October 13, 2014

JANGAN KE DERAWAN! JANGAN!!!

IMG_7541Udah baca judul postingan ini? Udah? Udah tau Derawan itu makhluk apa? Pastinya, udah, dong. Terus kenapa nggak boleh ke sini? Sebenarnya simple, sih. Karena kalian nggak pantas untuk ke sini. Sekali lagi, jangan ke Derawan, Kakaban, Sangalaki dan Maratua, karena kalian nggak pantas untuk berada di sini. Kenapa?! APA ALASANNYA?! SIAPA ELO NGELARANG-LARANG? Okay, gue akan jelaskan dengan sederet foto.

Liat foto ini, deh. Mereka menghadap ke kamera. Ketawa-tawa. Di tas ransel mereka, ada baju kotor, kamera, peralatan mandi, dan … sampah. Yap. Orang-orang awesome ini pulang dengan membawa sampah mereka masing-masing. Sampah plastik bekas makan wafer, bekas soptek (?), dan bekas entah apalagi. Mereka, nggak kayak elo, elo, dan elo, nggak nyampah di laut. Liat kan, laut di Dermaga Derawan yang masih bersih ini? Bersih, kan? KAN?!

/ continue reading

September 13, 2014

Iceland Winter Wonderland

SAMSUNG CSC

“Where are you from?”
“Indonesia!”
“Tropical country, right?”
Gue tersenyum dan mengangguk.
“Well, are you ready for magic?”
Kali ini, gue tertawa. Mata Björn berbinar menunggu jawaban gue.
“To quote Queen, what kind of magic?”
“You know… since you’re from a tropical country, have you ever seen the world covered in snow?”
Jantung gue langsung berdesir lebih cepat. Golden Circle Tour yang di-booked oleh teman gue tampaknya akan melebihi ekspektasi. Sebelum tiba di Iceland, Kenny memang sudah booking beberapa tour yang menurutnya wajib untuk diikuti. Karena gue seorang pemalas, gue tak berusaha untuk sekadar googling dan mencari tahu apa itu Golden Circle Tour. Gue lebih memilih untuk “expect the unexpected” dan membiarkan kejutan yang manis menghampiri. Dengan kalimat yang skeptis, gue membalas ucapan Björn, “Uhm… I’ve seen snow in Reykjavik, but…”
“… but that’s not the main attraction! Now hop on and welcome to winter wonderland!”
Tanpa buang waktu, gue segera naik ke dalam jeep yang dikendarai Björn, bergabung dengan empat penumpang lainnya. To the grand adventure, I go.

SAMSUNG CSC

/ continue reading

September 12, 2014

Traveling Alone IS Fun

Traveling selalu memunculkan berbagai cerita yang menarik. Setiap manusia pada dasarnya adalah pejalan. We are all travelers. Walau ketakutan saat memulai berjalan selalu ada, tapi begitu sudah menemukan enaknya traveling, we just can’t stop. Begitu juga dengan traveling sendirian. Traveling alone is somehow scary for few people.

You go to a strange land. A place you have never been before. And you’re all alone. Isn’t it scary?

Pikiran-pikiran dan berbagai kekhawatiran ini lah yang membuat banyak orang yang enggan jalan-jalan sendirian. Padahal, bepergian sendirian itu bisa sangat seru. Sebagian perempuan yang gue kenal, malas traveling sendiri karena faktor keamanan. Ada banyak juga yang bilang, “nanti yang fotoin, siapa?” Haha.

Buat gue sendiri, traveling sendiri itu amat menyenangkan. Gue tak perlu menunggu orang lain, tak perlu berkompromi mengenai jadwal akan ke mana dan jam berapa. Even when I am traveling alone, I know that I wouldn’t be completely alone, or lonely. Selalu ada stranger yang ramah yang bisa ditanya-tanya, penduduk lokal yang akan dengan senang hati memberikan petunjuk, dan yang paling menyenangkan; teman-teman baru sesama traveler.

/ continue reading

Sunset Is Happiness
August 4, 2014

You Deserve To Be Happy

Gerah gak sih, setiap kali buka timeline, selalu ada aja hawa negatif menguar seperti bau ketek abang ojek yang rela nggak mandi tiga hari dan gak pake deodorant seminggu karena mereka anggap itu adalah cara mendapatkan pelanggan lebih banyak?

Gerah gak sih kalo setiap kali buka timeline, adaaaa aja yang ngeluh tentang hidupnya yang gak sempurna, percintaannya yang selalu gagal, uang jajannya yang selalu kurang, kerjaannya yang gak sesuai dengan apa yang dia mau, bosnya yang lebih kejam dari ibu tiri Upik Abu, keteknya yang selalu bau… *bentar, kenapa gue bahas bau ketek mulu, ya…*

Now I don’t wanna be a motivator here, I just want to say, segala macam keluhan yang beredar baik dari diri elo, maupun dari orang-orang di sekitar elo, nggak akan membuat segala sesuatu lebih baik.

Let’s say, elo bete banget karena hari ini cuacanya sangat panas. Elo gak dapet angkot karena setiap angkot penuh sementara elo udah nunggu berpuluh-puluh menit lamanya di pinggir jalan yang puanasnya kek ngeliat mantan pamer pacar barunya yang lebih cakep dari elo. Pas ada ojek, eh ada orang lain yang loncat dulu ke pangkuan abang ojek dan mereka pergi menyongsong matahari senja, meninggalkan hadiah berupa debu-debu intan di wajah elo. Dandanan elo yang tadinya kece, makin lama makin gak berbentuk karena udah kecampur sama keringet dan debu dan asep knalpot segala macam kendaraaan. Seakan belum cukup, elo mendadak keingetan sama video absurd Syahrini yang, “I feel freee~~~”

Tambah bete kan, lo? Udah gak dapet angkot, mau naik ojek malah dicurangi sama orang lain, kepanasan kena debu dan keringetan, ditambah bonus flashback video Instagram Syahrini yang bikin sirik dan empet.

Nah, kalo kasusnya kayak gini, boleh gak ngeluh? YA BOLEH, LAH. Gile aja kalo udah kayak gitu gak boleh misuh-misuh tukang ojek yang tak berperikeadilan karena memutuskan mengangkut orang lain ketimbang diri elo.

Mengeluh itu manusiawi banget, kok. Wajib malah.

 

/ continue reading

October 28, 2013

Please, Do Not Visit Banyuwangi, Because…

Here are several reasons why you don’t need to visit G-Land, Banyuwangi. Of course it’s presented with pictures to convince you. Do not enjoy this post.

It doesn’t care if you’re enjoying sunset at Plengkung Beach, G-Land, Alas Purwo. It will always be there, still awesome with or without you. 20131019_172908

And please don’t go here. This river with mangroves on its sides don’t need you admire its clear water and the blue sky and the clouds. There are some abandon houses on the bank of this river too, creating an ironic and dramatic view.

20131018_104321

And yeah, this beach doesn’t need your presence. It will stay as beautiful as usual. The sand will always be soft and tingling. The breeze will always makes everybody smiles, as usual. Its sky is blue not because of you. By the way, do you know there are lots of turtles nesting here? Absolutely not fascinating.20131018_112113

This little dude will find its way into the ocean, without you. So, don’t bother visiting him. And not this dude only, there are thousands of its brothers and sisters. When you see them flipped their fins, wou’ll find that it’s so eye-opening that God has created such beautiful creature, and it is our job to keep them safe and nurture them. But … why am I telling you this story? You’re not interested at all, aren’t you?20131018_113255

The Sadengan Savanna, Alas Purwo, will never lost its magical view just because you’re not here. You’re not that special, by the way. 20131019_102007

/ continue reading

IMG_1592 copy
March 14, 2013

Unconditional Love

Dulu gue selalu, SELALU, menganggap, there’s no such thing as unconditional love. Even a mother’s love is not an unconditional love. Yes, a mother will always love their children. Tetapi, kasih seorang ibu pun bersyarat. Kita diharapkan, diwajibkan, diperintahkan untuk melakukan ini, itu, ina, inu, which we obeyed – kadang suka rela, kadang terpaksa. – Ibu mau kita menjadi manusia yang lebih manusia. Manusia yang bisa dia banggakan. Yang bisa dia ceritakan ke kolega, ke teman, ke sanak saudara, bahwa anaknya bisa begini, berprestasi begitu, menghasilkan ini, ina, inu. Dan hal ini wajar saja. Ibu mana yang tak bangga jika anaknya berprestasi dan mengharumkan nama keluarga?

Ibu, akan menyayangi kita walau kita mengecewakan, walau kita menyebalkan, walau kita melanggar perintah dan permintaannya. Ibu tetap sayang walau kita lebih memilih menghabiskan waktu seharian untuk ngetwit, main sama teman, main game sampai lupa waktu lupa mandi, menonton film bareng teman atau malah pacaran ketimbang menghabiskan bersamanya. Ibu akan menelan kekecewaan, atau kadang menasihati, atau bahkan sedikit memaki. Despite all that, she will always love us. No matter what. Is this what they called an unconditional love? No. I don’t think so. Cinta tak bersyarat tak akan punya syarat apapun dari awal. Cinta tak bersyarat – unconditional love – menurut gue adalah cinta yang tak pernah menuntut sama sekali. Dalam bentuk apa pun. And it doesn’t exist. Unconditional love is just beyond any man’s reach. Or at least that’s what I used to think. Until my mother told me her love story…

This is a story about how my mother met my step father. And no, I will not spend eight seasons telling it. *lirik judes ke Ted Mosby*

/ continue reading

SAMSUNG CSC
May 15, 2015

Zodiak Kamu Apa? (Part 3)

Entah kenapa, setiap kali mau nerusin postingan zodiak, ada aja halangannya. Kangen nasi padang, lah, harus ganti soptek, lah… *wait what…*

Ini bulan Mei, kan, ya? Berarti masih masuk bulan para penderita kepo warbiyasak, keras kepala, sok cuek tapi butuh, pekerja keras tapi kalo lagi angot celana dalem bisa gak ganti tiga bulan yang berjudul Taurus, kan, yheaa? Baiklah, mari kita mulai omongin yang jelek-jelek zodiak satu ini.

/ continue reading

download
April 22, 2015

Avengers: Age of Ultron, Age of Disappointment

What makes a good movie, a good movie? For me, it’s always the story and the characters. A good and great movie always, awalys makes me root for the characters. Their story should make me care about them. Nggak peduli itu penjahat nyebelin atau karakter pendukung yang nggak banyak ngomong. Sayangnya, Age of Ultron gagal di sini.

Gue nggak peduli sama Ultron yang ingin menghancurkan dunia.
Gue nggak peduli sama perkembangan kisah Romanoff – Banner.
Gue nggak peduli sama pendalaman karakter Hawkeye.

Padahal, gue sayang banget sama mereka.

Pada nonton Guardians of The Galaxy? Suka? Kalo gue, suka banget banget banget banget. Gue sampe nonton tiga kali saking sukanya. Dan ketika diingat lagi, gue meninggalkan bioskop dengan senyum lebar ala anak kecil dikasih mainan favorit dan hati yang hangat. Kenapa? Karena di luar dugaan, Guardians of The Galaxy sangat menghibur. Gue jatuh cinta sama Groot, pohon (yang diduga reinkarnasi pohon ngamuk di Lord of The Rings *plak*) yang cuma bisa ngomong, “I AM GROOT” doang sepanjang film. Gue sangat ingin si Star Lord berhasil mengalahkan musuhnya dan gue ngakak kenceng banget liat usaha dia mendekati perempuan hijau (bukan, bukan Hulk versi cantik) berjudul Gamora, ngakak tambah kenceng liat Peter Quill adu wit sama si Rocket. Gue mengerti motif balas dendam Drax, gue memahami mengapa Gamora ‘berkhianat’, dan tentunya, gue kagum sama Rocket, si rakun kecil – yang punya sedikit syndome megalomaniac, yang amat sangat cerdas.

You see, all of these characters, all of them, make me root for them. Kalau ditanya kenapa gue bisa cinta banget sama pohon (bego) yang cuma bisa ngemeng “I am Groot”, gue akan jawab dengan: karena pengembangan karakter di sepanjang film Guardians of The Galaxy ini bagus banget. Beda sama Age of Ultron. Terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak ego. Terlalu banyak ledakan dan CGI sehingga cerita yang seharusnya menjadi core, malah terseret dan tertinggal jauh di belakang.

Avengers_Age_Of_Ultron-poster1

Menjelang pertengahan film Avengers: Age of Ultron, gue bertanya-tanya, ini Joss Whedon kerasukan Michael Bay apa gimana, sih? Sure, the actions sequens were really nice. Iya, skala ledakan dan kehancuran terus bereskalasi. Tapi… kalo dibandingkan film pertamanya? Ah, sudahlah. Not even close.

The Avengers adalah film yang menurut gue contoh sempurna dari superheroes movies karena berhasil banget menggabungkan karakter beragam yang digali dengan baik, cerita yang membuat gue duduk tegak sepanjang film, dan didukung oleh efek CGI dan adegan berantem yang breath taking, hingga di akhir film, satu studio bertepuk tangan kenceng banget karena kagum. The numerous wow factors that blended perfectly hence it created one of the best superheroes movies. Age of Ultron throw all of these factors and only left us with bangs and more bangs and even more earth shattering bangs. Boring.

Gue semalaman mikir (seriuosly, semalaman) what went wrong. Karakter di Age of Ultron memang buanyak, sih, karena ada penambahan Quicksilver dan kembarannya, Scarlett Witch. Masalahnya, Whedon lebih memilih jedar-jeder-jedor-mampus-lu-gue-kasih-serangkaian-action-sequens-CGI-yang-bikin-mangap ketimbang mengupas cerita per karakter lebih dalam. Pergantian satu karakter ke karakter lain berlangsung cepet banget. Contohnya, perkenalan Quicksilver dan Scarlett Witch… LOH SEGITU DOANG?! Booooo! Gue belum sempat sayang atau peduli sama Quicksilver atau Scarlett Witch, eh tau-tau udah berantem aje. Belum sempat menikmati perkembangan cerita Hawkeye, lahhhh udah berantem lagi. Belum menyelami konflik internal Hulk atau Natasha Romanoff, yakkk berantem lagi! Belum sempat ngakak kenceng (emang gak ada adegan yang bikin ngakak kenceng, sih) karena bantering antara Tony Stark – Capt. America – Thor – Bruce Banner, LOH KOK UDAH LEDAK-LEDAKAN LAGI, SIK?! *kemudian pundung*

Bahkan, cerita selipan yang maunya membuat film ini jadi lebih dark, kesannya tempelan. Coba deh, cabut cerita Hawkeye dan alihkan settingnya ke tempat lain, niscaya nggak akan ada pengaruh apa pun ke core cerita ini.

Core ceritanya apa? Well… buat pembaca setia Marvel dan yang ngikutin MCU (Marvel Cinematic Universe) pasti udah ngeh kalo Avengers dan film Marvel lain ya tentang Batu Akik Infinity Stones. Benang merahnya ya itu, dari Thor pertama sampe Guardians of The Galaxy.

Lalu, apakah Age of Ultron film yang buruk? I wouldn’t say that. Yes, I am upset and disappointed. But AoU is not the ultra-boring-can-I-punch-someone-please Transformers 3 and 4 (yet), so I think it’s still enjoyable. Turunin ekspektasi aja pas nonton biar nggak terlalu bete. And I’m pretty sure there are people who would think the otherwise: that Age of Ultron is better than the first Avengers. That’s okay, too. Namanya juga selera yang pastinya balik lagi ke diri masing-masing.

Kalau di film selanjutnya Joss Whedon (atau siapa pun yang jadi sutradaranya) tetap mempertahankan formula berantem-cerita dikit-berantem banyak-selipin cerita gak penting dikit-berantem lagi-cerita deh, dikit lagi-berantem-berantem-berantem-bok-capek-ye-nontonnya-berantem-melulu, gue nggak yakin gue akan bela-belain nonton Avengers selanjutnya atau Capt. America: Civil War (ini sebenarnya gue tunggu banget-banget because you know… tragedy) dengan penuh semangat. (walau pun pasti gue nonton soalnya udah ‘kejebak’ dari Iron Man)

 

PS: Pics from mbah kesayangan: google

20150409_101856
April 17, 2015

Berani Bermimpi, Berani Mewujudkan.

Kayaknya hari gini, semua kegiatan traveling selalu dimulai dengan berburu tiket murah. Contohnya, gue. Dulu banget, gue pernah dapet tiket supermurah ke Jepang. PP cuma 965rebu. Seriusan. Sembilan Ratus Enam Puluh Lima Ribu Rupiah Pulang Pergi sumpeh gak boong!

Euforia dapetin tiket mureh ke Jepang menjadi layu ketika menjelang hari keberangkatan, gue dapet deadline skenario buanyaknya ngalahin seberapa sering dia PHP-in kamu. Dengan amat sangat terpaksa, melayanglah sudah harapan pergi ke Jepang dengan harga tiket kurang dari sejuta.

Tapi, gue yakin banget, kalau saat itu gue belum berkesempatan pergi ke Jepang, suatu hari nanti, entah kapan, gue pasti akan pergi. Keyakinan itu gue pegang terus walau gue masih belum melihat ‘lights at the end of the tunnel’. Dan ketika elo berani bermimpi dan lebih berani mewujudkannya, ‘cahaya’ yang dijanjikan pasti akan muncul.

Dan tentunya, munculnya lewat tiket murah juga. Hihihi.

Berawal dari keinginan menonton konser Coldplay di Tokyo, gue dan pacar membeli tiket Garuda yang memang lagi sale. Apakah gue berhasil nonton Coldplay di sana? Nggak. Tiketnya sold out karena konser Ghost Stories mereka berjudul ‘intimate concert’, yang artinya cuma diadakan di tempat kecil dengan jumlah penonton terbatas. Apakah gue lantas tak bersenang-senang? Let’s just say, perjalanan ke Jepang pertama kalinya membuat gue berjanji ke tukang becak (atau rickshaw kali, ya) di Kyoto yang lebih pantas menjadi lead di sinetron saking gantengnya, bahwa gue akan ke Jepang minimal 4 kali. Summer, Autumn, Winter dan Spring.

Janji itu sudah dipenuhi setengahnya. Setelah musim panas 2014, musim semi 2015 menjadi kali kedua gue pergi ke Jepang. Nih, satu foto pamer:

Alex

/ continue reading

semarang
March 29, 2015

Galau Usia 20an

Cukup sering gue mendapatkan mention di twitter yang isinya kurang lebih:

Gue nggak tau mau jadi apaan, nih, di usia gue yang udah segini.
Temen-temen gue udah jadi ‘orang’, gue masih gini-gini aja.
I don’t know what should I do with my life, I have no idea how to make my parents proud of me.
Gue sama sekali nggak ada ide masa depan gue akan gimana.

Pernah nggak menanyakan pertanyaan di atas ke diri sendiri? Pernah krisis identitas? Pernah merasa kayaknya hidup itu stagnan, nggak bergerak ke mana-mana, nggak maju, nggak mundur, tapi stuck. Everything looks bleak, stale, boring. And the worse thing is, you have no idea what to do. Kalo jawabannya iya, worry not, you’re not alone. Buanyak banget kok anak muda kayak gue (hey, dilarang protes, gue masih muda!​(˘̯˘ )​( ˘˘̯) )dan kalian yang galau masa muda dan galau krisis identitas.

Contohnya, gue. Waktu usia dua puluhan, gue nggak tau harus ngapain. Gue nggak tau harus jalan ke mana. Gue nggak tau ‘passion’ gue itu apa. Bahkan sampai berusia 27, gue nggak tau mau jadi apaan. Kerjaan gue sehari-hari ya jaga toko doang. Bosen, gak? Buset, dah. Bosen gilak! Bayangin aja, gue tiap hari buka toko pagi, nyiapin dagangan, nimbang gula-terigu-minyak goreng, melayani ibu-ibu rempong yang seringkali masih bau ketek karena belum mandi, mencatat dagangan apa aja yang abis dan harus segera re-stock, dengerin para pelanggan (mostly, ibu-ibu), komplen mengenai anak-suami-sinetron di tipi. Begitu terus setiap hari, bertahun-tahun.

Gue bosen gila.

Yang gue tau pasti: nggak mau jadi beban hidup buat orang lain, nggak mau ngerepotin orang, nggak mau jadi tukang minta duit ke keluarga. Jadi, gue terus kerja, sambil nyari, apa ya, kesempatan yang akan datang ke gue?

Kemudian, gue pindah ke konter hape. Mendingan, sih. Pelanggan gue nggak terbatas ke ibu-ibu. Bapak-bapak dan abege alay bau ketek juga ada. Tapi jauh di lubuk hati, gue tau, hidup gue bukan untuk dihabiskan di kotak berukuran 2x2m2. I knew that I was meant for greater things. I knew I didn’t belong there. The thing was, I didn’t know what were ‘the greater things’ I was supposed to do. (untuk cerita konter hape, silakan cari buku gue: The Not-So Amazing Life-of @aMrazing. Okay, this is a shameless plug. Sorry, not sorry. Muehehehe.) Galau nggak, gue? Galau gila. Setiap hari selalu ada sebuah gelombang yang pelan-pelan berkumpul dan menghantam ketika malam tiba. Mau jadi apa hidup lo kalo tiap hari elo begini terus? Mau mati bosen melakukan rutinitas yang sama?

Sampai ketika gue menginjak usia 27 lebih beberapa bulan. Seorang sahabat menawarkan gue untuk menjadi penulis. Gue terima tawaran itu tanpa pikir panjang. Untuk lengkapnya, baca TNSALOA2, kayaknya terbit tahun depan, deh. (promo tanpa tau diri muehehe)

Titik balik gue bukan di usia 27, tapi di usia 25an. Suatu malam, mendadak gue terbangun dari tidur gelisah gue, duduk tegak di kasur, dan pikiran ini nongol:

If I keep worrying about my future, how will I be able to enjoy my present?

Kalimat ini terus menerus menggaung dan bergema. Ia menjelma menjadi semacam mantra. Terlalu sibuk galau masa depan, gue lupa menikmati masa sekarang. Keesokan harinya, ketika gue buka konter, gue merasa lebih enteng. Akibatnya, gue lebih sering senyum ke calon pelanggan, gue jadi lebih ramah, gue jadi lebih hidup.

Karena pemikiran itu juga lah, gue berhenti mencemaskan masa depan. Susah, nggak? You bet it is! Susah! Tapi seiring dengan perjalanan waktu, seiring dengan memfokuskan diri di SAAT INI, di DETIK INI, MENIT INI, SEKARANG, pikiran itu berangsur terdorong ke belakang, dan mendekam nyaman tanpa berniat untuk mendobrak keluar.

Mind you, there will be times when you look at your friends who are at your age, and you get this empty feeling and a descending self esteem and feel so worthless because they are more successful, they look happier, they seem enjoy life more than you do. Then you will start questioning yourself: mereka udah sukses gue masih receh… mereka udah tajir gue masih ngitung duit buat nyukupin makan di warteg, mereka udah jalan ke mana-mana sedangkan gue stuck… mereka udah ini-ina-inu sedangkan gue cuma butiran upil kering yang disentil juga mental dan gak guna.

Let me tell you a secret. Kebanyakan orang hanya memperlihatkan sisi yang mereka ingin dunia lihat. Di balik sebuah kesuksesan, 99% ada tangis, duka, jatuh bangun, keringat, kerja keras, malam-malam begadang ngerjain tugas, dan lain-lain, dan lain-lain. Di balik sebuah kebahagiaan dan hidup yang tampaknya senang-senang saja, ada sebuah kamar bernama ‘What I Have Done To Proceed To This Stage’. Kamar ini berisi kegagalan, perjuangan melawan dunia dan diri sendiri (lebih banyak perjuangan melawan diri sendiri), kegalauan, keraguan atas keputusan yang sudah diambil, kegamangan karena tempat berpijak yang seperti pasir hisap, kebosanan, pelajaran berharga yang diperoleh dengan pahit, kegagalan, kegagalan, kegagalan, dan penerimaan diri.

Dan percaya deh, suatu saat elo akan mengalami hal itu juga. Mungkin sekarang, elo sedang berada di kamar ‘The Struggling Room’ atau ‘Who I Am, Really?’. Nggak apa-apa. Nanti, entah berapa bulan atau tahun lagi ketika elo mengunci pintu-pintu itu, mengantungi kuncinya, dan membawa pelajaran-pelajaran yang elo dapatkan, lo akan nyengir, tersenyum lebar, tertawa keras seraya berkata: Hey, been there, done that, got the t-shirt that says: I am alive and kicking and happy, bitches!

But for now, just enjoy whatever comes to you. Boleh kok ngeluh asal nggak overdosis. Boleh kok nangis malem-malem asal nggak setiap malam. Boleh kok ngadu ke Tuhan kalo udah nggak kuat. Yang penting, jangan putus asa karena elo nggak akan tau pelajaran keren apa yang bakalan elo kantungi.

Yang jelas, usia dua puluhan itu memang ajang menempa mental dan skill, sih. Cari tau apa yang lo suka kerjakan, dan perdalam hobi itu. Itu yang namanya passion. Jadi, bukan mendadak ada bola lampu pijar di kepala lo yang nyala dan suara, “tring! passion gue adalah menulis.” No. Jose. It doesn’t work that way. Passion itu akan ada dan hadir ketika elo sudah mengerjakan sesuatu, dan menekuninya, dan ternyata, elo suka.

Elo iri sama teman sebaya yang kelihatannya udah sukses? Gak apa-apa. Itu normal dan diperbolehkan. Asalkan elo bisa ubah energi dari rasa iri jadi motivasi, bukan dengki yang berubah jadi benci karena hidup orang itu lebih oke dari elo. Kalo kayak gini, sih, sampe kapan pun elo nggak akan jadi orang sukses.

Sekali lagi deh gue tulis: Olah rasa iri menjadi motivasi.

Dulu, gue bilang gini ke diri gue: Kalo dia bisa, gue harus lebih jago. Bukan untuk buktiin ke orang itu, tapi pembuktian ke diri sendiri, that I can do this shit.

So I think it’s perfectly fine if you haven’t found what you’re looking for in your twenties. Sooner or later it will come for you.

Good luck and have a great day. Don’t forget to smile.

FullSizeRender 24
March 17, 2015

Semarang and Solo VS KL and Penang

FullSizeRender 16
IMG_1314
Februari selalu menyenangkan. Bukan hanya karena bulan ulang tahun gue, tapi juga karena prospek jalan-jalan. Kalau tahun lalu gue menghadiahi diri sendiri dengan trip ke Iceland, tahun ini gue memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama pacar (baca: gue nggak dikasih izin jalan-jalan cendilian huhuhu…) Etapi, ya… percaya nggak, justru ketika elo nggak ngarepin apa-apa, maka ada aja rezeki yang terbang centil menghampiri? Itu juga yang terjadi ke gue.

/ continue reading