, seharga 13 juta saja. PP! Mari ulang: Business Class, Jakarta – Milan atau Jakarta – Zurich, 13 juta, PP. Atau waktu aku ke Amsterdam naik Turkish, 18 juta saja pulang pergi. Harga normal berapa? Ya mulai dari 30an juta. Lumayan banget, kan? Belum lagi kalau kamu redeem miles.

Kalau lewat app travel gitu bisa apa nggak? Bisaaaa! Aku yakin kalian udah pada punya aplikasi Traveloka, kan? Jadi silakan cari penerbangan business class di app-nya. Kalau khawatir akan perubahan jadwal penerbangan kalian, tenang, di Traveloka bisa kok reschedule gitu. Kena biaya tambahan nggak? Tentu tidak. Free of charge! Coba liat screenshot ini kalau masih bingung (walau harusnya sih nggak, soalnya simple banget kan app Traveloka itu).

And that’s it, you’re done. Simple and easy. Ya kayak beli tiket biasa aja, hanya saja ini business class. Gituh…

Btw, ya, screenshot di atas memang jadwal aku ke Swiss. Pakai Swiss Air sih, bukan pakai Thai. Nggak sabar banget akutu jalan-jalan (dan mewakili Asia Tenggara dalam event Influencer Summit wagelaseh deg-degan parah!) Kalau kalian, bakalan jalan ke mana nih pake business class?

 

Norway In A Nutshell (Part 1)

0

Sejak dulu, ketika ditanya negara yang pengin banget aku jelajahi, Norway selalu menjadi salah satu jawaban utama. Apalagi sejak follow banyak fotografer keren di Instagram yang sering banget pameran foto-foto Norway. OMG. The unreal beauty of Senja Island, Lofoten, Tromso, The Atlantic Ocean Road, lalu banyak sekali foto-foto Aurora Borealis yang bikin jantung berdebar lebih cepat, sampai katanya, jalur kereta terindah di dunia adanya di Norway, mengalahkan panoramic trains-nya Swiss. ADUH.
Namun, aku juga tau banget, menjelajah negara ini MUAHAL BINGGOW YA ALLAH SUMFEH. Apalagi, sering membaca deretan negara-negara termahal di dunia, Norway selalu ada di top 3. Makin giatlah aku menabung sambil berhalu ria. Niatnya sih, aku kepengin keliling negara ini minimal tiga bulan. Mulai dari Oslo, lalu naik pelan-pelan ke Bergen, sampai ke ujung utara, ke Svalbard kalau perlu. Yah, namanya juga halu, ya, neyk. Gratis ini.

Bertahun-tahun kemudian, sebuah ajakan media trip ke Belanda menjelang. Melihat jadwal yang kosong, aku mengiyakan ajakan ini, apalagi itinerarynya amat sangat menggairahkan. Ke Belanda tanpa menjelajah Amsterdam? YES OF COURSE! Namun, postingan jalan-jalan di Belanda mendingan aku bahas di post lain, atau postingan ini akan sepanjang novelet. Nah, berhubung tiket pulang boleh dimundurkan, aku langsung membuat rencana. Ke Norway, kah? Oh, tentu tidak. Kan extend-nya cuma lima hari. Niatku sih pergi ke Copenhagen dan Stockholm. Kenalan sama dua negara Skandinavia dulu, sebelum akhirnya menjejakkan kaki ke negara impian.

Manusia boleh berencana, seorang teman baik yang memutuskan. Tersebutlah seorang perempuan yang pernah mengundangku menginap dan review Ritz Carlton Tokyo, Kyoto, dan Osaka sekaligus membukakan gerbang menjadi satu-satunya influencer dari Indonesia yang diundang ke event travel paling bergengsi sedunia: ILTM (International Luxury Travel Market) membaca rencanaku main ke dua negara tetangga tempatnya tinggal. Tentu saja si Els, temanku yang tinggal dua jam dari Oslo ini, tumbuh tanduk.

“ELO MEMILIH PERGI KE COPENHAGEN DAN STOCKHOLM KETIMBANG MENYAMBANGI GUE? GAK MAU KETEMU GUE? GAK MAU KETEMU LAKI GUE DAN ANAK-ANAK GUE?!”

DHIAR! Seketika rencana ke Swedia dan Denmark luruh berantakan. Aku takut kalo dipecat dari teman dan memang anaknya gampang dipengaruhi. Apalagi, belum beli tiket atau booking penginapan sama sekali.
Berbekal bisikan Els yang bilang bahwa dari Amsterdam ada pesawat yang langsung mendarat di kotanya, tanpa pikir panjang aku booking tiket PP Amsterdam – Sandefjord. Hati kecilku menjerit: OH. MY. GOD. I’M REALLY GOING TO NORWAY!!

Tiba di bandara Sandefjord yang mungil nyaris tengah malam, aku mendorong koper besarku dan nyengir lebar sekali melihat Els duduk menunggu. Tanpa peduli manner lagi, kami saling menjerit dan berpelukan! Bayangkan, bertahun-tahun tak bertemu, eh sekalinya bertemu lagi, di negara paporitku! Aduh! Ini mimpi apa bukan, sih? Aku bahkan sempat bertanya, “Eh, gue beneran kan, ya, udah di Norway dan ketemu elo?” Rasanya ada di awang-awang karena berhasil mewujudkan satu mimpi lagi.

This is Els, Indonesian woman who lives in Norway, and my friend.

Namun… karena semuanya serba mendadak tanpa rencana, aku nggak punya itinerary apa pun kecuali ketemuan sama Els dan menginap di rumahnya. Eh, si Els sepanjang perjalanan dari bandara ke rumahnya mencerocos, “Kita besok pagi-pagi berangkat! Gue udah ada dua tiket!”
“Ke mane?”
“Swedia!”
“…”

LOL. LAH! PEGIMANE SIH, MPOK! Setelah browsing dikit, rupanya Sandefjord, kota yang juga merupakan headquarter Jotun, dekat dengan Stromstad, sebuah kota pelabuhan di Swedia. Cuma dua jam naik ferry. Menurut Els, di sana semuanya relatif lebih murah, kotanya cantik, asik untuk jalan-jalan. Aku sih yawda, iya-iya aja.

Els melupakan satu hal yang amat sangat penting: Hari Minggu biasanya toko-toko di kota-kota kecil Swedia dan Norway pada tutup.

Tiba di Stromstad sekitar pukul 9 pagi, kami dihadapkan ke kenyataan pahit, beneran gak ada satu pun toko yang buka HAHAHAHA. GAK BISA DUDUK SYANTIEK SARAPAN HAHAHA.

Dermaga di Stromstad, Swedia
Saking sepinya Stromstad di hari minggu, sempat mikir, jangan-jangan kota ini sudah dikuasai zombie. lol

Jadi lah pagi itu, dalam keadaan laper banget karena hanya sarapan sandwich, aku berkeliling city center kota kecil ini. Mulai dari dermaga yang tak begitu sesak oleh berbagai jenis kapal dan perahu, keadaan kota yang layaknya kota mati – nyaris tanpa manusia sama sekali, rumah-rumah khas Skandinavia yang berwarna-warni tetapi tampak kelam karena mendung yang menggayuti, gereja kayu bermenara tak begitu tinggi yang rupanya tak bisa kami masuki karena sedang di renovasi, balai kota yang tentu saja tutup karena itu hari minggu, merapatkan jaket seiring angin dingin yang membuat suhu 4 derajat terasa seperti di dalam freezer, sampai akhirnya sekitar satu setengah jam kemudian, kami mati gaya dan memutuskan untuk kembali ke arah dermaga. Untungnya, ada satu minimarket yang buka. Satu hotdog dan segelas cokelat panas kemudian, kami mati gaya kembali.

Stromstad, Sweden.

Waduh. Untungnya, Els adalah teman perjalanan yang asik. Ada saja cerita yang meluncur dari bibir mungilmnya. Mungkin dia berusaha menghiburku karena sudah hampir pukul sebelas tapi tanda kehidupan tak kunjung mampir ke kota ini. Padahal, aku sih enjoy aja, karena memang kota ini cantik sekali. Kami lalu memutuskan untuk melihat apakah ada toko yang buka. Syukurlah, menjelang 11.30, tanda kehidupan mulai berdenyut. Mulai ada mobil yang melintas, manusia yang lewat, sepeda yang berseliweran, tamu yang masuk ke restoran, toko suvernir yang pintunya berdenting saat kami masuk untuk melihat-lihat dan menghangatkan diri.

Petualangan hari itu diakhiri dengan Els yang mengajakku berbelanja di supermarket di pusat kota. Pukul dua kurang, kami sudah berada kembali di feri. Ia tampak mengantuk, sementara aku mendadak impulsif, mengacak-acak google untuk memeriksa harga tiket ke Bergen dan kota-kota lain. Hasil meramban dan chatting dengan dua orang teman mengantarku pada satu keputusan: aku ingin melihat fjord spekta seperti yang sering aku liat di internet, di postingan instagram, di Norway. Saat bercerita ke Els, dia sangat mendukung keputusanku.

Tiba di Sandefjord, kami dijemput suami Els yang bertanya dengan nada ringan tapi ngenyek, “Gimana Stromstad? RAME NGGAK?” Kami terbahak di dalam mobil yang hangat ketika menyadari ia sedang meledek kami. Well, it’s not everyday you went to a town you’ve never heard of, and strolling around without spotting more than 20 people, right? It was certainly a memorable visit.

Rencana gila nan impulsifku terwujud sore itu. Aku sudah beli tiket kereta Sandefjord – bandara Oslo (yawla, hampir 500 rebu!), beli tiket pesawat Oslo – Bergen (karena terbang dari Sandefjord akan menggerogoti 3,6 juta dari tabungan, jauh lebih murah terbang dari Oslo walau sudah digabung dengan tiket kereta), booking airbnb di Bergen (cuma $32!), booking day tour Norway in A Nutshell, booking airbnb di Oslo (lebih mahal, tapi cuma $50an ), dan tiket kereta dari Oslo ke Sandefjord. Kalau nggak salah, total biaya impulsif untuk jalan-jalan dua malam menghabiskan nyaris 8 juta rupiah. Marilah bersama-sama menelan ludah sambil berharap, semoga beneran bagus…

Hal pertama yang aku lakukan ketika mendarat di Bandara Bergen: bengong. Nggak menyangka Bergen yang kukira cuma kota kicik punya bandara syantiek. Lalu, perjalanan naik bus selama hampir setengah jam ke pusat kota, lagi-lagi diisi dengan menatap bengong keluar jendela. Rasanya seperti dilempar ke negeri dongeng. Gunung tinggi menjulang berpuncak salju dengan rumah-rumah mungil berwarna merah bata di lerengnya, disambung gunung tinggi berpuncak salju lagi dengan kelompok kecil rumah-rumah kayu warna-warni, disambung lagi dengan gunung yang lebih tinggi yang dihiasi rumah-rumah kayu aneka warna… tak heran kota ini mendapat julukan salah satu kota tercantik di Norway. Total ada tujuh gunung yang mengelilingi Bergen, dengan bonus rumah-rumah menyeraki lereng-lerengnya, beraneka warna dan ukuran. Kira-kira mirip Arendell di film Frozen tanpa kastil megah di tengah danau saja. Bahkan ketika turun dari bus pun, aku masih menatap danau berlatar gunung dan rumah-rumah dengan mulut terbuka. Astaga, gerbang masuk untuk berpetualang ke fjord di Norway aja cakepnya kayak gini?!

Starbucks di pusat kota Bergen. Iya, secakep ini. Buset dah!

Efek dari kota yang dikelilingi 7 gunung: jalan menuju aibnb yang kusewa menanjak tanpa ampun. Tak kurang lima kali aku berhenti berjalan dengan napas terengah. Untung aku meninggalkan koper di rumah Els. Kalau koper besar itu kubawa, niscaya aku sudah pingsan di tengah jalan. Setelah naik puluhan anak tangga menuju gereja yang tak kuingat namanya, lalu berbelok ke kanan dan menanjak lagi, aku tiba di jalan tempat aku akan bermalam. Pemandangan dari ketinggian tak mampu menghapus lelah walau mataku dimanjakan dengan keindahan yang kata incess Syahrini: terpampang nyata. GILE, CAPEK, YA NEK! Menurut pemilik apartemennya, sih, Cuma 15 menit jalan kaki dari pusat kota. Aku butuh waktu dua kali lipat plus tambahan nyaris sepuluh menit di depan apartemennya untuk memulihkan napas. Beginilah kalau kelamaan nggak olahraga. Bonus: apartemen yang kutempati ada di lantai tiga. BHAIQQQQQ. NANJAK LAGIIIII!

Gereja dekat apartemen, Bergen. Manjat ke sini = perjuangan dan bengek.

Satu hal yang membuatku bersyukur, mifi yang aku bawa dari Jakarta bekerja dengan baik, nggak pernah rewel sama sekali. Dengan biaya sekitar 100 ribuan perhari dan akses internet 4G berkuota lebih dari 1 giga perhari (kalau pemakaian lebih dari 1 giga, speed akan turun, tetapi akan kembali ke kecepatan full selepas pukul 12 malam dengan kuota penuh lagi), selama pindah-pindah kota di Belanda sampai masuk ke Norway lalu loncat ke Swedia, mifi Passpod yang kupakai tak pernah sekali pun rewel. Begitu modem mobile wireless ini mendeteksi kita pindah negara, ia akan segera mencari sinyal terkuat dan dalam waktu lima menit, internet kencang kembali lagi tanpa kita perlu ngapa-ngapain. Very convenient and practical! Bayangan nggak ada akses internet membuatku merinding. Orang zaman dulu travelingnya gimana, ya? Pake peta buta, kali, ya? Atau bertanya sepanjang jalan kenangan? Aku aja masih suka nyasar walau pun sudah buka google map!

Satu jam kemudian, berbekal petunjuk peta digital, aku menuju pusat kota lagi. Kali ini dengan beban yang lebih ringan karena sebagian besar isi backpack-ku sudah tergeletak tak karuan di kasur kamar. Di seberang Bryggen yang merupakan UNESCO World Heritage Centre yang juga atraksi utama Bergen, aku terpana. Gerimis tak meredakan hasratku untuk berkeliling pinggiran fjord dan mengambil foto dan video dan berkali-kali mengucapkan syukur atas keindahan kota ini. Dingin merasuk tak kurasakan, angin yang membekukan jemari tak kuhiraukan karena aku tau, hanya sekarang lah waktu yang aku punya. Besok pagi aku sudah berpindah, mejelajah bagian lain Norwegia. Dalam hati, aku berjanji, akan kembali lagi dan merekam lebih banyak bagian dari Bergen. Yang kulihat hanya permukaannya saja, seperti menggores satu kalimat pendek di permukaan kertas.

Bryggen, UNESCO World Heritage Center. Cakep gak ada obat

Bayangan harus kembali menanjak dan menaiki puluhan bahkan ratusan anak tangga untuk mencapai apartemen membuatku malas. Puas (well, sebenarnya belum puas sih, tetapi sudah pukul 10 malam, dan aku harus bangun pagi-pagi untuk ke stasiun kereta) berkeliling di seputaran Bryggen dan pusat kota, dalam keadaan basah karena gerimis tak kunjung berhenti, aku memutuskan untuk naik taxi saja. Untungnya, Pak Supir bisa berbahasa Inggris. Kutunjukkan alamat, dia mengangguk, dan dalam waktu 10 menit, aku sudah berjalan menaiki tangga menuju apartemen.

Dari jendela kamar, aku terus menatap kerlip lampu kota Bergen di bawah sana, berusaha mengabadikan kecantikannya, dan akhirnya, setelah memasang 10 alarm (serius, 10 alarm biar nggak bablas!) di handphone, aku tidur. Tentunya, powerbank dan mifi Passpod dan baterai kamera aku charge terlebih dahulu.

Tepat pukul tujuh pagi aku bangun. Begitu melirik keluar jendela, aku bengong. Buset, kenapa kota ini jadi kayak pemandangan di game Silent Hill, ya… Kabut menutupi barisan gunung-gunung dan rumah-rumah berwarna-warni yang menghiasi lerengnya. Bahkan jalanan di bawah sana pun tertutup kabut, membuat orang-orang yang bergerak menuruni tangga menuju pusat kota tampak seperti zombie yang berjalan perlahan. Aku mulai khawatir membayangkan seandainya keindahan fjord dan laut dan gunung dan padang es dan desa kecil yang indahnya spektakuler yang seharusnya aku temui hari itu dengan naik kereta, bus, dan ferry akan tertutup kabut tebal. Aduh… gimana, ini…

A morning in Bergen. Looks like a scene from Silent Hill
my magic tickets to the grandest adventure!

 To be continued…

P.S: untuk info lebih lanjut tentang mifi passpod, coba cek website mereka, PASSPOD, atau main ke instagram mereka, Instagram Passpod, atau chat langsung ke CS mereka di +628881171819. Responsnya cepat, jawaban atas semua pertanyaannya juga memuaskan. Aku udah beberapa kali pake mifi ini. Dari Korea, sampai ke Belanda – Swedia – Norway. Kencang, sedap, puas.

I Just Wanna Love You

0

Saat pertama kali menonton videoklip lagu Gloria Jessica yang I Just Wanna Love You, pikiranku melayang ke masa kecil. Mungkin sebagian besar dari kalian punya masa kecil yang indah bersama keluarga. Punya mama yang penyayang, sabar, membuat kalian merasa begitu dicintai. Tak demikian dengan yang kurasakan saat kecil dulu. Sepanjang ingatanku, aku nggak punya hubungan yang baik dengan Mama di masa kecil. Bahkan, aku takut sekali begitu melihat Mama. Padahal, aku serumah dengan beliau, yang artinya bertemu hampir setiap saat. Mamaku orangnya keras, nggak segan menghukum jika menurutnya aku berbuat salah, dan … beliau pilih kasih.

Salah satu memori yang paling melekat adalah ketika adikku berulang tahun dan dirayakan. Satu gang di kampung diundang. Kue ulang tahunnya dua tingkat, berhias krim warna-warni yang tampak amat lezat. Saat itu, yang kurasakan adalah cemburu, iri, dengki, dan sakit hati. Cemburu, iri, dan dengki ke adik yang ulang tahunnya dirayakan. Sakit hati karena Mama sepertinya hanya menyayangi adikku, dan aku diperlakukan seperti anak pungut. Sekitar pukul dua sore, aku berjinjit mendekat kue ulang tahun yang terpajang cantik di meja di ruang tamu yang kosong. Dalam satu gerak cepat, aku merusak bagian belakang kue ulang tahun itu. Aku cengkeram kuenya, lalu aku kabur. Dari depan, sih, kuenya tetap terlihat sempurna. Aku ingat betul, sambil menjilati jemari yang berlumur krim, aku merasa amat sangat puas sudah membalas dendam ke Mama dan adik. Ini hukuman karena Mama tak menyayangiku! Ini balasan karena dia sudah pilih kasih!

Tentunya kelakuan burukku ketahuan. Namun, walau dikurung di kamar mandi selama berjam-jam, aku tak menyesal. Rasa puas itu terpelihara sampai bertahun-tahun. Setelah papaku meninggal dan Mama harus bekerja di luar negeri, aku merasa bebas. Beberapa tahun pertama, aku tak merasakan rindu. Bagaimana tidak? Tak ada yang mengomeli saat aku tak mengerjakan PR, tak ada yang menghukumku dengan berlutut di atas kulit kerang di pintu rumah jika hasil ulanganku jelek (jelek versi mamaku adalah nilai 8 ke bawah. 9 artinya lumayan. 10 artinya senyuman tipis), dan tak ada yang membentak jika aku menambah lauk atau nasi. Aku bebas. Aku mulai memupuk rasa benci ke Mama, sampai aku dewasa.

Ketika aku sudah mulai bekerja, Mama sempat pulang ke Indonesia beberapa kali. Tentu saja aku menemui beliau. Walaupun masih benci, beliau tetap orang yang melahirkanku. Percakapan kami hanya bergulir di ‘bagaimana kerjaan?’ – ‘baik’ – ‘makannya cukup?’ ‘cukup’ – ‘udah punya pacar?’ yang kubalas dengan diam. Aku tak tahu apa yang menyebabkan hubungan kami berangsur membaik. Yang kuingat, suatu hari aku bertanya ke diri sendiri: apa motivasi terus membenci? Memangnya nggak capek? Mau sampai kapan benci ke orang tua sendiri? Emangnya mau, ya, nanti menyesal ketika beliau sudah tak ada? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mulai melunturkan hawa benciku. Tetapi, aku juga belum bisa memaafkan, merelakan, apalagi melupakan perlakuan beliau semasa aku kecil. I need an explanation. I need to see from her perspective.
And suddenly… I miss her. Even though I still hate her, I miss her.

Maka, aku merancang sebuah misi. Misi perdamaian sekaligus misi untuk mengerti motivasi Mama. I was willing to listen to her side of the story. Kenapa dia merayakan ulang tahun Adik, tapi aku nggak? Kenapa yang dikuliahkan adalah adik, dan bukan aku? Kenapa adikku selalu menerima perlakuan istimewa sedangkan aku selalu diperlakukan dengan sangat keras? Ada banyak sekali ‘kenapa’ yang bergaung di kepala sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Hong Kong. Ternyata jauh di dasar hatiku, aku masih seorang anak kecil yang membutuhkan pengakuan kasih sayang yang hampir tak pernah aku terima. I was like a wounded animal, looking for shelter.

Jadi, bertemulah aku dengan Mama. Beliau tampak benar-benar bahagia melihatku. Suatu malam, setelah capek jalan-jalan berkeliling Hong Kong, dengan bekal eggtart hasil jajan di KFC, aku mulai menumpahkan segala keluh kesahku. Puluhan tahun sakit yang kupendam, kukeluarkan semua. Mama hanya terdiam mendengar ocehanku malam itu. Setelah aku selesai, ada jeda mengisi jarak antara kami.
“Kamu tahu nggak, semenjak kamu kecil, Mama sudah tahu kamu nantinya yang berpotensi menjadi ‘orang’?” Beliau yang duluan akhirnya buka suara.

Aku tak mempersiapkan diri untuk menerima jawaban semacam itu. Mama melanjutkan ceritanya, bagaimana ia dengan sengaja bersikap keras kepadaku, bagaimana beliau mengajariku dengan keras supaya aku terbiasa hidup mandiri, tak tergantung pada orang lain, walau itu artinya dibenci anak sendiri. Saat kudesak mengapa dia lebih sayang ke adikku, jawabannya lagi-lagi menohok. “Waktu adikmu lahir, ekonomi keluarga kita mendadak membaik. Kita semua mampu beli apa saja yang kita mau. Dia diramal sebagai anak pembawa rezeki….”

“Aku pembawa sial, gitu, Ma?”

“No. You were always the strongest one. Terbukti sampai sekarang kamu baik-baik saja.”

The thing is, aku tak merasa baik-baik saja, dan aku tahu beliau tahu hal itu. Akhirnya, beliau meminta maaf karena sudah pilih kasih. Aku pun meminta maaf sudah menghancurkan kue ulang tahun adikku. Malam itu, untuk pertama kali setelah puluhan tahun, aku merasa utuh. Sisa benci yang tersisa, menguap begitu saja ketika beliau memelukku untuk pertama kali setelah bertahun-tahun kami berjarak. Beliau mungkin memilih cara yang tak biasa, tetapi dari percakapan malam itu, aku tersadar satu hal: tak ada orang tua yang membenci anaknya.

Pulang dari Hong Kong, aku meresapi ucapan Mama. Ternyata beliau benar. Berkat didikannya yang superkeras, aku jadi lebih siap menghadapi hidup. Aku jadi tahu bahwa lebih baik bertumpu kepada pencarian solusi ketimbang manja dan lemah ketika dihadapkan dengan masalah.

Tahun-tahun selanjutnya, hubungan kami amat sangat baik. Aku hampir tiap hari whatsapp-an sama Mama. Beliau juga sering bercerita mengenai hari-harinya, apa yang dia lakukan, kejadian lucu yang terjadi, video-video garing yang memancing tawanya – yang sialnya, semua berbahasa Kanton, beliau kirimkan dengan komentar “Mama ngakak nonton ini. Kamu juga pasti ketawa!”, dan tentunya, aku tak tertawa sama sekali karena tak mengerti.

Katanya, better late than never. Aku mungkin terlambat mengukir kenangan bersama mama, tetapi aku tetap bersyukur karena kenangan yang kami punya lengkap. Mulai dari kenangan yang tak menyenangkan, sampai kenangan yang selalu membuatku tertawa, seperti ketika aku berniat memberi kejutan dengan mengetuk pintu apartemennya di Hong Kong, eh ternyata yang membukakan pintu adalah orang asing. Mama hampir jatuh dari kursi karena ketawa ketika aku menceritakan bagaimana aku nyasar.

Hidup adalah perkara menciptakan dan merawat kenangan, dan aku berniat membuat kenangan bagus bersama Mama sebisa mungkin. Beliau kini tak lagi muda. Aku tak pernah tahu berapa banyak waktu yang masih tersisa untuk kami menciptakan kenangan. So while we can, we’re gonna create as much as good memories as we could. And I think, you should too.

Sekarang, menonton kembali video I Just Wanna Love You-nya Gloria Jessica, aku merasa senang. Pada akhirnya, orang tua kita akan mengenang hal-hal baik tentang kita, anaknya, dan tak sabar menanti kita pulang untuk sekadar berbincang.

“I just wanna love you tonight, I just wanna be with you my love
All I wanna do is to be by your side. I just wanna love you tonight….”

Now that you’ve read this far, how about telling your version of a story about ‘Making Memories’? Bagaimana cara kalian untuk menciptakan kenangan bersama orang-orang terdekat dan terpenting dalam hidup kalian misalnya, orang tua, kakak, adik, sepupu, kerabat, atau sahabat? Untuk jelasnya, klik INI dan atau INIH

Sudah membaca kedua link tersebut dan masih belum jelas? Ah, kamu… Ya sudah, coba lihat foto berikut:

Nah, sudah jelas, ya? Silakan ramaikan instagrammu dengan cerita-cerita hangat tentang apa yang kamu lakukan untuk menciptakan kenangan bersama yang tersayang. Ditunggu ceritanya, dan semoga kamu yang menang jalan-jalan ke Bali bersama dia yang kamu sayang!

Growing Up and Growing Old

0

Jari-jemari ringkihnya meraba pinggiran pigura foto yang mengelupas catnya, tak lagi putih, melainkan gading. Foto di dalamnya sudah menempel dengan kaca, sehingga membersihkannya adalah sebuah kemustahilan tanpa merusak foto perempuan itu dan anak-anaknya. Ibu Dian duduk di bangku mungil dari rotan pemberian anak pertamanya, sambil memeluk foto mereka satu-satunya di ruangan itu. Sudah dua tahun sejak ia terakhir bertemu anak-anaknya. Sudah enam bulan sejak anak-anaknya terakhir menghubunginya.

“Mereka pasti sibuk sekali”, desah Bu Dian dalam diam. Bu Dian menatap wajah-wajah tertawa anak-anak dan dirinya di pigura sekali lagi, kemudian ia mengulangi ritual yang tak pernah ia lewatkan setiap hari; mengelap pigura dan kacanya dengan kain bersih yang lembap, lalu meletakkan kembali foto itu di tempatnya, di tengah-tengah foto wisuda ke tiga anaknya.

————

Di ruangan yang serba putih itu, Angel sedang berdebat sengit dengan rekan-rekan kerjanya. Makin lama, suaranya makin meninggi.

“Ya nggak masuk akal aja kalau kita serahkan semua tanggung jawab ke vendor! Apalagi vendornya belum jelas gimana kerjanya! Kalau event-nya sampai berantakan, siapa yang tanggung jawab? Aku!”

Angel menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan emosinya. Saat hendak berbicara kembali, handphonenya berkedip. Begitu melihat isi pesan yang masuk, Angel tersentak. Wajahnya pias.

“Sorry, aku harus pergi.”
“Lho, Ngel? Masalah vendor….”
“Kalian bereskan sendiri.”

Sesasat kemudian, pintu ruangan meeting terbanting menutup. Angel sudah menghilang di balik pintu.

————

“Coba dibuka mulutnya… Akkkk….”

Anak kecil itu menurut. Matanya melirik ke arah dokter gigi yang tersenyum menenangkan. Pintu ruangan praktik terbuka, sahabat Jess, Naomi, menunjukkan hape ke arah Jess.

“Sorry, Jess… Barusan ada telpon.”

Tanpa melirik, Jess menukas sambil memeriksa kondisi mulut pasiennya.

“Ntar aja!”
“Eh, ini pen…”
“Ntar aja, Mi. Ntar, ya? Oke?”

Naomi bimbang di depan pintu, tapi ia mundur, dan menutup pintu ruangan praktik.
Setengah jam kemudian, Jess termenung menatap handphonenya.

“Kok lo gak bilang, sih, Mi…”
“Yaelah, Jess. Gue ngomong aja lo potong. Sana deh, lo pulang.”

Ketika mengangkat wajahnya, dua baris airmata sudah mengalir di pipi Jess. Tanpa berkata-kata, Naomi memeluknya.

————

Di jalan Gatot Subroto yang biasanya macet, sebuah sedan hitam melaju lancar.

“Saya sepuluh menit lagi tiba, Pak. Iya. Semua berkas sudah ada di sekretaris saya. Siap! Sampai bertemu.” Evan nyengir senang, membayangkan meeting yang akan membuatnya menjadi pahlawan di kantornya. Handphone Evan kembali berdering. Sebuah pesan masuk. Senyum Evan pupus seketika ketika membaca pesannya.

“Pak, nggak jadi ke kantor. Langsung ke bandara, ya.”

Evan menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan sesaat kemudian, bahunya naik turun, isakannya terdengar lirih.

————

Angel, Jessica, dan Evan saling berpelukan di depan rumah tempat mereka dibesarkan. Mata mereka sembap, dan mereka menghela napas berbarengan, lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam, cahaya remang dan hawa sejuk menggulung mereka bertiga, membawa mereka kembali kepada kenangan masa kecil. Ketika mama mereka menyajikan bubur ayam spesial di meja makan, membantu mereka mengerjakan PR, tertawa bersama mereka, menggendong mereka satu persatu ke kamar saat mereka kelelahan setelah bermain dan tertidur di karpet ruang tengah.

Angel meraih tangan Jessica yang meraih tangan Evan, bermaksud saling menguatkan. Angel melirik ke arah dua adiknya, agak heran atas rumah yang sepi dan tenang. Mereka melangkah masuk ke ruang makan, dan tertegun.

Di meja, sudah tersedia semua makanan kesukaan mereka. Bolu pandan dan sate ayam kesukaan Evan, lontong sayur lengkap dengan opor ayam kesukaan Jess, soto betawi dan emping besar-besar kegemaran Angel. Ketiganya terperanjat, bertanya-tanya, keheranan. Beberapa saat kemudian, dari dapur, Bu Dian muncul dengan baki berisi teh hangat. Tas tangan Angel terlepas dan jatuh ke lantai. Jess dan Evan serentak berseru, “MAMA?! T… tapi… SMS yang kami terima… YA ALLAH, MAMAAAAA!”

Bu Dian menaruh teh hangat ke meja, dan tersenyum ke arah anak-anaknya.
“Kalian sudah pulang…”

Semua anak-anaknya langsung menghambur memeluk mamanya. Mereka bertiga menangis tersedu. Dada Bu Dian buncah oleh kebahagiaan. Tak henti-hentinya, ia mengelus kepala anak-anaknya satu persatu.

“Mama senang, kalian makin sukses…”
“Maaa.. Maafin Angel, Ma. Angel durhaka nggak pulang atau ngabarin…” Tangis Angel kembali pecah. Jess berulang kali mencium tangan mamanya dengan wajah berlinang air mata, sedangkan Evan menangis tanpa suara.

Ketika akhirnya tangis mereka sudah reda, Bu Dian meminta mereka duduk. Evan menanyakan hal yang sudah mengganjalnya sedari tadi.

“Berarti Bu Karyo bohong, ya, Ma? Keterlaluan!”
“Iya, ih. Jahat banget…” Timpal Jess.
Bu Dian tersenyum. “Mama yang minta ke Bu Karyo…”

Ketiganya tersentak. Semuanya menatap Bu Dian hampir tanpa kedip, menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Kalau nggak begitu, kalian nggak mungkin pulang bareng ke rumah, kan? Jadi ya Mama minta tolong ke Bu Karyo untuk mengabari kalian kalau Mama meninggal… Tuh, manjur. Kalian di sini semua. Makanya Mama masak yang enak-enak untuk kalian…”

Rasa bersalah menerpa ketiga anak-anak Bu Dian, membuat mereka kembali menangis.

“Mama paham sekali kalian punya hidup sendiri-sendiri… punya kesibukan sendiri…”

Ketiganya kembali tertohok.

“Mama sama sekali nggak marah. Mama paham. Dan Mama bangga sekali sama kalian bertiga. Angel makin sukses di agency, Evan sebentar lagi jadi partner di kantor, dan Jess… kamu dokter gigi yang hebat sekali, Nak…”

Kalimat selanjutnya keluar terbata. Bu Dian setengah mati menahan airmatanya agar tak keluar. “Mama cuma berharap, sebulan sekali kalian mau menelepon Mama… Coba, Angel, Jessica, Evan, kapan kalian terakhir SMS atau whatsapp atau menelpon Mama?”

Ketiga anaknya menunduk. Air mata menetes satu persatu. Dalam hati, mereka berjanji untuk lebih memerhatikan dan peduli pada mamanya. Mereka kembali mencium tangan Bu Dian, memohon pengampunan. Bu Dian mengelus kepala anaknya satu persatu, sama sekali tak marah, setiap usapannya adalah luapan kasih sayang yang tak pernah putus. Ia hanya bahagia, anak-anaknya sudah kembali ke rumah, walau dengan cara yang tak biasa.

————

Seminggu kemudian, Bu Karyo menatap Bu Dian dengan sungguh-sungguh.
“Jadi mereka semua pulang?”
Bu Dian mengangguk.
“Terus, mereka berjanji akan pulang lagi? Sering-sering?”
“Ya ndak bisa sering-sering, toh, Bu Karyo. Anak-anakku kan punya hidup masing-masing… Tapi iya, mereka ndak akan pulang dua tahun sekali. Mereka ndak akan nunggu SMS bohong yang ngasih tau bahwa ibunya mati baru pulang.”

Keduanya tergelak. Lalu, dengan kening masih berkerut-kerut, Bu Karyo memegang tangan Bu Dian.

“Ibu Dian mau bantu saya, toh? SMS ke anak-anak saya? Saya rindu sekali…”
Bu Dian mengangguk. “Kalimatnya seperti yang Bu Karyo kirimkan ke Angel, Jess, dan Evan, kan?”
Bu Karyo mengangguk-angguk. Semangat sekali. Bu Dian mengetikkan sebaris kalimat. Dia menatap Bu Karyo sebelum mengirimkannya. “Yakin, nih, Bu?”
“Wes, toh. Kirim saja!”
“Nita, Mama kamu meninggal. Harap pulang segera.”
“Tuh, sudah kukirimkan.”
Keduanya lantas cekikikan. Anak Bu Karyo akan pulang.

————

Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah iklan luar negeri yang beberapa bulan lalu aku tonton (sayangnya aku lupa iklan apa dan dari negara mana). Pesan dari iklan ini begitu kuat dan ceritanya sungguh menohok.

Pernah baca kalimat ini, nggak?

We often forget that while we’re growing up, our parents are also growing old.

Ketampar banget sih sama kalimat ini. Kita memang kerap melupakan orang yang merawat kita sepenuh hati dari kecil. Kita kerap alpa dan menganggap mereka pasti mengerti dengan segala kesibukan kita. Kebayang, nggak, bagaimana bahagianya orang tua kita jika setiap hari, satu atau dua menit saja, kita luangkan waktu untuk menanyakan kabar mereka? Buat yang tinggal sekota atau serumah dengan orang tua, mungkin tak akan menjadi banyak masalah karena walau tak berkabar, orang tua masih bisa melihat kita. Namun, bagi yang merantau, terpisah kota maupun negara, mendengar kabar dari anak-anak mereka, bisa jadi hiburan satu-satunya untuk orang tua.

Ini adalah pertanda kita mengingat mereka, bahwa kita peduli, bahwa kita sayang, meski lewat sebaris chat sederhana, “Ma, Pa, lagi apa?”

Mereka tak perlu mengirimkan SMS palsu yang mengabarkan bahwa mereka sudah meninggal, hanya untuk membuat anak-anaknya ingat, dan pulang ke rumah.

Two Strangers in A Plane

0
OLYMPUS DIGITAL CAMERA Processed with Snapseed.

Tangerang. Bandara Soekarno Hatta. Seorang Ibu berlari menuju counter check-in sambil terengah menyeret koper silver-nya. Di depannya, ada sebaris orang sedang antre untuk check-in. Tergesa, si Ibu ini mencolek orang di depannya.

“Mas, boleh nggak saya duluan? Saya sudah telat dan belum check-in…”
Orang di depannya bergeming. Melirik si Ibu pun tidak, seakan tidak berempati. Padahal, ia terlihat jelas putus asa. “Mas…”

Si Ibu mencolek lagi. Dia makin panik. Akhirnya, cowok di depannya menoleh, lalu melepaskan earphone-nya.

Si ibu mengulangi permintaannya, lengkap dengan wajah memelas dan suara seperti hampir menangis. Antrean bergerak maju. Cowok itu mengangguk, dan mempersilakan si Ibu mengambil tempatnya setelah sebelumnya dia membantu si Ibu berbicara dengan calon penumpang yang antre di depan.

Di depan counter, si Ibu buru-buru menyerahkan KTP-nya. Petugas counter check-in mengetikkan sesuatu ke layar komputer lalu menggeleng. “Maaf, Bu. Sudah tidak bisa. Check-in sudah ditutup lima belas menit yang lalu.”
“Tolong, Mbak. Hari ini anak saya wisuda. Saya sudah janji datang. Tolong, Mbak… tolong…”

Petugas itu kembali menggeleng. Wajah si Ibu seketika pias. Tak peduli bagaimana pun dia memohon, dia tak bisa terbang. Si petugas meminta maaf, dan meminta ibu ini bergeser karena antrean di belakangnya makin panjang. Dengan wajah berlinang air mata, Ibu ini menyingkir. Sebelah tangannya mencengkeram KTP, sebelah tangan lagi memegang erat gagang kopernya.

Lima menit kemudian, duduk termenung di bangku bandara, Ibu yang terlambat check-in menatap kosong ke depan sementara riuh orang berlalu lalang. Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Beberapa orang sempat menoleh, ada yang berhenti berjalan, ragu antara ingin menghampiri si Ibu atau tetap fokus pada urusan mereka masing-masing. Namun, orang-orang ini memilih untuk terus berjalan. Handphone Ibu ini berdering. Dia buru-buru menyeka wajahnya lagi.

“Iya, Mas?”
“Lho? Belum naik pesawat, Ma? Mama jadi ke wisudaku, kan?”
“Maafin Mama, Mas. Mama telat check-in.”
Terdengar helaan napas panjang di seberang sana.
“Kok bisa telat sampai ke bandara, Ma?”
Si Ibu berbaju biru muda menggigit bibirnya. Dia hendak mengutarakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya.
“Memang Mama yang teledor, Mas. Maaf, ya. Mama akan usaha naik pesawat berikutnya. Mudah-mudahan nggak telat.”

Mereka ngobrol beberapa saat, dan setelah selesai, si Ibu tampak sedikit optimis. Lima panggilan telepon, tiga kali ke ATM dan dua jam kemudian, di tangan si Ibu sudah tergenggam selembar tiket ke Jogja, tempat anaknya akan wisuda hari itu. Tiga puluh menit kemudian, si Ibu sudah duduk di dalam pesawat.

Ibu Berbaju Biru duduk di sampingku. Berulang kali dia melirik ke arah jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Sama sepertiku. Biasanya, orang-orang mengenakan jam di tangan kiri. Itu sebabnya, aku memutuskan untuk mengajaknya mengobrol.

“Jalan-jalan ke Jogja, Bu?”
Si Ibu menoleh dan tersenyum hangat.
“Anak saya wisuda hari ini, Mas.” Ada kebanggaan yang kuat terselip di suaranya.
“Wah, selamat, Bu. Pasti bangga sekali, ya.”
Dia mengangguk berkali-kali, lalu melirik ke jam tangannya lagi. Sesaat kemudian, terdengar pengumuman kalau pesawat akan take-off sebentar lagi. Ibu Berbaju Biru menghela napas lega. Aku tersenyum. Ibu ini menarik sekali.

“Akhirnya, ya, Bu. Sudah nggak sabar banget kayaknya?”
“Haha. Ya, Mas. Seharusnya saya terbang tiga jam yang lalu.”
“Lho? Pesawat sebelum ini?”
Beliau mengangguk. Pesawat melaju makin cepat, dan beberapa detik kemudian, Jakarta yang diselimuti kabut tipis mulai mengecil. Kami sudah di udara. Ibu Berbaju Biru lalu menceritakan kejadian yang menimpanya. Aku mengerutkan kening.
“Ibu kena macet berapa jam memangnya?”

“Sebenarnya saya sudah meluangkan waktu empat jam, Mas. Tapi di tol, ban mobil taxi yang saya tumpangi kempes. Satu setengah jam terbuang percuma. Seandainya saya tiba di bandara lima belas menit lebih cepat, pasti masih keburu…”

“Mm… kalau boleh tahu, Ibu booking tiket di mana? Website atau?”
“Saya nurut sama anak saya, Mas, disuruh booking lewat Traveloka.”
“Lho, kenapa nggak check-in online sekalian lewat aplikasinya, Bu?”

Giliran Ibu Berbaju Biru yang bingung. “Lho, memangnya bisa, Mas?”
Aku tertawa kecil, dan segera menjelaskan proses check-in online lewat Traveloka App.
“Begini… Ibu punya aplikasi Traveloka di handphone, kan?”
Dia mengangguk.
“Nah, kalau pesan tiket di Traveloka, Ibu tenang saja karena check-in online sudah dapat dilakukan 24 jam sebelum jadwal keberangkatan, bahkan bisa juga pilih tempat duduk kalau masih tersedia, Bu. Tinggal buka aplikasinya di handphone, lalu Ibu tinggal pilih Check-in Online saja, Bu…”

“Segampang itu?” Tukasnya tak percaya.
“Segampang itu.”

Raut wajah Ibu Berbaju Biru menunjukkan kekesalan.
“Aduh… padahal saya bisa check-in duluan, ya, sebelum tiba di bandara…”
“Mungkin Ibu tadi panik?”
“Iya. Tapi kan kalau saya sudah check-in online, saya sudah di kampus anak saya sekarang. Nggak perlu antre, bahkan memohon sama orang-orang yang antre juga untuk didahulukan. Aduh… kesal, Mas. Tiket hangus, keluar uang lagi untuk beli tiket baru. Untung cuma ke Jogja. Kebayang nggak, kalau anak saya kuliah di Sydney atau malah di Eropa dan saya telat ke bandara?”
“Indonesia banget, ya, Bu. Ada kejadian apapun, masih ada ‘untung’nya! Hahaha!”
Si Ibu ikut nyengir. “Dan untung kamu ajak ngobrol, Dek. Saya jadi tahu dan paham, lain kali check-in online dulu. Jangan panik nggak karuan.”

Kami tergelak lagi. Setelah itu, kami bertukar kontak dan mumpung aku masih ingat, aku kirim link: https://www.traveloka.com/checkin ke WhatsApp si Ibu biar bisa baca-baca info check-in online. Keesokan harinya, Ibu Rahayu membalas chat aku dengan mengucapkan terima kasih atas info tersebut dan menceritakan sedikit tentang wisuda anaknya. Ketika dia tiba di kampus anaknya, acara wisuda sudah dimulai. Namun, untungnya, nama anaknya belum dipanggil sehingga beliau bisa menyaksikan saat-saat anaknya dinyatakan lulus.

Aku ikut berbahagia untuk Ibu Rahayu. It’s really amazing that a stranger can make you so happy with her story. Sisa hari terasa enteng. Aku bisa jalan-jalan dengan hati senang, menikmati keindahan Jogja.

Chat terakhir dari Ibu Rahayu adalah,
“Kamu ajak saya ngobrol karena saya pakai jam di tangan kanan, ya?”

Let’s Talk About Passion (AGAIN!)

5

Aku tuh sering banget terima email berisi curhatan, atau mention yang isi permasalahannya begini:

Si BalaJaer kuliah di jurusan yang ia tak suka. Alasannya klasik: dipilihkan orang tua, dan BalaJaer nggak punya amunisi yang cukup untuk menolak. BalaJaer lalu kuliah, dan merasakan penderitaan hari demi hari. Sialnya lagi, si BalaJaer merasa passionnya ada di tempat lain, di jurusan lain. Namun, ia tak berdaya, sudah terjerat di jurusan yang menurutnya salah. Sedih, bukan?

Di lain tempat, ada BalaNemo yang lebih ‘beruntung’ ketimbang BalaJaer karena walau terjebak di permasalahan yang sama seperti BalaJaer, ia berhasil meyakinkan orang tuanya untuk pindah jurusan. Hore. Masalah selesai. However, berapa banyak sih yang bisa ‘seberuntung’ si BalaNemo? Aku yakin jumlahnya nggak banyak.

Terus harus gimana, dong? Berikut adalah jawabanku ke seseorang yang email malam ini.

Pernah nggak kepikiran untuk menjalankan passion-mu sekaligus menuruti keinginan orang tua? Misalnya, kamu buru-buru selesaikan kuliah biar orang tua senang, dan mengambil S2 di bidang yang kamu suka? Kenapa buru-buru? Karena semakin lama kamu “menyiksa diri” dengan mengerjakan apa yang kamu nggak suka, semakin tersiksa juga kan, kamunya? Mendingan kelarin cepat-cepat kuliah yang sekarang. Kamu nggak suka? Well, bukan berarti kamu nggak berusaha untuk lulus secepatnya, kan? Semakin ditunda, semakin “sakit”, lho. It’s like pulling a bandage. You don’t like it because you know it hurts. But you do it as quick as you can because the pain, while it will always be there, will be over soon, too. Begitulah kira-kira analoginya.

When you don’t like something, there are three ways to deal with it.
1. You whine and complain all the time — which will bring you no solution. At all.
2. You stop doing it. While this sounds like a good solution, you need to think of what you’ve invested. Your time. Your parents’ money. Your relationship with your parents. I mean, you told me that you’re in the middle of your study. Berhenti, kasian orang tua yang udah bayarin. Diterusin, kamunya menderita. Which brings us to point number…
3. You stop whining, you strengthen yourself, and you do it as fast and as best as you could. Your parents will be happy. You will be happy when it’s over. And believe me, you will feel proud and tell yourself, damn, man… I am awesome. I can finish this shit which I never really liked! Imagine how awesome you will be when doing the things or majoring a study that you do like!

To think about it, it’s really awesome that in your early 20’s you already know what your passion is. But… what if I tell you that passion is …. bullshit? Wait, don’t be upset just yet.

Passion, for me, is doing something that I really like for a period of time, it doesn’t bore me, it doesn’t make me want to stop doing it, it makes me feel better as a person, and it makes me think there are no better stuff out there (well maybe there is better stuff out there but I am already in love with this one — sama kayak kamu punya cewek, dan menurut kamu cewek kamu kalah cakep sama Gal Gadot, yet it doesn’t make you want to be Gal Gadot’s boyfriend … you know lah what I mean wkwkwk)

If you think you like something, and think that it’s your passion, then I’m sorry. Maybe it’s just a hobby not a passion (yet).To think about liking something and actually doing it, and fell in love with it, want to do it again and again and again, are two very different situation.

Nah, jika kamu memang sudah jatuh cinta ke suatu hal, dan sudah mulai mendalaminya, dan percaya bahwa ini memang passion kamu yang sesungguhnya, maka selamat! Kamu beneran sudah menemukan passionmu. Aku salut sekali. So just hang on a little bit longer. Kuliah 4 tahun, kan? Kamu sudah menjalankan setengahnya? Gimana kalau berusaha dalam dua tahun ke depan kamu harus sudah lulus dan bekerja keras untuk itu walau kamu nggak suka? Susah memang, tapi bukan berarti nggak bisa. Berat memang, tapi bukan berarti kamu nggak kuat.

So, good luck with your study. Be strong, buddy. Not everybody got the chance to taste the college life. I am one of them.

Hidup Tanpa Empati

12

Di suatu siang di sebuah pekantoran yang ramai oleh celotehan manusia-manusia kelaparan, seorang perempuan beralis paripurna sedang cemberut sambil mengetuk-ngetuk layar handphonenya. Berkali-kali, dia menggumam sebal. Dia meletakkan hapenya, lalu mengangkatnya dan melirik jam yang tertera di situ, lalu menggumam sebal lagi.

“Ahelah, beliin makan siang aja setengah jam lebih. Gak tau apa gue lagi laper…”

Di sebuah gerai makanan terkenal, seorang bapak berjaket hijau sedang mengantre. Wajahnya terlihat tak sabaran. Di depannya, masih ada sekitar delapan orang yang memesan makanan. Akhirnya tiba gilirannya. Bapak berjaket hijau ini memesan, dan membayar. Baru saja memasang wajah lega beberapa saat, ada notifikasi masuk. Pesanan makanannya dibatalkan. Wajah Bapak Berjaket Hijau langsung pias. Pesanan senilai ratusan ribu yang di tangannya terasa semakin berat.

Di kantornya, si Cewek Cantik Beralis Paripurna memaki ke layar handphone, “MENDINGAN GUE KE MAL SEKALIAN! Hih!”

Padahal jika ia bersabar sedikit, pesanannya akan tiba dalam 15 menit atau kurang. Padahal jika ia merenung sebentar, niscaya ia akan sadar, kang GoJek harus mengantre di jam makan siang yang ramai.

Di depan gerai makanan terkenal, kang GoJek masih menatap bungkusan makan siang mahal yang ia bayar pakai uangnya sendiri. Kang GoJek menggumam, “yah, sekali-kali makan siang mahal, deh…” Ia berdoa dalam hati, semoga banyak orderan masuk dan istrinya tak marah mengetahui ia sudah menghabiskan uang ratusan ribu untuk menomboki makanan pesanan.

Di tempat lain, ada seorang cewek yang sedang kelaparan dan memutuskan makan di sebuah resto bakmi. Di dekat meja kasir, ada dua kang gojek yang sedang menunggu pesanan. Cewek ini langsung berbisik-bisik ke pacarnya,
“Eh kalau aku beliin mie buat kang gojeknya gimana?”
Pacarnya menatapnya heran, “Yawda sana beliin. Kok nanya gimana?”
“Tapi aku malu ngasih tau dia, beb. Kalau dia tersinggung gimana? Kalau dia marah gimana? Kalau dia ngomel judes ke aku gimana? Kalau dia…”
“Hey, Beb. Kamu itu, ndak masuk akal banget kalo ngomong. Ya kali kamu mau berbuat baik ke kang GoJek itu malah kamu yang dicacimaki? Kan tinggal bilang, Bapak, ini ada mie dari saya. Semoga bapak suka. Udah. Gitu doang. Coba, kenapa dia harus marah?”
“Tapi kan…”
“Terserah kamu, ah. Berbuat baik itu ndak perlu takut, Beb. Kalau mau maling, tuh, baru boleh takut dan jiper.”
Terus pacarnya rolling eyes, sebal karena mau ngasih aja pake acara labil.

Setelah berperang batin sebentar, si cewek berponi tanpa spasi akhirnya memesan makanan juga buat kang gojeknya. Awalnya mau pesan buat dua kang gojek di situ, tapi beliau keburu pergi karena pesanan dia udah nyampe. Cewek Berponi Tanpa Spasi menyesal kelamaan perang batin karena malu ngomong langsung.

Alasan cewek itu jajanin kang Gojek sederhana: si kang gojek menunggu pesanan sambil ngeliatin orang-orang yang makan, dan dia terlihat capek sekali, dan cewek ini juga mikir, beliin dia sebungkus bakmie tak akan membuatnya bangkrut.

Cewek ini makan sambil mengawasi si kang gojek dan berbisik-bisik ke mbak yang melayani pesanannya, “mbak, jangan lupa nanti yang dibungkus kasih ke kang gojek itu.” Mbak di resto bakmie tersenyum dan mengiyakan. Eh, pesanan belum datang, si kang gojek udah berdiri hendak membayar pesanannya. Paniklah cewek itu.

Pacarnya langsung tanggap dan bilang, “sana kamu samperin! Ntar dia keburu pergi!” Cewep Berponi Tanpa Spasi buru-buru bangkit dan nyamperin kang gojek malu-malu. (Dalam hatinya, ia bertanya-tanya: kenapa sih mesti malu? Namun, ia tak punya jawaban)

Si cewek ini dengan suara pelan mengobrol dengan Kang Gojek, mengutarakan maksudnya, memohonnya untuk menunggu sebentar. Wajah Kang GoJek langsung cerah. Dengan senyum lebar dan mata berbinar, ia mengucapkan terima kasih berulang kali ke Cewek Berponi Tanpa Spasi. Bahkan dia mendoakan Cewek Berponi Tanpa Spasi supaya dapet rezeki berlimpah dan selalu menjadi orang baik. Cewek ini terharu luar biasa.

Dari dua cerita di atas, kalian yang mana? Cewek Beralis Paripurna, atau Cewek Berponi Tanpa Spasi? Apakah kita termasuk yang nggak sabar menunggu pesanan tiba, atau termasuk yang berempati dan ingin berbagi karena kita sadar, GoJek sudah memudahkan banyak aspek dalam hidup? Bahwa driver GoJek adalah sesama yang membantu kita mencapai tujuan lebih cepat, membelikan makanan tanpa kita perlu antre, mengantarkan dokumen tanpa kita perlu bergerak? Katanya sih, cukup satu tindakan untuk membuat orang mengingat kita. Masalahnya, bagaimana kita ingin diingat? Bertindak seenaknya dan jahat, atau berempati ke sesama?

Gue yakin sih, berbagi rezeki nggak akan membuat kita semua kekurangan. Kalau lo pelit dan medit, hidup juga akan pelit, dan medit. Sebaliknya, semakin ikhlas berbagi, semakin dimudahkan dalam rezeki. Itu yang gue percaya.

Millenials Are Lazy

9

Sering banget aku mendengar, dan membaca bagaimana orang-orang mengeluhkan kelakuan millenials. Contohnya: millenials itu pemalas, nggak mau kerja keras, terlalu banyak menuntut dan nggak sabaran. Lalu, katanya millenials itu generasi yang maunya dipuji-puji walau prestasi cuma seupil. Salah satu yang terparah, millenials nggak punya respek ke orang yang lebih tua.

REALLY? Are you sure? 100% sure? Seriously? Isn’t this something your parents and grand parents complained about YOU, dear older people who can barely catch up with technology?

Now let’s rewind. I remember when my grandpa complained about my dad. “Papamu itu ya, waktu remaja nggak bisa diatur. Gak mau cari kerja yang bener. Maunya serba cepat. Beda sama kakek yang jualan mie keliling kampung. Etos kerja kerasnya beda. Sudah begitu, pemalas sekali! Nggak hormat sama orang tua! Udah agak tuaan baru deh dia mendingan … bla bla bla…”

Now let’s compare. Parents of the millenials complain about … millenials: “Anak zaman sekarang itu ya, nggak bisa diatur. Nggak mau kerja keras. Maunya serba cepat mentang-mentang ada internet! Beda sama saya! Kami ini etos kerja kerasnya beda. Millenials ini pemalas sekali pun! Sama orang tua nggak ada sopan-sopannya! Astaga, mau jadi apa …. Bla bla bla…”

Like someone said, it’s the same shit different day. Apa yang dikeluhkan generasi kakekku (baby boomers) ke generasi papaku (gen X), adalah hal yang kurang lebih sama dikeluhkan generasi bokap ke kita (assuming you are millenials too, that is…), para millenials. Bedanya, ada teknologi canggih yang terlibat di sini.

Millenials dibilang nggak punya rasa hormat ke yang lebih tua. The truth is, we do. Tentu saja ada beberapa kerak panci yang emang gak sopan. Let’s face it, di setiap generasi pasti ada. If I may, we, millenials, view everybody as equals. Kami tidak mau diribetkan oleh harus menunduk dan menjilat di tempat kerja, di mana yang tua lebih tau segalanya, yang tua harus lebih didahulukan, yang tua pasti lebih jago. Yes, you may have the experiences and we respect you for that. Namun, ini bukan berarti yang muda tidak tau apa-apa. Kalian mungkin punya posisi yang lebih tinggi di tempat kerja, tetapi ini bukan berarti kami para millenials tidak bisa dan tidak boleh berkontribusi, share ide.

Kalian seharusnya menjadi pemimpin yang bijak, yang bisa menghargai dan mendengarkan, bukan menjadi diktator hanya karena kalian adalah para ‘bos’. Zaman “If I tell you to do shit, you have to do shit” sudah berlalu. The thing about being a leader, you’re not just in charge, you should be taking care of those who are in your charge. Don’t shut us out when we have opinions or solutions just because we’re young and ‘inexperience’, and we’re the ‘millenials’. We respect good leadership regardless your age and it doesn’t mean we can’t stand up for what we believe in. Dan hal ini bukan berarti kami tidak sopan. We were taught to speak our mind. Who taught us? YOU.

Moving on.

Millenials itu pemalas. Allow me to say this: kami lebih suka kata… ‘efektif dan efisien’. Ada teknologi bagus dan cepat, kenapa tidak dimanfaatkan?

Dulu, kalian harus membongkar file satu ruangan untuk mencari dokumen yang kalian butuhkan. Kini, kami tinggal duduk cantik dan buka google, urusan kelar.

We’re not lazy, we just happen to know how to google.

Jika kalian dulu harus menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan balasan dari selembar surat, kini dalam hitungan jam atau bahkan menit, kalian (dan tentunya kami, para millenials) bisa mendapatkan balasan dalam bentuk surel. Tentu, surat dengan tulisan tangan dan amplop lucu dan perangko kesannya romantis. Aku setuju. Namun, jika urusannya superpenting, surel adalah jawabannya.

We’re not lazy, we know how to use technology.

Jika dulu kalian sering ngomel karena saat menelepon tidak ada yang mengangkat karena yang bersangkutan tidak berada di tempat, sudah ada handphone. Hampir setiap orang punya benda yang satu ini. Jika kalian mengeluh tarif menelepon antar operator mihils binggow, teknologi berkembang semakin jauh, menelepon tak butuh pulsa lagi, yang penting speed internetnya cukup. Muncullah VOIP, whatsapp call, dan entah apa lagi.

Again, we are not lazy, we just don’t see any reasons not to use the internet.

Jika kalian di masa lalu harus pergi keluar kota untuk membeli sesuatu yang tidak ada di kota kalian, kami bisa membuka online shop seperti app akulaku dan mencari barang yang kami butuhkan, ketik ini ketik itu, voila. Barang tiba di tempat kami tanpa perlu keluar tenaga banyak, keluar uang bensin, dan buang waktu.

We’re not lazy, we just don’t like wasting our time while we know we could do something better.

Jika dulu kalian harus bayar sewa toko mahal, membayar karyawan beberapa orang untuk menjaga toko, pasang kamera cctv (hey, it’s a millenial technology! :p) biar nggak kemalingan, bayar listrik mahal biar tokonya terang, dan lain-lain, kini tinggal set up online shop, pasang katalog, kasih caption kece, maka kastemer akan berdatangan. Semuanya bisa dikerjakan sambil duduk cantik di café, hanya mengandalkan handphone di tangan dan atau laptop di meja. If you need an example, try app akulaku (www.akulaku.com). Coba cek di google store atau app store. Selain kemudahan untuk mendaftarkan diri, aplikasi ini juga memungkinkan semua pembeli yang berusia di atas 17 tahun untuk mencicil pembayaran belanja tanpa membutuhkan kartu kredit. Semua dilakukan dengan cepat, mudah, dan efektif.

We’re not lazy, we are wired to create simple and fast solution. That’s how technology should work.

I’m Busy Enjoying My Life, Darling.

7

So the last few days have been absolutely crazy. I finally know how it feels to be a twitter famous. And let me tell you: it feels hilariously awesome I decided to do this blogpost. Two posts in a week? That’s gotta be something really special going on, right?

It started when I was in Singapore. A friend of mine whatsapped me, asking, “what to do when people talk shit about you?” So I gave this person a lenghty explanation. Apparently it was good enough for her and she thanked me and I think, hey, why don’t I tweet about it? Imagine the retweets count I will get! And I was right. It went viral even though it was tweeted in the dead of the night.


… and so on.

I thought it would be the end of it. But it went on beyond retweets and shit. That tweet exploded and there are, of course, mixed reactions from netizen yang budiman. People are starting to do their own version of the “I’m busy enjoying my life, darling”. And let me tell you, THEY ARE ABSOLUTELY FUNNY. At first I didn’t know about it until my friend told me, hey lex, they’re doing ‘i’m busy with my life, darling’ tweets! You should check this out.

After that, I couldn’t control my laughter. Today, it hit me hard: I should do a ‘recap’ of these hilarious tweets, in a very proper way. So, have a read, and let’s laugh with me!

There are so many ‘i’m busy enjoying my life, darling’ tweets. If you wanna see them, just type on your search button on twitter. While I think they’re hilarious, there are some concerns like this one.

Look. I think nowadays people are more and more easily offended by almost everything. There are a lot of bitter people, keyboard warriors who would do anything piss some strangers on internet, people who think they are the better one if they win an (unimportant) argument (me included, sometimes, when I’m on my asshole mode wkwk), and would be absolutely *win* if their post hurt other. The amount of hate you’d find online is staggering (cue: tab komen artis di IG or YouTube comment section). The fact that people use their time to craft some jokes based on my tweet is elating. Imagine a world where bitter and unhappy people finally realize that life is easier if they would loosen up a bit, and take the “I’m busy enjoying my life, darling” to the fullest. A much happier world, don’t you think?

Some even said that I’m being bullied. Oh, honey. Thank you for your concern but I think I know how being bullied feels like. And right now, I can assure you that I am fine. Life goes on as usual. I still cursed when I bumped my tulang kering ke pinggiran ranjang. I still visit my favorite touchscreen restaurant near my house (omg they open already how cool is that!), I still laugh over receh jokes like some of the above, and I still get paid to do what I love.

So yeah, thank you for participating. I don’t see it as an attempt to “bully” me or “nyinyirin Alex” or whatever people call it. So please don’t stop being hilarious.

And oh, these two good friends know me really well:

That Best Feeling Ever…

2

They said that happiness doesn’t leave scar. It’s true. That’s why it’s kinda hard to describe happiness. But one thing I learn: happiness doesn’t leave scar. It leaves good memories that wrapped you tight like a comfortable blanket. Whenever you close your eyes, remembering THAT moment, a smile is formed. That’s how Coldplay’s concert made me feel.

tahun 2012, setelah ngefans bertahun-tahun, gue menonton konser Coldplay di Sydney. Waktu itu album Mylo Xyloto lagi heboh-hebohnya dan tahun itu juga, ada pemutaran film konser Coldplay. Tentunya, segala antisipasi itu berbuah dengan manis. Tulisan konser Coldplay gue di Sydney bisa kalian baca di sini: .

Lima tahun kemudian, Coldplay kembali lagi. Kali ini dengan konser bertajuk A Head Full of Dreams. Mimpinya: Coldplay mau bikin konser di Indonesia. Kenyataannya, mereka mampirnya ke Singapore dan Filipina. Yawis. Rapopo. SG deket ini.

Saat tiba di National Stadium, antrean sudah mengular. Padahal konsernya masih sekitar 6 jam lagi. Berita yang beredar: konser dua hari di SG ini soldout. Gue langsung kebayang: buset di dalam panasnya kayak apa, ya….

Seperti biasa, konser dimulai dengan artis pembuka. Kalau di Sydney pembukanya The Temper Trap, maka yang di Singapore ini gue nggak gak inget siapa. Lagunya biasa, suaranya biasa, semuanya biasa. I just want my Coldplay and that’s it. And then magic happened. Lampu mendadak gelap. Jeritan histeris dari lima puluh ribu orang membahana. Gue memejamkan mata sejenak, merinding dari ujung kepala ke ujung kaki, lalu ikut larut dalam badai adrenaline.

Tangan yang terbelit xyloband menyala, dan satu stadium meledak dalam warna-warni cemerlang. A Head Full of Dreams, Yellow, dan Every Teardrop Is A Waterfall menggedor gendang telinga dan membuat kami semua bersatu dalam koor tanpa henti. Energi konser ini indah dan gila sekali.

Ketika semua tangan terangkat ke atas dan ketika confetti berjatuhan dalam bentuk bintang berwarna-warni berpadu dengan musik yang menghentak dan lighting panggung yang menghipnotis, kami semua larut dalam harmoni. Rasanya nggak bisa berhenti bergerak dan bernyanyi dan menjeritkan nama Coldplay. Yang namanya hawa capek sudah terbuang jauh-jauh, bahkan tidak terpikirkan sedetik pun.

The Scientist, Bird, Paradise, Always In My Head, Princess of China dan Everglow mengalun. It’s amazing how certain song can evoke certain feeling. We laughed, we jumped, we screamed, and we cried. Saat Everglow dimainkan, gue kembali merinding dan tanpa sadar menangis. Gak tau kenapa. Nggak lagi galau atau sedih, tapi nangis aja gitu…

Satu hal yang konstan dari Chris Martin: dia bernyanyi, loncat-loncatan, guling-gulingan, lari-larian, main piano, bercanda dengan penonton, sampai ngesot-ngesot. Lengkap. Tanpa kehilangan semangat dan energi dan tak terlihat capek, padahal jeda dari satu lagu ke lagu lain hanya sejenak.

Berada di kelas festival yang notabene dekat dengan panggung, memberikan vibe yang beda dengan nonton dari kelas tribun. Kalau di tribun penontonnya duduk, di standing PEN A mau pun B, penontonnya menggila. Teriakan yang gue dengar nggak pernah mengenal kata jeda, nggak ada penonton yang ngeluh kecapekan. Atmosfir malam itu, dipimpin Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman, dan Will Champion menggelegar, megah, dan bersahabat sekali.

Gue nulis di caption instagram gue begini:

“Watching Coldplay’s concert does not only mean you’re going to a place to see a band singing. It’s way beyond that. I see it as a big and warm gathering.
You get to see Jonny Buckland and Will Champion sing. You get to witness the coolness of Guy Berryman (omg he’s so good looking i feel like an ugly hyena!), and you get to see Chris Martin sang his heart out, running and talking to you — and not just basa basi busuk, but actually telling you stories. He even created a song about Singapore it’s so hilarious!

He is warm and friendly and the energy throughout the concert was always amazing.
Of course there will be confetti, multiple times! And balloons! OMG THOSE COLORFUL HUGE BALLOONS FOR US TO PLAY WHILE WE SING ALONG WITH THEM! And the lighting! And the laser play. And the songs. The songs are even better when you hear and see it live. I bet many will agree that Coldplay’s concert is one of the best concerts in the world. At least for me.”

So yeah, it was a really great night. Nonton Coldplay definitely masuk ke #MomenBerharga versi gue. Mulai dari pergi sampai pulang, perjalanan dan pengalaman gue selalu menemui kemudahan. Dapet teman baru, ketemu banyak teman lama, gak ada yang berjudul ribet ngurus ini itu. I think all vacation should be like this. Worry free and stress free. Kalian sudah punya app traveloka dan booking tiket serta hotel untuk liburan? Kalau belum you really should. I love everything simple and easy (plus lebih hemat, dan bisa bayar pake kartu kredit juga, ehem!) and traveloka is among them. If you need more info on this, lihat INI

Coldplay bilang mereka senang sekali di Singapore, dan akan kembali lagi untuk konser di sini. Mudah-mudahan, di masa depan Traveloka juga melayani pembelian tiket konser. Jadi semua di satu pintu gak pake ribet lagi haha! So, thanks Traveloka for making it easier, every time.

Kalau ada satu hal yang bikin gue rada gumun sebal: KENAPA NGGAK ADA FOTO GUE PAS KONSER COLDPLAY SIH. Adanya selfie di luar arena konser doang :)) Kan kzl dikit ya gak bisa pamer. Yang ada gue malah motoin temen-temen… ya sudahlah. Next time, selfie while Chris Martin is singing. *ditoyor*

STAY UPDATED

261,983FollowersFollow
186,228FollowersFollow
781FollowersFollow
631,285FollowersFollow

Pilihan Gue